Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada ungkapan Aceh yang terdengar sederhana, bahkan seperti gurauan, tetapi sesungguhnya mengandung pesan pendidikan yang dalam: “Dajeu Buta Siblah.”
Secara harfiah, dajeu buta siblah berarti Dajjal yang buta sebelah. Namun dalam pergaulan masyarakat Aceh, ungkapan ini sering diarahkan kepada seseorang yang perangai, perilaku, atau akhlaknya dianggap buruk. Seolah-olah orang tua sedang memberikan sebuah peringatan kepada generasi: jangan menjadi seperti Dajjal.
Ungkapan budaya itu tiba-tiba terasa sangat relevan ketika Ustaz Fakhruddin Lahmuddin, penceramah terkemuka sekaligus akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, membahas fitnah Dajjal dalam Tausiyah Subuh Safari BBC di Masjid Nurul Huda, Gampong Peunyeurat, Banda Aceh, Ahad, 20 September 2026.
Dajjal memang belum datang.
Kapan ia akan datang, manusia tidak mengetahuinya. Itu perkara gaib yang sepenuhnya berada dalam pengetahuan Allah. Tetapi pertanyaannya justru lebih dekat: apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Dajjal, atau jangan-jangan kita justru sedang memelihara sifat-sifat yang akan membuat kita mudah terperdaya olehnya?
Di sinilah Dajeu Buta Siblah menjadi lebih dari sekadar adagium. Ia menjadi cermin.
Fitnah yang paling berat
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umat manusia tentang Dajjal dengan peringatan yang sangat serius. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa tidak ada seorang nabi pun yang tidak memperingatkan umatnya tentang Dajjal sang pendusta. Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa salah satu matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis “kafir”.
Dajjal disebut sebagai salah satu fitnah besar menjelang Kiamat. Dalam hadis Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari, Rasulullah ﷺ menyebut Dajjal di antara sepuluh tanda besar Kiamat.
Yang membuat Dajjal begitu berbahaya bukan sekadar cacat fisiknya, melainkan kemampuannya menjadi sumber fitnah yang mengguncang iman manusia.
Ia datang dengan sesuatu yang tampak meyakinkan. Yang tampak sebagai keselamatan ternyata kebinasaan. Yang tampak sebagai kenikmatan dapat menjadi jalan menuju kesesatan.
Maka persoalan Dajjal pada akhirnya adalah persoalan kemampuan manusia membedakan kebenaran dari kepalsuan.
Orang yang hanya menggunakan mata kepala mungkin akan melihat apa yang tampak.
Tetapi orang beriman harus menggunakan mata hati.
Sebab fitnah terbesar adalah ketika yang batil tampil dengan wajah kebenaran dan yang benar dibuat seolah-olah salah.
Dajjal adalah ujian, bukan tandingan Allah
Karena itu, jangan sampai pembicaraan tentang Dajjal membuat kita lupa kepada Allah.
Dajjal adalah makhluk. Allah adalah Khaliq.
Dajjal terbatas. Allah Mahakuasa.
Dajjal adalah pendusta. Allah adalah Al-Haqq, Yang Mahabenar.
Kapan Dajjal datang dan seberapa besar kekuatan yang diberikan kepadanya, semuanya berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Karena itu, umat Islam tidak perlu sibuk menentukan tanggal kedatangan Dajjal. Tidak pula perlu mengembangkan berbagai spekulasi tentang identitasnya berdasarkan dugaan-dugaan yang tidak memiliki dasar kuat.
Yang jauh lebih penting adalah mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ tentang bagaimana menyelamatkan diri dari fitnahnya.
Mengapa harus takut kepada Dajjal?
Karena manusia memiliki kelemahan.
Manusia mudah tergoda oleh harta.
Mudah terpesona oleh kekuasaan.
Mudah silau oleh popularitas.
Mudah mengikuti sesuatu yang dilakukan banyak orang.
Mudah percaya kepada apa yang terlihat menguntungkan.
Karena itu, jika iman rapuh, manusia mudah ditarik oleh apa saja yang menawarkan kenikmatan dunia.
Dajjal akan menjadi ujian yang sangat berat karena ia tidak sekadar menawarkan kejahatan dalam bentuk yang kasar. Fitnah bekerja justru dengan membungkus kebatilan sehingga terlihat menarik.
Bukankah sebagian fitnah kehidupan hari ini juga bekerja dengan cara yang sama?
Kebohongan dikemas menjadi hiburan.
Kemaksiatan dikemas menjadi gaya hidup.
Kesombongan dikemas menjadi kepercayaan diri.
Pamer dikemas menjadi pencapaian.
Kezaliman kadang dibungkus dengan bahasa kepentingan.
Dan kebatilan bisa memperoleh pembenaran hanya karena banyak orang mengulanginya.
Tentu semua itu bukan berarti Dajjal telah datang.
Tetapi kita dapat belajar dari peringatan tentang Dajjal bahwa manusia harus memiliki kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan.
Benteng pertama: akidah
Ustaz Fakhruddin mengingatkan agar umat dan generasi Muslim mempersiapkan diri dengan mengokohkan iman dan istiqamah menjalankan ajaran Islam.
Inilah benteng pertama.
Akidah yang benar membuat seseorang mengetahui kepada siapa ia harus tunduk.
Ketika dunia menawarkan seribu ukuran keberhasilan, orang beriman memiliki satu ukuran tertinggi: ridha Allah.
Ketika manusia menawarkan berbagai kenikmatan, ia tahu bahwa kenikmatan dunia bukan tujuan akhir.
Ketika mayoritas manusia bergerak ke satu arah, ia tidak otomatis menganggap arah itu benar.
Sebab ukuran kebenaran bukan jumlah pengikut.
Ukuran kebenaran adalah wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Benteng kedua: Al-Kahfi
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan khusus menghadapi fitnah Dajjal melalui Surah Al-Kahfi.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi akan dilindungi dari fitnah Dajjal.
Menariknya, kandungan Surah Al-Kahfi sendiri berbicara tentang berbagai bentuk ujian: ujian iman, harta, ilmu dan kekuasaan.
Seakan-akan umat sedang diajarkan bahwa manusia tidak hanya diuji dengan kesusahan.
Kesenangan juga ujian.
Harta juga ujian.
Ilmu juga ujian.
Kekuasaan juga ujian.
Bahkan sesuatu yang kita anggap sebagai keberhasilan dapat berubah menjadi pintu kesesatan jika tidak disertai iman.
Benteng ketiga: istiqamah
Iman yang kuat harus melahirkan istiqamah.
Istiqamah bukan berarti manusia tidak pernah salah.
Istiqamah berarti setiap kali tergelincir, ia kembali.
Salatnya dijaga.
Kejujurannya dijaga.
Amanahnya dijaga.
Lisannya dijaga.
Rezekinya dijaga agar halal.
Pergaulannya dijaga.
Pandangan matanya dijaga.
Hubungannya dengan orang tua, keluarga dan sesama dijaga.
Ia tidak membiarkan dosa menjadi kebiasaan.
Sebab dosa yang dilakukan sekali dapat menjadi kesalahan.
Tetapi dosa yang terus dipelihara dapat berubah menjadi karakter.
Dan ketika dosa telah menjadi karakter, hati manusia dapat kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
Jangan sampai Dajjal belum datang, tetapi sifatnya sudah datang
Di sinilah adagium Dajeu Buta Siblah menjadi sangat tajam.
Masyarakat Aceh sebenarnya telah memiliki bahasa pendidikan yang sederhana untuk mengingatkan generasi.
Jangan jadi Dajeu Buta Siblah.
Jangan menjadi manusia yang gemar berdusta.
Jangan menjadi manusia yang suka menipu.
Jangan menjadi manusia yang memutarbalikkan kebenaran.
Jangan menjadi manusia yang hanya mengejar keuntungan diri sendiri.
Jangan menjadi manusia yang matanya terbuka melihat kesalahan orang lain tetapi tertutup melihat keburukan dirinya sendiri.
Jangan menjadi manusia yang rajin berbicara tentang agama tetapi buruk akhlaknya.
Jangan menjadi manusia yang tampak baik di depan manusia tetapi berani bermaksiat ketika tidak ada yang melihat.
Sebab boleh jadi, Dajjal yang sebenarnya belum datang, tetapi sifat kedajjalannya sudah tumbuh dalam diri manusia.
Inilah yang paling perlu kita takuti.
Jangan menjadi pintu masuk fitnah
Dajjal kelak akan menghadapi manusia.
Tetapi sebelum itu, berbagai fitnah telah lebih dahulu mengetuk pintu hati manusia.
Jika seseorang sudah terbiasa dengan kebohongan, ia akan lebih mudah menerima kebohongan.
Jika sudah terbiasa dengan kemaksiatan, ia akan lebih mudah menerima kemaksiatan.
Jika sudah terbiasa mengukur segala sesuatu dengan materi, ia akan mudah tergoda oleh orang yang menawarkan materi.
Jika sudah kehilangan kecintaan kepada kebenaran, ia akan mudah mengikuti siapa pun yang menawarkan kenyamanan.
Karena itu, membentengi diri dari Dajjal sesungguhnya dimulai jauh sebelum Dajjal datang.
Benteng itu dibangun di dalam hati.
Dengan tauhid.
Dengan Al-Qur’an.
Dengan sunnah.
Dengan salat.
Dengan ilmu.
Dengan doa.
Dengan akhlak.
Dan dengan istiqamah.
Dajeu Buta Siblah sebagai pesan untuk generasi
Maka adagium Dajeu Buta Siblah seharusnya tidak hilang dari ingatan generasi Aceh.
Ia bukan sekadar sebutan untuk mencela orang yang perangainya buruk.
Ia dapat menjadi alarm moral.
Ketika seorang anak mulai gemar berbohong, ingatkan.
Ketika mulai suka merendahkan orang lain, ingatkan.
Ketika mulai merasa semua kesalahan adalah milik orang lain, ingatkan.
Ketika mulai menghalalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu, ingatkan.
Ketika mulai jauh dari masjid, Al-Qur’an dan majelis ilmu, rangkul kembali.
Sebab membangun generasi yang kuat menghadapi fitnah masa depan tidak cukup dengan membuat mereka pintar.
Mereka harus memiliki iman yang kokoh, akhlak yang mulia dan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.
Umat tidak tahu kapan Dajjal akan datang.
Allah yang Maha Mengetahui.
Tetapi umat tahu apa yang harus dilakukan hari ini.
Memperbaiki iman.
Memperbaiki akhlak.
Memperbaiki keluarga.
Memperbaiki pendidikan generasi.
Memperbanyak ilmu.
Memperkuat hubungan dengan Allah.
Dan menjaga istiqamah.
Jangan menunggu Dajjal datang untuk belajar menjadi orang beriman.
Sebab bisa jadi Dajjal belum datang, tetapi kebiasaan hidup yang menyerupai sifat kedajjalannya sudah lebih dahulu tumbuh dalam diri kita.
Maka sebelum orang lain menyebut kita Dajeu Buta Siblah, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah mata kita masih mampu melihat kebenaran?
Jika jawabannya ya, jagalah ia dengan iman.
Jika mulai kabur, segera kembali kepada Allah.
Sebab fitnah Dajjal kelak mungkin merupakan ujian besar bagi manusia.
Tetapi perjuangan melawan “dajal-dajal kecil” dalam diri—dusta, tipu daya, kesombongan, kerakusan dan kemunafikan—adalah ujian yang sedang kita hadapi hari ini.
Dan perjuangan itu tidak perlu menunggu kiamat.
Ia dimulai sejak Subuh tadi.
Wallahu a’lam
Darussalam 9 Rabiul Akhir 1448, 20 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, akademis UIN Ar-Raniry, tinggal di Barabung Darussalam Aceh Besar)
