Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id - Tidak sedikit orang tua, guru, dosen, bahkan para pendakwah yang mengeluhkan Generasi Z. Mereka dinilai terlalu sibuk dengan telepon genggam, lebih senang menghabiskan waktu di media sosial daripada membaca buku, mudah bosan ketika mengikuti pengajian, kritis terhadap banyak hal, bahkan dianggap semakin jauh dari nilai-nilai agama.
Keluhan seperti ini kerap terdengar di ruang keluarga, sekolah, kampus, majelis taklim, hingga mimbar-mimbar dakwah.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya dengan jujur, benarkah persoalannya sepenuhnya berada pada Generasi Z?
Ataukah justru cara kita mendidik, mendampingi, dan berdakwah kepada mereka yang belum mampu mengikuti perubahan zaman yang mereka hadapi?
Pertanyaan ini menjadi penting untuk direnungkan setelah mengikuti Ceramah Subuh Ustaz H. Marjuwan Ibrahim, Lc., M.A., Ketua Umum Ikatan Guru dan Dosen Pesantren Persatuan Islam Al-Washliyah (IGDA), di Masjid Fathun Qarib Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh pada Senin, 27 Juli 2026.
Salah satu pesan yang dapat ditangkap dari ceramah tersebut adalah bahwa dakwah tidak cukup hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga memerlukan hikmah dalam memahami siapa yang sedang diajak kepada jalan Allah.
Pesan itu sesungguhnya sangat relevan dengan tantangan dakwah pada abad ke-21. Hari ini, objek dakwah terbesar adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam dunia digital.
Mereka hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, kecerdasan buatan, dan perubahan teknologi yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.
Jika pendekatan dakwah tidak ikut berkembang, bukan mustahil sebagian dari mereka akan merasa agama semakin jauh dari kehidupan mereka, padahal sesungguhnya yang jauh hanyalah cara kita menyampaikan pesan agama.
Mengenal Generasi Z
Para ahli demografi William Strauss dan Neil Howe memperkenalkan konsep generasi yang kemudian banyak digunakan dalam kajian sosial.
Generasi Z umumnya dipahami sebagai mereka yang lahir sekitar pertengahan 1990-an hingga awal dekade 2010-an. Mereka adalah generasi pertama yang sejak kecil telah akrab dengan internet, telepon pintar, media sosial, dan berbagai teknologi digital.
Psikolog Jean M. Twenge menjelaskan bahwa Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Mereka terbiasa memperoleh informasi secara cepat, belajar melalui berbagai platform digital, dan berinteraksi dalam dunia yang nyaris tanpa batas geografis. Mereka cenderung kritis, ingin mengetahui alasan di balik setiap aturan, menghargai keaslian (authenticity), serta lebih mudah menerima keteladanan daripada sekadar nasihat yang panjang.
Karakter tersebut tentu memiliki sisi positif sekaligus tantangan. Mereka cepat belajar, kreatif, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki keberanian menyampaikan pendapat.
Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi risiko besar berupa banjir informasi, kecanduan media sosial, tekanan psikologis, budaya instan, serta paparan berbagai nilai yang belum tentu sejalan dengan ajaran Islam.
Karena itulah, memahami Generasi Z bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Memahami adalah langkah awal agar kita dapat membimbing mereka secara tepat.
Mereka Bukan Antiagama
Ada anggapan bahwa Generasi Z semakin jauh dari agama. Kesimpulan ini tidak selalu benar. Banyak anak muda yang tetap mencintai Islam, ingin belajar Al-Qur’an, ingin memperbaiki diri, dan ingin hidup lebih dekat dengan Allah SWT.
Akan tetapi, tidak sedikit pula yang merasa ragu mendekati majelis ilmu karena khawatir dihakimi sebelum dipahami.
Sebagian ingin bertanya tentang persoalan agama, tetapi takut dianggap kurang iman. Sebagian ingin belajar, tetapi malu karena merasa ilmunya sangat sedikit.
Sebagian lagi pernah mencoba datang ke masjid atau pengajian, namun pulang dengan perasaan bahwa dirinya hanya dipenuhi celaan, bukan harapan.
Keadaan seperti ini tentu memerlukan perhatian serius. Jangan sampai ada anak muda yang menjauh dari masjid bukan karena membenci Islam, tetapi karena merasa tidak diterima oleh orang-orang yang berada di dalamnya.
Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat indah dalam menghadapi orang-orang yang baru belajar agama.
Ketika seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid, para sahabat marah dan hendak menghentikannya. Namun Rasulullah SAW meminta mereka membiarkannya hingga selesai, kemudian menjelaskan dengan penuh kelembutan bahwa masjid bukanlah tempat untuk perbuatan tersebut.
Beliau tidak mempermalukan orang itu di hadapan banyak orang, melainkan mendidiknya dengan kasih sayang.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan yang lembut sering kali lebih efektif daripada kemarahan. Kesalahan memang perlu diluruskan, tetapi cara meluruskannya tidak boleh mematikan semangat seseorang untuk terus belajar.
Dakwah yang Mengundang, Bukan Mengusir
Allah SWT telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang cara berdakwah:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah bukan sekadar kebijaksanaan dalam isi dakwah, tetapi juga kebijaksanaan dalam memilih bahasa, waktu, metode, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi orang yang diajak.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi prinsip yang sangat relevan dalam menghadapi Generasi Z. Mereka tidak membutuhkan agama yang dipermudah dengan mengurangi syariat.
Yang mereka perlukan adalah pendampingan yang membuat mereka memahami bahwa menjalankan ajaran Islam merupakan jalan menuju ketenangan, bukan beban yang menakutkan.
Dakwah yang baik tidak pernah mengurangi kebenaran, tetapi mampu menghadirkan kebenaran itu dengan bahasa yang menyentuh hati.
Ketika seorang dai memahami dunia anak muda, mengenal kegelisahan mereka, dan menjawab pertanyaan mereka dengan ilmu sekaligus empati, dakwah akan terasa sebagai pelukan yang menguatkan, bukan sebagai vonis yang menjauhkan.
Inilah tantangan besar dakwah kita hari ini. Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh keluasan ilmu seorang pendakwah, tetapi juga oleh kemampuannya menjembatani nilai-nilai Islam yang abadi dengan dinamika zaman yang terus berubah.
Generasi Z membutuhkan kebenaran yang disampaikan dengan hikmah, keteladanan, dan kasih sayang. Mereka ingin diyakinkan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui akhlak yang mereka saksikan setiap hari.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 12 Safar 1448, 27 Juli 2026
(Penulis Imam Besar Masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
