-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kagum pada Supranatural Cara Manusia Tunduk pada Dajjal

Minggu, 20 September 2026 | September 20, 2026 WIB Last Updated 2026-09-21T06:03:22Z


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu kalimat penting yang mengusik pikiran dari tausiyah Ustaz Fakhruddin Lahmuddin dalam Safari BBC, Ahad Subuh, 20 September 2026, di Masjid Nurul Huda, Gampong Peunyeurat, Banda Aceh. Penceramah yang juga akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry itu mengajak jamaah merenungkan satu pertanyaan besar: bagaimana manusia kelak bisa mengikuti Dajjal?


Jawabannya tidak selalu dimulai dengan penolakan terhadap agama. Bisa jadi ia dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: kagum kepada kekuatan yang luar biasa.


Menurut Ustaz Fakhruddin, salah satu pintu yang membuat manusia mudah tertarik kepada Dajjal adalah kebiasaan mengagumi orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural. Dukun, misalnya. Ada orang yang secara lisan mengatakan tidak percaya kepada dukun, tetapi ketika sakit, mengalami persoalan, atau menginginkan sesuatu yang sulit diperoleh melalui cara biasa, ia ikut mencoba.


Ironisnya, ketika seseorang yang dianggap memiliki kemampuan khusus itu didatangi, orang berduyun-duyun mengantre. Ada yang ingin disentuh, diberi arahan, dibacakan sesuatu, atau mendapatkan jalan keluar yang cepat. Ketidakpercayaan di mulut ternyata belum tentu menjadi keteguhan di dalam hati.


Di sinilah letak persoalannya.


Kagum dapat menjadi pintu sebelum tunduk.


Dari kagum menjadi percaya


Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia pernah mencari perlindungan kepada makhluk gaib. Allah berfirman:


“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka menjadikan mereka bertambah sesat.”

(QS. Al-Jinn: 6). 


Ayat ini memberi pelajaran penting: ketika manusia mulai menggantungkan rasa aman kepada selain Allah, ketergantungan itu dapat berkembang menjadi kesesatan.


Al-Qur’an juga menyebut sihir dalam QS. Al-Baqarah ayat 102. Di sana ditegaskan bahwa sihir tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah, sementara orang yang mempelajarinya mengambil sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat. (Quran.com⁠)


Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang percaya atau tidak percaya kepada dukun. Persoalan yang lebih dalam adalah ke mana hati menggantungkan harapan ketika berada dalam kesulitan.


Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras mengenai mendatangi peramal. Dalam Sahih Muslim disebutkan, siapa yang mendatangi seorang ’arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, salatnya tidak diterima selama empat puluh malam. 


Peringatan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan manusia bermain-main dengan wilayah keyakinan.


Dajjal: kekuatan yang memukau


Fitnah Dajjal jauh lebih besar karena ia bukan sekadar menawarkan kata-kata.


Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada seorang nabi pun yang tidak memperingatkan umatnya dari Dajjal. Nabi juga menegaskan bahwa Allah tidak bermata satu, sedangkan Dajjal demikian adanya. 


Yang membuat fitnah itu sangat berat adalah apa yang tampak berada di tangan Dajjal.


Dalam riwayat disebutkan, ia datang membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka; tetapi apa yang disebutnya surga justru neraka. 


Dalam riwayat lain digambarkan bagaimana Dajjal memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman bagi orang-orang yang mengikutinya. Kepada orang yang menolaknya, terjadi kekeringan dan kesulitan. Bahkan harta benda digambarkan mengikuti perintahnya. 


Bayangkan godaan seperti ini.


Orang sedang lapar, lalu datang seseorang yang menjanjikan makanan.


Orang sedang sakit, lalu datang seseorang yang menawarkan kesembuhan.


Orang sedang miskin, lalu datang seseorang yang menawarkan kekayaan.


Orang sedang takut, lalu datang seseorang yang menawarkan perlindungan.


Orang sedang mengalami paceklik, lalu datang seseorang yang seolah-olah mampu menghadirkan hujan dan kemakmuran.


Di situlah iman diuji: apakah manusia menyembah Yang Mahakuasa, atau tunduk kepada siapa pun yang tampak memiliki kekuasaan?


Mengapa manusia mudah silau?


Psikologi modern memberikan penjelasan menarik.


Stuart Vyse, psikolog yang banyak mengkaji takhayul, menjelaskan bahwa keyakinan superstisius sering muncul ketika manusia menghadapi situasi yang hasilnya tidak pasti, tetapi hasil tersebut sangat penting baginya. Dalam kondisi seperti itu, manusia mencari rasa kontrol—seolah-olah ada tindakan tertentu yang dapat membuat hasil menjadi sesuai keinginannya. 


APA Dictionary of Psychology juga mendefinisikan superstitious control sebagai ilusi bahwa seseorang dapat memengaruhi suatu hasil melalui praktik tertentu untuk melindungi diri, mengubah lingkungan, atau memengaruhi keadaan. (Kamus APA⁠)


Ini menjelaskan mengapa orang yang sedang sakit, takut, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah rumah tangga atau mengalami ketidakpastian masa depan lebih mudah mencari jalan pintas.


Menariknya, penelitian psikologi yang dibahas Jane Risen dalam Psychological Review menunjukkan bahwa takhayul tidak hanya dimiliki orang yang kurang pendidikan atau kurang cerdas. Orang yang cerdas dan terdidik pun dapat mempertahankan keyakinan superstisius tertentu, bahkan ketika sebagian dirinya mengetahui bahwa keyakinan tersebut tidak rasional. 


Artinya, pendidikan saja belum tentu cukup untuk membuat manusia kebal dari pesona kekuatan palsu.


Yang dibutuhkan adalah disiplin berpikir dan keteguhan iman.


Dari kebutuhan menjadi ketundukan


Inilah yang membuat refleksi Ustaz Fakhruddin menjadi penting.


Manusia sebenarnya tidak selalu mencari kebenaran ketika sedang terdesak. Sering kali manusia mencari jalan tercepat menuju kenyamanan.


Kalau ada orang yang bisa menyembuhkan dengan cepat, kita kagum.


Kalau ada orang yang dianggap mampu mengetahui sesuatu yang tersembunyi, kita kagum.


Kalau ada orang yang bisa membuat seseorang kaya mendadak, kita kagum.


Kalau ada orang yang dapat menunjukkan kekuatan yang tidak dapat dijelaskan, kita kagum.


Kekaguman yang terus dipelihara dapat berubah menjadi kepercayaan. Kepercayaan dapat berubah menjadi ketergantungan. Dan ketergantungan dapat berkembang menjadi ketundukan.


Maka persoalan Dajjal bukan hanya soal “apakah kita percaya kepada Dajjal?”


Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:


Sudahkah kita melatih diri agar tidak tunduk kepada sesuatu hanya karena ia tampak kuat, kaya, ajaib, mampu menyelesaikan masalah, atau mampu memenuhi keinginan kita?


Sebab Dajjal kelak tidak datang dengan membawa papan pengumuman bahwa dirinya sedang menguji iman manusia. Ia datang dengan fitnah yang menyentuh kebutuhan manusia.


Karena itu, latihan menghadapi fitnah Dajjal sesungguhnya dapat dimulai sejak sekarang.


Jangan kagum sebelum bertanya


Islam mengajarkan manusia untuk tidak menyerahkan akal kepada kekaguman.


Ketika melihat sesuatu yang luar biasa, jangan langsung bertanya, “Bagaimana saya bisa mendapatkan kemampuan itu?”


Tanyakan lebih dahulu:


Dari mana sumbernya? Apa caranya? Apakah sesuai dengan syariat? Apakah mengandung penipuan? Apakah membuat hati semakin bergantung kepada Allah atau justru kepada manusia?


Dalam perkara kesehatan, ikhtiar medis tetap diperlukan. Dalam perkara ekonomi, bekerja dan berusaha harus dilakukan. Dalam menghadapi masalah, musyawarah dan mencari nasihat orang berilmu merupakan jalan yang sehat.


Tetapi semua ikhtiar itu harus tetap berada dalam satu kesadaran: sebab bukan Tuhan.


Dokter bukan penyembuh mutlak. Obat bukan penyembuh mutlak. Harta bukan pemberi keselamatan mutlak. Manusia bukan pemberi rezeki mutlak.


Allah-lah yang menjadi tempat bergantung.


Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan:


“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

(QS. Al-Fatihah: 5).


Bagaimana mengendalikan diri?


Ada beberapa latihan sederhana agar manusia tidak mudah silau.


Pertama, latih kemampuan menunda keputusan. Jangan mengambil keputusan besar ketika sedang takut, panik, sakit, terdesak atau sangat menginginkan sesuatu. Kondisi emosional dapat membuat manusia lebih mudah menerima jalan pintas.


Kedua, bedakan antara ikhtiar dan ketergantungan. Berobat adalah ikhtiar. Meminta nasihat adalah ikhtiar. Bekerja adalah ikhtiar. Tetapi menggantungkan keselamatan hati kepada kemampuan seseorang adalah persoalan yang berbeda.


Ketiga, jangan menjadikan pengalaman pribadi sebagai satu-satunya bukti. “Saya pernah datang dan kemudian sembuh” belum otomatis membuktikan bahwa orang tersebut mempunyai kekuatan gaib. Manusia mudah menghubungkan dua peristiwa yang terjadi berdekatan, padahal hubungan sebab-akibatnya belum tentu demikian.


Keempat, biasakan berpikir lambat ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. Penelitian tentang takhayul menunjukkan bahwa intuisi cepat dapat menghasilkan keyakinan yang kemudian tidak selalu dikoreksi, bahkan ketika seseorang mengetahui ada alasan untuk meragukannya. 


Kelima, perkuat tauhid sebelum menghadapi fitnah. Orang yang sejak kecil dilatih bahwa manfaat dan mudarat pada akhirnya berada dalam kekuasaan Allah tidak mudah menyerahkan hatinya kepada manusia hanya karena manusia itu tampak hebat.


Keenam, jangan mudah silau oleh kemewahan. Mobil mewah, rumah besar, uang banyak, pakaian mahal, pengikut yang banyak, atau kemampuan membuat sesuatu tampak ajaib tidak pernah menjadi ukuran kebenaran.


Sebab Dajjal justru mengajarkan pelajaran besar: yang tampak seperti surga bisa ternyata neraka.


Jangan belajar tunduk kepada yang palsu


Mungkin inilah pesan paling dalam dari tausiyah subuh itu.


Kita tidak perlu menunggu munculnya Dajjal untuk belajar menghadapi fitnahnya.


Latihannya sudah berlangsung sekarang.


Ketika melihat seseorang dianggap memiliki kekuatan supranatural, jangan buru-buru kagum.


Ketika melihat kekayaan, jangan buru-buru tunduk.


Ketika melihat popularitas, jangan buru-buru percaya.


Ketika melihat sesuatu yang ajaib, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kebenaran.


Ketika sedang sakit, jangan kehilangan akal sehat.


Ketika sedang miskin, jangan menjual keyakinan demi kenyamanan.


Ketika sedang terdesak, jangan mencari jalan pintas yang menggadaikan tauhid.


Sebab Dajjal mungkin datang membawa keajaiban, tetapi orang beriman tidak menilai kebenaran dari keajaiban.


Ia menilai kebenaran dengan wahyu.


Dajjal mungkin membawa kemewahan, tetapi orang beriman tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebenaran.


Ia menjadikan ridha Allah sebagai ukuran.


Dajjal mungkin menawarkan keselamatan dari kesulitan, tetapi orang beriman tahu bahwa keselamatan sejati bukan sekadar terbebas dari lapar, sakit, miskin dan takut.


Keselamatan sejati adalah selamatnya iman sampai menghadap Allah.


Maka jangan latih hati untuk tunduk kepada kekuatan yang tampak luar biasa.


Latihlah hati untuk tunduk hanya kepada Allah.


Karena bisa jadi, cara paling mudah bagi manusia mengikuti Dajjal kelak adalah kebiasaan yang sudah dilatihnya sejak sekarang: terlalu mudah kagum kepada kekuatan, terlalu cepat percaya kepada keajaiban, dan terlalu rela menukar keyakinan dengan kenyamanan.


Dan di situlah kita perlu berhenti sejenak, menatap diri sendiri, lalu bertanya:


Kalau hari ini kita mudah silau oleh kekuatan palsu, bagaimana kita akan bertahan ketika fitnah yang jauh lebih besar benar-benar datang?


Wallahu a’lam 


Indrapuri, 10 Rabiul Akhir 1448, 21 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update