Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan sejumlah wilayah di sepanjang koridor Sungai Bhote Koshi dan Trishuli pada 26 Agustus 2026 telah meninggalkan luka kemanusiaan yang sangat dalam. Rumah, jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, pembangkit listrik dan berbagai infrastruktur penting rusak berat. WHO mencatat sejumlah distrik di Provinsi Bagmati dan Gandaki terdampak, sementara pemerintah Nepal menyebut kerusakan infrastruktur berlangsung luas. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Hingga pembaruan pemerintah Nepal pada 28 Agustus pukul 15.30 waktu setempat, 538 jenazah telah ditemukan, sementara 511 orang masih dinyatakan hilang dari daftar 632 warga asing yang terdampak dan belum ditemukan. Angka tersebut masih bergerak karena operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung. (Kementerian Luar Negeri Nepal)
Doa kita sebagai bangsa, semoga Nepal segera keluar dari musibah ini. Semoga mereka yang masih hilang segera ditemukan, korban yang meninggal mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan proses rehabilitasi serta rekonstruksi dapat berlangsung cepat.
Tetapi tulisan ini bukan hendak membahas bencana Nepal.
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: jangan menjadikan bencana sebagai bahan bakar radikalisme agama.
Ketika bencana dibaca sebagai “balasan Tuhan”
Beberapa unggahan di media sosial mencoba menghubungkan bencana Nepal dengan ketegangan Hindu-Muslim yang terjadi sebelumnya. Narasinya kurang lebih begini: Nepal sedang mendapat “balasan” karena ada kelompok Hindu ekstrem yang merusak atau menodai masjid.
Persoalannya bukan sekadar apakah pernah terjadi perusakan masjid atau tidak.
Persoalannya adalah cara kita membaca sebuah musibah.
Memang, pada Januari 2026 terjadi ketegangan serius di wilayah selatan Nepal setelah sebuah masjid di wilayah Dhanusha dirusak. Peristiwa tersebut memicu demonstrasi di Birgunj, Parsa, dan pemerintah setempat sampai memberlakukan jam malam. Laporan media menyebut insiden itu bermula dari konten TikTok yang dianggap menghina umat Hindu, kemudian berkembang menjadi tindakan vandalisme terhadap masjid dan ketegangan antarkelompok. (Kathmandu Post)
Tetapi bencana alam tidak boleh dengan gegabah kita vonis sebagai hukuman Tuhan terhadap suatu bangsa atau agama.
Apalagi mengaitkan banjir 26 Agustus dengan perusakan masjid sebelumnya.
Data resmi Nepal menunjukkan banjir tersebut terjadi di kawasan Bhote Koshi dan Trishuli, dengan dugaan berkaitan dengan lonjakan air dan longsoran/es dari kawasan hulu. WHO menyebut penyebab awal di Rasuwa kemungkinan terkait ice avalanche dan pembendungan sementara Sungai Lhende, sementara laporan ilmiah dan media internasional juga menyoroti faktor geologi serta perubahan iklim di kawasan Himalaya. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Karena itu, menghubungkan kedua peristiwa tersebut sebagai hubungan sebab-akibat teologis adalah kesimpulan yang terlalu jauh.
Musibah adalah ruang untuk empati, bukan ruang untuk menghakimi.
Nepal memberi peringatan yang lebih serius
Justru perkembangan hubungan Hindu-Muslim di Nepal selama dua tahun terakhir memberikan pelajaran penting.
Pada sejumlah kesempatan terjadi ketegangan yang bermula dari hal-hal yang kelihatannya kecil: prosesi keagamaan melewati kawasan kelompok lain, penggunaan pengeras suara, unggahan media sosial, dugaan penghinaan terhadap simbol agama, sampai persoalan ritual.
Pada Januari 2026, ketegangan di Dhanusha dan Birgunj bermula dari konten media sosial yang dianggap provokatif dan kemudian berkembang menjadi vandalisme terhadap masjid serta demonstrasi. (Kathmandu Post)
Pada Maret 2026, ketegangan kembali muncul di Kapilvastu ketika persoalan suara kegiatan keagamaan bertepatan dengan pelaksanaan salat Id berkembang menjadi bentrokan. Enam orang terluka dan pemerintah daerah mengeluarkan larangan berkumpul. (Kathmandu Post)
Pada Juli 2026, konflik di Sunsari juga bermula dari persoalan suara dalam sebuah prosesi keagamaan. Bentrokan tersebut menewaskan satu orang dan menyebabkan 22 orang terluka, termasuk aparat keamanan. (Kathmandu Post)
Yang lebih mengkhawatirkan, aparat Nepal sebelumnya bahkan telah memperingatkan adanya upaya terorganisasi yang berpotensi memperlebar jurang perpecahan agama dan etnis di kawasan Tarai. (Kathmandu Post)
Inilah yang perlu kita baca sebagai peringatan, bukan tontonan.
Radikalisme tidak selalu datang membawa senjata.
Kadang-kadang ia datang melalui video pendek, potongan gambar, judul provokatif, komentar kebencian dan narasi “mereka membenci kita”.
Radikalisme bisa dimulai dari satu unggahan.
Kemudian menjadi satu komentar.
Berubah menjadi kemarahan.
Berubah menjadi kerumunan.
Dan akhirnya menjadi kekerasan.
Jangan sampai Indonesia belajar dengan cara yang salah
Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar.
Kita adalah bangsa yang hidup dalam keberagaman agama, suku, bahasa dan budaya. Kita pernah melewati berbagai masa kelam hubungan antarkelompok. Kita pernah merasakan bagaimana kebencian agama dapat merusak persaudaraan, ekonomi, keamanan bahkan masa depan anak-anak.
Hari ini, relatif banyak masyarakat Indonesia dapat hidup dalam suasana yang lebih tenang.
Inilah sesuatu yang harus kita rawat.
Bahkan ketika dunia berbicara tentang moderasi dan toleransi beragama, Indonesia sering dijadikan salah satu rujukan penting. Tetapi jangan sampai kita justru kehilangan pelajaran dari pengalaman sendiri.
Jangan membawa api Nepal ke Indonesia.
Jangan membawa video konflik dari satu negara untuk membakar emosi masyarakat di negara lain.
Jangan karena ada seorang Hindu melakukan kesalahan, seluruh umat Hindu dipersalahkan.
Jangan karena ada seorang Muslim melakukan kesalahan, seluruh umat Islam dituduh.
Inilah salah satu prinsip penting dalam Islam: keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian.
Allah mengingatkan:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini sangat relevan di era media sosial.
Kita boleh mengecam perusakan rumah ibadah.
Kita wajib menolak kekerasan.
Kita harus membela korban.
Tetapi kesalahan individu atau kelompok ekstrem tidak boleh diwariskan kepada seluruh pemeluk agama.
Muslim Indonesia harus menjadi peneduh
Sebagai bangsa dengan jumlah Muslim terbesar, umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang besar.
Mayoritas bukan berarti bebas berbuat sesuka hati.
Mayoritas justru harus menjadi penjaga ketenangan.
Dalam kondisi seperti ini, umat Islam perlu menunjukkan sedikitnya lima sikap.
Pertama, tabayyun sebelum menyebarkan.
Tidak setiap video benar. Tidak setiap narasi sesuai fakta. Tidak setiap foto menunjukkan kejadian yang diklaim. Al-Qur’an mengajarkan:
“Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Kedua, pisahkan pelaku dari agama.
Jika ada kelompok ekstrem Hindu merusak masjid, kecam tindakan itu. Tetapi jangan membenci seluruh umat Hindu. Begitu pula jika ada Muslim melakukan tindakan kekerasan, kesalahan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh umat Islam.
Ketiga, jangan menjadikan musibah sebagai kesempatan melakukan triumphalisme agama.
Orang sedang kehilangan rumah, keluarga dan masa depan. Tidak etis kita berdiri di atas penderitaan mereka sambil berkata, “Itu balasan Tuhan.”
Kita tidak mengetahui rahasia takdir Tuhan.
Yang kita tahu adalah kewajiban kita untuk menolong manusia.
Keempat, jadikan media sosial sebagai ruang dakwah damai.
Jari adalah amanah. Satu unggahan bisa menjadi pahala, tetapi juga bisa menjadi dosa sosial yang panjang.
Jangan menjadi orang yang secara tidak sadar menyebarkan kebencian hanya karena ingin menunjukkan keberpihakan kepada agama sendiri.
Kelima, perbanyak perjumpaan lintas agama.
Radikalisme tumbuh subur ketika manusia hanya mengenal “kelompok lain” melalui cerita, rumor dan propaganda.
Ia melemah ketika kita duduk bersama.
Ketika kita saling mengenal.
Ketika umat Islam datang membantu umat Hindu yang terkena bencana, dan umat Hindu membantu umat Islam ketika mengalami musibah, maka propaganda kebencian akan kehilangan bahan bakarnya.
Dari Nepal kita belajar satu hal penting
Bencana alam saja sudah cukup menyakitkan.
Jangan ditambah dengan bencana sosial.
Banjir bisa menghancurkan jembatan.
Longsor bisa menutup jalan.
Gempa bisa meruntuhkan bangunan.
Tetapi kebencian dapat meruntuhkan hubungan antarmanusia yang dibangun selama puluhan tahun.
Karena itu, ketika Nepal sedang berduka, marilah kita mengirimkan doa dan solidaritas, bukan penghakiman.
Dan ketika kita menyaksikan ketegangan Hindu-Muslim di sana, jangan kita mengambil pelajaran tentang bagaimana membalas.
Ambillah pelajaran tentang bagaimana mencegah konflik sebelum menjadi lebih besar.
Indonesia sudah memiliki pengalaman mahal tentang kerukunan. Jangan kita sia-siakan.
Kita boleh berbeda keyakinan tanpa harus bermusuhan.
Kita boleh berbeda rumah ibadah tanpa berbeda kemanusiaan.
Kita boleh berbeda dalam teologi, tetapi tetap bersaudara sebagai warga bangsa.
Dan bagi umat Islam, inilah saatnya menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar agama yang mampu berbicara tentang toleransi, tetapi juga agama yang mampu menjadi rahmat ketika orang lain sedang tertimpa musibah.
Sebab rahmatan lil ’alamin tidak boleh berhenti sebagai slogan.
Ia harus terlihat ketika kita berhadapan dengan manusia yang berbeda agama, berbeda suku, bahkan berbeda pandangan dengan kita.
Nepal sedang membutuhkan pertolongan, bukan penghakiman.
Dan Indonesia sedang membutuhkan keteladanan, bukan provokasi.
Jangan sampai kita belajar radikal dari Nepal.
Belajarlah dari Nepal untuk semakin mencintai moderasi, menjaga kerukunan dan memutus mata rantai kebencian sebelum ia menjadi bencana sosial.
Wallahu a’lam
Darussalam Banda Aceh 16 Rabiul Awal 1448, 29 Agustus 2026
(Penulis, akademisi dan praktisi moderasi beragama UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
