-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Dakwah Kehilangan Hikmah, Provokasi Tampil Ke Tengah

Rabu, 23 September 2026 | September 23, 2026 WIB Last Updated 2026-09-23T22:57:44Z


Oleh Saifuddin A Rasyid 

Al-Rasyid.id | Dakwah seharusnya membuat hati umat semakin dekat kepada Allah. Jika setelah mendengar ceramah umat justru semakin mudah marah kepada sesama, semakin gemar mencerca, dan semakin sulit menghargai perbedaan, ada sesuatu yang perlu kita renungkan.


Dakwah adalah jalan mulia. Ia bukan panggung untuk memenangkan perdebatan, bukan pula ruang untuk melampiaskan kemarahan kepada pihak yang berbeda. Dakwah pada hakikatnya adalah ikhtiar mengajak manusia semakin dekat kepada Allah, mencintai kebaikan, meninggalkan kemungkaran, serta membesarkan hati umat agar tetap teguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Karena itu, para ustaz dan penceramah umumnya memahami bahwa dakwah membutuhkan kesabaran. Cara dan gaya boleh berbeda. Ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang penuh humor, ada yang akademis, dan ada pula yang sederhana. Tetapi tujuan akhirnya tetap satu: li i’la’i kalimatillahi hiyal ’ulya, meninggikan kalimat Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.


Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat jelas:


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”

(QS. An-Nahl: 125).


Kata hikmah, mau’izhah hasanah, dan jadilhum billati hiya ahsan bukan sekadar hiasan ayat. Ia adalah kompas bagi siapa saja yang mengambil jalan dakwah.


Tegas boleh, kasar jangan


Kita tentu memahami bahwa seorang penceramah dapat memiliki gaya yang ekspresif. Suara yang meninggi, gerakan tubuh yang kuat, bahkan melompat-lompat di atas panggung tidak dengan sendirinya menjadikan sebuah ceramah bermasalah. Gaya hanyalah sarana.


Yang perlu direnungkan adalah apa yang disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan ke mana umat diarahkan setelah mendengarnya.


Ketegasan diperlukan dalam dakwah. Tetapi ketegasan tidak identik dengan kekasaran. Keberanian menyampaikan kebenaran tidak berarti bebas mencela. Semangat membela Islam tidak harus diwujudkan dengan merendahkan sesama Muslim.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk.”

(HR. Muslim).


Maka, ketika sebuah konten dakwah terlalu banyak berisi sindiran, serangan, ejekan, kemarahan, dan upaya mempertentangkan kelompok yang berbeda, kita patut melakukan muhasabah bersama.


Bukan karena dakwah harus selalu lembut tanpa ketegasan. Bukan pula karena semua perbedaan harus dihapus. Tetapi karena cara menyampaikan kebenaran juga bagian dari tanggung jawab moral seorang pendakwah.


Jangan sampai mimbar menjadi panggung kemarahan


Islam mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Namun Islam juga mengajarkan adab.


Allah berfirman:


“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Anfal: 46).


Ayat ini terasa semakin relevan ketika dakwah berpindah ke media sosial. Satu kalimat penceramah dapat dipotong menjadi video pendek, disebarkan ribuan kali, lalu diperdebatkan oleh orang-orang yang bahkan tidak menyaksikan konteks ceramah secara utuh.


Di sinilah tanggung jawab pendakwah menjadi semakin besar.


Sebuah kalimat yang dimaksudkan sebagai kritik bisa berubah menjadi bahan permusuhan. Sindiran yang awalnya hanya ditujukan kepada satu pihak dapat berkembang menjadi pertengkaran antarkelompok. Ceramah yang seharusnya menyatukan umat justru menjadi bahan bakar perpecahan.


Jika dakwah kehilangan maslahat dan lebih banyak melahirkan pertentangan, pendekatannya patut dievaluasi.


Sebab umat Islam hari ini memiliki pekerjaan besar yang jauh lebih membutuhkan energi bersama: pendidikan, ekonomi, kemiskinan, ketahanan keluarga, pembinaan generasi muda, penguatan ilmu pengetahuan, serta menghadapi derasnya perubahan teknologi.


Jangan sampai energi umat terkuras untuk bertengkar dengan sesama Muslim.


Waspadai dakwah yang membuat kita kehilangan saudara


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak merendahkannya, dan tidak menghinanya.”

(HR. Muslim).


Karena itu, generasi Muslim perlu belajar mengenali konten dakwah yang mulai bergeser dari mendidik menjadi memprovokasi.


Bukan berarti setiap penceramah yang tegas harus dicurigai. Bukan pula setiap ceramah yang keras otomatis salah. Ukurannya tetap ilmu, dalil, akhlak, dan maslahat.


Namun beberapa gejala patut menjadi perhatian.


Ketika serangan kepada pribadi dan kelompok lebih dominan daripada penjelasan ilmu.


Ketika bahasa mengejek, merendahkan, atau mempermalukan orang lain menjadi daya tarik utama.


Ketika kemarahan lebih banyak dibangkitkan daripada kesadaran.


Ketika perbedaan dalam persoalan khilafiyah diperlakukan seolah-olah sebagai alasan untuk bermusuhan.


Ketika jamaah lebih diajak membenci pihak lain daripada memperbaiki dirinya sendiri.


Dan ketika viralitas lebih dikejar daripada kualitas perubahan akhlak umat.


Pada titik itu, kita perlu bertanya: apakah konten ini sedang menguatkan dakwah Islam, atau justru sedang menguras energi persaudaraan umat?


Nafsu bisa menyusup bahkan ke dalam dakwah


Ini barangkali muhasabah yang paling berat.


Seorang pendakwah tetap manusia. Ia memiliki emosi, ego, dan hawa nafsu. Popularitas, pujian, banyaknya pengikut, dan tepuk tangan jamaah juga dapat menjadi ujian.


Imam Al-Ghazali banyak mengingatkan tentang penyakit hati yang dapat menyusup ke dalam amal yang secara lahiriah tampak mulia. Ilmu pun dapat menjadi ujian apabila seseorang mulai menjadikannya sarana untuk meninggikan diri di hadapan orang lain.


Maka seorang dai perlu sesekali bertanya kepada dirinya:


Apakah saya sedang mengajak manusia kepada Allah, atau sedang menunjukkan diri saya?


Apakah saya sedang memperbaiki umat, atau sedang melampiaskan kekecewaan?


Apakah kata-kata saya mendekatkan hati kaum Muslimin, atau justru menjauhkan mereka?


Apakah setelah mendengar ceramah saya, orang menjadi lebih rajin beribadah dan berakhlak, atau hanya semakin pandai mencari kesalahan orang lain?


Muhasabah semacam ini bukan kelemahan. Justru merupakan kekuatan seorang pendakwah.


Jika pernah tergelincir, tidak ada jalan yang lebih mulia daripada kembali kepada Allah, memperbaiki niat, memperhalus bahasa, memperdalam ilmu, dan bertaubat.


Islam terlalu mulia untuk dijadikan alasan bertengkar


Allah berfirman:


“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103).


Persatuan umat bukan berarti semua orang harus memiliki gaya berpikir dan pilihan pendapat yang sama. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan keilmuan Islam. Para ulama sejak dahulu berbeda dalam sejumlah persoalan, tetapi perbedaan itu tidak selalu membuat mereka kehilangan adab dan persaudaraan.


Karena itu, apabila ada persoalan yang berbeda, sampaikan dengan ilmu. Jika ada kesalahan, nasihati dengan hikmah. Jika ada kekeliruan, luruskan dengan adab. Jika persoalannya khilafiyah, pahami batas-batas perbedaannya.


Jangan sampai semangat memenangkan pendapat berubah menjadi keinginan memenangkan diri sendiri.


Sebab Islam terlalu mulia untuk dijadikan alasan bertengkar, dan umat terlalu berharga untuk dipecah oleh kata-kata.


Dakwah yang dinanti umat


Para pendakwah adalah orang-orang yang sangat dibutuhkan umat. Di tengah kebisingan zaman, umat membutuhkan suara yang mengingatkan. Di tengah kegelisahan, umat membutuhkan nasihat. Di tengah derasnya arus informasi, umat membutuhkan orang berilmu yang mampu menunjukkan jalan.


Karena itu, kepada para pendakwah yang selalu dinanti kehadirannya oleh umat: teruslah berdakwah. Jangan berhenti menyampaikan kebenaran. Tetapi tetaplah berhati-hati terhadap godaan nafsu yang dapat mengubah ketegasan menjadi kekasaran, keberanian menjadi kesombongan, dan dakwah menjadi arena mempertontonkan keunggulan diri.


Jangan mudah tergoda untuk menyindir dan menyodok keberadaan pihak lain yang berbeda, apalagi jika perbedaan itu tidak menyentuh prinsip dasar agama dan masih berada dalam ruang keluasan khazanah Islam.


Teruslah menjadi penyejuk yang menguatkan, bukan pemantik yang memecahkan.


Teruslah menjadi jembatan yang mempertemukan, bukan tembok yang memisahkan.


Teruslah mengajak umat kepada Allah, bukan sekadar mengajak umat berdiri di belakang diri kita.


Sebab ukuran keberhasilan dakwah bukan seberapa keras suara seorang penceramah, bukan seberapa tinggi ia melompat di atas panggung, bukan pula seberapa ramai videonya diperdebatkan.


Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak hati yang menjadi dekat kepada Allah, seberapa banyak akhlak yang menjadi lebih baik, dan seberapa kuat persaudaraan umat setelah dakwah itu disampaikan.


Dakwah bukan sekadar membuat umat berani mengatakan siapa yang salah. Dakwah juga harus membuat umat berani memperbaiki dirinya sendiri.


Dan di situlah dakwah menjadi produktif: menegakkan kebenaran tanpa merobohkan persaudaraan, meninggikan Islam tanpa merendahkan sesama Muslim, serta mengajak kepada Allah dengan ilmu, hikmah, akhlak, dan kasih sayang.


Wallahu a’lam 


Darussalam 6 Rabiul Akhir 1448, 17 September 2026


(Penulis, pengamat moderasi beragama akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update