-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Khutbah di Fahun Qarib, Abu Paya Pasie: Kita Pernah Berjanji kepada Allah, Jangan Khianati Janji Itu

Kamis, 17 September 2026 | September 17, 2026 WIB Last Updated 2026-09-18T06:54:44Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Manusia ternyata bukan makhluk yang hadir ke dunia tanpa janji. Sebelum menjalani kehidupan di bumi, seluruh ruh manusia telah mengakui Allah SWT sebagai Rabb-nya. Karena itu, kehidupan dunia sesungguhnya merupakan ruang untuk membuktikan janji tersebut.


Pesan ini disampaikan ulama kharismatik Aceh yang juga Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Abu Paya Pasie, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat, 7 Rabiul Akhir 1448 H bertepatan dengan 18 September 2026.


Mengawali khutbahnya, Abu Paya Pasie mengingatkan jamaah tentang peristiwa ketika Allah SWT mengambil kesaksian dari ruh manusia. Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 172:


“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”


Menurut Abu Paya Pasie, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah SWT. Manusia telah mengakui Allah sebagai Tuhan, sehingga kehidupan yang dijalani di dunia semestinya menjadi bukti dari pengakuan itu.


Allah telah menyediakan balasan yang sangat besar bagi manusia yang beriman dan menaati perintah-Nya. Sebaliknya, manusia yang mengingkari dan menentang perintah Allah akan menghadapi akibat dari pengingkarannya.


Untuk menjalankan tugas tersebut, kata Abu Paya Pasie, Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa bekal. Manusia diberikan tubuh dengan anggota badan yang lengkap, akal, kemampuan dan petunjuk melalui wahyu serta tuntunan Rasulullah SAW.


“Allah sudah memberikan kepada kita anggota tubuh yang lengkap dan petunjuk. Semua itu agar kita dapat menjalankan tugas sesuai dengan apa yang telah kita ucapkan dalam janji kepada Allah,” pesannya.


Berlomba Menuju Ampunan Allah


Abu Paya Pasie selanjutnya mengajak jamaah tidak menunda-nunda kebaikan dan segera kembali kepada Allah. Kesempatan hidup yang diberikan Allah harus dimanfaatkan untuk memperbanyak iman dan amal saleh.


Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 133:


“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”


Menurutnya, gambaran surga yang luasnya seluas langit dan bumi menunjukkan betapa besar balasan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa dan menaati perintah-Nya.


Karena itu, manusia tidak seharusnya menyia-nyiakan kesempatan hidup dengan menjauh dari Allah.


Di sisi lain, Abu Paya Pasie mengingatkan jamaah tentang ancaman bagi mereka yang mengabaikan kewajiban agama, khususnya shalat.


Ia mengutip dialog penghuni neraka Saqar dalam Surat Al-Muddassir ayat 42-43:


“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.”


Ayat tersebut, kata dia, menjadi peringatan keras agar seorang Muslim tidak menganggap ringan kewajiban shalat. Neraka merupakan tempat pembalasan bagi manusia yang mengingkari perintah Allah.


Abu Paya Pasie juga mengingatkan bahwa manusia perlu terus belajar ilmu agama agar mampu menjalankan kehidupannya sesuai petunjuk Allah.


“Wajib kita belajar ilmu Allah karena kita sudah berjanji dengan Allah,” ujarnya.


Beruntung Memiliki Rasulullah


Dalam khutbahnya, Abu Paya Pasie juga mengajak jamaah mensyukuri nikmat besar yang diberikan Allah kepada umat Islam dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW.


Rasulullah, katanya, merupakan sosok yang sangat memperhatikan dan menyayangi umatnya. Karena itu, umat Islam hendaknya tidak hanya mengaku mencintai Rasulullah, tetapi juga mengikuti petunjuk dan keteladanannya.


Abu Paya Pasie mengingatkan agar kehidupan seorang Muslim tidak hanya baik dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan.


Setiap pekerjaan, profesi dan kegiatan duniawi tetap dapat dilakukan selama tidak menyimpang dari aturan Allah SWT.


“Jangan menyia-nyiakan perintah Allah. Jalankan tugas dan pekerjaan kita, tetapi jangan sampai menyimpang dari aturan Allah,” pesannya.


Ia kemudian mengingatkan kandungan Surat Al-’Asr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Dengan demikian, keberhasilan seorang Muslim tidak cukup hanya diukur dari aktivitas duniawinya, tetapi juga dari sejauh mana kehidupan tersebut dijalankan dalam bingkai iman dan ketaatan kepada Allah.


Meneladani Empat Sifat Nabi


Untuk menjalani kehidupan tersebut, Abu Paya Pasie mengajak jamaah mencontoh sifat-sifat utama Rasulullah SAW.


Empat sifat yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam itu adalah siddiq, yakni benar dan jujur; amanah, dapat dipercaya; tabligh, menyampaikan kebenaran; dan fathanah, memiliki kecerdasan.


“Contoh dan ikutlah sifat-sifat Nabi SAW. Nabi benar, amanah, tabligh dan fathanah,” katanya.


Sifat-sifat tersebut, lanjutnya, tidak hanya relevan untuk kehidupan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai tugas dan pekerjaan.


Seorang Muslim harus jujur dalam bekerja, amanah ketika diberi tanggung jawab, menyampaikan kebenaran dan menggunakan kecerdasannya untuk kemaslahatan.


Di penghujung khutbah, Abu Paya Pasie kembali mengingatkan jamaah agar menjaga diri dengan menyesuaikan kehidupan sesuai perintah Allah SWT dan keteladanan Rasulullah SAW.


Menjalankan shalat, belajar ilmu agama, bekerja, mengurus keluarga, berinteraksi dengan masyarakat dan menjalankan berbagai aktivitas kehidupan, semuanya harus berada dalam koridor yang tidak bertentangan dengan petunjuk Allah dan sunnah Rasulullah SAW.


Pesan khutbah itu pada akhirnya mengembalikan manusia kepada satu kesadaran mendasar: kita telah mengakui Allah sebagai Rabb. Maka kehidupan di dunia adalah kesempatan untuk membuktikan pengakuan tersebut melalui iman, ibadah, akhlak dan amal nyata.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update