-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dua Jalan ke Surga, Dua Lubang yang Harus Dijaga

Sabtu, 03 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T07:09:23Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada nasihat agama yang singkat, tetapi semakin direnungkan justru semakin luas maknanya. Ada pula hadis Nabi SAW yang seakan sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh pusat kehidupan manusia: hati, lisan, perilaku dan kehormatan diri.


Khutbah Tgk Safaini, M.A., Pimpinan Dayah Raudhatul Arifin, Tanjong Deah, Darussalam, Aceh Besar, di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat 2 Oktober 2026 atau 20 Rabiul Akhir 1448 H, mengingatkan kembali tentang dua fondasi yang tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim: takwa dan akhlak mulia.


Tgk Safaini menggarisbawahi pesan Rasulullah SAW bahwa dua perkara yang paling banyak menjadi sebab manusia masuk surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik. Sebaliknya, dua perkara yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan faraj. Hadis ini diriwayatkan dalam Jami’ at-Tirmidzi. (Sunnah.com⁠)


Pesannya sangat jelas.


Takwa dan akhlak bukan dua pilihan yang bisa dipertentangkan. Keduanya harus hadir bersama.


Takwa tanpa akhlak yang baik kehilangan sebagian buahnya. Akhlak yang baik tanpa fondasi takwa juga kehilangan akar spiritualnya.


Takwa menghubungkan manusia dengan Allah. Akhlak menghubungkan manusia dengan sesama.

Keduanya sekaligus.


Takwa dan Akhlak: Dua Energi yang Menguatkan


Al-Qur’an menjadikan takwa sebagai ukuran kemuliaan manusia.


Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)


Sementara Rasulullah SAW menjelaskan bahwa akhlak mulia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam kehidupan seorang Muslim.


Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda bahwa orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.


Ini menunjukkan bahwa akhlak bukan hiasan tambahan dalam Islam. Akhlak merupakan salah satu buah dari kualitas iman.


Secara psikologis, kehidupan yang dituntun oleh takwa dan akhlak juga dapat menjadi sumber kekuatan pribadi. Takwa melatih manusia memiliki orientasi hidup, batas moral dan kemampuan mengendalikan dorongan sesaat. Riset psikologi tentang self-control menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan pengendalian diri dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan subjektif. 


Dengan kata lain, disiplin moral tidak selalu berarti hidup menjadi sempit dan tidak menyenangkan. Justru kemampuan mengendalikan diri dapat membantu manusia tidak diperbudak oleh dorongan sesaat.


Orang yang mampu menahan amarah tidak menjadi lebih lemah. Ia justru sedang menguasai dirinya.


Orang yang mampu menahan lidah tidak kehilangan kebebasan. Ia sedang menyelamatkan dirinya.


Orang yang mampu menahan pandangan dan menjaga kehormatan tidak sedang kehilangan kesenangan hidup. Ia sedang menjaga martabat dirinya.


Itulah mengapa takwa dan akhlak mulia sebenarnya dapat membuat kehidupan lebih tenteram.


Sebaliknya, akhlak buruk sering membawa manusia kepada pertengkaran, penyesalan, rusaknya kepercayaan dan hubungan sosial yang retak. Kebiasaan mengikuti setiap dorongan tanpa kendali juga dapat berbenturan dengan tujuan hidup jangka panjang. Penelitian psikologi mengenai regulasi diri menunjukkan hubungan antara pengendalian diri dan kesejahteraan psikologis. 


Maka agama tidak sedang mempersulit manusia ketika memerintahkan pengendalian diri.


Agama sedang mengajarkan manusia agar tidak diperbudak oleh dirinya sendiri.


Lubang Pertama: Mulut


Hadis Nabi SAW menyebut al-fam, mulut, sebagai salah satu perkara yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka.


Mengapa mulut begitu berbahaya?


Karena tubuh manusia kecil, tetapi dampak perkataannya bisa sangat besar.


Satu kalimat bisa menyenangkan hati seseorang bertahun-tahun. Tetapi satu kalimat juga bisa melukai seseorang seumur hidup.


Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”


Prinsip ini semakin penting pada zaman media sosial.


Dahulu perkataan buruk mungkin hanya didengar oleh beberapa orang. Hari ini satu ucapan dapat direkam, dipotret, dikirim, dibagikan, disimpan dan beredar kepada ribuan bahkan jutaan orang.


Lidah telah mendapatkan “perpanjangan tangan” berupa jari-jari kita.


Maka dosa lisan hari ini tidak hanya terjadi ketika mulut berbicara.


Ia bisa terjadi ketika jari mengetik.


Ia bisa terjadi ketika seseorang menyebarkan fitnah.


Ia bisa terjadi ketika seseorang mengolok-olok orang lain.


Ia bisa terjadi ketika seseorang membuka aib.


Ia bisa terjadi ketika seseorang melakukan bullying.


Ia bisa terjadi ketika seseorang menulis komentar yang menyakitkan.


Ia bisa terjadi ketika seseorang menyebarkan berita yang belum diperiksa kebenarannya.


Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak ada satu perkataan pun yang diucapkan manusia kecuali ada pengawas yang mencatatnya.


Karena itu, sebelum berbicara, seorang Muslim perlu bertanya:


Benarkah? Perlukah? Baikkah? Bermanfaatkah?


Jika tidak, diam sering kali menjadi ibadah yang lebih menyelamatkan.


Lubang Kedua: Faraj


Tantangan kedua lebih berat karena menyangkut naluri dasar manusia.


Islam tidak mengharamkan kebutuhan biologis. Islam justru memberikan jalan yang terhormat untuk memenuhinya melalui pernikahan.


Yang dijaga adalah kehormatan dan batasnya.


Allah berfirman:


“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”

(QS. An-Nur: 30)


Perintah itu kemudian juga ditujukan kepada perempuan beriman dalam ayat berikutnya. 


Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan menjaga faraj. Ia juga memerintahkan menjaga pandangan.


Ini sangat relevan dengan zaman digital.


Sebab sebelum faraj melakukan sesuatu, sering kali mata lebih dahulu melihat.


Sebelum tubuh bergerak, pikiran lebih dahulu menerima rangsangan.


Karena itu, menjaga kehormatan seksual bukan hanya persoalan menjaga tindakan terakhir. Ia dimulai jauh sebelumnya: menjaga pandangan, menjaga pikiran, menjaga pergaulan, menjaga ruang digital dan menjaga diri dari rangsangan yang sengaja membawa kepada pelanggaran.


Di sinilah pornografi dan pornoaksi menjadi tantangan serius bagi generasi muda.


Konten seksual yang dahulu sulit ditemukan kini dapat masuk ke kamar seseorang melalui telepon genggam. Ia bisa hadir ketika seseorang sendirian, bahkan tanpa diketahui keluarga.


Karena itu, benteng moral generasi muda tidak cukup hanya berupa nasihat “jangan berzina”.


Bentengnya harus dibangun lebih awal:


jaga pandangan, jaga pergaulan, jaga penggunaan gawai, jauhi konten pornografis, jangan mencari-cari rangsangan seksual, dan jangan menganggap sesuatu yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi berarti tidak diketahui Allah.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.”


Kesadaran bahwa Allah melihat inilah inti takwa.


Nabi Memberi Jaminan yang Sangat Indah


Ada hadis lain yang semakin memperkuat pesan khutbah Tgk Safaini.


Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa menjamin untukku apa yang berada di antara kedua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua kakinya, aku menjamin baginya surga.”


Yang dimaksud dengan apa yang berada di antara kedua rahang adalah lisan, sedangkan yang berada di antara kedua kaki adalah kehormatan seksual atau faraj. Hadis ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari dan juga diriwayatkan dalam Jami’ at-Tirmidzi. 


Perhatikan betapa besar perhatian Nabi kepada dua bagian tubuh ini.


Keduanya kecil secara fisik.


Tetapi akibat yang lahir darinya bisa sangat besar.


Lisan dapat menghancurkan kehormatan orang lain.


Faraj yang tidak dijaga dapat menghancurkan kehormatan diri sendiri dan keluarga.


Karena itu keduanya harus dijaga dengan takwa.


Jangan Tunggu Dosa Menjadi Kebiasaan


Generasi muda perlu memahami satu hal penting: dosa besar sering kali tidak dimulai dengan langkah besar.


Ia bisa dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil.


Satu pandangan.

Satu klik.

Satu percakapan.

Satu pesan pribadi.

Satu komentar.

Satu gambar.

Satu video.

Satu pertemuan yang melampaui batas.


Kemudian diulang.

Lalu menjadi kebiasaan.

Lalu menjadi ketagihan.

Dan akhirnya menjadi karakter.


Karena itu pepatah yang sangat dikenal di masyarakat patut kita renungkan kembali:


“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.”


Satu tindakan mungkin terlihat kecil, tetapi jika menyangkut kehormatan, kepercayaan dan akhlak, dampaknya bisa panjang.


Namun ada satu hal yang juga harus ditegaskan: pintu taubat tidak pernah tertutup selama manusia masih hidup.


Jangan sampai nasihat tentang menjaga diri justru membuat orang yang pernah jatuh merasa tidak memiliki jalan pulang.


Allah membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya.


Yang diperlukan adalah berhenti, menyesal, meninggalkan dosa, memperbaiki diri dan tidak kembali dengan sengaja kepada jalan yang sama.


Takwa Itu Membuat Kita Merdeka


Ada ironi dalam kehidupan modern.


Manusia berbicara tentang kebebasan, tetapi tidak sedikit yang akhirnya menjadi budak keinginannya sendiri.


Tidak mampu menahan amarah.

Tidak mampu menahan komentar.

Tidak mampu menahan pandangan.

Tidak mampu menolak konten seksual.

Tidak mampu mengendalikan dorongan.


Tidak mampu berhenti dari sesuatu yang sebenarnya ingin ia tinggalkan.


Dalam perspektif ini, takwa justru menghadirkan kemerdekaan yang lebih dalam.


Orang bertakwa bukan orang yang tidak memiliki keinginan. Ia adalah orang yang tidak membiarkan keinginannya menjadi tuan atas dirinya.


Ia tetap memiliki mata, tetapi tahu apa yang harus dilihat.


Ia memiliki mulut, tetapi tahu kapan berbicara dan kapan diam.


Ia memiliki dorongan seksual, tetapi tahu bagaimana menjaganya agar tetap berada dalam jalan yang halal.


Ia memiliki media sosial, tetapi tidak membiarkan algoritma menentukan akhlaknya.

Inilah manusia yang kuat.


Akhlak adalah Wajah Islam


Pada akhirnya, pesan khutbah Tgk Safaini membawa kita kembali kepada pertanyaan sederhana: apa yang terlihat dari Islam pada diri kita?


Bukan hanya berapa banyak kita berbicara tentang agama.


Bukan hanya seberapa sering kita hadir di masjid.


Bukan hanya berapa banyak pengetahuan agama yang kita miliki.


Tetapi juga: bagaimana lisan kita, bagaimana sikap kita, bagaimana pergaulan kita dan bagaimana kita menjaga kehormatan diri.


Islam yang hidup akan terlihat dalam akhlak.


Takwa yang hidup akan terlihat dalam pengendalian diri.


Iman yang hidup akan terlihat ketika seseorang berada sendirian dan tetap memilih tidak melakukan dosa karena yakin Allah melihatnya.


Maka kepada generasi Muslim, terutama muda-mudi, pesan ini patut direnungkan dalam-dalam.


Jaga dua lubang yang disebut Rasulullah: mulut dan faraj.


Jaga apa yang keluar dari mulut.

Jaga apa yang masuk melalui pandangan dan pikiran.

Jaga apa yang diketik oleh jari.

Jaga pergaulan.


Jaga kehormatan.

Jauhi pornografi dan pornoaksi.

Jangan bermain-main dengan dosa yang terlihat kecil.


Sebab kita tidak pernah tahu kapan sebuah “kecil” berubah menjadi kebiasaan besar.


Dan jangan lupa dua bekal yang disebut Nabi sebagai jalan yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga:


takwa dan akhlak mulia.


Keduanya bukan hanya bekal menuju akhirat.


Keduanya juga membuat kehidupan dunia lebih tertata, hati lebih tenang, hubungan sosial lebih sehat dan diri lebih kuat menghadapi godaan. Penelitian psikologi tentang pengendalian diri juga menemukan kaitan positif antara kemampuan regulasi diri dan kesejahteraan, meskipun tentu saja temuan psikologi tidak dapat menggantikan landasan spiritual yang diberikan wahyu. 


Maka mari menjaga takwa.

Mari memperindah akhlak.

Mari menjaga lisan.

Mari menjaga kehormatan.


Sebab kehidupan seorang Muslim bukan hanya tentang bagaimana masuk ke masjid dengan pakaian yang baik, tetapi juga bagaimana keluar dari masjid membawa lisan yang bersih, hati yang bersih dan perilaku yang bersih.


Jangan biarkan nila setitik merusak susu sebelanga.


Satu ucapan bisa merusak persaudaraan.


Satu tindakan bisa merusak kehormatan.


Satu kebiasaan buruk bisa menggerogoti akhlak.


Karena itu, sebelum semuanya terlambat, mari menjaga dua jalan menuju keselamatan: takwa dan akhlak; serta menjaga dua pintu yang dapat membawa manusia kepada kebinasaan: mulut dan faraj.


Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang menyakiti, menjaga pandangan kita dari yang haram, menjaga kehormatan kita dari maksiat, memperindah akhlak kita dengan akhlak Rasulullah SAW, dan mengaruniakan kepada kita ketakwaan yang benar hingga akhir hayat.


Allahumma inni as’aluka taqwaka wal-huda wal-’afafa wal-ghina.

Amin.


Wallahu a’lam 


Darussalam 20 Rabiul Akhir 1448, 2 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Foto: Tgk Safaini, kedua dari kiri

×
Berita Terbaru Update