Refleksi dari Tausiyah Zuhur Prof Analiansyah
Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sebuah pesan menarik dari tausiyah Prof Analiansyah di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 23 September 2026. Pesannya sederhana, tetapi jika direnungkan lebih jauh, ia menyentuh salah satu pekerjaan rumah terbesar umat Islam: jangan sampai kita rajin membaca Al-Qur’an, tetapi jauh dari makna yang dibacanya.
Prof Analiansyah mengajak generasi muslim untuk membiasakan membaca terjemahan Al-Qur’an. Bukan untuk menggantikan bacaan teks Arab. Bukan pula untuk mengatakan bahwa membaca huruf-huruf Al-Qur’an tidak penting.
Justru sebaliknya.
Membaca teks Arab Al-Qur’an tetap memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam tradisi Islam, tilawah merupakan ibadah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Karena itu, dalam konteks Aceh, idealnya tidak ada seorang muslim pun yang tidak mampu membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan akademik keagamaan. Ia telah menjadi bagian dari tradisi keluarga, pendidikan, kehidupan meunasah, masjid, dayah, TPA dan identitas sosial masyarakat Aceh.
Tetapi di sinilah kita perlu jujur melihat kenyataan.
Tidak semua yang lahir dari keluarga muslim otomatis menjadi pembaca Al-Qur’an yang baik.
37,5 persen yang perlu menjadi perhatian
Gambaran itu antara lain terlihat dari pengalaman placement test kelancaran membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa baru UIN Ar-Raniry tahun ini.
Dari sekitar 1.600 mahasiswa yang mengikuti tes—hampir seluruhnya beragama Islam dan mayoritas berasal dari keluarga Aceh—terdapat sekitar 600 mahasiswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Angkanya sekitar 37,5 persen.
Dari 600 orang tersebut, sekitar 60 persen atau 360 mahasiswa masih berada pada kategori Iqra 1 sampai 3. Sementara sekitar 40 persen atau 240 mahasiswa berada pada Iqra 4 sampai 6, tetapi belum mampu membaca teks Arab Al-Qur’an secara fasih.
Mereka kemudian menjadi kelompok yang perlu mendapatkan pembinaan lebih intensif selama tiga bulan di Ma’had.
Angka ini tentu bukan penelitian yang dapat dipakai untuk menyimpulkan kondisi seluruh masyarakat Aceh. Ia adalah gambaran lapangan dari mahasiswa yang masuk ke sebuah perguruan tinggi keagamaan Islam. Tetapi justru karena itulah data tersebut patut menjadi cermin.
Kalau di pintu masuk perguruan tinggi Islam saja masih ditemukan persoalan kemampuan membaca Al-Qur’an, kita tidak boleh merasa pekerjaan literasi Al-Qur’an sudah selesai hanya karena di Aceh hampir setiap rumah memiliki Al-Qur’an dan hampir setiap anak pernah belajar mengaji.
Kita perlu membedakan antara pernah belajar membaca Al-Qur’an dengan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, dan antara mampu membaca teksnya dengan memahami pesannya.
Persoalan ini juga bukan sama sekali tanpa tanda-tanda sebelumnya. Laporan kinerja Aceh Jaya, misalnya, mencatat target angka melek Al-Qur’an dan sekaligus mengutip data nasional yang ketika itu menyebut persoalan buta huruf Al-Qur’an masih besar. Di lapangan, berbagai penelitian di Banda Aceh dan Aceh Besar juga masih menemukan siswa yang mengalami kesulitan tajwid, makhraj, panjang-pendek dan kelancaran membaca.
Maka persoalan ini memang harus dilihat sebagai pekerjaan bersama.
Dari tilawah menuju tadabbur
Di sinilah pesan Prof Analiansyah menjadi penting.
Bagaimana dengan seorang muslim yang belum mampu membaca teks Arab Al-Qur’an?
Apakah karena belum lancar membaca huruf Arab lalu ia harus menunggu untuk berinteraksi dengan pesan Al-Qur’an?
Tentu tidak.
Membaca terjemahan dapat menjadi salah satu pintu masuk.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan:
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29).
Allah juga bertanya:
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Ayat-ayat tersebut mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dilafalkan, tetapi juga untuk ditadabburi, dipahami, dihayati dan diamalkan.
Karena itu, membaca terjemahan bukan jalan pintas untuk meninggalkan teks Arab. Ia justru dapat menjadi jembatan menuju kecintaan yang lebih dalam kepada Al-Qur’an.
Bagi yang sudah fasih membaca, tingkatkan dengan memahami terjemahan dan tafsir.
Bagi yang belum fasih, terus belajar membaca teks Arab sambil membaca terjemahannya.
Dengan begitu, dua perjalanan berjalan bersamaan: lidah belajar membaca wahyu, sementara akal dan hati belajar memahami wahyu.
Al-Qur’an dan kesehatan jiwa
Ada alasan lain mengapa kedekatan dengan Al-Qur’an penting bagi generasi muda.
Al-Qur’an bukan hanya sumber pengetahuan keagamaan. Ia juga memberikan ruang bagi ketenangan batin, penguatan makna hidup, kesabaran, tawakal dan pengendalian diri.
Kajian sistematis yang diterbitkan dalam International Journal of Public Health menemukan bahwa sejumlah penelitian mengenai mendengar, membaca, atau menghafal Al-Qur’an menunjukkan kemungkinan manfaat terhadap kecemasan, depresi, kualitas hidup, kualitas tidur dan beberapa indikator fisiologis. Namun para peneliti juga menekankan bahwa kualitas bukti dan hasil antarpenelitian tidak seragam.
Kajian lain tentang intervensi berbasis Al-Qur’an juga menemukan bahwa membaca, mendengarkan dan menghafal Al-Qur’an telah diteliti dalam kaitannya dengan kecemasan, depresi, stres, kualitas hidup dan kemampuan coping.
Artinya, generasi muda yang akrab dengan Al-Qur’an sesungguhnya sedang membangun salah satu sumber kekuatan spiritual dan psikologisnya.
Tentu Al-Qur’an bukan sekadar “terapi psikologis”. Ia adalah wahyu dan petunjuk hidup. Tetapi secara manusiawi, kedekatan dengan bacaan, makna dan nilai-nilainya dapat menjadi sumber ketenangan dan ketahanan jiwa.
MTQ jangan berhenti di panggung
Menariknya, gagasan ini justru sejalan dengan semangat MTQ yang sedang aktual dibicarakan setelah MTQ Nasional XXXI di Semarang.
MTQ tidak hanya memiliki cabang seni membaca Al-Qur’an. Ada tafsir Al-Qur’an, Fahmil Al-Qur’an, Syarhil Al-Qur’an dan Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an. Cabang Fahmil menguji pemahaman isi kandungan Al-Qur’an, sedangkan Syarhil menggabungkan tilawah, terjemahan dan uraian pesan Al-Qur’an.
Ini pesan yang penting.
Al-Qur’an tidak cukup hanya indah ketika dibaca. Ia harus dipahami ketika dijelaskan dan terasa ketika diamalkan.
Bahkan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat MTQ Nasional XXXI mengingatkan agar MTQ tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi menjadi momentum menjadikan Al-Qur’an sebagai living Quran—nilai-nilainya hidup dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Maka kita tidak perlu mempertentangkan tilawah dengan terjemahan, hafalan dengan pemahaman, atau bacaan dengan pengamalan.
Semuanya adalah mata rantai.
Tilawah membuka pintu.
Terjemahan membantu memahami.
Tafsir memperdalam.
Tadabbur menghidupkan kesadaran.
Pengamalan membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar hidup.
Lalu bagaimana keluar dari persoalan ini?
Pertama, jangan mematikan budaya mengaji yang sudah kuat di Aceh. Justru budaya itu harus dinaikkan kelasnya: dari sekadar bisa membaca menjadi mampu membaca dengan benar, memahami dan mengamalkan.
Kedua, setiap keluarga perlu membangun tradisi membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya. Tidak perlu banyak. Satu halaman sehari, kemudian satu atau dua ayat dibicarakan maknanya bersama keluarga.
Ketiga, TPA, meunasah, masjid dan dayah perlu mempertemukan tiga kemampuan sekaligus: tahsin, terjemah dan pemahaman sederhana. Anak jangan hanya ditanya, “Sudah sampai halaman berapa?” tetapi sesekali ditanya, “Apa pesan ayat yang baru kamu baca?”
Keempat, sekolah dan perguruan tinggi perlu melakukan pemetaan kemampuan membaca Al-Qur’an sejak awal, lalu memberikan pembinaan sesuai level. Jangan semua mahasiswa diperlakukan sama. Yang sudah mahir perlu dikembangkan; yang tertinggal harus diselamatkan.
Kelima, program Ma’had seperti di UIN Ar-Raniry dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar program remedial tiga bulan. Setelah tiga bulan, perlu ada pendampingan agar kemampuan yang sudah diperoleh tidak kembali hilang.
Keenam, MTQ di Aceh perlu terus didorong menjadi gerakan literasi Al-Qur’an masyarakat, bukan hanya festival tahunan. Semangat MTQ harus turun dari panggung ke rumah, dari arena perlombaan ke meunasah, dari juara ke masyarakat.
Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar melahirkan qari-qariah yang merdu, hafiz-hafizah yang kuat hafalannya, mufassir yang cerdas, atau regu Fahmil yang mampu menjawab soal.
Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia yang hidupnya semakin bercahaya karena Al-Qur’an.
Di sinilah tausiyah Prof Analiansyah menemukan relevansinya.
Kita ingin generasi Aceh tidak berhenti pada keadaan “bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibaca.”
Kita juga tidak ingin orang yang belum lancar membaca teks Arab merasa “tidak perlu membaca Al-Qur’an sama sekali.”
Keduanya harus dijembatani.
Yang belum bisa membaca, kita tuntun membaca.
Yang sudah bisa membaca, kita ajak memahami.
Yang sudah memahami, kita dorong mengamalkan.
Dan yang sudah mengamalkan, kita harapkan menjadi teladan.
Barangkali inilah cara paling sederhana menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca setiap hari, tetapi kitab yang membaca kehidupan kita setiap hari.
Sebab persoalan terbesar bukan ketika Al-Qur’an tidak ada di rumah.
Persoalan yang lebih serius adalah ketika Al-Qur’an ada di rumah, sering dibaca, tetapi pesannya tidak pernah sampai ke kehidupan.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 12 Rabiul Akhir 1448, 23 September 2026
(Pebulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)
