Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada orang yang sibuk membangun rumah untuk hari esok, tetapi lupa membangun penghuninya. Ada yang menyiapkan tabungan untuk masa depan anak-anak, tetapi lupa menyiapkan iman mereka. Ada pula yang mengejar jabatan, kekayaan dan popularitas, tetapi tidak sempat bertanya: apa yang sebenarnya sudah saya persiapkan untuk hari esok yang sesungguhnya?
Pertanyaan itu terasa relevan setelah mengikuti tausiyah Subuh Prof Dr Muhammad Yasir Yusuf dalam Safari Subuh BBC di Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh, Ahad, 4 Oktober 2026.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry itu mengingatkan satu kata penting dari Al-Qur’an: “li-ghad”, untuk hari esok.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
Ayat ini bukan sekadar perintah agar manusia berpikir tentang masa depan. Ia mengandung perintah untuk melihat kembali apa yang telah kita kerjakan hari ini sebagai bekal bagi hari esok.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa mā qaddamat li-ghad berkaitan dengan apa yang dipersiapkan manusia untuk kehidupan akhirat. Imam Ibnu Katsir mengaitkannya dengan pentingnya muhasabah, menghitung diri sebelum datang hari ketika manusia diperhitungkan.
Namun, pesan ayat tersebut juga dapat kita renungkan dalam cakupan yang lebih luas: setiap manusia beriman dituntut memiliki kesadaran tentang masa depan dan mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Di sinilah kata hari esok menjadi sangat dalam.
Dua Wajah Hari Esok
Li-ghad dapat kita renungkan dalam dua horizon.
Pertama, hari esok yang pendek, yaitu hari-hari yang masih tersisa dalam kehidupan kita di dunia.
Kita tidak tahu berapa panjangnya. Mungkin masih puluhan tahun, mungkin belasan tahun, mungkin hanya beberapa hari.
Karena itu, membangun hari esok berarti menyiapkan kesehatan, keluarga, pendidikan anak, ekonomi, pekerjaan, ilmu, hubungan sosial serta kualitas spiritual.
Kita bekerja hari ini agar keluarga tidak kesulitan besok. Kita mendidik anak hari ini agar mereka mampu berdiri tegak pada zamannya nanti. Kita menabung, membangun usaha, mengembangkan ilmu dan menjaga kesehatan karena semua itu merupakan bagian dari ikhtiar menghadapi hari-hari yang akan datang.
Inilah tanggung jawab kita terhadap kehidupan dunia.
Tetapi ada hari esok yang panjang, bahkan tidak berujung: kehidupan akhirat.
Di sinilah li-ghad menemukan makna terdalamnya.
Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang akan saya makan besok?”, tetapi juga, “Apa yang akan saya bawa ketika tidak ada lagi hari setelah kematian?”
Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.
Dengan demikian, Islam sesungguhnya mengajarkan manajemen masa depan yang melampaui manajemen dunia.
Kita diperintahkan memikirkan masa depan dunia, tetapi tidak boleh kehilangan perspektif tentang masa depan akhirat.
Jangan Tinggalkan Generasi Lemah
Membangun hari esok juga tidak boleh berhenti pada diri sendiri.
Ada anak-anak yang akan meneruskan kehidupan setelah kita pergi. Ada generasi yang akan menerima negeri ini setelah kita selesai memegang amanah.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ…
“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya…” (QS An-Nisa: 9).
Pertanyaannya kemudian: lemah dalam apa?
Bukan hanya lemah ekonomi.
Generasi dapat lemah iman, lemah akhlak, lemah ilmu, lemah mental, lemah keterampilan, lemah daya saing, bahkan lemah dalam membaca perubahan zaman.
Karena itu, kegelisahan orang tua terhadap masa depan anak sebenarnya merupakan bagian dari tanggung jawab.
Orang tua tidak cukup hanya menyediakan rumah, makanan, pakaian dan biaya pendidikan. Anak membutuhkan keteladanan.
Ayah dan ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Ada proses transfer nilai dari orang tua kepada anak. Apa yang dilakukan ayah akan dilihat anak. Bagaimana ibu menghadapi masalah akan direkam anak. Bagaimana orang tua memperlakukan orang lain akan menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat.
Maka pendidikan anak adalah investasi terbesar orang tua.
Kita bukan hanya sedang membesarkan anak untuk hari ini. Kita sedang mempersiapkan manusia yang akan hidup di zaman yang mungkin tidak pernah kita kenal.
Legacy yang Tidak Berhenti Setelah Kematian
Di sinilah kita sampai pada persoalan legacy.
Nabi SAW bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.
Hadis ini sesungguhnya memberikan gambaran luar biasa tentang bagaimana Islam memandang warisan kehidupan.
Pertama, anak saleh.
Anak saleh bukan hanya anak yang sukses secara akademik, memiliki jabatan atau memperoleh penghasilan tinggi.
Anak saleh adalah anak yang memiliki kesadaran kepada Allah. Ia tetap takut kepada Allah walaupun orang tuanya tidak melihat apa yang dilakukannya.
Inilah kualitas yang paling mahal.
Sebab orang tua tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Sekolah tidak mungkin mengawasi murid sepanjang hidupnya. Negara tidak mungkin menempatkan aparat di setiap sudut kehidupan.
Tetapi iman dapat menjadi pengawas dari dalam diri.
Kedua, ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat tidak hanya ilmu agama. Semua ilmu yang memberikan kemaslahatan kepada manusia dapat menjadi warisan kebaikan: ilmu kedokteran, ekonomi, teknologi, pertanian, pendidikan, teknik, hukum, sosial, komunikasi dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya mungkin tidak pernah tahu berapa banyak manusia yang kelak mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut.
Begitu pula seorang akademisi yang melahirkan gagasan, seorang dokter yang menyelamatkan pasien, seorang insinyur yang membangun fasilitas publik, atau seorang petani yang mengembangkan teknologi pertanian yang bermanfaat.
Ilmu menjadi legacy ketika ia terus bekerja untuk kemaslahatan.
Ketiga, sedekah jariah.
Di zaman kita, ia dapat mengambil berbagai bentuk, termasuk wakaf. Tanah yang diwakafkan, masjid yang dibangun, sekolah yang didirikan, sumber air yang disediakan, fasilitas pendidikan yang dihadirkan, semuanya dapat menjadi jejak manfaat yang panjang.
Inilah warisan yang tidak selalu berbentuk benda yang diwariskan kepada ahli waris, tetapi manfaat yang diwariskan kepada manusia.
Dari Muhasabah Menuju Perencanaan
Menariknya, prinsip Al-Qur’an tentang li-ghad memiliki resonansi kuat dengan ilmu manajemen modern.
Stephen R. Covey memperkenalkan prinsip “Begin With the End in Mind”—memulai dengan membayangkan tujuan akhir.
Gagasannya sederhana: manusia harus mengetahui ke mana hendak pergi sebelum menentukan langkah.
Dalam bahasa Al-Qur’an, jauh sebelum istilah vision, strategic planning dan future planning menjadi populer, manusia sudah diperintahkan:
“Wal tanzhur nafsun mā qaddamat li-ghad.”
Hendaklah setiap diri melihat apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.
Maka muhasabah bukan sekadar menyesali masa lalu. Ia adalah bahan baku untuk memperbaiki masa depan.
Kita dapat bertanya setiap malam:
Apa yang sudah saya lakukan hari ini?
Apa yang bermanfaat?
Apa yang sia-sia?
Apa yang harus diperbaiki?
Siapa yang telah saya bahagiakan?
Siapa yang mungkin terluka karena ucapan atau tindakan saya?
Ilmu apa yang bertambah?
Amal apa yang bertambah?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini ternyata hari terakhir saya, apakah saya sudah memiliki bekal untuk bertemu Allah?
Membangun Hari Esok Membutuhkan Langkah
Hari esok yang baik tidak lahir hanya dari harapan.
Ia membutuhkan perencanaan.
Pertama, memiliki visi.
Kita harus tahu ingin menjadi manusia seperti apa, keluarga seperti apa, masyarakat seperti apa dan generasi seperti apa.
Kedua, menentukan prioritas.
Tidak semua yang kita inginkan harus dikejar sekaligus. Waktu dan energi terbatas. Karena itu, kita harus mampu membedakan antara yang penting dan yang sekadar menarik perhatian.
Ketiga, membangun investasi.
Ilmu, kesehatan, karakter, keluarga, ekonomi yang sehat, jaringan sosial dan amal jariah adalah investasi masa depan.
Keempat, melakukan evaluasi.
Hidup membutuhkan review. Apa yang berhasil harus dipertahankan. Apa yang salah harus diperbaiki. Apa yang tidak produktif harus ditinggalkan.
Kelima, menyiapkan manusia setelah kita.
Inilah bagian yang sering dilupakan.
Masa depan bukan hanya tentang “saya nanti”, tetapi tentang “mereka setelah saya.”
Bright Future untuk Generasi Muslim
Kita sering berbicara tentang bright future, masa depan yang cerah.
Tetapi masa depan yang cerah tidak lahir dari optimisme kosong.
Ia lahir dari generasi yang dipersiapkan.
Dunia yang akan dihadapi anak-anak kita berbeda dengan dunia yang kita hadapi hari ini.
Kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan geopolitik, persaingan ekonomi, perubahan iklim, perang informasi, disrupsi pekerjaan dan pertarungan nilai akan semakin memengaruhi kehidupan manusia.
Generasi Muslim tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.
Mereka harus menjadi pencipta.
Tidak cukup hanya menjadi penonton politik.
Mereka harus memiliki kapasitas kepemimpinan dan etika publik.
Tidak cukup hanya menjadi konsumen ekonomi.
Mereka harus menjadi produsen, pengusaha, profesional dan inovator.
Tidak cukup hanya mempertahankan kebudayaan sebagai nostalgia.
Mereka harus mampu menghidupkan kebudayaan yang berakar pada nilai Islam tetapi mampu menjawab zaman.
Dan tidak cukup hanya berbicara tentang pertahanan dalam pengertian militer.
Generasi masa depan juga harus memiliki pertahanan diri: pertahanan iman, akhlak, mental, keluarga, literasi digital dan kemampuan menyaring informasi.
Inilah bright future yang semestinya kita bangun.
Maju tanpa kehilangan arah.
Modern tanpa kehilangan iman.
Profesional tanpa kehilangan akhlak.
Terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan jati diri.
Politik, Ekonomi dan Peradaban
Karena itu, persiapan hari esok harus menyentuh seluruh dimensi kehidupan.
Dalam politik, generasi Muslim harus disiapkan menjadi warga negara dan pemimpin yang memahami amanah, keadilan, konstitusi, demokrasi, kebijakan publik dan kepentingan bangsa.
Dalam ekonomi, mereka harus menguasai ilmu, teknologi, kewirausahaan dan ekonomi syariah sehingga umat tidak hanya menjadi pasar bagi produk orang lain.
Dalam sosial, mereka harus memiliki kemampuan membangun kolaborasi, menghargai perbedaan dan menghidupkan solidaritas.
Dalam kebudayaan, mereka harus mampu menjadi produsen gagasan dan karya, bukan sekadar konsumen budaya global.
Dalam pendidikan, mereka harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat.
Dalam pertahanan diri, mereka harus kuat secara fisik, mental, spiritual dan digital.
Dengan kata lain, bright future bukan sekadar masa depan yang kaya secara materi.
Ia adalah masa depan yang bermartabat.
Dunia Disiapkan, Akhirat Tidak Dilupakan
Islam tidak mengajarkan kita melarikan diri dari dunia demi akhirat.
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS Al-Qashash: 77).
Ayat ini memberikan keseimbangan yang sangat indah.
Bangun ekonomi, tetapi jangan kehilangan kejujuran.
Bangun politik, tetapi jangan kehilangan amanah.
Bangun teknologi, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan.
Bangun pertahanan, tetapi jangan kehilangan keadilan.
Bangun karier, tetapi jangan kehilangan keluarga.
Bangun masa depan anak-anak, tetapi jangan lupa membangun akhirat mereka.
Dan yang paling penting:
Bangun dunia dengan orientasi akhirat.
Sebab dunia adalah perjalanan, bukan terminal terakhir.
Legacy yang Lebih Panjang dari Umur
Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan dunia dengan tangan kosong.
Jabatan berhenti.
Rumah berpindah tangan.
Harta diwariskan.
Popularitas perlahan hilang.
Tetapi kebaikan memiliki kemungkinan berjalan lebih jauh daripada usia pemiliknya.
Seorang ayah yang mengajarkan anaknya shalat mungkin sedang membangun masa depan yang tidak pernah ia lihat.
Seorang ibu yang menanamkan kejujuran mungkin sedang menyelamatkan generasi yang tidak pernah ia temui.
Seorang guru yang mengajarkan ilmu mungkin sedang menanam pohon yang buahnya dinikmati generasi yang tidak pernah dikenalnya.
Seseorang yang mewakafkan tanah untuk masjid, sekolah atau fasilitas publik mungkin sedang membangun amal yang tetap hidup ketika namanya mulai dilupakan.
Itulah legacy.
Maka legacy dalam perspektif Islam bukan sekadar nama yang dikenang.
Legacy adalah manfaat yang terus bekerja ketika kita sudah tidak bekerja.
Pesan Prof Yasir tentang li-ghad sesungguhnya mengajak kita berhenti hidup sekadar dari hari ke hari.
Jangan hanya bertanya apa yang akan kita dapatkan besok.
Bertanyalah juga:
Apa yang kita tinggalkan untuk besok?
Dan lebih jauh lagi:
Jangan hanya mempersiapkan apa yang akan kita nikmati setelah hari ini. Persiapkan pula apa yang akan kita pertanggungjawabkan setelah kematian.
Hari esok dunia harus dibangun dengan ilmu, kerja, profesionalisme dan perencanaan.
Hari esok akhirat harus dibangun dengan iman, takwa dan amal saleh.
Sedangkan legacy dibangun dengan memastikan kebaikan kita tidak berhenti pada diri kita.
Barangkali inilah seni terbesar kehidupan: hidup hari ini dengan kesadaran tentang hari esok, dan menanam hari ini sesuatu yang tetap tumbuh ketika kita sendiri sudah tidak berada di sana untuk melihatnya.
Membangun hari esok berarti membangun masa depan.
Membangun legacy berarti membangun masa depan yang tetap membawa kebaikan setelah kita tiada.
Dan li-ghad mengingatkan kita:
Hari esok itu pasti datang. Yang belum pasti hanyalah apakah kita sudah menyiapkan bekalnya.
Wallahu a’lam
Darussalam 23 Rabiul Akhir 1448, 4 Oktober 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)
