Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Mumpung kita sedang berada pada masa-masa awal memperingati momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, ada baiknya kita tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah dengan semarak acara, pembacaan Barzanji, zikir, ceramah dan kenduri, tetapi juga mencoba membaca kembali misi besar kenabian beliau.
Salah satu pesan paling awal dan paling fundamental dari kerasulan Muhammad SAW adalah membaca.
Ketika Rasulullah SAW berada di Gua Hira, datanglah wahyu pertama melalui Malaikat Jibril:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Menariknya, perintah pertama itu bukan “berpidatolah”, bukan “berperanglah”, bukan “bangunlah kekuasaan”, tetapi iqra’—bacalah!
Bahkan Rasulullah SAW ketika itu menjawab, “Mā ana bi qāri’”, yang secara umum dipahami sebagai “Aku tidak dapat membaca.” Namun jawaban itu tidak membuat perintah Allah berhenti. Wahyu itu justru berlanjut dengan perintah “Iqra’”.
Di sinilah kita menemukan pesan yang sangat dalam.
Kalau seorang Nabi yang secara umum dikenal ummi saja diperintahkan untuk membaca, apalagi kita yang hidup di zaman ilmu pengetahuan, teknologi, universitas, perpustakaan, internet, kecerdasan buatan dan arus informasi yang begitu deras?
Jangan-jangan persoalan kita hari ini bukan tidak bisa membaca, tetapi tidak mau membaca.
Kita bisa membaca huruf, tetapi belum tentu mampu membaca keadaan. Kita bisa membaca berita, tetapi belum tentu mampu membaca kebenaran. Kita bisa membaca angka, tetapi belum tentu mampu membaca kejujuran. Kita bisa membaca rambu-rambu, tetapi belum tentu mau mematuhinya.
Padahal kehidupan adalah sebuah kitab besar yang terus-menerus mengirimkan pesan kepada manusia.
Membaca bukan hanya buku
Perintah iqra’ tidak semestinya dipersempit hanya menjadi membaca Al-Qur’an, buku, jurnal, kitab atau tulisan yang tercetak.
Allah juga mengajak manusia membaca ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang di alam semesta.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, hujan, tumbuh-tumbuhan, laut, gunung dan berbagai fenomena kehidupan. Semua itu adalah “teks” yang terbuka untuk dibaca oleh manusia.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)
Maka ketika hujan turun, kita perlu membacanya.
Ketika banjir datang, kita perlu membacanya.
Ketika hutan terbakar atau sengaja dibakar, kita perlu membacanya.
Ketika kemarau panjang membuat air berkurang, kita perlu membacanya.
Ketika musim penghujan menghadirkan air yang berlebihan, kita juga harus membacanya.
Tentu, kita tidak boleh gegabah mengatakan setiap bencana adalah hukuman langsung atas dosa manusia. Banyak bencana memiliki faktor alam yang kompleks. Namun manusia diperintahkan untuk mengambil pelajaran, melakukan muhasabah dan membaca sebab-akibat.
Bila hutan digunduli, daerah resapan air dirusak, sungai dipenuhi sampah, lahan dibakar dengan sengaja, kemudian banjir dan longsor terjadi, bukankah itu juga pesan yang harus kita baca?
Alam seakan sedang berkata: ada yang keliru dalam cara manusia memperlakukan lingkungan.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi juga dibaca dalam kenyataan.
Gagal membaca bisa membawa malapetaka
Sesungguhnya banyak persoalan manusia bermula dari kegagalan membaca.
Orang gagal membaca ketentuan hukum, lalu melanggarnya.
Orang gagal membaca angka-angka keuangan, atau lebih buruk lagi sengaja menutup mata terhadap angka demi keuntungan, akhirnya terjerumus dalam persoalan.
Orang gagal membaca lampu lalu lintas, menerobos saat merah, kemudian kecelakaan.
Orang gagal membaca rambu peringatan di jalan, lalu masuk ke wilayah berbahaya.
Orang gagal membaca perubahan zaman, lalu tertinggal.
Orang gagal membaca karakter anak-anaknya, kemudian kehilangan kedekatan dengan mereka.
Orang gagal membaca tanda-tanda keretakan rumah tangga, lalu terkejut ketika perceraian terjadi.
Orang gagal membaca informasi, lalu percaya hoaks.
Bahkan orang bisa gagal membaca dirinya sendiri: tidak memahami kelemahan, tidak mengenali potensi, tidak menyadari kesalahan dan tidak membaca arah hidupnya.
Maka membaca sesungguhnya bukan hanya kegiatan akademik. Membaca adalah kemampuan menyelamatkan kehidupan.
Membaca tanda-tanda zaman
Generasi Muslim hari ini juga menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang tanpa mengetuk pintu.
Satu telepon genggam dapat menghadirkan ribuan berita, video, pendapat, iklan dan informasi dalam hitungan menit.
Persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi tanpa kemampuan memilahnya.
Karena itu umat Islam perlu membangun literasi informasi.
Rasulullah SAW telah memberikan prinsip yang sangat penting:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menceritakan semua yang didengarnya.”
(HR. Muslim, dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Pesannya sangat relevan dengan zaman media sosial.
Tidak semua yang kita baca harus dipercaya. Tidak semua yang kita percaya harus dibagikan.
Sebelum meneruskan sebuah informasi, kita perlu bertanya: siapa sumbernya? Apa buktinya? Apa konteksnya? Apakah ada sumber lain yang dapat mengonfirmasi? Apakah informasi tersebut masuk akal? Apakah menyebarkannya membawa maslahat atau justru mudarat?
Inilah bagian dari iqra’ di zaman digital.
Perpustakaan dan budaya membaca
Dalam ilmu perpustakaan, salah satu tokoh besar yang sangat penting adalah S. R. Ranganathan, ilmuwan dan pustakawan India yang dikenal melalui Five Laws of Library Science.
Salah satu prinsip terkenalnya adalah “Every reader his or her book”—setiap pembaca memiliki buku yang sesuai kebutuhannya. Prinsip lain menekankan bahwa setiap buku memiliki pembacanya dan perpustakaan harus terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Gagasan Ranganathan mengingatkan kita bahwa budaya membaca tidak lahir hanya dengan menyuruh orang membaca. Lingkungan membaca juga harus dibangun.
Anak-anak harus didekatkan dengan buku.
Sekolah harus memiliki perpustakaan yang hidup.
Kampus harus menjadikan perpustakaan sebagai pusat intelektual.
Masjid dapat memiliki ruang baca.
Keluarga perlu menciptakan suasana membaca di rumah.
Dan masyarakat harus menghargai orang yang gemar membaca, berdiskusi dan mencari ilmu.
Sebab masyarakat yang membaca akan lebih mampu berpikir. Masyarakat yang berpikir akan lebih mampu memilah. Dan masyarakat yang mampu memilah akan lebih sulit dipermainkan oleh informasi palsu.
Dari “membaca huruf” menuju “membaca kehidupan”
Karena itu, barangkali sudah waktunya kita memperluas makna iqra’.
Iqra’ Al-Qur’an.
Iqra’ buku.
Iqra’ ilmu pengetahuan.
Iqra’ sejarah.
Iqra’ angka.
Iqra’ hukum.
Iqra’ rambu lalu lintas.
Iqra’ lingkungan.
Iqra’ perubahan zaman.
Iqra’ wajah masyarakat.
Iqra’ kebutuhan generasi muda.
Iqra’ tanda-tanda alam.
Dan yang paling sulit: iqra’ diri sendiri.
Sebab seseorang yang pandai membaca dunia tetapi tidak mampu membaca dirinya sendiri dapat menjadi manusia yang berilmu tetapi kehilangan arah.
Bagaimana membangun generasi yang gemar membaca?
Pertama, mulailah dari kebiasaan kecil. Tidak harus langsung membaca puluhan halaman. Biasakan membaca setiap hari, meskipun hanya beberapa halaman.
Kedua, perbanyak variasi bacaan. Jangan hanya membaca sesuatu yang kita sukai. Bacalah agama, sejarah, sains, ekonomi, teknologi, lingkungan, sosial dan budaya.
Ketiga, belajarlah memeriksa sumber informasi. Jangan mudah percaya kepada judul yang provokatif. Periksa sumber, tanggal, penulis, data dan konteksnya.
Keempat, bandingkan informasi. Satu sumber tidak selalu cukup. Membandingkan beberapa sumber membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh.
Kelima, biasakan mencatat dan berdiskusi. Membaca tanpa berpikir hanya akan menghasilkan tumpukan informasi. Membaca yang diikuti renungan dan diskusi akan melahirkan gagasan.
Keenam, jadikan membaca sebagai bagian dari ibadah. Bacalah dengan bismirabbik—“dengan nama Tuhanmu”. Dengan demikian, ilmu tidak hanya membuat kita pintar, tetapi juga membuat kita semakin takut dan tunduk kepada Allah.
Ketujuh, bacalah realitas kehidupan. Ketika banjir datang, jangan hanya mengeluh. Bacalah penyebabnya. Ketika ekonomi sulit, bacalah datanya. Ketika generasi muda berubah, bacalah perubahan itu. Ketika teknologi berkembang, bacalah peluang dan risikonya.
Inilah semangat iqra’ yang sesungguhnya hidup.
Maulid harus melahirkan generasi pembaca
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “seberapa meriah kita memperingati kelahiran Rasulullah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Seberapa jauh kita telah menjalankan pesan pertama yang diterima Rasulullah: Iqra’?”
Rasulullah SAW datang membawa umat dari kegelapan menuju cahaya. Dan perjalanan menuju cahaya itu membutuhkan ilmu.
Karena itu, umat Islam jangan sampai menjadi umat yang memiliki kitab suci tetapi tidak gemar membaca, memiliki perpustakaan tetapi sepi pembaca, memiliki telepon pintar tetapi mudah ditipu informasi, memiliki banyak gelar tetapi gagal membaca realitas, dan memiliki banyak informasi tetapi miskin kebijaksanaan.
Kita perlu kembali kepada pesan Gua Hira.
Iqra’ bukan sekadar perintah membaca huruf. Iqra’ adalah panggilan untuk membuka mata, pikiran dan hati.
Membaca ayat-ayat Allah yang tertulis.
Membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam.
Membaca sejarah.
Membaca manusia.
Membaca perubahan zaman.
Membaca hukum dan konsekuensinya.
Membaca angka dan kejujuran di baliknya.
Membaca tanda bahaya sebelum malapetaka.
Dan akhirnya, membaca diri sendiri agar kita tahu dari mana datang, sedang berada di mana, dan hendak menuju ke mana.
Barangkali inilah salah satu cara terbaik kita memaknai Maulid Nabi tahun ini: bukan hanya memperbanyak pujian kepada Rasulullah, tetapi juga menghidupkan kembali misi Iqra’ yang menjadi pembuka perjalanan kenabian beliau.
Sebab bangsa yang malas membaca akan mudah kehilangan arah. Umat yang malas membaca akan mudah disesatkan informasi. Dan generasi yang tidak mau membaca tanda-tanda zaman bisa saja berjalan cepat—tetapi menuju tujuan yang salah.
Iqra’. Bacalah. Dengan nama Tuhanmu. Karena membaca adalah awal dari mengetahui, memahami, menyadari, memperbaiki dan akhirnya menemukan jalan keselamatan.
Wallahu a’lam
Darussalam 13 Rabiul Awal 1448, 26 Agustus 2026
(Penulis, akademisi prodi ilmu perpustakaan (IP) FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
