Refleksi Maulid Nabi SAW di Gampong Barabung
Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada banyak cara umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada yang memperbanyak selawat, membaca sirah, mendengar tausiah, menghidangkan jamuan, dan berkumpul dalam suasana penuh kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang layak kita bawa pulang dari setiap peringatan Maulid: setelah kita mengenal Rasulullah, akhlak apa yang berubah dalam diri kita?
Pertanyaan itu terasa kuat ketika mengikuti ceramah Maulid Nabi SAW di Gampong Barabung, Darussalam, Aceh Besar, Jumat malam, 18 September 2026, yang disampaikan Tgk Ismail dari Aceh Selatan. Salah satu pesan yang disampaikan dengan kuat adalah tentang akhlakul karimah, akhlak mulia yang menjadi salah satu keistimewaan utama Rasulullah SAW.
Al-Qur’an memberikan kesaksian yang sangat agung tentang pribadi Nabi:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4).
Ayat ini menarik karena Allah tidak sekadar menyebut Nabi sebagai orang yang baik. Allah menyebut beliau memiliki khuluqin ‘azhim, akhlak yang agung.
Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW memberikan jawaban yang sangat dalam: “Kana khuluquhul Qur’an”—akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Maknanya, nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafal oleh Rasulullah, tetapi hidup dalam perilaku beliau sehari-hari.
Akhlak: Anugerah Allah yang Harus Dijaga
Akhlakul karimah pada hakikatnya adalah anugerah Allah. Allah menganugerahkan kepada Rasulullah SAW kemuliaan akhlak sebagai bagian dari kesempurnaan risalahnya.
Tetapi bagi umatnya, akhlak mulia bukan sesuatu yang cukup dikagumi. Ia harus diusahakan, dilatih, dijaga dan dibiasakan.
Sebab itu, akhlak tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di masjid, di hadapan guru, atau ketika bertemu orang yang dihormatinya. Akhlak justru diuji ketika seseorang kecewa, tersinggung, berbeda pendapat, mendapatkan kritik, kehilangan sesuatu, atau memiliki kesempatan untuk membalas keburukan.
Di situlah kualitas akhlak terlihat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Bahkan orang yang berakhlak baik dapat mencapai derajat orang yang banyak berpuasa dan banyak mendirikan salat.
Ini pesan yang sangat penting.
Kesalehan tidak hanya diukur dari seberapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dari seberapa baik perilaku kita kepada sesama.
Apa Tanda Akhlakul Karimah?
Akhlak mulia sebenarnya mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari.
Ia terlihat pada kejujuran, ketika seseorang tetap berkata benar meskipun kejujuran itu tidak menguntungkannya.
Ia terlihat pada amanah, ketika seseorang menjaga kepercayaan walaupun tidak ada orang yang mengawasinya.
Ia terlihat pada tawadhu, ketika seseorang memiliki ilmu, kedudukan atau kekayaan tetapi tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ia terlihat pada kesabaran, ketika seseorang mampu menahan diri saat menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Ia terlihat pada kasih sayang, ketika seseorang tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan penghinaan.
Ia terlihat pada pemaafan, ketika seseorang memiliki kesempatan untuk membalas tetapi memilih memberi ruang bagi perbaikan.
Ia juga terlihat pada kemampuan menjaga lisan: tidak mudah mencela, menghina, memfitnah, menyebarkan aib, atau menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Dengan demikian, akhlak mulia bukan sekadar sopan santun. Akhlak adalah cermin dari kualitas iman yang diterjemahkan ke dalam perilaku.
Tantangan Akhlak di Tengah Kehidupan
Menjaga akhlak di tengah kehidupan hari ini bukan perkara sederhana.
Kita hidup dalam zaman ketika seseorang dapat berbicara kepada ribuan orang hanya dengan sebuah telepon genggam. Satu kalimat dapat menyebar dalam hitungan detik. Satu komentar dapat melukai orang yang bahkan tidak kita kenal.
Di ruang digital, orang kadang merasa lebih berani mengatakan sesuatu yang tidak akan sanggup ia ucapkan secara langsung.
Karena itu, tantangan akhlak generasi sekarang bukan hanya bagaimana berbicara dengan baik di dunia nyata, tetapi juga bagaimana berakhlak di ruang digital.
Jangan sampai lisan kita rajin berselawat, tetapi jari-jari kita mudah menulis celaan.
Jangan sampai kita memuji Rasulullah SAW, tetapi pada saat yang sama mudah merendahkan manusia.
Jangan sampai kita sibuk memperingati Maulid, tetapi gagal membawa akhlak Nabi ke dalam keluarga, pergaulan, pekerjaan dan media sosial.
Di sinilah pentingnya pengendalian diri.
Tidak semua yang ingin kita katakan harus kita katakan. Tidak semua yang kita tahu harus kita sebarkan. Tidak semua kesalahan orang lain harus kita bongkar.
Kemampuan menahan diri merupakan bagian penting dari akhlak.
Orang Tua Sedang Membatik Akhlak Anak
Tugas membangun akhlak generasi muda tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah, pesantren, guru mengaji atau masjid.
Rumah adalah sekolah akhlak yang pertama.
Orang tua sebenarnya sedang “membatik” akhlak anak setiap hari—sedikit demi sedikit, melalui ucapan, kebiasaan, keteladanan dan suasana rumah.
Anak belajar kejujuran bukan pertama-tama dari ceramah tentang kejujuran, tetapi dari melihat orang tuanya berkata benar.
Anak belajar menghormati orang lain ketika melihat ayah dan ibunya menghormati orang lain.
Anak belajar meminta maaf ketika melihat orang tuanya berani mengatakan, “Ayah salah.”
Anak belajar rendah hati ketika melihat orang tuanya tidak merendahkan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan lingkungan orang tua memiliki pengaruh besar dalam membentuk perjalanan anak.
Karena itu, pendidikan akhlak tidak boleh hanya berbentuk nasihat. Anak membutuhkan contoh yang hidup.
Anak yang setiap hari mendengar nasihat tentang sopan santun tetapi menyaksikan pertengkaran, penghinaan dan kebohongan di rumah akan menerima pesan yang bertentangan.
Maka sebelum orang tua bertanya, “Bagaimana akhlak anak saya?”, barangkali perlu bertanya lebih dahulu:
“Akhlak apa yang setiap hari sedang saya contohkan kepada anak saya?”
Belajar dari Pembedahan Dada Nabi
Ada satu kisah dalam hadis sahih yang menarik untuk kita renungkan dalam konteks pembinaan hati.
Dalam riwayat Sahih Muslim, ketika Rasulullah SAW masih kecil dan sedang bermain bersama anak-anak, Jibril AS datang, membelah dada beliau, mengeluarkan bagian yang disebut dalam hadis, kemudian mencuci hati beliau dengan air Zamzam dan mengembalikannya.
Peristiwa itu tentu merupakan kekhususan dan mukjizat Nabi, sehingga tidak boleh disamakan dengan proses pembinaan manusia biasa.
Tetapi kita dapat mengambil sebuah renungan: risalah yang besar membutuhkan hati yang disiapkan.
Rasulullah SAW juga mengalami pembukaan dan pencucian dada dalam rangkaian peristiwa Isra Mi’raj, kemudian hatinya dipenuhi iman dan hikmah.
Bagi kita, tentu tidak ada pembelahan dada seperti yang dialami Rasulullah SAW.
Yang harus kita lakukan adalah mujahadah membersihkan hati.
Mengeluarkan kesombongan.
Mengurangi iri hati.
Menahan dendam.
Mengendalikan amarah.
Menjauhkan riya.
Melawan keinginan merendahkan orang lain.
Inilah perjuangan akhlak yang berlangsung sepanjang hidup.
Dari Takhalli Menuju Tahalli
Dalam tradisi pembinaan jiwa, ada konsep takhalli dan tahalli yang sangat relevan dengan pendidikan akhlak.
Takhalli adalah mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
Sedangkan tahalli adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji.
Keduanya harus berjalan bersama.
Tidak cukup hanya berhenti mencela; kita harus belajar memuji kebaikan.
Tidak cukup hanya berhenti sombong; kita harus belajar tawadhu.
Tidak cukup hanya berhenti marah; kita harus belajar sabar.
Tidak cukup hanya berhenti membicarakan keburukan orang; kita harus belajar menjaga kehormatan sesama.
Maka akhlak bukan sekadar mengurangi keburukan, tetapi juga memperbanyak kebaikan.
Inilah pekerjaan hati yang tidak pernah selesai.
Maulid Harus Berujung pada Ittiba’
Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi harus membawa kita lebih dekat kepada ittiba’, mengikuti Rasulullah SAW.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Mencintai Nabi bukan hanya memperbanyak ucapan cinta kepada beliau. Cinta harus menemukan jalannya dalam perilaku.
Kalau Nabi santun, kita belajar santun.
Kalau Nabi rendah hati, kita belajar tawadhu.
Kalau Nabi penyayang, kita belajar menyayangi.
Kalau Nabi pemaaf, kita belajar memaafkan.
Kalau Nabi menjaga lisan, kita belajar menjaga lisan.
Kalau Nabi memuliakan manusia, kita belajar memuliakan sesama.
Inilah barangkali makna terdalam dari Maulid: menghadirkan kembali akhlak Nabi dalam kehidupan kita.
Agar Kelak Dikenali sebagai Umatnya
Ada kerinduan terbesar seorang Muslim: kelak bertemu Rasulullah SAW dan berada dekat dengan beliau di akhirat.
Kita berharap termasuk orang yang dikenali oleh Rasulullah SAW sebagai umatnya, dan memperoleh syafaat beliau dengan izin Allah SWT.
Karena itu, jangan sampai pengakuan sebagai umat Nabi hanya berhenti pada lisan. Hendaknya ada jejak Rasulullah SAW dalam kehidupan kita: pada cara kita berbicara, memperlakukan pasangan, mendidik anak, menghormati orang tua, bergaul dengan tetangga, menyikapi perbedaan, serta menggunakan media sosial.
Kita tentu tidak dapat memastikan keselamatan diri kita sendiri. Syafaat adalah hak Allah untuk memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi Rasulullah SAW telah mengajarkan jalan-jalan yang mendekatkan seorang Muslim kepada beliau, di antaranya iman yang ikhlas, memperbanyak selawat dan mengikuti petunjuknya.
Maka cinta kepada Nabi harus kita rawat dengan iman, selawat dan ittiba’.
Kita ingin ketika kelak menghadap Rasulullah SAW, kita bukan sekadar mengaku sebagai umat beliau, tetapi kehidupan kita memiliki jejak yang menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha mengikuti beliau.
Maulid jangan hanya membuat kita rindu mendengar kisah Nabi, tetapi juga rindu memiliki akhlak seperti Nabi.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang dicintai Rasulullah SAW, dikenali beliau, dikumpulkan bersama beliau, dan memperoleh syafaat beliau pada hari yang tidak ada pertolongan kecuali dengan izin Allah.
Semoga generasi Muslim, khususnya generasi muda, tumbuh sebagai generasi yang berilmu, beriman dan berakhlak; generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang Rasulullah SAW, tetapi mampu menghadirkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab mencintai Nabi adalah awal, mengenal Nabi adalah jalan, dan meneladani akhlak Nabi adalah bukti cinta yang semestinya terlihat dalam kehidupan.
Itulah ittiba’ yang sesungguhnya: mengikuti Nabi dengan hati yang bersih, lisan yang terjaga dan perilaku yang mulia—agar kita tetap teguh sebagai umatnya di dunia dan berharap dikumpulkan bersama beliau di akhirat.
Semoga Maulid tahun ini tidak hanya meninggalkan kenangan tentang Nabi di hati kita, tetapi juga meninggalkan akhlak Nabi dalam diri kita.
Wallahu a’lam
Barabung 7 Rabiul Akhir 1448, 18 September 2026
(Penulis, Imum meunasah Gampong Barabung)
Foto: dari kiri; Tgk Ismail, penulis
