Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Gelombang panas yang terjadi saat ini dengan suhu mencapai sekitar 42 derajat Celsius, terutama di kawasan Perancis, Jerman, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa lainnya, telah merenggut banyak korban jiwa, mengancam keselamatan manusia dan hewan, memicu kebakaran hutan, mengganggu aktivitas ekonomi, hingga memperberat kehidupan masyarakat.
Di berbagai wilayah, rumah sakit dipenuhi pasien akibat sengatan panas, jaringan listrik mengalami tekanan karena tingginya penggunaan pendingin ruangan, sementara kebakaran hutan meluas akibat vegetasi yang sangat kering.
Kita semua patut mendoakan agar suhu segera turun, masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan, dan bencana ini segera berlalu.
Peristiwa tersebut kembali mengingatkan dunia bahwa bencana tidak selalu hadir dalam bentuk gempa bumi, tsunami, banjir, atau letusan gunung api.
Gelombang panas ekstrem juga merupakan bencana yang dapat merenggut nyawa dalam jumlah besar apabila masyarakat dan pemerintah tidak memiliki kesiapsiagaan yang memadai.
Adaptasi
Secara ilmiah, para ahli menjelaskan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Perubahan iklim global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca membuat suhu rata-rata bumi terus naik.
Di sisi lain, munculnya sistem tekanan udara tinggi (heat dome) menyebabkan udara panas terperangkap dalam waktu yang lama sehingga suhu meningkat drastis.
Kekeringan yang telah berlangsung sebelumnya memperparah kondisi karena tanah yang kering tidak lagi mampu menyerap panas secara efektif. Akibatnya, panas terus terakumulasi dan berlangsung berhari-hari.
Muncul pertanyaan, mengapa suhu sekitar 42 derajat Celsius di Eropa dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih berat dibandingkan suhu serupa di sebagian wilayah Arab Saudi atau negara-negara Timur Tengah?
Jawabannya tidak sesederhana angka suhu. Eropa memiliki iklim sedang sehingga sebagian besar bangunan, fasilitas umum, dan pola hidup masyarakatnya sejak lama dirancang konon kabarnya untuk menghadapi musim dingin, bukan panas ekstrem.
Banyak rumah tidak memiliki pendingin ruangan, sementara penduduk lanjut usia juga belum terbiasa menghadapi suhu tinggi dalam waktu lama.
Selain itu, beberapa wilayah Eropa mengalami malam yang tetap panas sehingga tubuh manusia tidak memperoleh kesempatan untuk mendinginkan diri.
Sebaliknya, negara-negara seperti Arab Saudi telah berabad-abad hidup dalam lingkungan gurun. Infrastruktur, desain bangunan, pakaian, pola aktivitas masyarakat, hingga sistem pelayanan kesehatan telah disesuaikan dengan kondisi suhu yang tinggi.
Meski demikian, panas di kawasan Arab juga tetap berbahaya dan setiap tahun tetap menimbulkan korban apabila masyarakat mengabaikan prosedur keselamatan. Dengan kata lain, kemampuan beradaptasi sering kali menjadi faktor yang sama pentingnya dengan besarnya suhu itu sendiri.
Sunnatullah
Fenomena ini mengajarkan bahwa gelombang panas maupun gelombang dingin merupakan bagian dari siklus kehidupan yang terus berputar.
Allah SWT menciptakan alam dengan hukum-hukum-Nya (sunnatullah) yang harus dipahami manusia. Ada musim panas, musim dingin, musim hujan, musim kemarau, pasang dan surut, siang dan malam, semuanya menjadi bagian dari keseimbangan ciptaan-Nya.
Manusia tidak dapat menghentikan seluruh proses alam, tetapi dapat mempelajari, memahami, dan menyesuaikan diri dengannya.
Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebagian kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi dari perilaku manusia sendiri. Penebangan hutan yang tidak terkendali, pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta gaya hidup yang boros menjadi faktor yang memperparah berbagai krisis ekologis.
Allah juga berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Rasulullah SAW juga memberikan teladan agar manusia menjaga keseimbangan alam. Dalam berbagai hadis beliau melarang pemborosan, menganjurkan menanam pohon, menjaga kebersihan, serta memperlakukan makhluk hidup dengan penuh kasih sayang.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar isu modern, melainkan bagian dari ajaran Islam.
Para ulama sejak dahulu menjelaskan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh, pemakmur bumi. Amanah ini bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi alam, melainkan bertanggung jawab menjaga keseimbangannya.
Kemajuan teknologi, pembangunan ekonomi, dan eksploitasi sumber daya harus tetap berada dalam koridor kemaslahatan serta tidak merusak kehidupan generasi mendatang.
Kesiapsiagaan
Pelajaran terbesar dari gelombang panas Eropa adalah pentingnya mitigasi bencana. Mitigasi bukan hanya membangun bendungan atau memasang sistem peringatan dini, tetapi juga membangun budaya ilmu, disiplin, dan kesiapsiagaan.
Pemerintah harus memperkuat sistem perlindungan masyarakat, memperbaiki tata ruang, memperluas ruang terbuka hijau, menjaga kawasan hutan, memperkuat layanan kesehatan, serta meningkatkan literasi kebencanaan sejak usia dini.
Di sisi lain, masyarakat perlu memahami cara menghadapi berbagai ancaman bencana sesuai kondisi daerah masing-masing.
Bagi umat Islam, kesiapsiagaan merupakan bagian dari ikhtiar yang diajarkan agama. Tawakal tidak berarti pasrah tanpa usaha. Justru Islam mendorong umatnya mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, perencanaan yang matang, serta kemampuan mitigasi yang cerdas terhadap berbagai ancaman bencana.
Kedekatan kepada Allah SWT menjadi fondasi utama dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dan bimbingan para ulama akan melahirkan keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan kekuatan spiritual.
Sebaliknya, mengikuti tren yang merusak akhlak, mengabaikan nilai agama, hidup berlebihan, serta bergaya hidup terlalu royal tanpa memperhitungkan masa depan hanya akan membuat seseorang semakin rapuh ketika bencana datang.
Kesederhanaan, kemampuan mengelola keuangan, memiliki cadangan kebutuhan pokok, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan sosial, dan saling membantu antarsesama merupakan bentuk mitigasi sosial yang sangat penting.
Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi lebih cepat bangkit setelah bencana dibandingkan masyarakat yang individualistis.
Khulashah
Pada akhirnya, setiap bencana adalah pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan, teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana, lingkungan harus dijaga, dan hati harus senantiasa terhubung kepada Allah SWT.
Marilah kita memperbanyak istighfar, memohon ampun atas segala kekhilafan, berdoa agar Allah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh manusia, melindungi mereka yang sedang menghadapi gelombang panas maupun berbagai bencana lainnya, serta memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi hamba yang mampu menjaga amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Semoga setiap musibah menjadi pelajaran berharga yang melahirkan masyarakat yang lebih berilmu, lebih tangguh, lebih peduli terhadap lingkungan, lebih siap menghadapi bencana, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam
Bada Aceh 15 Muharram 1448, 30 Juni 2026
(Penulis adalah akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)
