-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Cari Muka, Setor Wajah!

Minggu, 27 September 2026 | September 27, 2026 WIB Last Updated 2026-09-28T02:22:45Z


Dari mengejar pandangan manusia menuju menghadapkan wajah kepada Allah


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu ungkapan KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam resepsi kesyukuran satu abad Gontor di Ponorogo yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, yang menarik perhatian publik. Di tengah pidatonya, Kiai Hasan antara lain menyebut perlunya “cari muka bagi yang tidak punya muka”, yang kemudian disandingkan dengan ungkapan mencari ijazah bagi yang tidak punya ijazah, mencari uang bagi yang tidak punya uang, dan mencari jabatan bagi yang tidak punya jabatan.


Ungkapan itu segera menjadi perbincangan warganet. Tetapi kita tidak perlu membawanya ke wilayah politik. Kita cukup memungut satu kata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: muka.


Sebab ada orang yang sepanjang hidupnya sibuk cari muka. Namun, Islam justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi: bukan mencari muka manusia, melainkan menghadapkan wajah kepada Allah.


Dari cari muka menuju setor wajah.


Ketika muka menjadi komoditas


Dalam bahasa pergaulan, “cari muka” biasanya dipahami sebagai usaha mendapatkan perhatian, simpati, pujian, kedudukan atau keuntungan dari orang lain. Seseorang melakukan sesuatu bukan semata-mata karena benar dan bermanfaat, tetapi seperti oportunis, karena berharap mendapatkan penilaian positif dari orang yang dianggap penting.


Dalam dunia sosial, perilaku seperti ini bisa muncul dalam berbagai bentuk.


Di kantor, seseorang terlalu rajin ketika dilihat atasan, tetapi biasa saja ketika tidak diawasi. Dalam organisasi, ia cepat hadir ketika tokoh penting datang, tetapi menghilang ketika pekerjaan berat harus diselesaikan. Dalam politik, seseorang bisa terlalu manis kepada mereka yang sedang memegang kekuasaan. Dalam bisnis, keramahan bahkan dapat berubah menjadi strategi untuk mendapatkan proyek atau akses.


Tentu, membangun hubungan baik bukanlah kesalahan. Bersikap ramah, menghormati pimpinan, menjaga jaringan, membangun kepercayaan dan memperluas pergaulan merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.


Yang menjadi persoalan adalah ketika hubungan berubah menjadi transaksi kepentingan, keramahan berubah menjadi alat, dan kebaikan berubah menjadi pertunjukan.


Sosiolog Erving Goffman, melalui gagasan self-presentation dan impression management, menjelaskan bahwa manusia dalam kehidupan sosial memang cenderung mengatur bagaimana dirinya tampil di hadapan orang lain. Kita berusaha membangun kesan tertentu tentang diri kita di hadapan “penonton” sosial.


Dalam kadar tertentu, hal itu adalah bagian dari interaksi manusia. Tetapi ketika kebutuhan mendapatkan pengakuan menjadi tujuan utama, muncullah wajah lain: manusia hidup bukan lagi untuk melakukan kebaikan, tetapi untuk terlihat sebagai orang baik.


Di sinilah “cari muka” mulai berbahaya.


Muka yang berubah mengikuti kekuasaan


Orang yang terlalu suka mencari muka biasanya memiliki satu kelemahan: wajahnya mudah berubah mengikuti siapa yang berada di depannya.


Di depan orang berkuasa ia tersenyum lebar.


Di depan orang biasa ia mungkin berjalan tanpa menoleh.


Ketika seseorang memiliki jabatan, ia mendekat.


Ketika jabatan itu hilang, ia menjauh.


Ketika seseorang mempunyai proyek, ia menjadi sahabat.


Ketika proyek selesai, persahabatan ikut menguap.


Inilah yang membuat “cari muka” bukan sekadar persoalan gaya pergaulan. Ia dapat menjadi persoalan integritas.


Orang yang terlalu sibuk mencari muka dapat kehilangan keberanian untuk mengatakan benar ketika kebenaran itu tidak menguntungkan. Ia bisa lebih sibuk membaca siapa yang berkuasa daripada membaca apa yang benar.


Akibatnya, lahirlah beberapa kecenderungan: mudah menjilat, mudah berubah pendirian, senang mencari kesempatan, haus pujian, menghitung hubungan berdasarkan keuntungan, dan lebih memperhatikan penampilan kebaikan daripada substansi kebaikan.


Yang lebih mengkhawatirkan, jika kebiasaan itu masuk ke wilayah ibadah, cari muka dapat berubah menjadi riya.


Ketika cari muka masuk ke sajadah


Allah mengingatkan tentang orang-orang yang melakukan amal dengan orientasi kepada pandangan manusia:


الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Orang-orang yang berbuat riya.”

(QS. Al-Ma’un: 6)


Riya adalah penyakit hati ketika amal yang semestinya dipersembahkan kepada Allah dicampuri keinginan agar manusia melihat, memuji atau mengakui kebaikan pelakunya.


Rasulullah ﷺ juga memperingatkan:


مَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa berbuat riya, Allah akan menyingkap hakikatnya.”


Pesannya jelas: jangan menjadikan manusia sebagai kiblat penilaian amal.


Namun, kita juga perlu berhati-hati. Tidak setiap orang yang ingin dihargai berarti riya, dan tidak setiap kesalahan seseorang membuat kita berhak menuduhnya munafik. Penyakit hati adalah wilayah yang paling sulit dibaca manusia.


Karena itu, ayat dan hadis tersebut seharusnya pertama-tama menjadi cermin untuk diri sendiri.


Jangan-jangan kita lebih rajin ketika dilihat.


Jangan-jangan kita lebih santun kepada orang kaya daripada kepada orang miskin.


Jangan-jangan kita lebih cepat membantu orang yang bisa membalas jasa daripada orang yang tidak mampu memberikan apa-apa.


Jangan-jangan kita lebih senang disebut baik daripada benar-benar berbuat baik.


Dari cari muka menuju setor wajah


Di sinilah kita menemukan metafora yang menarik: setor wajah.


“Setor wajah” tentu bukan istilah baku dalam khazanah fikih atau tafsir. Ia adalah metafora untuk menggambarkan seorang Muslim yang menghadapkan seluruh dirinya kepada Allah dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.


Fondasinya dapat kita temukan dalam firman Allah:


إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ


“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

(QS. Al-An’am: 79)


Ayat ini merupakan deklarasi tauhid Nabi Ibrahim AS.


Ibn Katsir menjelaskan makna “wajjahtu wajhiya” dalam konteks mengikhlaskan agama dan ibadah hanya kepada Allah. Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mengarahkan ibadahnya kepada Pencipta langit dan bumi, bukan kepada sesuatu yang fana.


Sedangkan dalam penjelasan para mufasir, menghadapkan wajah kepada Allah bukan semata-mata gerakan fisik, tetapi menunjuk kepada arah hati, agama dan pengabdian.


Maka, kalau cari muka berarti sibuk mendapatkan perhatian manusia, setor wajah berarti menghadirkan diri di hadapan Allah dengan ketulusan.


Setor wajah berarti hadir


Orang yang setor wajah tidak hanya memiliki wajah yang tampak saleh di masjid.


Ia membawa wajah itu ke rumah.

Ke kantor.

Ke kampus.

Ke pasar.

Ke organisasi.

Ke tengah masyarakat.


Ia hadir ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


Ia hadir ketika ada tetangga membutuhkan bantuan.


Ia hadir ketika keluarga membutuhkan perhatian.


Ia hadir ketika mahasiswa membutuhkan keteladanan.


Ia hadir ketika masyarakat membutuhkan pelayanan.


Ia tidak hanya hadir ketika kamera menyala.


Ia tidak hanya tersenyum ketika pejabat datang.


Ia tidak hanya aktif ketika namanya akan disebut.


Sebab pertanyaan dalam dirinya bukan lagi, “Siapa yang melihat saya?”, tetapi “Apakah Allah melihat apa yang saya lakukan?”


Inilah perbedaan mendasar.


Cari muka berorientasi kepada pandangan manusia.

Setor wajah berorientasi kepada Allah.


Cari muka bertanya: Apa yang saya dapat?

Setor wajah bertanya: Apa yang dapat saya berikan?


Wajah yang teduh, bukan bengis


Tetapi ada satu hal yang jangan sampai terlupakan.


Setor wajah kepada Allah tidak berarti menarik diri dari manusia. Justru semakin kuat hubungan seorang Muslim dengan Allah, semakin baik seharusnya wajah sosialnya.


Islam menghendaki wajah yang teduh, bukan bengis; tegas, tetapi tidak kasar; berprinsip, tetapi tidak merendahkan; berbeda pendapat, tetapi tetap menghormati manusia.


Karena itu, “setor wajah” juga dapat kita maknai sebagai menghadirkan representasi Islam yang indah dalam kehidupan.


Wajah yang menghargai keberagaman.

Wajah yang mampu berdialog.

Wajah yang tidak mudah mencaci.

Wajah yang tidak gemar mempermalukan orang lain.

Wajah yang menghormati tetangga.

Wajah yang ramah kepada anak-anak.

Wajah yang santun kepada orang tua.

Wajah yang adil kepada orang yang berbeda pandangan.


Bukankah Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi semesta alam?


Maka wajah peradaban Islam semestinya tidak identik dengan kebengisan. Ia harus menghadirkan ketenangan, keadilan, ilmu, akhlak dan rahmat.


Tidak bergantung kepada dunia


Orang yang benar-benar menghadapkan wajah kepada Allah bukan berarti meninggalkan dunia.


Ia tetap mencari uang.

Ia tetap bekerja.

Ia boleh mempunyai jabatan.

Ia boleh menjadi pengusaha.

Ia boleh menjadi akademisi.

Ia boleh menjadi pemimpin.


Tetapi dunia tidak menjadi pusat ketergantungannya.


Jabatan dipandang sebagai amanah.

Uang dipandang sebagai sarana.

Ilmu dipandang sebagai tanggung jawab.

Popularitas dipandang sebagai ujian.

Kekuasaan dipandang sebagai kesempatan berbuat adil.


Dengan demikian, seorang Muslim tidak harus takut kepada “muka”. Yang harus dijaga adalah ke mana wajah itu diarahkan.


Kepada manusia demi kepentingan?

Ataukah kepada Allah, lalu kembali kepada manusia membawa kemanfaatan?


Sepuluh wajah orang yang suka setor wajah


Generasi Muslim yang hendak menjalani kehidupan dengan prinsip ini dapat menjadikan beberapa ciri berikut sebagai cermin.


Pertama, tulus ketika tidak ada yang melihat.

Kebaikan tetap dilakukan meskipun tidak ada kamera, pujian dan publikasi.


Kedua, konsisten antara panggung dan belakang panggung.

Tidak ada dua wajah yang bertolak belakang antara apa yang ditampilkan dan apa yang dikerjakan.


Ketiga, hadir ketika dibutuhkan.

Kesalehan tidak berhenti di sajadah, tetapi menjadi kehadiran sosial.


Keempat, tidak menjadikan jabatan sebagai harga diri.

Jabatan datang dan pergi, tetapi integritas tidak ikut naik turun.


Kelima, tidak menjilat kekuasaan.

Menghormati pemimpin adalah akhlak; menjilat demi keuntungan adalah persoalan lain.


Keenam, berani memegang prinsip tanpa kehilangan kelembutan.

Ia dapat mengatakan benar tanpa harus merendahkan orang lain.


Ketujuh, wajahnya menenangkan.

Kehadirannya membuat orang merasa dihargai, bukan terancam.


Kedelapan, ringan memberikan manfaat.

Ia tidak selalu menghitung apa yang akan diperoleh dari setiap kebaikan.


Kesembilan, tidak haus pengakuan.

Pujian tidak membuatnya mabuk dan kritik tidak membuatnya kehilangan arah.


Kesepuluh, seluruh orientasinya kembali kepada Allah.

Inilah ruh inni wajjahtu wajhiya—aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi.


Jangan habiskan hidup untuk mencari muka


Barangkali inilah renungan yang dapat kita pungut dari ungkapan Kiai Hasan Abdullah Sahal.


Jangan habiskan umur hanya untuk mencari muka.

Sebab muka manusia berubah.


Hari ini seseorang dipuji, besok dilupakan.

Hari ini seseorang berkuasa, besok pensiun.

Hari ini orang berkerumun di sekeliling kita, suatu saat mungkin mereka pergi satu per satu.


Tetapi Allah tidak berubah.


Karena itu, daripada sepanjang hidup mengejar pandangan manusia, lebih baik kita belajar menyetorkan wajah kepada Allah.


Setor wajah di masjid.

Setor wajah di rumah.

Setor wajah di tempat kerja.

Setor wajah di kampus.

Setor wajah di tengah masyarakat.


Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan manusia, tetapi untuk memastikan bahwa kehadiran kita selalu membawa kebaikan.


Pada akhirnya, ukuran seorang Muslim bukan berapa banyak orang penting yang mengenal wajahnya.


Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak kebaikan yang lahir dari kehadirannya.


Bukan siapa yang ia dekati, tetapi siapa yang merasa terbantu setelah ia datang.


Bukan seberapa tinggi ia mengangkat wajah di hadapan manusia, tetapi seberapa tulus ia menghadapkan wajah kepada Allah.


Maka, kalau cari muka membuat manusia sibuk mengejar pandangan manusia, setor wajah membuat manusia sibuk memperbaiki kehadirannya di hadapan Tuhan dan sesama.


Islam tidak melarang umatnya memiliki wajah yang dikenal manusia.


Yang perlu dihindari adalah menjadikan pengakuan manusia sebagai tujuan hidup.


Islam mengajarkan agar wajah itu punya arah.

Arah tauhid.

Arah keikhlasan.

Arah kemanfaatan.

Arah kemuliaan akhlak.


Dan pada akhirnya, arah menuju ridha Allah.


Jangan sekadar cari muka. Mari belajar setor wajah.


Wallahu a’lam 


Barabung Aceh Besar, 26 Rabiul Akhir 1448, 27 September 2026


(Penulis, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update