-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bu Teubli: Jangan Kenyang di Atas Rasa Sungkan Orang Lain

Minggu, 20 September 2026 | September 20, 2026 WIB Last Updated 2026-09-21T05:31:22Z


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada ungkapan budaya Aceh yang sederhana, tetapi kalau direnungkan bisa menjadi cermin akhlak: bu teubli.


Secara harfiah, bu teubli berarti nasi yang terbelalak. Dalam pemakaian budaya, ungkapan ini menggambarkan keadaan ketika seseorang makan hidangan yang memang sengaja disajikan kepadanya, tetapi dari raut wajah atau sikap tuan rumah terlihat bahwa makanan itu sebenarnya tidak sepenuhnya direlakan.


Nasi ada di hadapan kita, tetapi wajah yang menyuguhkannya seperti berkata: “Dimakan boleh, tetapi jangan terlalu banyak.”


Di situlah kearifan lokal bekerja. Masyarakat Aceh sejak dahulu mengenal bahasa yang halus untuk menegur perilaku yang kurang elok. Tidak perlu memarahi. Tidak perlu menunjuk hidung. Cukup dengan sebuah ungkapan: bu teubli.


Dalam konteks yang lebih luas, bu teubli mengajarkan satu prinsip kehidupan: jangan menikmati sesuatu yang membuat orang lain merasa terbebani.


Lebih dari itu, jangan membiasakan diri hidup dari kemurahan hati orang lain, apabila kita sebenarnya masih mampu berdiri dengan kaki sendiri.


Jangan Menjadi Beban


Saya teringat nasihat almarhum Abusyik kami, Tgk Yahya Warabo, kepada saya, lebih dari lima belas tahun lalu.


Dalam satu kesempatan ketika kami berdua berbincang, beliau berpesan agar berhati-hati dalam pergaulan. Salah satu yang beliau tekankan adalah jangan menjadi beban bagi orang lain.


Beliau kemudian mengutip ungkapan Arab:


وَلَا تَكُونُوا كَلًّا عَلَى النَّاسِ


Wa lā takūnū kallan ‘alan-nās.


“Janganlah kalian menjadi beban bagi manusia.”


Kalimat itu sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam maknanya.


Menjadi manusia yang baik bukan hanya bagaimana kita memperoleh pertolongan ketika membutuhkan. Lebih penting lagi, bagaimana kita berusaha agar kehadiran kita tidak menjadi beban bagi orang lain.


Tentu Islam tidak mengajarkan manusia untuk menolak pertolongan. Ada saat seseorang sakit, kehilangan pekerjaan, terkena musibah, menjadi fakir, atau berada dalam keadaan yang benar-benar membuatnya tidak mampu.


Dalam kondisi demikian, menerima bantuan bukan kehinaan.


Yang perlu dihindari adalah menjadikan ketergantungan sebagai gaya hidup ketika sebenarnya masih ada kemampuan untuk berusaha.


Tangan di Atas


Rasulullah SAW memberikan prinsip yang sangat indah:


الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى


“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”


Tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sementara tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta.


Pesannya bukan merendahkan orang yang menerima. Pesannya adalah membangun mental umat agar lebih senang memberi daripada meminta, lebih suka berusaha daripada bergantung, dan lebih nyaman menjadi orang yang bermanfaat daripada menjadi beban.


Nabi juga bersabda:


وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ


“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta, Allah akan menjaganya. Dan siapa yang berusaha merasa cukup, Allah akan mencukupkannya.”


Inilah pendidikan ‘iffah: menjaga kehormatan diri.


Parlente, tetapi Menunggu Traktiran


Ada fenomena sosial yang kadang menggelitik.


Penampilan seseorang parlente. Bajunya bagus. Telepon genggamnya mahal. Rokoknya ada. Gaya hidupnya tampak seperti orang berada.


Tetapi ketika masuk warung kopi, dompetnya tiba-tiba menjadi miskin.


Kopi menunggu kawan membayar.

Rokok meminta kepada kawan.

Makanan berharap ada yang mentraktir.


Kawan yang sudah lebih dahulu duduk di sebuah meja pun segera dihampiri. Tanpa diundang, langsung bergabung. Bukan karena ada keperluan penting, tetapi karena meja itu kebetulan menyediakan kopi dan makanan.


Sekali dua kali mungkin tidak masalah.


Tetapi kalau menjadi kebiasaan, persoalannya bukan lagi secangkir kopi.


Yang sedang tumbuh adalah mental bergantung.


Di sinilah bu teubli menjadi relevan.


Jangan sampai kita kenyang bukan karena mampu membeli makanan sendiri, tetapi karena orang lain sungkan mengatakan tidak.


Jangan menjadikan kebaikan kawan sebagai sumber kehidupan.


Kalau ke Warung Kopi, Bawa Uang


Kalau mau ke warung kopi, bawalah uang secukupnya.

Pesan sesuai kemampuan.

Bayar sendiri.


Kalau teman sudah lebih dahulu duduk, tidak berarti setiap meja mereka otomatis menjadi meja kita.


Bisa jadi mereka sedang membicarakan satu tema. Bisa jadi ada agenda tertentu. Bisa jadi mereka sedang menyelesaikan urusan yang tidak ada hubungannya dengan kita.


Maka menjaga jarak bukan berarti tidak bersahabat.

Justru itu bagian dari adab.


Kalau kemudian kita diajak bergabung, silakan bergabung. Tetapi jangan bergabung dengan mental “nanti juga dibayari.”


Kalau ikut duduk, siapkan diri untuk membayar pesanan sendiri.


Kalau keadaan memungkinkan, bahkan lebih baik sesekali berkata:


“Yang ini saya yang bayar.”


Itu baru persahabatan yang sehat.


Hari ini kawan membayar kopi kita. Besok kita yang membayar kopi kawan.


Bukan menghitung-hitung pemberian, tetapi menjaga keseimbangan dalam pergaulan.


Jangan Malu Hidup Sederhana


Masalahnya kadang bukan tidak punya uang.


Masalahnya adalah tidak mau terlihat tidak punya uang.


Maka telepon genggam harus mahal.

Pakaian harus parlente.

Rokok tetap menyala.

Gaya harus dipertahankan.


Tetapi untuk secangkir kopi, menunggu traktiran.

Untuk makanan, mencari meja kawan.

Untuk kebutuhan lain, tangan mulai terbiasa menengadah.


Padahal hidup sederhana bukan kehinaan.


Kalau uang hanya cukup untuk kopi biasa, minumlah kopi biasa.


Kalau belum mampu membeli makanan mahal, makanlah yang sederhana.


Kalau belum mampu membeli barang baru, gunakan yang masih ada.


Lebih baik sederhana tetapi mandiri daripada tampak mewah tetapi hidup dari rasa sungkan orang lain.


Meugade dan Meudahoh


Dalam masyarakat Aceh dikenal istilah meugade dan meudahoh, yang berkaitan dengan meminta-minta.


Kita harus bijaksana dalam melihat persoalan ini.


Tidak semua orang yang meminta adalah pemalas.


Ada orang miskin yang benar-benar membutuhkan.


Ada orang sakit yang tidak mampu bekerja.


Ada korban musibah.


Ada orang tua yang tidak lagi memiliki tenaga.


Mereka harus dibantu.


Al-Qur’an bahkan memuji orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri dan tidak meminta dengan mendesak:


“Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta.”

(QS. Al-Baqarah: 273).


Tetapi ada pula keadaan ketika meminta telah berubah menjadi kebiasaan.


Bahkan mungkin menjadi semacam pekerjaan.


Di sinilah pendidikan umat diperlukan.


Jangan sampai tangan yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru terlalu lama dilatih untuk meminta.


Jangan Menjadi Pengemis, Jangan Pula Menghina Pengemis


Ada keseimbangan yang harus dijaga.


Kita mengajarkan generasi muda agar tidak suka meminta-minta. Tetapi jangan sampai pendidikan itu membuat mereka menjadi manusia yang keras kepada orang miskin.


Allah berfirman:


وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ


“Dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardiknya.”

(QS. Ad-Duha: 10).


Ayat ini sangat penting.

Jangan menjadi pengemis, tetapi jangan pula menghina pengemis.


Kalau mampu membantu, bantulah.

Kalau tidak mampu, tolak dengan cara yang baik.


Kalau menemukan orang yang benar-benar membutuhkan, jangan hanya memberinya uang; kalau memungkinkan, bantu menemukan jalan agar ia dapat berdaya.


Sebab sedekah menyelesaikan kebutuhan hari ini, sementara pemberdayaan dapat membuka pintu kehidupan yang lebih panjang.


Minta kepada Allah, Berusaha kepada Manusia


Rasulullah SAW pernah memberikan pesan yang sangat terkenal kepada Ibnu Abbas:


إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ


“Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah; dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”


Hadis ini bukan berarti manusia tidak boleh meminta bantuan kepada manusia.


Maksudnya, jangan gantungkan hati kepada manusia.


Mintalah kepada Allah.

Kemudian bekerja.

Berikhtiar.

Berusaha.


Kalau manusia membantu, terimalah dengan syukur.


Kalau belum ada yang membantu, jangan kehilangan harga diri.


Allah tetap menjadi tempat bergantung.


Nabi Daud pun Bekerja


Rasulullah SAW bersabda:


“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil kerja tangannya.”


Nabi Daud adalah seorang nabi sekaligus raja.


Namun beliau tetap bekerja.


Pesannya sangat kuat: pekerjaan halal tidak merendahkan seseorang.


Karena itu, generasi muda tidak perlu malu menjadi petani, nelayan, pedagang, tukang, pengemudi, teknisi, pekerja harian, guru, pengusaha, atau profesi halal apa pun.


Jangan malu bekerja.

Jangan gengsi memulai dari bawah.

Jangan malu hidup sederhana.


Yang harus dijaga adalah jangan sampai kita masih sehat, masih kuat, masih memiliki kemampuan, tetapi memilih menjadikan kebaikan orang lain sebagai sumber penghidupan.


Pendidikan Kemandirian


Maka pendidikan anak Muslim harus lebih jauh daripada sekadar mengejar nilai akademik.


Anak harus diajarkan mandiri.

Ajarkan mereka bekerja.

Ajarkan mengelola uang.

Ajarkan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Ajarkan membayar apa yang dikonsumsi.

Ajarkan berterima kasih ketika dibantu.

Ajarkan membalas kebaikan.


Dan yang tidak kalah penting, ajarkan mereka tidak malu hidup sederhana.


Sebab anak yang sejak kecil selalu diselamatkan dari kesulitan akan mudah mengira bahwa hidup memang harus selalu disiapkan orang lain.


Padahal dunia tidak demikian.

Suatu saat orang tua tidak lagi ada.

Kawan tidak selalu tersedia.

Dompet orang lain bukan milik kita.


Maka generasi harus disiapkan untuk mampu berdiri.


Hidup mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Hidup mandiri berarti tidak menjadikan orang lain sebagai tempat bergantung untuk kebutuhan yang sebenarnya dapat kita penuhi sendiri.


Bu Teubli adalah Cermin


Akhirnya, bu teubli bukan sekadar tentang nasi.


Ia adalah cermin.

Ia mengajarkan kita membaca wajah orang lain.


Apakah kehadiran kita membuat mereka nyaman atau justru sungkan?


Apakah bantuan yang kita terima memang hak orang yang membutuhkan, atau hanya karena kita pandai memanfaatkan kebaikan orang?


Apakah kita sedang bersilaturahmi, atau sebenarnya sedang mencari meja gratis?


Apakah kita sedang membangun persahabatan, atau diam-diam menjadikan persahabatan sebagai sumber konsumsi?


Pertanyaan-pertanyaan kecil ini penting karena akhlak sering kali tidak diuji dalam perkara besar.


Akhlak justru terlihat dalam hal-hal kecil: siapa yang membayar kopi, siapa yang membawa rokok sendiri, siapa yang tahu kapan harus duduk dan kapan harus pamit, siapa yang tidak mengambil kesempatan dari rasa sungkan kawannya.


Maka mari kita wariskan kepada generasi Muslim sebuah prinsip sederhana:


Kalau mampu bekerja, bekerjalah.

Kalau mampu membayar, bayarlah.

Kalau mampu memberi, berilah.

Kalau benar-benar tidak mampu, mintalah dengan rendah hati.

Tetapi jangan menjadikan meminta sebagai kebiasaan.


Boleh hidup sedikit kekurangan.

Boleh sesekali tidak punya.

Boleh menikmati kopi sederhana.

Boleh memakai pakaian yang tidak mahal.


Tetapi jangan kehilangan martabat.


Sebab lebih baik sederhana tetapi mandiri, daripada tampak kaya tetapi hidup dari rasa sungkan orang lain.


Dan jika hati sedang membutuhkan sesuatu, arahkan permintaan pertama kepada Allah.


Sebab manusia boleh memberi atau tidak memberi.


Tetapi Allah tidak pernah kehabisan rezeki.


Bu teubli akhirnya mengajarkan satu akhlak yang sangat mahal: jangan kenyang di atas rasa sungkan orang lain.


Kalau ingin kenyang, bekerjalah.


Kalau ingin cukup, berusahalah.

Kalau ingin mulia, memberi.


Dan kalau sedang benar-benar membutuhkan, angkat tangan kepada Allah—bukan membiasakan tangan menengadah kepada manusia.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 9 Rabiul Akhir 1448, 20 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update