Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada pelajaran yang kadang justru terasa lebih dalam setelah shalat Subuh selesai.
Pagi ini, selepas shalat Subuh di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami beberapa orang masih duduk sejenak. Tidak ada forum resmi, tidak ada mimbar, tidak pula susunan acara. Kami hanya mendengar cerita Prof Safrilsyah —seorang alumni Gontor selesai tahun 1990– yang baru kembali dari Ponorogo, Jawa Timur, menghadiri rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor.
Cerita beliau tentang Gontor terasa seperti sebuah kuliah singkat tentang pendidikan. Bukan kuliah yang disampaikan dengan slide dan layar, tetapi dengan pengalaman yang baru saja disaksikan dan dirasakan.
Yang paling menarik bagi saya adalah ketika Prof Safrilsyah menceritakan kesan terhadap pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor, 19 September 2026, yang juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Pidato itu, sebagaimana diceritakan Prof Safrilsyah, memperlihatkan satu karakter penting pendidikan Gontor: mandiri dan teguh memegang prinsip, tetapi tidak kehilangan kesantunan dalam menghormati sesama.
K.H. Hasan Abdullah Sahal memang menyampaikan pidato yang sarat refleksi sejarah dan filosofi pendidikan. Salah satu pesan yang diberitakan dari pidatonya adalah bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus menjadi pijakan untuk membangun sejarah baru. Gontor, katanya, tidak boleh menyerah kepada sejarah, tetapi harus terus bergerak menciptakan sejarah. (PPI KPM Gontor)
Di sinilah pendidikan menjadi menarik. Mandiri bukan berarti merasa paling tinggi. Tegas bukan berarti kasar. Bebas bukan berarti tanpa batas. Dan menghormati orang lain bukan berarti kehilangan prinsip.
Tidak ada manusia kelas satu dan kelas dua
Menurut cerita Prof Safrilsyah, salah satu hal yang mengesankan dari kehidupan di Gontor adalah suasana kebersamaan yang tidak dibangun berdasarkan status sosial.
Santri, guru, kiai, maupun tamu diperlakukan dalam suasana pendidikan yang menempatkan manusia pada martabatnya. Bahkan ketika pejabat atau pembesar negara datang, penghormatan tidak harus diterjemahkan dalam bentuk perlakuan berlebihan yang mengubah tata kehidupan pondok.
Ini bukan berarti Gontor tidak menghormati tamu. Justru penghormatan dilakukan dengan cara yang tetap berada dalam bingkai nilai dan kesederhanaan pondok.
Di sinilah kita teringat firman Allah:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini menerangkan bahwa seluruh manusia pada dasarnya berasal dari Adam dan Hawa dan memiliki kemuliaan kemanusiaan yang sama. Perbedaan yang menjadi ukuran di sisi Allah bukan nasab, suku, bangsa atau kedudukan sosial, melainkan ketaatan kepada-Nya. (Quran.com)
Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim).
Maka pendidikan yang baik seharusnya tidak melahirkan manusia yang sibuk mengukur orang lain berdasarkan jabatan, kekayaan atau popularitas. Pendidikan harus mengajarkan bahwa yang membuat manusia mulia adalah kualitas dirinya di hadapan Allah dan manfaatnya bagi sesama.
Aturan diterima karena kesadaran
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.
Di lingkungan pendidikan yang kuat, aturan tidak semata-mata ditaati karena takut kepada hukuman. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa aturan dibuat untuk membentuk diri.
Menurut cerita Prof Safrilsyah, ketika santri menyadari dirinya melakukan kesalahan, ia dididik untuk berani menerima konsekuensi sesuai aturan pondok. Di sini hukuman, jika memang menjadi bagian dari disiplin pendidikan, bukan semata-mata alat menakut-nakuti. Ia menjadi bagian dari proses belajar bertanggung jawab.
Ini penting.
Sebab kehidupan setelah sekolah dan pesantren jauh lebih keras daripada kehidupan di dalam kelas. Tidak semua kesalahan akan selalu ditoleransi. Tidak setiap keputusan akan selalu memiliki kesempatan untuk diulang.
Karena itu, pendidikan harus membangun manusia yang mampu berkata kepada dirinya sendiri: “Saya salah, saya bertanggung jawab, dan saya siap memperbaikinya.”
Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya.
Panca Jiwa yang menjadi cara hidup
Gontor menyebut lima nilai utama sebagai Panca Jiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kelima nilai tersebut bukan sekadar slogan, tetapi menjadi landasan kehidupan pondok. (Institut Agama Islam Negeri Gontor)
Jiwa berdikari, misalnya, tidak hanya berarti santri mampu mengurus dirinya sendiri. Gontor menjelaskan bahwa pondok sebagai lembaga pendidikan juga harus mampu berdiri sendiri dan tidak menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain. (Institut Agama Islam Negeri Gontor)
Menariknya, prinsip ini memiliki akar sejarah yang kuat.
Gontor berdiri pada 20 September 1926 melalui tiga bersaudara, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Pada 1958, para pendirinya mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam. (Institut Agama Islam Negeri Gontor)
Wakaf tersebut bukan hanya soal aset. Ia juga menunjukkan sebuah cara berpikir: lembaga pendidikan tidak dibangun untuk menjadi milik pribadi atau keluarga, melainkan dipersiapkan menjadi amanah yang dapat berlangsung lintas generasi.
Seratus tahun kemudian, model itu telah melewati ujian waktu.
Itulah yang membuat pengalaman Gontor menarik dipelajari sebagai salah satu best practice pendidikan pesantren—bukan untuk disalin mentah-mentah, tetapi untuk dipelajari prinsip-prinsipnya.
Aceh pun memiliki kekayaan serupa
Tentu Gontor bukan satu-satunya pesantren yang memiliki tradisi pendidikan kuat.
Aceh memiliki dayah dengan sejarah panjang, tradisi keilmuan yang kokoh, ketundukan kepada ulama, kehidupan berjamaah, kesederhanaan dan kemandirian. Begitu pula pesantren di berbagai daerah Nusantara dengan karakter dan kekayaan tradisinya masing-masing.
Yang menarik dari pengalaman Gontor adalah bagaimana nilai tersebut dikelola dalam sebuah sistem yang mampu bertahan selama satu abad, dengan manajemen modern, sistem wakaf, kaderisasi dan pengembangan pendidikan yang terus berjalan.
Karena itu, yang patut kita pelajari bukan sekadar gedungnya, jumlah kampusnya atau besarnya acara satu abad.
Yang lebih penting adalah bagaimana nilai dijadikan sistem, sistem dijadikan kebiasaan, kebiasaan dijadikan karakter, dan karakter akhirnya melahirkan manusia.
Itulah pekerjaan besar pendidikan.
Menyiapkan generasi menghadapi zaman yang berlari
Hari ini anak-anak dan generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa mengetuk pintu. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita menjelaskan dampaknya. Dunia kerja berubah, pergaulan berubah, cara berkomunikasi berubah, bahkan cara manusia memperoleh pengetahuan pun berubah.
Dalam keadaan seperti itu, generasi tidak cukup hanya dibekali kecerdasan.
Mereka membutuhkan akar nilai.
Mereka perlu diajarkan mandiri tetapi tidak egois. Berani tetapi tidak arogan. Kritis tetapi tetap santun. Bebas berpikir tetapi bertanggung jawab. Mampu bersaing tetapi tidak merendahkan orang lain. Dan yang tidak kalah penting, berani mengakui kesalahan serta bersedia memperbaikinya.
Inilah yang saya kira dapat disebut sebagai pendidikan berberkah.
Pendidikan yang tidak berhenti pada seberapa banyak anak memperoleh pengetahuan, tetapi sejauh mana ilmu itu membuatnya semakin baik sebagai manusia.
Presiden Prabowo sendiri dalam resepsi satu abad Gontor menyoroti Panca Jiwa sebagai nilai yang berkaitan dengan pembentukan generasi berintegritas, mandiri dan memiliki kepedulian kepada sesama. (Setneg)
Sementara itu, satu abad Gontor juga menunjukkan luasnya jejak pengabdian para alumninya. Reuni akbar 20 September 2026 dihadiri belasan ribu alumni dari berbagai generasi, dan Gontor mendokumentasikan kiprah alumni dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa dan negara melalui buku Gontor untuk Indonesia. (Institut Agama Islam Negeri Gontor)
Maka selamat satu abad, Pondok Modern Darussalam Gontor.
Selamat atas perjalanan panjang pendidikan yang telah melahirkan begitu banyak kader umat dan bangsa.
Dan terima kasih untuk sebuah pelajaran yang sampai pagi ini masih terasa di serambi Masjid Fathun Qarib: bahwa pendidikan yang kuat tidak selalu ditandai oleh suara yang keras. Kadang ia justru hadir dalam kesederhanaan, ketegasan pada prinsip, kesediaan menerima konsekuensi, dan penghormatan yang tulus kepada sesama.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar membuat manusia pintar membaca dunia. Pendidikan harus membuat manusia tahu bagaimana menempatkan dirinya di hadapan Allah dan di tengah manusia.
Barangkali di situlah “paku” pendidikan Gontor yang paling layak kita bawa pulang: mandiri dalam sikap, teguh dalam prinsip, rendah hati dalam pergaulan.
Itulah pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan, tetapi mudah-mudahan juga berkah dan melahirkan keberkahan.
Wallahu a’lam
Darussalam Banda Aceh 11 Rabiul Akhir 1448, 24 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, pengamat sosial dan keislaman, tinggal di Barabung Aceh Besar)
Foto: dari kiri: Prof Safrilsyah, Prof Maizuddin, penulis, Tgk Hasrun
