Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Kita sering sibuk menghitung apa yang menjadi hak kita, tetapi lupa menghitung apa yang menjadi kewajiban kita.
Kita menuntut kesehatan, tetapi lupa bersyukur ketika tubuh masih diberi kekuatan. Kita mengejar rezeki, tetapi kadang lupa kepada Zat yang membuka pintu rezeki. Kita meminta umur panjang, tetapi tidak selalu bertanya untuk apa umur itu digunakan. Kita berharap masuk surga, tetapi terkadang lalai memenuhi syarat-syarat perjalanan menuju ke sana.
Inilah salah satu renungan penting yang terasa kuat dari khutbah Tgk H. Abu Paya Pasie, ulama kharismatik Aceh sekaligus Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, pada khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat, 18 September 2026.
Abu Paya Pasie mengingatkan tentang perjanjian manusia dengan Allah.
Sebuah janji yang sering tidak kita ingat, padahal seluruh kehidupan kita sebenarnya berlangsung di dalam ikatan janji tersebut.
Janji sebelum kita pandai berjanji
Al-Qur’an mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat mendasar dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam Surah Al-A’raf ayat 172, Allah menyebut persaksian anak cucu Adam:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.”
Para ulama membahas ayat ini sebagai mitsaq, perjanjian manusia dengan Allah yang berkaitan dengan pengakuan terhadap rububiyah Allah dan fitrah tauhid yang ditanamkan dalam diri manusia.
Artinya, manusia tidak memulai kehidupannya tanpa ikatan.
Ia datang ke dunia dengan membawa sebuah orientasi dasar: mengakui Allah sebagai Tuhan dan menjalani kehidupan dalam ketaatan kepada-Nya.
Allah kemudian memperjelas tujuan penciptaan itu:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka ibadah bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan. Ibadah adalah bagian dari alasan mengapa kehidupan itu diberikan.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Kalau Allah telah memberikan kehidupan kepada kita, apakah kita telah menggunakan kehidupan itu sesuai dengan tujuan yang Allah tetapkan?
Allah tidak pernah mengingkari bagian-Nya
Menarik merenungkan khutbah Abu Paya Pasie dari perspektif sebuah perjanjian.
Dalam sebuah perjanjian, masing-masing pihak memiliki tanggung jawab. Namun dalam hubungan manusia dengan Allah, kita harus sadar bahwa nikmat Allah datang terlebih dahulu, bahkan sebelum manusia mampu memenuhi kewajibannya.
Allah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna.
Allah memberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, akal untuk berpikir, hati untuk merasakan dan tubuh untuk bergerak.
Allah memberi rezeki sebelum kita mampu mencari.
Allah memberikan petunjuk agar manusia tidak tersesat.
Allah mengutus para rasul, dan akhirnya menghadirkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan kehidupan.
Allah berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dan bagi mereka yang menjaga ketakwaan, Allah menjanjikan surga:
“Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali Imran: 133)
Maka sebenarnya Allah telah begitu banyak memberikan hak kehidupan kepada manusia.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat sederhana:
Setelah hak-hak kita diberikan, kapan kita mulai serius menunaikan kewajiban?
Siasat terbesar bukan selalu maksiat, tetapi lupa
Ada sesuatu yang lebih halus daripada dosa yang terang-terangan: lalai.
Manusia bisa saja tidak berniat meninggalkan Allah. Tetapi ia terlalu sibuk hingga lupa kepada Allah.
Ia bukan tidak tahu kewajiban. Ia hanya terus menundanya.
Salat nanti.
Membaca Al-Qur’an nanti.
Bersedekah nanti.
Belajar agama nanti.
Bertaubat nanti.
Memperbaiki akhlak nanti.
Masalahnya, “nanti” adalah kata yang paling sering digunakan manusia untuk sesuatu yang belum tentu dimilikinya.
Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Dunia tidak harus ditinggalkan. Harta tidak harus dibenci. Jabatan tidak harus dijauhi. Keluarga justru harus dijaga.
Tetapi semuanya jangan sampai berubah menjadi alasan untuk melupakan pemilik kehidupan.
Ada banyak pintu yang membuat janji menjadi kabur
Siasat kehidupan terhadap manusia datang dalam berbagai bentuk.
Pertama, kesibukan.
Bukan karena tidak punya waktu, tetapi karena semua waktu telah dipenuhi urusan dunia.
Kedua, kenyamanan.
Ketika hidup terasa mudah, manusia sering lupa bahwa semua kemudahan itu pemberian.
Ketiga, hawa nafsu.
Manusia mengetahui yang benar, tetapi menginginkan yang lain.
Keempat, lingkungan.
Apa yang awalnya dianggap salah bisa menjadi biasa ketika terus dilihat dan dilakukan bersama.
Kelima, gawai dan banjir informasi.
Perhatian manusia terus direbut oleh layar. Waktu berjalan, tetapi tidak selalu menghasilkan pertumbuhan iman.
Keenam, merasa masih punya banyak waktu.
Inilah yang paling berbahaya. Manusia hidup seakan-akan kematian adalah urusan orang lain.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)
Karena itu, jangan sampai kita baru teringat kepada perjanjian ketika kesempatan menunaikannya sudah berakhir.
Salat sebenarnya adalah ruang memperbarui janji
Ada sesuatu yang sangat menarik.
Setiap hari kita mengucapkan:
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Kalimat ini bukan sekadar bacaan.
Ia adalah deklarasi.
Hidupku untuk Allah. Ibadahku untuk Allah. Matiku juga untuk Allah.
Lalu kita membaca:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Betapa sering janji itu kita ucapkan.
Tetapi pertanyaannya: apakah kehidupan kita setelah salat juga membuktikan apa yang kita ucapkan dalam salat?
Di sinilah salat seharusnya menjadi tempat memperbarui janji, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Menunaikan janji dimulai dari hal-hal sederhana
Memenuhi janji kepada Allah tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.
Mulailah dengan menjaga salat.
Kemudian membaca dan memahami Al-Qur’an.
Belajar agama agar ibadah tidak sekadar mengikuti kebiasaan.
Menjaga lisan.
Menunaikan amanah.
Menghormati orang tua.
Mendidik anak.
Mencari rezeki yang halal.
Menolong sesama.
Menghindari yang Allah larang.
Dan ketika tergelincir, segera kembali dengan taubat.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat. (HR. Tirmidzi)
Jadi, memenuhi janji bukan berarti tidak pernah jatuh.
Memenuhi janji berarti tidak betah berada dalam keadaan jauh dari Allah.
Muhasabah: jangan hanya menghitung aset, hitung juga amanah
Mungkin sudah waktunya kita memiliki neraca kehidupan yang berbeda.
Selama ini kita menghitung tabungan, rumah, tanah, kendaraan, jabatan, penghasilan dan aset.
Tidak salah.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting:
Berapa banyak salat yang benar-benar membentuk akhlak kita?
Berapa banyak ilmu yang mengubah perilaku kita?
Berapa banyak rezeki yang kita kembalikan kepada mereka yang membutuhkan?
Berapa banyak manusia yang merasa aman karena kehadiran kita?
Berapa banyak amanah yang telah kita tunaikan?
Dan yang paling penting:
Apakah semakin bertambah usia, semakin dekat pula kita kepada Allah?
Umar bin Khattab RA dikenal dengan nasihat “hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Inilah semangat muhasabah: sebelum hari perhitungan tiba, kita sendiri yang membuka buku kehidupan kita.
Jangan sampai pandai menagih hak kepada Allah
Pada akhirnya, khutbah Abu Paya Pasie mengajak kita melihat kehidupan dari sisi yang sering terbalik.
Kita sering berdoa agar Allah memenuhi keinginan kita.
Kita meminta rezeki.
Meminta kesehatan.
Meminta keselamatan.
Meminta keluarga yang bahagia.
Meminta anak-anak yang saleh.
Meminta umur panjang.
Meminta akhir kehidupan yang baik.
Semua itu boleh dan memang layak kita mohonkan kepada Allah.
Tetapi di balik semua permintaan itu ada satu pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri:
Apa yang sudah kita persembahkan kepada Allah dari semua yang telah Dia berikan?
Sebab seorang hamba bukan hanya penerima nikmat.
Ia juga pemegang amanah.
Dan barangkali inilah makna terdalam dari siasat janji: jangan sampai kita terkecoh oleh kehidupan sehingga merasa seolah-olah tugas kita hanya menerima, sementara kewajiban kita terlupakan.
Allah telah memberi kehidupan.
Allah telah memberi petunjuk.
Allah telah mengutus Rasul.
Allah telah membuka pintu taubat.
Allah telah menjanjikan balasan.
Sekarang giliran kita.
Bukan giliran menuntut lebih banyak.
Tetapi giliran menunaikan janji.
Sebab pada suatu hari nanti, ketika semua alasan dunia berhenti, manusia tidak lagi ditanya berapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.
Ia akan berhadapan dengan pertanggungjawaban atas apa yang telah dipercayakan kepadanya.
Maka sebelum hari itu tiba, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Janji kepada Allah yang selama ini kita ucapkan—sudahkah benar-benar kita tunaikan?
Wallahu a’lam
Darussalam 7 Rabiul Akhir 1448, 18 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Bada Aceh)
