-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Yasir: Jangan Hanya Hidup, Tinggalkan Legasi Kebaikan

Kamis, 24 September 2026 | September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T06:50:34Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Hidup akan berakhir, tetapi jejak kebaikan tidak selalu ikut terkubur. Karena itu, sebelum ajal menjemput, setiap orang perlu memastikan ada kebaikan yang tetap hidup setelah dirinya tiada.


Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor I UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Muhammad Yasir Yusuf, MA, saat menjadi khatib Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat (25/9/2026), bertepatan 14 Rabiul Akhir 1448 H.


Mengangkat tema “Membangun Legasi Kebaikan Sebelum Ajal Menjemput”, Prof Yasir mengajak jamaah tidak sekadar mengejar kesalehan untuk diri sendiri, tetapi juga meninggalkan atsar atau jejak kebaikan yang terus memberi manfaat setelah kematian.


Sebelum memasuki inti khutbah, Prof Yasir mengingatkan jamaah tentang beberapa hal yang dapat membuat seseorang kehilangan keutamaan ibadah Jumat ketika khatib sudah berada di atas mimbar.


Pertama, berbicara saat khutbah berlangsung. Bahkan, menegur orang lain agar diam ketika khatib berkhutbah juga dapat menghilangkan pahala Jumat.


Kedua, bermain-main, termasuk sibuk dengan telepon genggam. Jika pada zaman Rasulullah SAW bentuknya memainkan kerikil ketika khutbah, maka di zaman sekarang kebiasaan itu dapat berubah menjadi memainkan, membuka aplikasi, atau scrolling HP.


Ketiga, tidur atau sengaja membiarkan diri mengantuk ketika khutbah berlangsung. Rasulullah SAW menganjurkan orang yang mengantuk untuk berpindah posisi duduk agar kembali segar.


Yang Tersisa Setelah Kita Tiada


Memasuki materi khutbah, Prof Yasir mengutip Surah Yasin ayat 12 yang menjelaskan bahwa Allah SWT mencatat amal yang telah dikerjakan manusia sekaligus bekas-bekas atau atsar yang ditinggalkannya.


Menurut Prof Yasir, atsar itulah yang dalam kehidupan sekarang dapat dimaknai sebagai legasi—jejak yang tetap dirasakan atau dikenang setelah seseorang meninggal dunia.


“Bagaimana orang mengingat kita setelah meninggal sangat bergantung pada kebaikan atau keburukan yang kita torehkan selama hidup,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah.


Ada orang yang kepergiannya membuat banyak orang menangis karena kebaikannya. Namun ada pula orang yang kepergiannya justru tidak meninggalkan kerinduan karena semasa hidup lebih banyak menghadirkan keburukan.


Karena itu, menurut Prof Yasir, pertanyaan penting dalam hidup bukan hanya apa yang telah kita miliki, tetapi juga apa yang akan kita tinggalkan.


Dalam lingkungan keluarga, seorang suami dan ayah memiliki tanggung jawab besar membangun legasi tersebut. Keteladanan orang tua menjadi warisan yang dapat hidup dalam diri anak-anak.


Ia mencontohkan Nabi Ya’qub AS yang memastikan anak-anaknya tetap berada dalam keimanan dan menyembah Allah SWT, Tuhan yang disembah oleh ayah mereka.


Tiga Pintu Amal yang Tak Terputus


Prof Yasir kemudian mengingatkan hadis Rasulullah SAW bahwa apabila anak Adam meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, anak saleh yang mendoakannya, dan ilmu yang bermanfaat.


Pertama, sedekah jariyah. Harta yang Allah titipkan dapat diubah menjadi wakaf dan berbagai bentuk kemanfaatan yang terus mengalir pahalanya meski pemiliknya telah meninggal.


Karena itu, umat Islam jangan hanya menjadi konsumen kebaikan yang diwariskan orang lain. Lebih dari itu, harus berusaha menjadi produsen kebaikan yang meninggalkan manfaat bagi sesama.


Kedua, anak saleh yang mendoakan. Makna anak, kata Prof Yasir, tidak hanya anak biologis, tetapi juga dapat berupa “anak ideologis”, seperti murid, mahasiswa dan generasi penerus yang meneruskan ilmu serta nilai kebaikan yang diajarkan gurunya.


Di sinilah tanggung jawab pendidik dan dosen menjadi penting. Ilmu yang diberikan hendaknya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi melahirkan generasi yang mampu meneruskan dan menduplikasi kebaikan.


Ketiga, ilmu yang bermanfaat. Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan diajarkan sehingga memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.


Kebaikan Tidak Harus Menunggu Mimbar


Prof Yasir juga mengingatkan, amal saleh tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas besar atau dakwah dari atas mimbar.


Kebaikan dapat hadir dalam tindakan yang sangat sederhana.


Ia memberi contoh seorang mahasiswa yang dengan tulus mendampingi rekannya yang mengalami disabilitas netra untuk berpindah kelas. Begitu pula mahasiswi yang membantu menjadi juru bahasa isyarat bagi teman-temannya yang tuli.


Mungkin tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada berita yang menuliskannya. Tidak pula banyak orang yang mengetahuinya.


Namun, bagi orang yang ditolong, kebaikan itu memiliki makna yang besar. Dan bagi Allah SWT, tidak ada kebaikan yang luput dari catatan.


Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa spektrum amal saleh jauh lebih luas daripada yang terlihat di ruang publik.


Bagi mereka yang beramal saleh dengan ikhlas karena Allah, Prof Yasir mengingatkan adanya janji hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik. Kehidupan tersebut antara lain berupa rezeki yang halal, ketenangan jiwa, keberkahan keluarga dan jabatan.


Sementara di akhirat, Allah SWT menjanjikan balasan terbaik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.


Karena itu, khutbah Prof Yasir pada Jumat tersebut seakan mengajak jamaah berhenti sejenak dan melihat perjalanan hidup masing-masing.


Ketika nama kita kelak disebut setelah kematian, apa yang akan tinggal bersama nama itu: kebaikan atau sebaliknya?


Pertanyaan itu menjadi penting karena usia manusia memiliki batas, sementara jejak kebaikan dapat melampaui batas usia pemiliknya.


Prof Yasir menutup khutbah dengan doa agar Allah SWT senantiasa menguatkan setiap hamba untuk mensyukuri nikmat-Nya, memperbanyak kebaikan selama hidup, meninggalkan manfaat bagi sesama, serta mengakhiri perjalanan hidup dengan husnul khatimah.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update