-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kopi Memang Menggoda, Selanjutnya Tak Bisa Lupa

Selasa, 22 September 2026 | September 22, 2026 WIB Last Updated 2026-09-23T05:11:55Z


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada kesan pertama yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi jejaknya bisa bertahun-tahun. Ada pula perjumpaan yang awalnya sederhana, bahkan sedikit menegangkan, tetapi kemudian berubah menjadi cerita yang selalu menyenangkan untuk dikenang.


Saya mengalaminya bersama Ustaz Ambassador Muhsin Syihab.


Sekitar pertengahan 2024, UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengundang beliau ke Aceh sebagai narasumber Diklatpim Pelopor Moderasi Beragama Mahasiswa. Saat pesawat beliau akan mendarat, saya bersama Rahmad dan Ustaz Asyraf dari Tim Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama (PKMB) bergerak ke bandara untuk menjemput.


Setelah anjangsana sejenak, beliau dibawa check-in ke hotel. Saya kemudian menuju Warkop Aqilla di bilangan Ulee Kareng. Sambil menunggu rombongan, saya memesan sanger espresso, salah satu minuman khas Aqilla.


Tak lama kemudian Ustaz Ambassador bersama tim PKMB datang. Kami duduk di satu meja. Kebetulan beliau duduk persis di sebelah saya.


Di situlah saya menangkap sesuatu.


Saya melihat beliau seperti sedang berusaha menyesuaikan diri dengan aroma kopi yang cukup kuat berputar di ruangan ber-AC itu. Tetapi namanya juga diplomat. Cerdas membaca keadaan. Hanya dalam beberapa detik, suasana berhasil beliau kelola.


Pandangan beliau kemudian jatuh ke cangkir saya yang isinya tinggal sedikit.


“Ini Ustaz minum apa?”


“Sanger espresso,” jawab saya.


Beliau diam sebentar, lalu bertanya lagi, “Teh ada?”


Saya menjawab sambil berseloroh, “Ini warung kopi, Ustaz. Tidak ada teh.”


“Ohhh… ya ya.”


Kemudian beliau berkata, “Kalau begitu saya pesan sanger espresso seperti yang Ustaz minum.”


Nah, di sini mulai terasa sedikit tegang. Tetapi tegangnya sangat halus. Untung saya orang tasawuf, jadi masih bisa merasakan sedikit getarannya. Hehe.


Sanger pesanannya datang.


Saya melihat beliau seperti sedang menyiapkan sebuah keputusan besar. Cangkir kecil itu dipegang, dipandang, lalu akhirnya tegukan pertama terjadi.


Bersejarah!


Setelah meneguk, beliau berkata, “Ini pertama saya minum kopi. Semoga tidak apa-apa. Saya sebenarnya tidak cocok kopi karena berangin.”


Saya langsung memutar kemudi otak.


“Oh, kopi ini beda, Ustaz. Tidak ada anginnya. Insyaallah aman.”


Padahal dalam hati saya juga waswas. Ini baru pertama kali beliau mendarat di Aceh, saya suguhkan kopi pula. Kalau terjadi apa-apa, tentu saya yang paling merasa bersalah.


Beberapa tegukan masuk.


Cangkirnya memang kecil. Sanger pun mulai susut. Minumnya semakin lancar.


Beliau kemudian berkata, “Mudah-mudahan saya tidak mules.”


Kami semua tertawa ringan.


Lalu sesuatu yang tidak saya duga terjadi.


“Boleh tambah?”


Saya hampir merasa seperti baru menyaksikan sebuah perubahan sejarah dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


“Boleh, pasti boleh.”


Saya langsung memanggil Baihaqi.


“Baihaqi, tolong tambah satu sanger untuk tamu kita ini.”


Sanger kedua datang. Diminum sampai habis. Setelah itu kami menuju tempat acara.


Alhamdulillah, perjalanan aman terkendali. Tidak ada turbulensi seperti yang diam-diam saya khawatirkan.


Ketika kami singgah di ruang Rektor, seperti biasa pak rektor menawarkan kopi kepada tamu. Saya memperhatikan Ustaz Ambassador. Beliau sudah tampak biasa saja. Tidak ada lagi ekspresi kaget seperti di Aqilla.


Saya tersenyum dalam hati. Dan pak rektor pun tersenyum ketika kejadian di aqilla saya ceritakan.


Diplomasi kopi rupanya berhasil.


Acara berjalan lancar. Tidak ada kejadian apa pun.


Menjelang kepulangan beliau bersama Mas Ifan, anggota timnya dari Kementerian Luar Negeri, kami kembali singgah di Aqilla. Kali ini bukan lagi sekadar minum kopi. Beliau membeli beberapa bungkus bubuk kopi Gayo untuk dibawa pulang ke Jakarta.


Saya mulai berpikir, ini sudah bukan sekadar “coba-coba kopi”.


Ini sudah masuk tahap membawa pulang kenangan.


Cerita ternyata belum selesai.


Akhir Desember 2024, Ustaz Ambassador bersama Mas Ifan kembali ke Banda Aceh untuk berbicara pada Aceh International Forum. Kali ini beliau ditraktir oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman.


Menariknya, traktiran kali ini naik kelas. Beliau diperkenalkan kepada salah satu varian minuman khas Aceh lainnya: kopi boh manok weng.


Saya senang mendengar cerita traktiran Pak Rektor itu. Sepertinya beliau pun berkesan.


Sampailah pada pagi berikutnya. Beliau sudah siap di hotel untuk diantar ke bandara. Saya menemui beliau dan bersiap mendampingi.


Tetapi beliau meminta waktu sebentar.


“Saya turun ke depan hotel jalan kaki saja. Sendirian. Tidak perlu ditemani.”


Saya patuh. Tetapi tetap saja ada sedikit kekhawatiran. Saya kemudian meminta tim memantau dari kejauhan.


Eh, ternyata beliau masuk lagi ke warkop yang menjual kopi boh manok weng.


Tidak lama kemudian beliau keluar sambil menenteng bungkusan kopi.


Saya tersenyum.

Luar biasa.

Itulah kopi di Aceh.

Mudah dikira, tetapi sulit diduga.


Awalnya hanya bertanya, “Teh ada?”

Kemudian mencoba sanger.

Lalu minta tambah.

Berikutnya membeli kopi Gayo.

Kemudian mencicipi boh manok weng.


Dan akhirnya, ketika hendak meninggalkan Aceh, masih sempat mencari kopi sendiri.


Mungkin benar, kesan pertama kopi memang menggoda. Tetapi setelah itu, entah mengapa, tak bisa lupa.


Saya kira cerita ini bukan semata-mata tentang kopi. Ia adalah cerita kecil tentang kemampuan seseorang membawa diri ke dalam suasana baru.


Ustaz Ambassador Muhsin Syihab adalah diplomat profesional yang sudah bertugas di sejumlah negara. Kini beliau melanjutkan misi Indonesia di Kanada. Dalam setiap perjumpaan, saya melihat kemampuan beliau untuk cepat membaca suasana, menyesuaikan diri, membangun komunikasi, dan membuat orang merasa dekat.


Barangkali itulah salah satu seni diplomasi: tidak selalu dimulai dari meja perundingan.


Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah meja warkop.


Bukan dari dokumen resmi.

Tetapi dari secangkir sanger.


Dan bukan tidak mungkin, hubungan yang baik justru tumbuh dari hal-hal sederhana: duduk bersama, bercanda, saling mencicipi kebiasaan, lalu membawa pulang sedikit kenangan.


Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Ustaz Asyrafmun—yang kini menjadi bagian dari Tim KBRI Maroko di Rabat—yang masih menyimpan foto peristiwa kami minum bersama di Aqilla. Sebelum kembali ke Maroko, ustaz Asyraf merupakan bagian dari Tim PKMB UIN Ar-Raniry bersama Rahmad, Khatami, Harir dan kawan-kawan.


Foto itu mungkin hanya sebuah gambar.


Tetapi bagi saya, ia menyimpan sebuah cerita.


Cerita tentang seorang diplomat yang awalnya mengaku tidak cocok minum kopi, tetapi akhirnya membawa kopi pulang.


Dan di situlah saya menemukan satu pelajaran kecil dari secangkir kopi bersama seorang diplomat senior profesional yang mengagumkan dan memberi saya banyak pelajaran.


Diplomasi tidak selalu membutuhkan meja panjang, bendera dua negara, dan bahasa protokoler. Kadang ia hanya membutuhkan satu meja kecil, beberapa cangkir kopi, dan kesediaan untuk mencicipi sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita coba.


Sebab ketika seseorang bersedia mencoba rasa yang baru, sesungguhnya ia sedang membuka pintu untuk memahami dunia yang baru.


Maka kopi bukan sekadar minuman.

Ia bisa menjadi jembatan.


Dari asing menjadi akrab.

Dari canggung menjadi cair.

Dari sekadar tamu menjadi sahabat.


Dan mungkin inilah “paku” kecil dari cerita ini:


Kopi boleh pahit, tetapi perjumpaan jangan sampai hambar. Karena yang membuat sebuah hubungan bertahan bukan rasa kopi yang kita teguk, melainkan rasa persaudaraan yang kita tinggalkan.


Terus berkarya, Ustaz Ambassador. Dari Aceh kami melepas, untuk hubungan dengan Kanada kami mendoakan. Semoga misi Indonesia terus membawa manfaat, dan semoga aroma kopi Aceh sesekali ikut menemani langkah diplomasi di negeri orang.


Sebab siapa tahu, di sebuah warkop yang jauh dari tanah Aceh, ketika secangkir kopi Gayo kembali diteguk, yang teringat bukan lagi rasa pahitnya.


Tetapi sebuah meja kecil di Aqilla, sebuah sanger pertama, dan keramahan Aceh yang pernah membuat seorang diplomat berkata: “Boleh tambah?”


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 11 Rabiul Akhir 1448, 22 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Foto: Ust Muhsin Syihab medio 2024 di Aqilla Ulee Kareng Banda Aceh (foto koleksi Ust Asyraf Muntazhar staf KBRI Maroko)

×
Berita Terbaru Update