-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Warisi Kesombongan Iblis

Jumat, 25 September 2026 | September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T14:45:15Z


Refleksi khutbah Jumat Dr. Tgk. HM Ikhram, M.Pd.


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada orang yang tidak mau tunduk bukan karena tidak tahu. Ada pula yang menolak bukan karena tidak mampu. Masalahnya lebih dalam: merasa dirinya terlalu tinggi untuk tunduk.


Di sinilah kisah Iblis menjadi cermin yang tak pernah kehilangan relevansi.


Khutbah Jumat Dr. Tgk. HM Ikhram, M.Pd., di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, 24 September 2026, mengingatkan jamaah pada satu perkara fundamental: manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ketundukan kepada Allah bukan beban tambahan dalam kehidupan manusia, melainkan tujuan penciptaannya.


Allah berfirman:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56).


Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya: Apakah kita percaya kepada Allah?


Tetapi: Apakah kita mau tunduk kepada Allah?


Sebab Iblis bukan tidak mengenal Allah. Ia mengetahui keberadaan Allah. Ia tahu Allah adalah penciptanya. Namun pengetahuan itu tidak membuatnya tunduk.


Di sinilah tragedi Iblis bermula.


Ketika “Saya lebih baik” menjadi awal kehancuran


Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Mereka semua tunduk, kecuali Iblis.


Al-Qur’an merekam jawabannya:


أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ


“Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

(QS. Al-A’raf: 12).


Pada ayat lain Allah menegaskan:


أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ


“Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”

(QS. Al-Baqarah: 34).


Perhatikan baik-baik: Iblis mempunyai alasan.


Ia membuat perbandingan. Ia merasa bahan penciptaannya lebih hebat. Api dianggap lebih tinggi daripada tanah.


Dari sinilah lahir kalimat paling berbahaya dalam sejarah manusia:


“Aku lebih baik.”


Iblis tidak mengatakan Allah tidak ada. Ia mengetahui Allah. Persoalannya, ia menolak tunduk kepada perintah Allah karena merasa penilaiannya lebih benar.


Inilah keangkuhan ala Iblis.


Nabi Muhammad SAW memberikan definisi kesombongan yang sangat tajam:


“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

(HR. Muslim).


Maka seseorang bisa berpakaian sederhana tetapi menyimpan kesombongan yang besar. Bisa pula berilmu tinggi tetapi hatinya sulit menerima kebenaran.


Ketundukan adalah kebutuhan manusia


Menariknya, kajian psikologi dan ilmu kognitif agama menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mencari makna, tujuan, keteraturan dan penjelasan tentang sesuatu yang melampaui dirinya.


Dalam perspektif Islam, kecenderungan tersebut berkaitan dengan fitrah.


Rasulullah SAW bersabda:


“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah.”

(HR. Muslim).


Karena itu, tidak tepat jika kita menyimpulkan secara mutlak bahwa semua manusia secara faktual percaya kepada Tuhan. Ada manusia yang mengaku ateis atau agnostik. Namun Islam menjelaskan bahwa manusia memiliki fitrah yang mengarah kepada pengenalan terhadap Allah.


Maka ketundukan kepada Allah bukan sesuatu yang asing bagi manusia.


Ia adalah jalan pulang kepada fitrah.


Ingin bertuhan, tetapi tidak ingin diatur Tuhan


Di sinilah persoalan kita menjadi semakin dekat.


Kita ingin Allah memberi rezeki, tetapi kadang tidak ingin mengikuti aturan-Nya dalam mencari rezeki.


Kita ingin rumah tangga sakinah, tetapi tidak selalu mau mengikuti tuntunan-Nya tentang keluarga.


Kita ingin anak saleh, tetapi pendidikan agama sering ditempatkan setelah berbagai kesibukan lainnya.


Kita ingin hidup berkah, tetapi ketika syariat bertemu dengan kepentingan pribadi, kita mulai melakukan tawar-menawar.


Kita ingin Allah mengabulkan doa, tetapi belum tentu mau menjalankan perintah-Nya.


Inilah wilayah yang perlu kita curigai dalam diri sendiri.


Jangan-jangan kita tidak sedang kehilangan pengetahuan tentang Allah. Jangan-jangan kita sedang kehilangan ketundukan kepada Allah.


Sebab Iblis mengenal Allah, tetapi kesombongannya membuat pengetahuan itu tidak berubah menjadi ketaatan.


Adam pernah salah, tetapi ia kembali


Ada perbedaan penting antara Adam dan Iblis.


Adam tergelincir. Tetapi ia mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah. Iblis melakukan kesalahan, kemudian membangun argumentasi untuk membenarkan kesalahannya.


Adam berkata:


رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا


“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.”

(QS. Al-A’raf: 23).


Iblis justru mempertahankan argumentasinya.


Di sinilah kita menemukan pelajaran besar: dosa tidak selalu membuat manusia jauh dari Allah; kesombongan setelah melakukan dosa yang membuat seseorang enggan kembali kepada-Nya jauh lebih berbahaya.


Ada manusia yang jatuh lalu menangis di hadapan Allah.


Ada pula yang jatuh, kemudian mencari seribu alasan untuk mengatakan bahwa dirinya tidak salah.


Yang pertama masih mempunyai jalan pulang.


Yang kedua sedang membangun tembok antara dirinya dan jalan pulang.


Jangan menjadikan Iblis sebagai teladan tanpa sadar


Karena itu, kisah Iblis jangan hanya digunakan untuk menunjuk orang lain.


Ia harus menjadi kaca untuk melihat wajah kita sendiri.


Apakah kita merasa lebih baik daripada orang lain?


Apakah kita sulit menerima nasihat?


Apakah kita menolak kebenaran ketika bertentangan dengan kepentingan pribadi?


Apakah kita lebih suka mencari pembenaran daripada memperbaiki kesalahan?


Apakah kita mengukur kemuliaan berdasarkan harta, jabatan, ilmu, keturunan atau popularitas?


Apakah kita merasa cukup dengan ibadah tetapi lupa memperbaiki akhlak?


Dan yang paling berbahaya: apakah kita memilih-milih perintah Allah berdasarkan selera pribadi?


Di sinilah kita perlu berhati-hati.


Jangan sampai tubuh kita menjadi Muslim, tetapi logika kita perlahan-lahan mengambil logika Iblis:


“Saya lebih tahu.”

“Saya lebih hebat.”

“Saya punya alasan.”

“Saya tidak perlu tunduk.”


Jalan pulang dari jalan Iblis


Lalu bagaimana meninggalkan jalan itu?


Pertama, perbarui tauhid dan kesadaran bahwa kita adalah hamba.


Kita bukan pemilik mutlak kehidupan. Kita hanya sedang diberi kesempatan hidup.


Kedua, perbanyak sujud.


Sujud adalah pendidikan kerendahan hati yang luar biasa. Dahi yang menyentuh tanah setiap hari sedang mengajarkan hati: jangan merasa tinggi.


Ketiga, terima kebenaran meskipun pahit.


Kalau nasihat itu benar, jangan sibuk bertanya, “Siapa yang mengatakan?” Tanyakan, “Apakah yang dikatakannya benar?”


Keempat, segera bertaubat ketika jatuh.


Allah berfirman:


لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ


“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53).


Kelima, ikuti Rasulullah SAW.


Allah berfirman:


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ


“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”

(QS. Al-Ahzab: 21).


Jalan kembali kepada Allah bukan jalan yang kita reka sendiri. Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagaimana menjadi hamba Allah dalam kehidupan nyata.


Jangan warisi kesombongan Iblis


Pada akhirnya, pesan khutbah Jumat itu terasa seperti mengetuk pintu hati kita masing-masing:


Jangan warisi kesombongan Iblis.


Sebab kesombongan Iblis dimulai dari sebuah kalimat sederhana:


“Aku lebih baik.”


Padahal kita lahir tanpa membawa apa-apa. Kita tumbuh dengan pertolongan Allah. Kita memperoleh ilmu karena Allah memberi kemampuan berpikir. Kita mendapatkan rezeki karena Allah membuka jalan. Kita hidup karena Allah memberikan kehidupan.


Dan ketika ajal datang, semua gelar, jabatan, kekayaan dan kebanggaan akan ditinggalkan.


Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Rabb-nya.


Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:


Seberapa tinggi kedudukan kita di mata manusia?


Tetapi:


Seberapa tunduk hati kita di hadapan Allah?


Iblis jatuh bukan karena kurang ilmu. Ia jatuh karena kesombongan yang membuat ilmunya tidak melahirkan ketaatan.


Adam selamat bukan karena tidak pernah salah. Ia selamat karena ketika salah, ia kembali.


Maka jangan takut menjadi manusia yang pernah jatuh.


Yang perlu ditakuti adalah menjadi manusia yang jatuh tetapi terlalu sombong untuk bangkit, terlalu angkuh untuk meminta ampun, dan terlalu keras hati untuk kembali kepada Allah.


Sebab jalan Iblis dimulai dari penolakan terhadap satu perintah.


Sedangkan jalan menuju Allah dimulai dari satu sikap:


سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا


“Kami dengar dan kami taat.”


Barangkali inilah makna terdalam ketundukan: bukan kehilangan kebebasan, tetapi menemukan kembali fitrah sebagai hamba.


Dan setiap kali dahi menyentuh sajadah, semoga hati kita juga ikut tunduk.


Jangan sampai tubuh kita bersujud, tetapi kesombongan kita masih berdiri.


Wallahu a’lam 


Tungkop Darussalam, 14 Rabiul Akhir 1448, 25 September 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)


Foto: dari kiri; HM Ikhram, dan penulis

×
Berita Terbaru Update