Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Analiansyah, mengajak sivitas akademika, khususnya generasi muda Aceh, tidak hanya membiasakan diri membaca teks Al-Qur’an, tetapi juga membaca terjemahannya agar dapat memahami makna dan kandungan ayat-ayat yang dibaca.
Ajakan tersebut disampaikan Prof Analiansyah dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (23/9/2026), bertepatan dengan 12 Rabiul Akhir 1448 H.
Menurutnya, masyarakat Aceh memiliki kekuatan tradisi Al-Qur’an yang sangat baik. Sejak usia dini, anak-anak Aceh telah dibiasakan belajar membaca Al-Qur’an, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga pendidikan yang lebih tinggi.
“Di Aceh kita dapat menemukan tempat pengajian di setiap daerah, setiap desa, bahkan di setiap kompleks perumahan. Ini merupakan tradisi dan kekuatan yang luar biasa,” ujar Prof Analiansyah.
Ia mengatakan, tradisi membaca Al-Qur’an tersebut tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia dewasa. Banyak masyarakat Aceh yang tetap menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari.
Namun, menurutnya, kekuatan tersebut perlu dilanjutkan ke tahap berikutnya, yakni membiasakan diri membaca terjemahan Al-Qur’an.
Prof Analiansyah mengaku beberapa kali tersentuh hingga meneteskan air mata ketika mendengar kisah para mualaf yang telah berulang kali khatam membaca terjemahan Al-Qur’an.
Sebagian dari mereka, kata dia, pada awalnya membaca terjemahan Al-Qur’an dengan motif mencari kelemahan dalam kitab suci tersebut. Sebagian lainnya justru membacanya untuk mencari kebenaran.
“Pertanyaannya, kita yang sudah terlahir sebagai seorang Muslim, apakah sudah pernah khatam membaca terjemahan Al-Qur’an?” katanya di hadapan jamaah.
Ia menilai pertanyaan tersebut penting untuk menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam, khususnya masyarakat Aceh yang memiliki tradisi membaca Al-Qur’an cukup kuat.
Lebih jauh, Prof Analiansyah melihat ajakan tersebut semakin relevan diterapkan di lingkungan UIN Ar-Raniry. Menurutnya, terdapat dua keunggulan yang dimiliki masyarakat Aceh dan sivitas akademika kampus tersebut.
Pertama, masyarakat Aceh hidup dalam daerah yang menerapkan Syariat Islam. Kedua, pendidikan tinggi yang ditempuh di UIN Ar-Raniry menggunakan platform pendidikan Islam.
“Karena itu, sudah waktunya kita menciptakan kondisi untuk tidak hanya membaca teks Al-Qur’an semata, tetapi juga membiasakan diri membaca terjemahannya,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut penting agar mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan membaca teks Arab Al-Qur’an, tetapi juga berusaha memahami pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Prof Analiansyah juga menyoroti pentingnya memperkuat bacaan keislaman di lingkungan kampus. Ia mengatakan, mahasiswa selama ini juga banyak berhadapan dengan berbagai bahan bacaan yang tidak secara langsung bersumber dari ajaran Islam.
“Tidak mengherankan jika beberapa gerakan mahasiswa kita justru merujuk pada referensi non-Islam,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap sivitas akademika UIN Ar-Raniry dapat membangun budaya membaca Al-Qur’an secara lebih utuh, yakni membaca teks sekaligus memahami terjemahan dan kandungannya.
Ia menegaskan, upaya tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Setiap orang dapat memulainya dari diri sendiri, kemudian diteruskan dalam keluarga dan lingkungan pergaulan.
“Paling kurang untuk diri kita sendiri, keluarga, dan teman-teman di sekitar kita,” katanya.
Prof Analiansyah berharap kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar mendekatkan generasi muda Aceh dengan Al-Qur’an, bukan hanya sebagai bacaan yang dilantunkan, tetapi juga sebagai sumber pemahaman dan pedoman kehidupan.
Laporan Saif
