Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada satu pelajaran menarik yang saya tangkap dari tausiyah Dr. Barmawi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam membahas psikologi kepribadian manusia dalam perspektif Al-Qur’an, ia menawarkan sebuah formula sederhana, tetapi menurut saya sangat dalam: 15–35–50.
Nafsu 15 persen, akal 35 persen, dan hati 50 persen.
Angka-angka itu tentu bukan kalkulasi matematis tentang isi jiwa manusia. Ia lebih tepat dibaca sebagai metafora keseimbangan. Nafsu tetap diperlukan sebagai energi kehidupan, akal dibutuhkan untuk menimbang dan mengendalikan, sedangkan hati menjadi kompas moral, spiritualitas dan akhlak.
Di situlah saya menemukan satu pertanyaan penting: bagaimana jika manusia hanya membesarkan satu unsur, tetapi mengabaikan unsur yang lain?
Bukankah di situlah banyak persoalan manusia bermula?
Hidup yang Sekadar Mengalir
Banyak orang menjalani kehidupan dengan prinsip sederhana: mengalir saja.
Hari ini bekerja, besok bekerja lagi. Ada kesempatan diambil. Ada keuntungan dikejar. Ada kemarahan dilampiaskan. Ada kritik dibalas. Ada pujian dinikmati. Ada kekalahan dicari kambing hitamnya.
Hidup terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju tujuan.
Manusia dapat sangat sibuk, tetapi tidak produktif. Dapat sangat pintar, tetapi tidak bijaksana. Dapat sangat kritis, tetapi tidak reflektif. Bahkan dapat sangat berani berbicara, tetapi tidak cukup berani mengoreksi dirinya sendiri.
Inilah bahaya kehidupan tanpa formula keseimbangan.
Nafsu mengambil kemudi, akal menjadi pembenar, sementara hati hanya menjadi penonton.
Padahal Dr. Barmawi mengingatkan bahwa manusia membutuhkan keseimbangan. Nafsu 15 persen sebagai energi, akal 35 persen sebagai penimbang dan pelaksana, serta hati 50 persen sebagai penentu arah moral dan spiritual.
Saya kira ini bukan hanya nasihat untuk kehidupan pribadi. Ia juga relevan untuk kehidupan sosial, pendidikan, kepemimpinan bahkan komunikasi politik.
Nafsu Tidak Salah, yang Salah Ketika Ia Berkuasa
Al-Qur’an tidak meminta manusia membunuh nafsunya. Nafsu adalah bagian dari manusia.
Kita membutuhkan keinginan untuk bekerja, berprestasi, memiliki kehidupan yang lebih baik, memperoleh penghasilan, membangun keluarga, bahkan mempertahankan diri ketika diperlakukan tidak adil.
Yang berbahaya adalah ketika keinginan berubah menjadi penguasa.
Karena itu, 15 persen adalah sebuah pengingat: nafsu boleh menjadi bahan bakar, tetapi jangan diberi posisi sebagai sopir.
Kalau nafsu menjadi sopir, kita mudah tersinggung ketika dikritik, mudah marah ketika kalah, sulit menerima keberhasilan orang lain dan terus merasa diri paling layak didengar.
Di sinilah akal harus bekerja.
Tetapi akal pun belum cukup.
Sebab orang yang cerdas bisa menggunakan kecerdasannya untuk mencari alasan membenarkan dirinya sendiri.
Akal Sehat Tidak Cukup Jika Kehilangan Hati
Saya kemudian teringat pada istilah yang sangat sering digunakan Rocky Gerung: “akal sehat.”
Rocky menjadikan akal sehat sebagai semacam senjata intelektual untuk melawan apa yang ia anggap sebagai kedunguan. Dalam sejumlah materi publiknya, istilah “akal sehat” memang menjadi identitas retoriknya, berhadapan dengan istilah “dungu”. Bahkan kanal resminya masih menggunakan slogan “Salam Akal Sehat”.
Saya tidak mempersoalkan pentingnya akal sehat.
Justru kita sangat membutuhkan akal sehat.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berani bertanya, menguji argumentasi, membongkar kemunafikan, mengoreksi kekuasaan dan menolak cara berpikir yang malas.
Tetapi di sinilah saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang mungkin sedikit nakal:
Di mana posisi hati dalam akal sehat?
Sebab akal sehat yang hanya sibuk membuktikan bahwa orang lain keliru dapat berubah menjadi kesombongan intelektual.
Akal sehat yang selalu merasa dirinya paling rasional dapat kehilangan kemampuan mendengarkan.
Akal sehat yang terlalu menikmati kemenangan argumentasi dapat lupa bahwa manusia yang sedang dikalahkan dalam perdebatan tetap memiliki martabat.
Dan akal sehat yang terus menyerang tanpa menyediakan ruang untuk melakukan koreksi diri dapat berubah menjadi apa yang saya sebut secara metaforis sebagai “penyakit akal sehat.”
Ini bukan diagnosis klinis terhadap siapa pun. Ini adalah kritik terhadap sebuah gaya komunikasi ketika jargon tentang kewarasan justru berpotensi kehilangan unsur kewarasan yang lain: kerendahan hati, empati, pengendalian diri dan kesediaan mendengar.
Dua Ekstrem: Dungu dan Terlalu Yakin
Rocky memiliki dua istilah yang sering berhadapan: akal sehat dan dungu.
Secara retoris, pasangan istilah ini memang kuat. Ia membuat persoalan yang rumit menjadi mudah ditangkap publik: yang satu dianggap mampu berpikir, yang lain dianggap gagal menggunakan nalar.
Tetapi manusia tidak sesederhana dua kotak itu.
Orang yang hari ini benar dapat keliru besok.
Orang yang memiliki argumentasi kuat dapat salah membaca kenyataan.
Orang yang mengkritik orang lain dengan sangat tajam juga perlu menyediakan ruang bagi kemungkinan bahwa kritik terhadap dirinya mengandung kebenaran.
Di sinilah 35 persen akal perlu bertemu dengan 50 persen hati.
Hati bukan lawan akal.
Hati justru memberi akal arah.
Psikologi modern pun tidak menempatkan manusia sebagai mesin rasional yang steril dari emosi. Kajian tentang pengambilan keputusan moral menunjukkan bahwa proses emosional dan proses deliberatif saling berinteraksi; nalar dan emosi tidak sesederhana dua kubu yang harus saling meniadakan.
Dengan kata lain, manusia yang sehat bukan manusia tanpa emosi, melainkan manusia yang mampu mengelola dorongan, emosi, pertimbangan dan nilai secara terpadu.
Psikologi Mengajarkan: Kendalikan Diri, Bukan Orang Lain
Richard Ryan dan Edward Deci melalui Self-Determination Theory menempatkan regulasi diri sebagai bagian penting dari perkembangan kepribadian dan kesejahteraan. Mereka menunjukkan pentingnya motivasi yang berasal dari dalam diri, otonomi, kompetensi dan keterhubungan sosial bagi perkembangan dan kesejahteraan manusia. (American Psychological Association)
Pesannya sederhana tetapi dalam: manusia yang matang bukan hanya mampu menentukan apa yang harus dikatakan kepada orang lain, tetapi juga mampu mengatur dirinya sendiri.
Dalam bahasa Dr. Barmawi, saya kira inilah ruang pertemuan antara lawwamah dan mutmainnah.
Lawwamah membuat kita mampu bertanya, “Jangan-jangan saya yang keliru?”
Mutmainnah membuat kita mampu mengatakan, “Kalaupun saya benar, saya tidak harus merendahkan orang lain.”
Bukankah ini bentuk akal sehat yang lebih lengkap?
Generasi Muda Jangan Belajar Hanya Cara Menyerang
Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.
Rocky bukan lagi sekadar komentator di ruang diskusi. Sejak 2 Oktober 2026 ia telah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia sendiri menyatakan bahwa posisi tersebut memiliki fungsi untuk melihat secara mendalam persoalan kebijakan dan memberikan pertimbangan secara kritis kepada Presiden. (Antara News)
Karena itu, setiap gaya komunikasi tokoh publik memiliki efek pendidikan.
Generasi muda sedang belajar dari apa yang mereka lihat.
Mereka belajar bagaimana cara berbeda pendapat.
Mereka belajar bagaimana mengkritik.
Mereka belajar bagaimana menghadapi lawan debat.
Mereka belajar apakah orang yang berbeda harus dihormati atau direndahkan.
Mereka juga belajar apakah ketika dikritik kita harus membalas, atau justru melakukan introspeksi.
Saya kira kita tidak boleh mewariskan kepada generasi muda sebuah pendidikan politik yang hanya mengajarkan cara menyerang, tetapi lupa mengajarkan cara mendengar.
Jangan sampai mereka belajar bahwa menjadi cerdas berarti harus sinis.
Bahwa kritis berarti harus kasar.
Bahwa menang argumentasi berarti boleh kehilangan empati.
Bahwa mempertahankan pendapat berarti tidak perlu memberi ruang kepada pendapat orang lain.
Itu bukan pendidikan komunikasi politik yang sehat.
Latihan 15–35–50
Lalu bagaimana generasi muda melatih formula 15–35–50 itu?
Pertama, latih jeda sebelum bereaksi.
Ketika marah, jangan langsung membalas. Beri jeda. Nafsu membutuhkan rem.
Kedua, biasakan bertanya sebelum menyimpulkan.
Jangan buru-buru mengatakan “saya benar”. Tanyakan: apa data yang belum saya ketahui? Apa kemungkinan saya keliru? Akal membutuhkan disiplin.
Ketiga, latih kemampuan mendengar orang yang berbeda.
Bukan untuk menyetujui semuanya, tetapi untuk memahami sebelum menilai.
Keempat, ukur kemenangan dari kualitas solusi, bukan banyaknya orang yang kalah dalam debat.
Ini penting bagi anak muda yang kelak menjadi pemimpin.
Kelima, buat evaluasi diri setiap malam.
Tanyakan tiga hal: apa yang hari ini saya lakukan dengan benar, di mana saya berlebihan, dan siapa yang mungkin terluka oleh ucapan atau tindakan saya?
Keenam, hubungkan setiap ambisi dengan nilai.
Keinginan menjadi kaya harus bertemu halal. Keinginan menjadi terkenal harus bertemu manfaat. Keinginan menjadi pemimpin harus bertemu amanah.
Ketujuh, rawat hubungan spiritual.
Karena hati 50 persen tidak akan tumbuh hanya melalui seminar motivasi. Ia membutuhkan ibadah, doa, kejujuran, muhasabah, silaturahmi dan latihan mengendalikan ego.
Inilah yang membedakan manusia yang sekadar pintar dengan manusia yang matang.
Kritik Boleh Tajam, Tetapi Hati Jangan Tumpul
Saya tidak sedang meminta Rocky Gerung berhenti mengkritik.
Justru sebaliknya.
Kritik tetap diperlukan. Kekuasaan membutuhkan pengawasan. Demokrasi membutuhkan perdebatan. Masyarakat membutuhkan intelektual yang berani mengatakan sesuatu yang tidak populer.
Tetapi kritik yang baik tidak harus kehilangan adab.
Kecerdasan tidak harus tampil dengan penghinaan.
Satire boleh tajam, tetapi jangan sampai martabat manusia menjadi korban.
Dan orang yang paling sering mengingatkan publik tentang akal sehat seharusnya juga memberi contoh bahwa akal sehat memiliki pasangan bernama kerendahan hati.
Sebab penyakit akal sehat—sekali lagi sebagai metafora—bisa muncul ketika seseorang terlalu yakin bahwa hanya dirinya yang sehat dan semua orang lain yang sakit.
Di titik itu, akal berhenti menjadi alat untuk mencari kebenaran dan berubah menjadi alat untuk membenarkan diri.
Kembali kepada Formula Dr. Barmawi
Karena itu, saya justru melihat formula Dr. Barmawi 15–35–50 sebagai penyeimbang yang menarik bagi budaya komunikasi kita.
Nafsu 15 persen: jangan biarkan emosi memegang kendali.
Akal 35 persen: berpikirlah kritis, rasional dan terukur.
Hati 50 persen: pastikan semua itu tetap berada di bawah kendali iman, moral, spiritualitas dan akhlak.
Jika formula ini dipraktikkan dalam komunikasi publik, kita mungkin mendapatkan bentuk kritik yang berbeda: tajam tanpa menghina, berani tanpa arogan, kritis tanpa kehilangan empati, dan cerdas tanpa merasa paling cerdas.
Bukankah itu yang sebenarnya kita perlukan?
Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Yang kita perlukan adalah lebih banyak manusia yang pintar sekaligus matang.
Bukan hanya pandai membongkar kesalahan orang lain, tetapi juga bersedia membongkar kesalahan dirinya sendiri.
Bukan hanya memiliki akal sehat, tetapi juga hati yang sehat.
Dan mungkin di situlah pelajaran terbesar dari tausiyah Dr. Barmawi: manusia tidak akan menemukan keseimbangan hidup jika hanya sibuk mempertajam akalnya, tetapi lupa mendidik hatinya.
Nafsu perlu dibatasi. Akal perlu diasah. Hati perlu disucikan.
Sebab pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah menjadi manusia yang paling keras suaranya, paling tajam kritiknya, atau paling banyak memenangkan perdebatan.
Tujuan hidup adalah menjadi manusia yang semakin hari semakin sehat pikirannya, semakin matang kepribadiannya, semakin lembut hatinya, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam
Darussalam Banda Aceh 7 Oktober 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
