Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada satu kalimat Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof. Mujiburrahman yang menurut saya terlalu berharga jika hanya lewat sebagai pesan pembukaan orientasi.
“Jadilah profesional, tetapi berhati mulia.”
Kalimat itu disampaikan Rektor ketika membuka Orientasi Pengenalan Kampus dan Profesi (Medina) 2026 Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry, Senin, 21 September 2026, di Aula FK UIN Ar-Raniry. Di hadapan 50 mahasiswa calon dokter, Rektor menghendaki mereka bukan hanya menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki empati, terutama kepada pasien yang datang dari kalangan miskin.
Kemudian muncul istilah yang membuat pesan itu semakin bernas: al-qawiyyu al-amīn—kuat dan amanah.
Saya kira, inilah dua kata yang dapat menjadi kompas bagi perjalanan panjang mahasiswa FK UIN Ar-Raniry.
Sebab menjadi dokter bukan sekadar persoalan menjadi pintar.
Dokter memang harus pintar. Tetapi dokter tidak boleh berhenti pada kepintaran.
Qawiyun Amin: Dua Sisi yang Tidak Boleh Dipisahkan
Al-Qur’an memperkenalkan konsep al-qawiyyu al-amīn dalam kisah Nabi Musa.
Ketika salah seorang putri Nabi Syuaib menyarankan ayahnya mempekerjakan Musa, ia berkata:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengatakan cukup qawiy saja.
Juga tidak cukup amin saja.
Kuat harus bertemu amanah.
Sebab orang kuat tetapi tidak amanah bisa menjadi ancaman. Sebaliknya, orang amanah tetapi tidak memiliki kemampuan yang memadai bisa kesulitan menunaikan amanahnya.
Dalam dunia kedokteran, rumus ini terasa sangat tepat.
Qawiy berarti dokter yang kuat kompetensinya: menguasai ilmu, terampil, teliti, mampu mengambil keputusan, tahan menghadapi tekanan, dan terus belajar.
Sedangkan amin berarti dokter yang dapat dipercaya: jujur, berintegritas, menjaga rahasia pasien, menghormati martabat manusia, tidak menyalahgunakan ilmu, dan tidak menjadikan profesi sebagai sekadar transaksi.
Maka seorang dokter ideal bukan hanya competent, tetapi juga trustworthy.
Bukan cuma tangan yang terampil, tetapi hati yang bisa dipercaya.
Pasien Bukan Dompet yang Berjalan
Di sinilah pesan Rektor mengenai pasien miskin menjadi sangat penting.
Sebab salah satu ujian terbesar seorang dokter bukan ketika berhadapan dengan pasien yang mampu membayar.
Ujiannya justru ketika berhadapan dengan manusia yang tidak punya apa-apa selain harapan.
Ia datang membawa anaknya yang demam.
Ia datang dengan orang tuanya yang sakit.
Ia datang dengan tubuh yang lemah dan dompet yang tipis.
Di hadapannya, dokter bukan sekadar tenaga profesional. Dokter menjadi bagian dari harapan.
Karena itu, dokter amin tidak boleh melihat pasien hanya sebagai angka pada rekening administrasi.
Pasien bukan dompet yang berjalan.
Pasien adalah manusia.
Ia memiliki rasa takut, harga diri, keluarga, dan harapan untuk sembuh.
Di sinilah empati bukan aksesori profesi. Empati adalah bagian dari profesi itu sendiri.
Dokter boleh menghitung dosis dengan presisi. Tetapi jangan sampai kehilangan rasa ketika melihat air mata pasien.
Dokter boleh membaca hasil laboratorium dengan teliti. Tetapi jangan sampai gagal membaca wajah orang yang sedang ketakutan.
Dokter boleh sangat mahir menggunakan teknologi medis. Tetapi jangan sampai teknologi membuatnya lupa menyapa manusia di balik layar pemeriksaan.
Jangan sampai ilmu kedokteran semakin canggih, tetapi dokternya semakin jauh dari manusia.
Ini palunya.
Jangan Hanya Belajar Ilmu untuk Ilmu
Saya juga tertarik dengan pesan Rektor lainnya: jangan hanya belajar ilmu untuk ilmu, tetapi ilmu untuk amal yang memberi dampak dan manfaat bagi manusia serta kemanusiaan.
Ini sebenarnya menyentuh jantung pendidikan Islam.
Ilmu dalam tradisi Islam tidak dimuliakan hanya karena banyaknya informasi yang tersimpan di kepala. Ilmu menjadi mulia ketika melahirkan amal, adab dan kemanfaatan.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Maka pertanyaan mahasiswa kedokteran seharusnya tidak berhenti pada:
“Berapa banyak yang sudah saya ketahui?”
Tetapi berkembang menjadi:
“Berapa banyak yang bisa saya manfaatkan dari pengetahuan saya?”
Dan kelak, setelah menjadi dokter:
“Berapa banyak manusia yang hidupnya menjadi lebih baik karena ilmu saya?”
Inilah perubahan dari ilmu sebagai pengetahuan menjadi ilmu sebagai pengabdian.
Islamisasi Ilmu: Dari Konsep ke Ruang Praktik
Pada titik ini saya teringat gagasan yang dahulu sering saya dengar ketika kuliah di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, terutama dalam diskursus pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Wacana Islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi memang memiliki pendekatan yang tidak sepenuhnya sama. Tetapi keduanya bertemu pada kegelisahan penting: ilmu tidak boleh dipisahkan begitu saja dari pandangan hidup, nilai dan tujuan kemanusiaan.
IIUM menjadi salah satu ruang penting berkembangnya gagasan integrasi ilmu dan nilai Islam tersebut.
Maka ketika UIN Ar-Raniry berbicara tentang dokter yang menguasai sains tetapi juga berhati mulia, sesungguhnya gagasan itu menemukan ruang praktik yang sangat konkret.
Islamisasi ilmu bukan sekadar memberi label “Islam” pada ilmu kedokteran.
Lebih jauh daripada itu, ia menyangkut bagaimana ilmu kedokteran dipelajari, untuk apa digunakan, bagaimana profesi dijalankan, dan nilai apa yang membimbing seorang dokter ketika berhadapan dengan manusia.
Pasien yang miskin adalah salah satu tempat paling nyata untuk menguji apakah ilmu sudah bertemu nilai.
Di ruang kuliah, semua mahasiswa bisa berbicara tentang kemanusiaan.
Di ruang praktik, kemanusiaan itu diuji.
Otak Kiri Tidak Cukup
Saya juga menangkap sesuatu yang menarik dari komposisi mahasiswa baru FK UIN Ar-Raniry ini.
Informasi dari pimpinan fakultas menyebutkan, sebagian besar mahasiswa baru adalah penghafal Al-Qur’an. Bahkan ada yang telah hafal 30 juz. Mereka juga ada yang aktif di masyarakat dan merupakan peraih prestasi Olimpiade Sains.
Ini kombinasi yang menarik.
Ada sains.
Ada Al-Qur’an.
Ada prestasi.
Ada aktivisme sosial.
Kalau semuanya berhasil dipadukan, inilah modal besar untuk melahirkan dokter qawiyun amin.
Kita sering memakai istilah “otak kiri” untuk menggambarkan logika, analisis dan kemampuan akademik, sementara “otak kanan” untuk kreativitas, emosi dan kemampuan melihat sesuatu secara lebih utuh. Secara neurosains, tentu pembagian itu tidak sesederhana demikian karena kedua belahan otak bekerja dalam jaringan yang saling berhubungan.
Tetapi sebagai metafora pendidikan, pesannya jelas:
jangan hanya mempertajam kepala, tetapi juga menghidupkan hati.
Dalam pendekatan ESQ yang dipopulerkan Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan manusia tidak cukup hanya dengan IQ. Ia perlu dibangun bersama kecerdasan emosional dan spiritual.
Untuk seorang dokter, ini menjadi sangat relevan.
IQ membuatnya mampu menganalisis penyakit.
EQ membuatnya mampu memahami pasien.
SQ membuatnya sadar bahwa keahliannya adalah amanah Tuhan.
Maka dokter ideal bukan hanya memiliki kepala yang cerdas, tetapi juga hati yang sadar.
Lima Puluh Orang, Satu Harapan Besar
Karena itu, 50 mahasiswa calon dokter yang memulai perjalanan mereka di FK UIN Ar-Raniry ini sesungguhnya sedang membawa harapan yang lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar akademik.
Kita berharap dari mereka lahir dokter yang kuat ilmunya.
Tetapi kita juga berharap lahir dokter yang amanah.
Dokter yang bisa bekerja di rumah sakit besar, tetapi tidak kehilangan kepedulian kepada pasien kecil.
Dokter yang mampu menggunakan teknologi mutakhir, tetapi tetap menggenggam tangan pasien yang ketakutan.
Dokter yang mampu membaca jurnal internasional, tetapi juga mampu membaca keadaan masyarakat.
Dokter yang memiliki prestasi akademik, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.
Dokter yang kaya ilmu, tetapi tidak miskin empati.
Sebab pada akhirnya, dokter tidak hanya mengobati tubuh. Ia berhadapan dengan manusia yang sedang berada dalam keadaan paling rapuh.
Karena itu, seorang dokter membutuhkan dua kekuatan sekaligus: qawiy dan amin.
Kalau hanya qawiy, ia mungkin menjadi dokter yang hebat tetapi dingin.
Kalau hanya amin tanpa kompetensi, niat baiknya mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan.
Tetapi ketika keduanya bertemu, lahirlah sosok yang diharapkan Al-Qur’an: kuat sekaligus dapat dipercaya.
Dan mungkin inilah salah satu identitas yang dapat dibangun FK UIN Ar-Raniry sejak awal kelahirannya:
dokter yang tidak hanya pintar mengobati, tetapi juga pintar memanusiakan manusia.
Sebab dunia tidak kekurangan orang pintar.
Yang selalu kita butuhkan adalah orang pintar yang dapat dipercaya.
Dan bagi dunia kedokteran, kita membutuhkan lebih dari itu:
dokter yang qawiy dalam ilmunya, amin dalam amanahnya, cerdas pikirannya, lembut hatinya, dan luas manfaatnya.
Itulah dokter yang kelak tidak hanya menyembuhkan pasien.
Ia menyembuhkan dengan ilmu, melayani dengan hati, dan mengabdi karena Allah.
Wallahu a’lam
Darussalam 11 Rabiul Akhir 1448, 22 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)
