Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Selasa sore, 22 September 2026, saya berpapasan secara tak sengaja dengan Ustaz Hajarul Akbar di pelataran SDIT Nurul Ishlah Pango Deah, Aceh Besar. Rupanya kami sama-sama sedang menjalankan “tugas keluarga”: beliau menjemput anak, saya menjemput cucu, Arsyad, yang duduk di kelas dua SDIT tersebut.
“Jemput cucu, Ust?” tegurnya sambil menjabat tangan.
“Ya. Ustaz juga?”
“Ya, jemput anak.”
Percakapan sederhana itu hampir selesai. Tetapi sebelum berpisah, saya kembali meraih tangan beliau.
“Selamat, Ustaz. Selamat dipercaya memimpin LPTQ Aceh. Sekaligus selamat atas capaian Aceh di MTQ Nasional.”
Beliau tersenyum. Saya pun tersenyum.
Namun, dalam perjalanan pulang, pertemuan singkat itu justru membawa pikiran saya pada pertanyaan yang lebih panjang:
Setelah peringkat empat, lalu apa?
MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah, berlangsung 11–20 September 2026. Aceh meraih 99 poin dan berada di peringkat IV nasional bersama Jawa Timur. Capaian itu menjadi hasil terbaik Aceh dalam 23 tahun terakhir; sebelumnya Aceh juga pernah berada di posisi keempat pada MTQ Nasional 2003.
Maka, tentu saja, para qari-qariah, hafiz-hafizah, mufasir-mufassirah, peserta fahmil, syarhil, kaligrafi, karya tulis, pelatih dan official patut mendapatkan apresiasi.
Tetapi apresiasi tidak boleh berhenti pada ucapan selamat.
Sebab peringkat empat seharusnya bukan garis akhir. Ia mestinya menjadi alarm untuk naik kelas.
Oleh-oleh dari Semarang
Sehari sebelumnya, Senin sore, adik ipar saya, Ustaz Dr Ismu Ridha, baru mendarat dari Semarang. Ia tergabung dalam official kontingen Aceh sebagai pelatih.
Masih mengenakan batik seragam kontingen, ia langsung singgah ke rumah sebelum melanjutkan perjalanan ke Meulaboh. Membawa oleh-oleh khas Semarang dan sekaligus menemui ibu kandungnya yang juga ibu mertua saya.
Sambil makan, saya tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan bertanya tentang perjalanan kontingen Aceh.
Saya bertanya soal peringkat empat.
Menurut Ismu, capaian itu patut disyukuri. Namun, kalau ditanya apakah Aceh masih bisa lebih tinggi, jawabannya tentu saja: masih.
Saya kemudian bertanya tentang dukungan.
Ia menyebut ada dukungan pemerintah Aceh. Wakil Gubernur Aceh juga memberikan bonus kepada anggota kontingen. Ada pula apresiasi dari berbagai pihak.
“Apresiasi itu berharga bagi kami,” katanya.
Saya lalu menggeser pertanyaan: bagaimana dukungan untuk pembinaan menuju MTQ berikutnya?
Jawabannya membuat saya berpikir lebih panjang.
Ada dukungan. Tetapi jika dibandingkan dengan Kalimantan Timur yang menjadi juara umum, dukungan pembinaan Aceh masih perlu diperkuat.
Di sinilah kita perlu membedakan dua hal: mengapresiasi prestasi dan membangun prestasi.
Yang pertama dilakukan setelah perjuangan.
Yang kedua dilakukan jauh sebelum perjuangan dimulai.
Jangan hanya membeli piala setelah juara
Saya kira ini titik yang perlu kita bicarakan secara terbuka.
Jangan sampai pemerintah dan masyarakat baru ramai ketika anak-anak Aceh sudah menang. Jangan sampai kita pandai menyediakan bonus setelah juara, tetapi belum cukup serius menyediakan jalan panjang menuju kejuaraan.
Piala adalah buah. Pembinaan adalah pohonnya.
Kalau ingin memetik buah lebih banyak, yang harus disuburkan terlebih dahulu bukan keranjang panennya, tetapi pohonnya.
Karena itu, saya sependapat dengan Ustaz Zulkhairi, Sekretaris ISAD, yang melalui Serambinews pada 20 September 2026 mendorong agar apresiasi terhadap pejuang Al-Qur’an disertai kebijakan pemerintah yang lebih maksimal untuk pembinaan LPTQ.
Ini bukan soal siapa yang paling besar memberikan bonus.
Ini soal seberapa besar keberpihakan kebijakan terhadap masa depan pembinaan Al-Qur’an di Aceh.
Kita tidak perlu malu belajar dari provinsi lain. Kalau Kalimantan Timur mampu membangun dukungan yang membuat kontingennya menjadi juara umum, pertanyaannya bukan mengapa mereka bisa dan kita tidak.
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
Apa yang mereka bangun sehingga kita belum membangunnya?
Dari event menjadi ekosistem
Karena itu, pemerintah Aceh perlu menggeser paradigma.
MTQ jangan dipandang sebagai event dua tahunan atau agenda seremonial yang puncaknya adalah keberangkatan kafilah.
MTQ harus dipandang sebagai hilir dari ekosistem pembinaan Al-Qur’an.
Hulu itu ada di rumah.
Ada di TPA dan TPQ.
Ada di sekolah.
Ada di dayah.
Ada di madrasah.
Ada di kampus.
Kemudian mengalir ke kabupaten/kota, provinsi dan akhirnya ke panggung nasional.
Kalau hulunya kuat, insyaallah hilirnya tidak akan kekurangan calon juara.
Karena itu, setidaknya ada beberapa pekerjaan rumah.
Pertama, Aceh membutuhkan peta bakat Al-Qur’an. Anak-anak berbakat harus ditemukan sejak dini, bukan ketika MTQ sudah dekat.
Kedua, pembinaan harus berkelanjutan sepanjang tahun. Training center tidak boleh hanya hidup menjelang MTQ.
Ketiga, pelatih harus diposisikan sebagai aset pembinaan, bukan sekadar tenaga yang dipanggil ketika pertandingan sudah di depan mata.
Keempat, perlu lebih banyak try out dan kompetisi antardaerah maupun nasional, agar peserta Aceh terbiasa menghadapi atmosfer kompetisi sebelum masuk arena MTQ Nasional.
Kelima, perlu skema beasiswa dan penghargaan jangka panjang bagi anak-anak berprestasi, termasuk dukungan pendidikan mereka setelah MTQ.
Keenam, dunia usaha perlu diberi ruang untuk menjadi bagian dari ekosistem. Perusahaan, perbankan syariah, BUMN, perguruan tinggi, organisasi masyarakat dan lembaga filantropi dapat mengambil bagian dalam pembinaan.
Dan yang tidak kalah penting: kebijakan pemerintah harus hadir sebagai payung.
Masyarakat boleh bergerak. Sekolah boleh berinisiatif. TPA dan TPQ boleh membina. Dunia usaha boleh membantu.
Tetapi tanpa kebijakan yang jelas, dukungan anggaran yang berkelanjutan dan koordinasi yang kuat, gerakan itu mudah berjalan sendiri-sendiri.
Aceh akan menjadi tuan rumah
Momentum kita sebenarnya sangat dekat.
Tahun 2027 MTQ Nasional akan berlangsung di Jakarta. Tahun 2028 Aceh akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional.
Ini bukan sekadar kalender kegiatan.
Ini adalah deadline pembinaan.
Kalau Aceh ingin menjadi tuan rumah yang membanggakan, jangan hanya sibuk menyiapkan panggung, arena, penginapan dan penyambutan tamu.
Kita harus menyiapkan generasi yang tampil di atas panggung itu.
Tuan rumah yang baik bukan hanya mampu menerima tamu dengan ramah. Tuan rumah juga harus mampu memperlihatkan bahwa rumahnya memang memiliki tradisi Al-Qur’an yang hidup.
Karena itu, peringkat empat di Semarang harus segera dibaca sebagai baseline, bukan bonus sejarah.
Hari ini kita berada di empat besar.
Besok harus ada target pembinaan yang lebih terukur.
Bukan sekadar “semoga masuk tiga besar”.
Tetapi: berapa anak dibina? Berapa pelatih disiapkan? Berapa pusat pembinaan dibangun? Berapa try out dilakukan? Berapa cabang diperkuat? Berapa anggaran disediakan? Berapa mitra dilibatkan?
Target harus turun dari spanduk menjadi program.
Keluarga adalah madrasah pertama
Namun pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.
Keluarga Aceh harus ikut menjadi bagian dari gerakan ini.
Saya membayangkan setiap orang tua mulai memperhatikan bakat anak-anaknya.
Jangan semua anak diarahkan menjadi qari.
Boleh jadi seorang anak memiliki suara bagus.
Anak yang lain kuat hafalannya.
Yang lain memiliki kemampuan bahasa Arab.
Ada yang suka menulis.
Ada yang pandai berbicara.
Ada yang memiliki ketelitian tinggi dalam kaligrafi.
Ada yang kuat memahami kandungan ayat.
Ada pula yang memiliki kemampuan berpikir dan berdiskusi.
Al-Qur’an memiliki banyak pintu. Tugas kita menemukan pintu yang paling sesuai dengan bakat anak.
Orang tua menemukan bakat.
Guru di sekolah mengarahkannya.
Ustaz di TPA atau TPQ menumbuhkan kecintaannya.
Dayah dan lembaga pendidikan memperdalam ilmunya.
Perguruan tinggi memperkuat keahliannya.
LPTQ mengorkestrasi pembinaannya.
Pemerintah memberikan kebijakan dan dukungan.
Dunia usaha ikut menopangnya.
Begitulah ekosistem itu bekerja.
LPTQ jangan hanya hadir ketika MTQ
Di sinilah amanah Ustaz Hajarul Akbar sebagai pimpinan LPTQ Aceh menjadi penting.
LPTQ jangan hanya dikenal ketika seleksi kafilah dimulai.
Jangan sampai masyarakat mengenal LPTQ hanya karena ada surat, rapat, seleksi, TC dan keberangkatan kontingen.
LPTQ harus terasa hidup di tengah masyarakat.
Turun ke sekolah.
Menyapa TPA dan TPQ.
Berkolaborasi dengan dayah.
Menggandeng kampus.
Membangun jaringan pelatih.
Mencari anak-anak berbakat.
Membuat peta pembinaan.
Menghubungkan potensi dengan pembina.
Dan yang paling penting, menjaga agar anak-anak yang sudah ditemukan bakatnya tidak hilang di tengah jalan.
LPTQ harus menjadi jembatan antara bakat dan prestasi.
Bukan sekadar lembaga yang sibuk mengurus peserta ketika MTQ sudah di depan mata.
Sebab kalau LPTQ hanya hadir di hilir, kita akan terus sibuk mencari ikan.
Tetapi kalau LPTQ ikut menjaga hulu, kita bisa membangun sungai yang tidak pernah kekurangan ikan.
Peringkat empat adalah pesan
Maka, sekali lagi, selamat untuk Aceh.
Selamat kepada seluruh kafilah, pelatih, pembina dan official yang telah berjuang di Semarang.
Peringkat empat patut kita syukuri.
Tetapi jangan terlalu lama berhenti pada tepuk tangan.
Sebab tepuk tangan tidak melahirkan juara berikutnya. Pembinaanlah yang melahirkannya.
Semarang sudah selesai.
Jakarta menunggu pada 2027.
Aceh menjadi tuan rumah pada 2028.
Waktu tidak panjang.
Maka, mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa bonus yang diterima juara?”
Lalu mulai bertanya:
“Berapa besar investasi kita untuk melahirkan juara?”
Di situlah ukuran keseriusan kita terhadap Al-Qur’an.
Peringkat empat telah menjadi paku.
Sekarang kita membutuhkan palu kebijakan yang bekerja—menancapkan pembinaan, memperkuat ekosistem, dan membuka jalan agar Aceh tidak sekadar datang ke MTQ Nasional, tetapi datang dengan tradisi juara yang telah dipersiapkan bertahun-tahun sebelumnya.
Wallahu a’lam
Darussalam 12 Rabiul Akhir 1448, 23 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry)
Foto: dari kanan; Ibu kami Hajjah Marhamah, Ust Ismu Ridha, penulis, dan Arsyad
