Maulid Jangan Hanya Mengenang Nabi, tetapi Kembali kepada Petunjuk Nabi
Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sebuah pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri setiap kali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW: benarkah persoalan yang sedang kita hadapi hari ini benar-benar persoalan baru?
Pertanyaan ini terasa relevan setelah menyimak khutbah Jumat Dr Agustin Hanapi di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat 15 Rabiul Awal 1448 Hijriah atau 28 Agustus 2026.
Salah satu pesan penting yang dapat ditangkap dari khutbah tersebut adalah bahwa banyak persoalan besar yang sekarang menjadi agenda kemanusiaan global—dan sibuk dicari solusinya oleh manusia—sesungguhnya telah memiliki rambu-rambu pencegahan, prinsip penyelesaian dan pedoman moral dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW sejak lebih dari empat belas abad lalu.
Di sinilah letak persoalannya.
Jangan-jangan yang baru bukan masalahnya, tetapi ketidaktahuan kita terhadap warisan ilmu yang sudah diberikan Rasulullah SAW.
Persoalan lama dengan wajah baru
Lihatlah dunia hari ini.
Manusia sedang menghadapi krisis lingkungan dan perubahan iklim. WHO menyebut perubahan iklim sebagai ancaman besar terhadap kesehatan manusia karena berdampak pada udara, air, pangan, penyakit, bencana dan kehidupan masyarakat. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Dunia juga menghadapi HIV/AIDS. WHO mencatat sekitar 41 juta orang hidup dengan HIV pada akhir 2025. Pencegahan, pemeriksaan, pengobatan dan perubahan perilaku menjadi bagian penting dari strategi global menghadapi persoalan ini. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan besar. Keluarga menghadapi perceraian, kekerasan, konflik pengasuhan dan krisis komunikasi. Anak-anak menghadapi kerusakan moral dan derasnya arus informasi. Masyarakat menghadapi penyalahgunaan narkoba, krisis seksual, pornografi, perjudian, hoaks, kebencian, kerakusan ekonomi dan berbagai bentuk kerusakan sosial.
Bahkan perdebatan tentang identitas seksual, LGBT dan batas-batas perilaku seksual manusia menjadi isu besar di berbagai negara.
Pertanyaannya: apakah semua itu benar-benar baru?
Tidak.
Yang baru adalah istilahnya, teknologinya, skalanya dan kemasan sosialnya. Tetapi akar masalahnya—nafsu, penyimpangan, kerakusan, ketidakadilan, rusaknya keluarga, lemahnya tanggung jawab, hilangnya rasa malu, kerusakan lingkungan dan jauhnya manusia dari petunjuk Allah—bukanlah persoalan baru.
Nabi sudah mengajarkan prinsip pencegahan
Ambil contoh HIV/AIDS.
Kita tentu tidak boleh mengatakan Al-Qur’an menyebut HIV secara eksplisit. Tidak ada. HIV adalah istilah dan persoalan medis modern.
Tetapi prinsip pencegahan perilaku berisiko, menjaga kehormatan seksual, membangun keluarga yang sah, menghindari zina dan menjaga jiwa sudah sangat jelas dalam wahyu.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32).
Perhatikan kalimatnya: jangan mendekati, bukan sekadar jangan melakukan.
Ini adalah prinsip preventif.
Ilmu kesehatan modern berbicara tentang pencegahan, pemeriksaan, pengobatan dan pengurangan risiko HIV. WHO sendiri menegaskan HIV dapat dicegah dan penularannya dapat dikurangi melalui berbagai intervensi kesehatan masyarakat, termasuk pengujian dan pengobatan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Maka, umat Islam tidak perlu mempertentangkan wahyu dengan ilmu kesehatan. Wahyu memberi prinsip moral dan pencegahan; ilmu kesehatan mengembangkan metode medisnya.
Begitu pula dengan wabah.
Empat belas abad lalu Nabi SAW telah memberikan prinsip karantina:
“Apabila kalian mendengar wabah terjadi di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya; dan apabila terjadi di negeri tempat kalian berada, janganlah kalian keluar darinya.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.
Bukankah dunia modern kemudian mengenal karantina, pembatasan mobilitas dan pengendalian penularan penyakit?
Istilahnya mungkin modern. Tetapi prinsip pencegahannya telah diajarkan Nabi SAW.
Lingkungan: Al-Qur’an sudah memperingatkan
Hari ini manusia berbicara tentang perubahan iklim, deforestasi, pencemaran laut, sampah plastik, kerusakan biodiversitas dan pemanasan global.
Tetapi Al-Qur’an sudah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41). (Quran.com)
Ini luar biasa.
Al-Qur’an bahkan menghubungkan kerusakan dengan perbuatan tangan manusia. Hari ini ilmu lingkungan menemukan begitu banyak kerusakan ekologis yang berkaitan dengan pola produksi, konsumsi, deforestasi, emisi dan eksploitasi alam. WHO juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan membawa dampak besar terhadap kesehatan manusia. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Nabi SAW bahkan memberikan penghargaan spiritual terhadap aktivitas ekologis yang sangat sederhana:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari).
Hari ini kita menyebutnya konservasi, penghijauan, ketahanan pangan dan keberlanjutan.
Nabi menyebutnya sedekah.
Kemiskinan: bukan sekadar angka ekonomi
Kemiskinan juga bukan persoalan baru.
Islam tidak menyelesaikannya dengan menyuruh orang miskin bersabar semata. Islam membangun sistem zakat, sedekah, wakaf, infak, larangan riba yang eksploitatif, kewajiban bekerja, kepedulian terhadap anak yatim dan orang miskin serta distribusi kekayaan.
Nabi SAW juga mengubah paradigma bahwa memberi tidak berarti kehilangan.
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak mengurangi harta.”
(HR. Muslim).
Jadi ketika dunia hari ini berbicara tentang social protection, redistribusi, pemberdayaan masyarakat miskin dan keadilan ekonomi, umat Islam sesungguhnya memiliki warisan konsep yang sangat kaya.
Masalahnya bukan Islam tidak punya solusi.
Masalahnya, umat sering tidak menguasai khazanah solusinya dan tidak menerapkannya secara sungguh-sungguh.
Rumah tangga: krisis modern, prinsipnya sudah lama
Krisis rumah tangga juga bukan produk abad modern.
Manusia sejak dahulu bertengkar, berselisih, cemburu, bercerai dan gagal mendidik anak.
Karena itu Nabi SAW mengajarkan tanggung jawab keluarga dengan sangat tegas:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hari ini para ahli keluarga berbicara tentang parenting, family responsibility, komunikasi keluarga dan perlindungan anak.
Islam sudah mengajarkan tanggung jawab.
Hari ini orang berbicara tentang komunikasi sehat.
Nabi SAW telah mengajarkan etika berbicara:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Muslim).
Bayangkan jika prinsip sederhana ini benar-benar hidup di dalam rumah tangga, di kampus, di kantor dan di media sosial.
Berapa banyak pertengkaran yang tidak akan terjadi?
LGBT dan persoalan seksual: kembali kepada kerangka wahyu
Isu LGBT juga tidak boleh dibicarakan secara serampangan dengan kebencian kepada manusia. Islam membedakan antara menghukumi suatu perilaku berdasarkan ajaran agama dan merendahkan atau menyakiti manusia.
Al-Qur’an memberikan batas moral yang jelas tentang hubungan seksual dan mengingatkan kisah kaum Nabi Luth AS. Pada saat yang sama, Islam tetap menuntut manusia menjaga kehormatan, tidak melakukan kezaliman dan tidak melampaui batas.
Karena itu pendekatan Islam tidak boleh berhenti pada kecaman.
Harus ada pendidikan, penguatan keluarga, pendampingan anak dan remaja, pembentukan karakter, perlindungan dari eksploitasi seksual, serta pendekatan kemanusiaan kepada siapa pun yang sedang bergumul dengan persoalan hidupnya.
Dakwah bukan sekadar mengatakan “ini salah”, tetapi juga menunjukkan jalan pulang.
Yang sempurna adalah prinsipnya, bukan berarti kita berhenti belajar
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah telah sempurna tidak berarti umat Islam boleh berhenti belajar sains, kedokteran, teknologi, ekonomi atau ilmu sosial.
Justru sebaliknya.
Wahyu memerintahkan manusia membaca, berpikir dan menggunakan akal.
Yang keliru adalah ketika manusia menganggap ilmu modern sebagai satu-satunya sumber kebenaran untuk menentukan arah hidup, sementara wahyu diperlakukan sekadar sebagai peninggalan sejarah.
Sains menjawab banyak pertanyaan tentang “bagaimana”; wahyu memberikan arah tentang “untuk apa” dan “mana yang seharusnya”.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Ayat terakhir: agama telah sempurna
Puncak argumentasi ini terdapat pada firman Allah:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3).
Ibn Katsir menjelaskan ayat ini sebagai penegasan bahwa Allah telah menyempurnakan agama bagi umat Islam. Karena itu umat tidak membutuhkan agama lain atau nabi lain setelah Muhammad SAW; apa yang beliau sampaikan menjadi bagian dari petunjuk agama yang sempurna. (Alim)
Maka kesempurnaan Islam bukan berarti Al-Qur’an adalah buku teks kedokteran, buku teknik lingkungan atau buku statistik.
Kesempurnaannya adalah bahwa Islam telah memberikan kerangka petunjuk kehidupan: akidah, ibadah, akhlak, hukum, keluarga, ekonomi, kemasyarakatan, keadilan, tanggung jawab dan batas halal-haram.
Adapun manusia mengembangkan ilmu untuk menemukan cara terbaik menerapkan prinsip-prinsip itu dalam ruang dan zaman yang terus berubah.
Inilah makna Maulid yang lebih dalam
Karena itu, pesan Dr Agustin Hanapi menjadi penting: jangan berhenti pada sejarah hidup Rasulullah SAW.
Maulid jangan hanya menjadi momentum membaca kapan Nabi lahir, siapa ayah dan ibunya, bagaimana perjalanan hidup beliau, siapa sahabatnya dan bagaimana mukjizatnya.
Semua itu penting.
Tetapi setelah sejarah selesai dibaca, apa yang berubah dalam kehidupan kita?
Kalau Nabi mengajarkan menjaga jiwa, apakah kita menjaga kesehatan?
Kalau Nabi mengajarkan kebersihan dan pencegahan bahaya, apakah kita menjaga lingkungan?
Kalau Nabi mengajarkan kasih sayang, apakah rumah kita menjadi tempat yang penuh rahmah?
Kalau Nabi mengajarkan keadilan, apakah kita masih tega mengambil hak orang lain?
Kalau Nabi mengajarkan amanah, apakah kita menjalankan pekerjaan dengan jujur?
Kalau Nabi melarang mendekati zina, apakah kita menjaga anak-anak kita dari pornografi dan pergaulan yang merusak?
Kalau Nabi mengajarkan tanggung jawab, apakah kita benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat?
Di sinilah Maulid berubah dari perayaan menjadi pergerakan.
Jangan merasa baru ketika sebenarnya kurang membaca
Barangkali inilah penyakit besar umat hari ini: merasa baru, padahal kurang ilmu.
Kita menemukan sebuah persoalan, lalu sibuk mengatakan, “Ini masalah zaman sekarang.”
Padahal mungkin persoalannya sudah pernah terjadi dalam sejarah manusia.
Kita menemukan kerusakan moral, lalu merasa harus mencari formula baru.
Padahal Al-Qur’an sudah berbicara tentang akhlak.
Kita menemukan krisis keluarga, lalu mencari teori baru.
Padahal Nabi sudah mengajarkan tanggung jawab dan kasih sayang.
Kita menemukan krisis lingkungan, lalu mencari kesadaran ekologis.
Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan tentang kerusakan di darat dan laut.
Kita menemukan wabah, lalu baru berbicara tentang karantina.
Padahal Nabi SAW telah mengajarkan prinsipnya.
Kita menemukan kemiskinan, lalu sibuk mencari model distribusi.
Padahal Islam telah membangun zakat, sedekah, wakaf dan solidaritas sosial.
Inilah yang oleh Muhammad Qutb dalam Jahiliyyat al-Qarn al-’Isyrin (Jahiliyah Abad Kedua Puluh) dibahas sebagai wajah jahiliyah modern: bukan semata-mata manusia yang tidak berilmu, tetapi manusia yang memiliki ilmu dan kemajuan material namun kehilangan orientasi yang benar. Bibliografi karya tersebut memang mencatat pembahasan tentang jahiliyah modern dalam politik, ekonomi, sosial, moral dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. (CiNii Research)
Maka jahiliyah tidak selalu berarti tidak punya teknologi.
Jahiliyah bisa berarti memiliki banyak pengetahuan tetapi kehilangan petunjuk.
Dan itulah yang membuat tema Maulid menjadi sangat aktual.
Kita tidak sedang membutuhkan Nabi baru.
Kita membutuhkan umat yang kembali membaca, memahami dan mengikuti ajaran Nabi yang sudah ada.
Kita tidak kekurangan petunjuk.
Kita yang sering kekurangan ilmu untuk menemukan petunjuk itu, dan kekurangan keberanian untuk mengamalkannya.
Maka memperingati Maulid Nabi SAW seharusnya menjadi momentum untuk bertanya:
Bukan lagi, “Apa yang baru kita temukan hari ini?”
Tetapi:
“Apa yang sudah diajarkan Rasulullah SAW, yang selama ini justru kita tinggalkan?”
Sebab boleh jadi banyak persoalan yang kita sebut “masalah baru” hari ini sebenarnya hanyalah pengulangan sejarah dengan teknologi baru.
Dan boleh jadi solusi yang kita cari ke mana-mana itu sudah lama berada di depan mata—di dalam Al-Qur’an, di dalam Sunnah, dan di dalam keteladanan Rasulullah SAW.
Yang perlu diperbarui bukan wahyunya.
Yang perlu diperbarui adalah cara kita membaca, memahami dan menghidupkannya.
Wallahu a’lam
Darussalam 16 Rabiul Awal 1448, 29 Agustus 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
