-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Rektor UIN Ar-Raniry Tekankan Mahasantri Serius Ikuti Program Orientasi

Senin, 21 September 2026 | September 21, 2026 WIB Last Updated 2026-09-22T01:22:11Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Mujiburrahman meminta 1.630 mahasantri baru mengikuti Program Orientasi Mahasantri Tahun Akademik 2026/2027 dengan sungguh-sungguh.


Hal itu disampaikan Prof Mujiburrahman saat memberikan pengarahan pada pembukaan program orientasi mahasantri di Mushalla Ma’had Al Jami’ah UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, Senin malam, 21 September 2026.


Hadir dalam kegiatan tersebut Mudir Ma’had Al Jami’ah UIN Ar-Raniry Dr H Muhajirul Fadhli, MA, para guru pendamping mahasantri, para pimpinan dan wakil dekan bidang akademik dan kelembagaan di lingkungan UIN Ar-Raniry, serta Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry.


Sebanyak 1.630 mahasantri baru mengikuti program orientasi berdasarkan hasil placement test kemampuan dasar Dinul Islam dan kemampuan membaca Alquran.


Dari jumlah tersebut, 607 mahasantri mengikuti pembinaan secara intensif selama tiga bulan di asrama Ma’had Al Jami’ah. Sementara mahasantri lainnya mengikuti program secara daring.


Materi orientasi antara lain meliputi Dinul Islam, literasi membaca Alquran, serta pembentukan karakter dan kedisiplinan.


Dalam arahannya, Prof Mujiburrahman mengajak para mahasantri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti program tersebut. Ia memahami bahwa selama proses pembinaan mungkin muncul rasa berat, jenuh, atau bosan, tetapi semuanya harus dilawan dengan kesungguhan.


“Seriuslah mengikuti program ini. Mungkin ada rasa berat, mungkin ada rasa bosan, tetapi itu harus dilawan. Program ini baik untuk kalian sendiri,” ujar Rektor.


Prof Mujiburrahman menegaskan, program Ma’had Al Jami’ah bukan diperuntukkan bagi para pendamping ataupun pimpinan universitas, tetapi untuk kepentingan mahasantri sendiri.


“Program ini bukan untuk pendamping dan bukan untuk pimpinan, tetapi untuk Anda sendiri. Nanti setelah selesai mengikuti program ini, Anda akan melihat manfaatnya,” tegasnya.


Rektor kemudian mengingatkan kembali tradisi pendidikan di IAIN Ar-Raniry sebelum berubah menjadi UIN. Pada masa IAIN, kemampuan membaca Alquran, pengetahuan dasar Dinul Islam dan praktik ibadah menjadi bagian yang sangat penting bagi calon mahasiswa. Bahkan, calon mahasiswa tidak dapat diterima apabila tidak memiliki kemampuan dasar tersebut.


Namun setelah IAIN Ar-Raniry bertransformasi menjadi UIN, sistem penerimaan mahasiswa tidak lagi melakukan tes khusus kemampuan membaca Alquran dan pengetahuan dasar Dinul Islam.


Karena itu, menurut Prof Mujiburrahman, Kementerian Agama menghadirkan program Ma’had sebagai salah satu instrumen pembinaan wajib bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam.


“Karena itu, silakan ikuti program ini dengan baik dan serius,” katanya.


Ia menegaskan pimpinan UIN Ar-Raniry akan melihat hasil proses pembinaan tersebut. Mahasantri yang mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh diharapkan memperoleh manfaat maksimal, sementara mereka yang bermain-main dan tidak serius akan mendapatkan tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.


Bahkan, Rektor mengingatkan, jika ada mahasiswa yang tidak bersedia mengikuti proses pembinaan dengan serius, pilihan untuk meninggalkan UIN Ar-Raniry dan melanjutkan pendidikan di universitas lain tetap terbuka.


“Kalau ada yang main-main dan tidak serius, akan diambil tindakan, termasuk pilihan untuk keluar dari UIN Ar-Raniry. Kalau tidak cocok dengan proses di sini, silakan pindah ke universitas lain,” tegas Prof Mujiburrahman.


Sertifikat Bukan Sekadar Formalitas


Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menegaskan bahwa program orientasi Ma’had Al Jami’ah menyediakan sertifikat bagi mahasantri yang benar-benar mengikuti seluruh proses pembinaan dan memenuhi standar penilaian yang ditetapkan.


Sertifikat, kata dia, bukan sekadar formalitas yang dapat diminta tanpa mengikuti proses. Ma’had tidak akan melayani permintaan sertifikat bagi mahasantri yang tidak mengikuti kegiatan sebagaimana mestinya atau tidak memperoleh nilai yang memadai.


Karena itu, Prof Mujiburrahman kembali menekankan agar para mahasantri tidak memandang program tersebut hanya sebagai kewajiban administratif.


Kesempatan tiga bulan di Ma’had, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan membaca Alquran, memahami dasar-dasar Dinul Islam, membangun kedisiplinan, serta membentuk karakter yang akan menjadi bekal selama menempuh pendidikan di UIN Ar-Raniry.


“Yang paling penting, ikuti prosesnya dengan serius. Karena manfaat dari program ini pada akhirnya akan kembali kepada Anda sendiri,” pungkasnya.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update