Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada orang yang mengkritik dengan marah. Ada yang mengkritik sambil mengangkat suara. Ada pula yang memilih kalimat tenang, tetapi setelah kalimat itu selesai diucapkan, orang yang mendengarnya justru pulang membawa pikiran yang tidak nyaman.
Rocky Gerung berada di kelas yang terakhir itu.
Gaya kritik Rocky selama bertahun-tahun menarik perhatian bukan semata karena apa yang dikritiknya, tetapi karena bagaimana ia menyampaikan kritik. Ia menggunakan satire, ironi, permainan logika, metafora, dan kadang-kadang humor yang menyengat. Kalimatnya dapat membuat orang tertawa, tersinggung, lalu—ini yang menarik—berpikir.
Di situlah sebenarnya ada pelajaran penting.
Kritik yang baik tidak selalu harus keras. Ia harus mengena.
Satire berbeda dengan sarkasme. Satire menyerang gagasan, keadaan, kontradiksi, atau perilaku publik melalui sindiran dan ironi. Sarkasme lebih mudah bergeser menjadi serangan terhadap pribadi. Satire mengajak orang bercermin; sarkasme kadang membuat orang merasa sedang ditelanjangi di depan umum.
Karena itu, gaya Rocky sesungguhnya bukan barang sederhana yang bisa dipungut lalu dipakai siapa saja.
Ia lahir dari kombinasi keberanian, pengetahuan, kemampuan merangkai kata, kecepatan membaca situasi, dan yang paling penting, kemampuan mempertanggungjawabkan argumen.
Orang boleh meniru keberaniannya. Tetapi jangan buru-buru meniru bahasanya.
Sebab kalau seseorang hanya mengambil kulitnya—kalimat pedas, metafora tajam, dan nada mengejek—tanpa memiliki isi kepala yang memadai, kritiknya bukan menjadi satire. Ia berubah menjadi sekadar ejekan.
Jangan Berdebat dengan Rocky Menggunakan Emosi
Salah satu pelajaran menarik dari fenomena Rocky adalah bahwa menghadapi kritik tajam dengan kemarahan biasanya merupakan pilihan yang buruk.
Ketika seseorang melempar kritik dengan logika dan kita membalas dengan emosi, sesungguhnya kita telah meninggalkan lapangan permainan sendiri.
Rocky mengajak lawan berpikir. Jika lawannya menjawab dengan amarah, ia justru sedang membantu membuktikan bahwa kritik itu berhasil mengguncang pertahanan.
Karena itu, menghadapi kritik yang cerdas harus dengan kecerdasan pula.
Bukan dengan mengatakan, “Anda siapa?”
Melainkan, “Di mana letak kekeliruan argumentasi Anda?”
Bukan dengan mengatakan, “Jangan sok pintar!”
Melainkan, “Mari kita periksa data dan kesimpulannya.”
Bukan pula dengan menyerang karakter orang yang mengkritik, tetapi membedah gagasannya.
Inilah tradisi intelektual yang jauh lebih sehat.
Karl Popper menempatkan kritik dan pengujian sebagai bagian penting dalam perkembangan pengetahuan. Dalam masyarakat terbuka, gagasan tidak menjadi benar semata-mata karena siapa yang mengucapkannya. Gagasan harus bersedia diuji, dikritik, dan bahkan dibantah.
Dengan demikian, orang yang dikritik tidak perlu tersinggung sebelum memeriksa apakah kritik itu benar.
Dan orang yang mengkritik pun harus siap menerima kritik balik.
Di situlah demokrasi menjadi dewasa.
Tetapi Kritik Juga Memerlukan Konsistensi
Ada persoalan lain yang menarik dari fenomena Rocky belakangan ini.
Ketika seorang tokoh selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik kekuasaan dengan bahasa yang sangat tajam, kemudian tampil dalam posisi yang lebih dekat dengan kekuasaan dan menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang, publik tentu akan bertanya.
Itu bukan sesuatu yang aneh.
Publik memang berhak membaca perubahan sikap seorang tokoh melalui rekam jejaknya.
Masalahnya bukan pada perubahan.
Manusia boleh berubah. Bahkan perubahan pikiran kadang merupakan tanda kedewasaan.
Yang menjadi persoalan adalah konsistensi antara prinsip yang pernah diucapkan dengan pilihan yang kemudian diambil.
Di ruang publik, perubahan posisi mudah sekali diproduksi menjadi narasi.
Hari ini orang berkata, “Ia sedang matang.”
Besok orang lain berkata, “Ia sudah berubah.”
Lusa muncul meme: “Dulu meludah ke atas, sekarang kena muka sendiri.”
Begitulah media sosial bekerja. Ia tidak selalu mencari kebenaran terlebih dahulu. Ia sering mencari cerita yang paling mudah dijual.
Karena itu, jika Rocky merasa tuduhan bahwa dirinya telah berubah haluan tidak benar, menurut hemat saya, ia tidak perlu sibuk membalas semua komentar.
Diam boleh. Tetapi diam sebaiknya bukan akhir dari cerita.
Ada pilihan kedua yang jauh lebih elegan: membuktikannya dengan tindakan.
Jika suatu ketika ternyata ia tidak lagi sejalan dengan kekuasaan, ia dapat menunjukkan sikapnya melalui keputusan nyata. Bahkan keluar dari sebuah posisi ketika prinsip sudah tidak sejalan merupakan bahasa politik yang jauh lebih kuat daripada seribu satire.
Sejarah politik Indonesia mengenal pilihan semacam itu. Din Syamsuddin, misalnya, pernah menunjukkan bahwa keterlibatan seseorang dalam suatu lingkungan kekuasaan tidak berarti kehilangan hak untuk mengambil jarak ketika prinsip politiknya berbeda.
Maka, untuk Rocky, biarlah publik menilai.
Tidak perlu buru-buru bernyanyi satire.
Tidak perlu menjelaskan diri setiap hari.
Biarkan waktu menguji.
Jika memang prinsipnya tidak berubah, publik akan melihatnya.
Dan mungkin suatu hari Rocky tidak perlu lagi mengejar panggung. Panggunglah yang akan kembali mencarinya.
Nama yang pernah ditendang-tendang oleh warganet pun bisa kembali disapa dengan santai.
Begitulah politik.
Hari ini dicaci.
Besok dicari.
Lusa dipuji.
Karena itu, seorang intelektual publik membutuhkan sesuatu yang lebih panjang umur daripada popularitas: konsistensi.
Kritik Bukan Sekadar Seni Menyakitkan
Di sinilah kita perlu memperluas pelajaran.
Komunikasi politik bukan sekadar seni berbicara. Ia juga seni membangun makna, kepercayaan, dan hubungan dengan publik.
Harold D. Lasswell sejak lama merumuskan komunikasi politik melalui pertanyaan sederhana tetapi fundamental: siapa mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan dengan akibat apa?
Artinya, kalimat yang sama dapat menghasilkan akibat berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya, kepada siapa ia ditujukan, dalam situasi apa, dan melalui media apa.
George Lakoff, melalui kajiannya tentang framing, juga menunjukkan bahwa perdebatan politik bukan hanya soal fakta, tetapi tentang bagaimana fakta dibingkai dalam pikiran publik.
Maka seorang pengkritik harus memahami bahwa kalimat bukan sekadar bunyi; kalimat menciptakan bingkai.
Satu kalimat dapat membuka ruang dialog.
Kalimat lain dapat menutup pintu dialog.
Di sinilah generasi muda perlu belajar.
Jangan mengira orang yang paling keras adalah orang yang paling berani.
Jangan pula mengira orang yang paling pedas adalah orang yang paling pintar.
Kadang-kadang keberanian justru terlihat dari kemampuan mengatakan sesuatu yang keras dengan bahasa yang tetap beradab.
Belajar Kritik dengan Lima Tangga
Saya kira ada setidaknya lima keterampilan yang perlu dipelajari generasi muda.
Pertama, bedakan kritik terhadap gagasan dan serangan terhadap pribadi.
Katakan, “Argumen ini lemah karena datanya tidak cukup.”
Jangan buru-buru mengatakan, “Otakmu memang tidak sampai.”
Yang pertama membuka perdebatan.
Yang kedua membuka permusuhan.
Kedua, kuasai substansi sebelum memainkan satire.
Satire tanpa pengetahuan hanya menjadi kelucuan.
Orang tertawa, tetapi tidak ada gagasan yang tumbuh.
Karena itu, sebelum mengkritik kebijakan ekonomi, pahami ekonominya. Sebelum mengkritik hukum, pahami hukumnya. Sebelum mengkritik pendidikan, baca dunia pendidikan.
Ketiga, gunakan data sebagai tulang punggung dan bahasa sebagai kulitnya.
Jangan membaliknya.
Banyak orang hari ini memiliki bahasa yang indah tetapi data yang tipis. Akibatnya, kritik terdengar hebat selama dua menit dan runtuh ketika diperiksa.
Keempat, belajar mendengar sebelum menjawab.
Daniel Kahneman menunjukkan betapa manusia mudah terjebak dalam bias penilaian. Kita sering mendengar bukan untuk memahami, tetapi untuk mencari celah agar dapat membalas.
Padahal pendebat yang hebat bukan hanya cepat menjawab.
Ia cepat memahami.
Kelima, tahu kapan harus berhenti.
Tidak semua kritik harus dibalas.
Tidak semua komentar media sosial harus dijawab.
Tidak setiap provokasi layak diberi panggung.
Kadang-kadang kemenangan terbesar dalam komunikasi adalah mengetahui bahwa lawan sedang berusaha menyeret kita ke tempat yang tidak perlu kita datangi.
Jangan Menjadi Rocky Kedua
Ini barangkali pelajaran terpenting.
Generasi muda tidak perlu menjadi Rocky Gerung kedua.
Rocky cukup menjadi Rocky.
Gaya Rocky adalah milik Rocky.
Keberanian Rocky adalah pengalaman Rocky.
Kapasitas intelektual Rocky adalah hasil perjalanan Rocky.
Kalau semua orang meniru Rocky, dunia tidak mendapatkan banyak Rocky. Dunia justru kehilangan banyak anak muda dengan potensi menjadi dirinya sendiri.
Yang perlu ditiru bukan bunyi kalimatnya.
Yang perlu dipelajari adalah disiplin berpikirnya, keberaniannya menyampaikan pendapat, kesediaannya berhadapan dengan kritik, dan kemampuannya membuat orang berpikir.
Setelah itu, temukan gaya sendiri.
Ada yang kuat melalui data.
Ada yang kuat melalui humor.
Ada yang kuat melalui narasi.
Ada yang kuat melalui riset.
Ada yang kuat melalui ketenangan.
Ada pula yang kuat melalui kesederhanaan bahasa.
Semuanya sah.
Dalam demokrasi yang sehat, kita tidak membutuhkan satu gaya kritik. Kita membutuhkan banyak gaya berpikir yang bertemu dalam ruang yang sama.
Tajam, Tetapi Tidak Menikam
Kita barangkali perlu kembali kepada satu prinsip sederhana: kritik harus membuat keadaan lebih baik daripada sebelum kritik itu disampaikan.
Jika setelah kritik keluar semua orang hanya saling membenci, mungkin kalimatnya memang tajam, tetapi belum tentu produktif.
Kritik yang matang mempunyai tiga unsur: kebenaran, keberanian, dan kebijaksanaan.
Kebenaran tanpa keberanian hanya menjadi pengetahuan yang disimpan di kepala.
Keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kegaduhan.
Kebijaksanaan tanpa keberanian dapat berubah menjadi diam yang terlalu lama.
Maka yang kita cari adalah pertemuan ketiganya.
Tajam, tetapi tidak menikam.
Berani, tetapi tidak beringas.
Satire, tetapi tidak merendahkan.
Kritis, tetapi tetap moderat.
Dan yang paling penting: mengkritik kekuasaan tanpa kehilangan akal sehat, serta membela gagasan tanpa kehilangan adab.
Mungkin inilah pembelajaran paling berharga dari fenomena Rocky Gerung.
Bukan bagaimana menjadi Rocky.
Tetapi bagaimana menjadi diri sendiri yang berani berpikir.
Sebab demokrasi tidak membutuhkan generasi yang pandai berteriak.
Demokrasi membutuhkan generasi yang cerdas bertanya, tangkas berargumentasi, berani berbeda, siap dikritik, dan cukup dewasa untuk mengubah pendapat ketika menemukan kebenaran yang lebih kuat.
Dan pada akhirnya, kritik terbaik bukanlah kritik yang membuat lawan terdiam karena tersinggung.
Kritik terbaik adalah kritik yang membuat lawan pulang, duduk sendiri, lalu berkata dalam hati:
“Jangan-jangan dia ada benarnya.”
Di situlah satire berubah menjadi pendidikan.
Di situlah kritik berubah menjadi energi perubahan.
Dan di situlah kecerdasan menemukan adabnya.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 5 Oktober 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, pegiat moderasi UIN Ar-Raniry)
