Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Ketua Umum PP Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah (IGDA), Ustaz H. Marjuwan Ibrahim, Lc., M.A., mengingatkan besarnya tantangan yang dihadapi Generasi Z di tengah derasnya arus materialisme, lemahnya pendidikan agama dasar, serta pengaruh media sosial.
Hal itu disampaikannya dalam ceramah Subuh di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin, 27 Juli 2026 atau 12 Safar 1448 H.
Di hadapan jamaah yang terdiri atas para profesor, doktor, dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum, Ustaz Marjuwan, yang juga Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Jakarta, menyampaikan bahwa berdasarkan sejumlah kajian, terdapat sekitar 11 persen Generasi Z yang meninggalkan identitas keagamaan, bukan dengan berpindah agama, melainkan memilih menjadi agnostik sehingga tidak lagi ingin terikat dengan aturan syariat Islam, seperti halal dan haram.
Menurutnya, terdapat tiga penyebab utama fenomena tersebut. Pertama, hilangnya pendidikan agama dasar melalui Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) yang dahulu menjadi tempat anak-anak belajar mengaji dan dasar-dasar agama. Kedua, semakin berkurangnya peran ayah dalam mendidik anak karena kesibukan bekerja sehingga pendidikan tentang akidah, ibadah, dan akhlak di rumah semakin minim. Ketiga, besarnya pengaruh gawai dan media sosial yang membentuk pola pikir generasi muda.
“Media sosial hari ini dipenuhi budaya pamer kemewahan. Banyak anak muda ingin dikenal bukan karena karya, tetapi karena apa yang dimiliki. Akhlak seperti menjauhi riya, ujub, dan kesombongan semakin memudar,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti maraknya tokoh atau influencer di media sosial yang berbicara tentang berbagai persoalan agama tanpa memiliki dasar keilmuan yang memadai. Akibatnya, menurutnya, banyak generasi muda yang menerima pemahaman sekuler, liberal, maupun pembenaran terhadap perilaku yang bertentangan dengan syariat tanpa memiliki bekal ilmu agama yang kuat.
Dalam ceramahnya, Ustaz Marjuwan mengajak jamaah meneladani metode dakwah Nabi Sulaiman AS sebagaimana dikisahkan dalam Surah An-Naml. Ia menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman berhasil berdakwah kepada Ratu Balqis dengan menggabungkan kekuatan spiritual, keteladanan, serta kredibilitas yang nyata.
Menurutnya, pendekatan tersebut sangat relevan diterapkan kepada Generasi Z saat ini.
Ia mengusulkan agar kampus, masjid, dan masyarakat lebih sering menghadirkan figur-figur muda yang sukses sebagai pengusaha, akademisi, atau profesional, namun tetap istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.
“Anak-anak muda perlu melihat bahwa kesuksesan dunia dapat berjalan seiring dengan ketakwaan. Mereka membutuhkan role model yang berhasil dalam usaha, tetapi tetap menjaga salat, berbakti kepada orang tua, mencintai Al-Qur’an, dan memiliki kepedulian sosial,” katanya.
Ustaz Marjuwan juga mendorong lahirnya sinergi antara pengurus masjid, ulama, dan para pengusaha Muslim dalam membina generasi muda. Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya melalui ceramah, tetapi juga melalui pendampingan, motivasi, serta kegiatan nyata yang mampu menyentuh kebutuhan dan kehidupan mahasiswa maupun pemuda.
“Rangkul mereka, ajak berdialog, berikan motivasi, bahkan bila perlu libatkan mereka dalam kegiatan bersama. Dari situlah nilai-nilai agama akan lebih mudah diterima karena mereka melihat contoh nyata bahwa keberhasilan sejati lahir dari ketakwaan kepada Allah,” tutupnya.
Laporan Saif

