Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Meyakini agama sendiri benar adalah bagian dari iman. Tetapi merasa diri paling benar lalu gemar menyalahkan dan merendahkan orang lain adalah perkara yang berbeda. Di antara keduanya ada jurang yang harus dijaga agar tidak terperosok.
Pesan itulah yang terasa kuat dari pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam tulisannya Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku, yang ditulis pada 21 September 1988, Gus Dur menyatakan dengan sangat terang: “Sikap membenarkan agama sendiri adalah sikap yang benar. Tetapi sikap menyalahkan agama lain adalah sikap yang salah.” (GusDur.Net)
Kalimat ini patut direnungkan kembali ketika ruang publik kita semakin penuh dengan perdebatan identitas, klaim kebenaran, dan saling serang karena perbedaan keyakinan.
Gus Dur tidak mengajarkan umat Islam meragukan akidahnya. Justru ia menegaskan bahwa kebenaran agama sendiri harus diyakini sepenuhnya. Yang dikritiknya adalah ketika keyakinan tersebut berubah menjadi kesombongan, merasa lebih tinggi, lalu menjadikan orang lain sebagai sasaran penghinaan.
Teguh dalam akidah tidak harus keras dalam pergaulan.
Menariknya, gagasan mengenai penghormatan terhadap kesucian agama juga pernah disampaikan Vladimir Putin. Dalam konferensi pers tahunannya pada 23 Desember 2021, Presiden Rusia itu menyatakan bahwa menghina Nabi Muhammad bukanlah sekadar kebebasan berekspresi, tetapi menurut pandangannya merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan perasaan suci umat Islam. Ia juga mengatakan bahwa kebebasan semestinya berlandaskan penghormatan terhadap perasaan orang lain. (Anadolu Ajansı)
Tentu, pernyataan Putin bukan dalil keagamaan. Namun ia menarik sebagai pandangan dari ruang publik nonteologis: kebebasan seseorang tidak semestinya menjadi alasan untuk merampas martabat atau kebebasan orang lain.
Akidah kokoh, akhlak tetap teduh
Islam sangat jelas mengenai identitas akidah.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
(QS Al-Kafirun: 6).
Seorang Muslim tidak perlu malu mengatakan bahwa ia meyakini Islam sebagai agama yang benar. Keyakinan seperti itu justru merupakan bagian dari iman.
Tetapi Al-Qur’an sekaligus memberikan pagar akhlak yang sangat tinggi.
Allah berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah…”
(QS Al-An’am: 108).
Ayat ini luar biasa menarik. Sesembahan kaum musyrik secara teologis ditolak Islam. Namun Al-Qur’an tetap melarang kaum Muslimin mencacinya karena tindakan itu dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar: mereka membalas dengan mencaci Allah.
Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz menjelaskan larangan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kaum Muslimin tidak boleh melakukan sesuatu yang memancing pihak lain menghina Allah. (TafsirWeb)
Artinya, benar menurut keyakinan belum tentu setiap cara menyampaikan kebenaran itu benar secara akhlak.
Ini yang sering luput.
Orang bisa saja memiliki keyakinan yang kuat, tetapi cara menyampaikannya justru melahirkan luka. Bisa saja ingin membela agama, tetapi kata-katanya malah menimbulkan permusuhan. Bisa saja merasa sedang berdakwah, tetapi yang tumbuh di tengah masyarakat justru kebencian.
Di sinilah akidah membutuhkan akhlak.
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan
Al-Qur’an memerintahkan:
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS An-Nahl: 125).
Perhatikan kata ahsanu, yang terbaik.
Bukan sekadar berdebat. Bukan sekadar membalas. Bukan pula mencari kelemahan lawan bicara.
Tetapi mencari cara terbaik.
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisan dan tangannya sehingga manusia lain merasa aman dari gangguannya.
Maka ukuran kedewasaan beragama tidak hanya terletak pada seberapa kuat seseorang mempertahankan keyakinannya, tetapi juga seberapa mampu ia mengendalikan lisannya ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.
Sejarah mengajarkan hidup bersama
Madinah memberikan contoh penting.
Rasulullah SAW membangun masyarakat yang tidak hanya terdiri atas kaum Muslimin. Ada kelompok Yahudi dan komunitas lain. Perbedaan keyakinan tidak otomatis berarti semua hubungan sosial harus diputus.
Ada aturan bersama, ada hak dan kewajiban, ada perlindungan, ada tanggung jawab menjaga kehidupan masyarakat.
Begitu pula dalam pergaulan Nabi dengan kelompok Nasrani Najran. Perbedaan teologis tetap ada. Nabi tidak mencairkan akidah Islam. Namun perbedaan itu tidak menghalangi terbentuknya hubungan sosial yang memiliki aturan dan perlindungan.
Ini pelajaran penting:
Berbeda dalam keyakinan tidak harus bermusuhan dalam kehidupan.
Dari Al-Azhar sampai Vatikan
Suara serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran tokoh-tokoh agama kontemporer.
Syekh Ahmad al-Tayyeb, Grand Imam Al-Azhar, berulang kali menyerukan penghormatan terhadap agama lain, kebebasan beragama, moderasi dan kehidupan bersama secara damai.
Yusuf al-Qaradawi dalam pemikirannya mengenai hubungan Muslim dengan non-Muslim juga menekankan bahwa kehidupan bersama tidak mengharuskan seorang Muslim meninggalkan prinsip akidahnya.
Ayatollah Ali Khamenei juga pernah mengecam penghinaan terhadap Nabi Muhammad yang dibela atas nama kebebasan berekspresi.
Sementara itu, Paus Fransiskus dalam konferensi pers penerbangan dari Sri Lanka menuju Filipina pada 15 Januari 2015 mengatakan bahwa kebebasan beragama dan kebebasan berbicara sama-sama merupakan hak fundamental. Namun kebebasan tersebut tidak seharusnya digunakan untuk menghina atau mengejek iman orang lain. Pada saat yang sama, ia juga menegaskan bahwa penghinaan tidak boleh dibalas dengan kekerasan. (Vatican)
Di sini terdapat prinsip yang sangat penting:
Menolak penghinaan tidak berarti membenarkan kekerasan.
Generasi muda jangan menjadi pengeras gesekan
Pesan ini penting terutama bagi generasi bangsa yang hidup di zaman media sosial.
Hari ini, sebuah komentar pendek dapat menjadi bara. Satu meme dapat menyebar ke ribuan orang. Satu potongan video dapat dipisahkan dari konteksnya. Sebuah ejekan terhadap simbol agama dapat berubah menjadi pertengkaran panjang antarkelompok.
Karena itu, generasi Muslim perlu memiliki dua kekuatan sekaligus.
Pertama, kekuatan prinsip.
Kenali agama dengan ilmu. Pelajari Al-Qur’an, hadis, tafsir, fikih dan warisan ulama. Jangan mudah goyah hanya karena berhadapan dengan pendapat yang berbeda.
Kedua, kekuatan akhlak.
Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan. Jangan mudah mencaci. Jangan menjadi penyambung provokasi. Jangan ikut menyebarkan sesuatu yang dapat mempertajam permusuhan.
Kita boleh mengatakan, “Saya meyakini ini benar.”
Tetapi kita harus berhati-hati mengatakan, “Karena saya benar, maka Anda pantas saya hina.”
Yang pertama adalah keyakinan.
Yang kedua bisa menjadi kesombongan.
Setiap manusia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan keyakinan dan amalnya di hadapan Allah. Tugas kita bukan mengambil alih kursi Tuhan untuk memutuskan nasib orang lain. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan ilmu, menunjukkan teladan dengan akhlak, dan menjaga kehidupan bersama dengan keadilan.
Karena itu, mari kita wariskan kepada generasi bangsa sebuah formula sederhana:
Kuat dalam akidah.
Luas dalam wawasan.
Santun dalam perbedaan.
Adil dalam pergaulan.
Bijak dalam berbicara.
Dan jangan pernah menjadi bahan bakar bagi gesekan yang merusak persaudaraan masyarakat.
Sebab Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang kehilangan prinsip.
Islam mengajarkan kita menjadi manusia yang memiliki prinsip sekaligus memiliki akhlak.
Dan mungkin di situlah kematangan beragama diuji:
mampu mengatakan “agamaku benar” tanpa harus mengatakan “karena itu engkau boleh kuhina”.
Teguh tanpa angkuh.
Toleran tanpa kehilangan akidah.
Berbeda tanpa bermusuhan.
Berdakwah tanpa merendahkan.
Itulah keberagamaan yang tidak hanya benar dalam keyakinan, tetapi juga indah dalam kehidupan.
Wallahu a’lam
Barabung 17 Rabiul Akhir 1448, 28 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, pegiat moderasi beragama, akademisi UIN Ar-Raniry)
