-->

Notification

×

Iklan

Iklan

15–35–50: Ketika Nafsu Bukan Lagi Pengemudi Kehidupan

Rabu, 07 Oktober 2026 | Oktober 07, 2026 WIB Last Updated 2026-10-07T14:10:30Z


Oleh: Dr. Barmawi, M.Si.

Al-Rasyid.id | Manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi juga memiliki nafsu, emosi, kesadaran, dan hati. Karena itu, memahami manusia berarti memahami bagaimana berbagai kekuatan dalam dirinya dikelola agar tetap seimbang.


Al-Qur’an menggambarkan tiga kondisi jiwa: nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmainnah. Ketiganya dapat menjadi cermin untuk membaca diri sendiri.


Jangan Biarkan Nafsu Memegang Kemudi


Nafs ammarah adalah dorongan jiwa yang mengajak kepada keburukan apabila tidak dikendalikan oleh akal dan iman.


Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 53:


“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”


Nafsu tidak harus dimatikan karena ia merupakan bagian dari diri manusia dan dapat menjadi energi untuk bekerja, berprestasi, menikmati kehidupan, serta membela diri. Namun, ketika berubah menjadi keserakahan, menghalalkan segala cara, dan mengorbankan orang lain, nafsu telah mengambil alih kemudi.


Karena itu, nafsu dapat ditempatkan sekitar 15 persen: cukup menjadi energi, tetapi tidak menjadi penguasa.


Akal Harus Berani Menginjak Rem


Nafs lawwamah adalah jiwa yang mampu mengevaluasi dan mengoreksi diri.


Allah berfirman dalam QS. Al-Qiyamah ayat 2:


“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.”


Pada tahap ini, manusia bertanya: Apakah keputusan saya benar? Apakah perkataan saya menyakiti orang lain? Apakah yang saya kejar merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan?


Dimensi lawwamah ditempatkan sekitar 35 persen sebagai ilustrasi peran akal dan kesadaran. Akal membantu membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana, menghitung risiko, serta menahan diri dari tindakan impulsif.


Dalam konflik, akal mengajarkan kita untuk berhenti, menganalisis persoalan, lalu memilih kata-kata yang tepat. Akal yang sehat bukan hanya menghitung keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan akibat.


Hati Menentukan Arah


Nafs mutmainnah adalah jiwa yang mencapai ketenangan, kedamaian, dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah.


Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr ayat 27–28:


“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”


Jiwa yang tenang bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan mampu menghadapi kegagalan dan konflik tanpa kehilangan arah. Ia tetap bekerja keras dengan cara halal, bersyukur saat berhasil, tidak kehilangan harapan saat gagal, serta mampu memaafkan dan menjaga silaturahmi.


Dimensi mutmainnah ditempatkan sekitar 50 persen karena hati menjadi penentu moral dan spiritual. Akal yang cerdas tanpa moral dapat disalahgunakan, sedangkan nafsu tanpa kendali dapat membawa manusia ke arah yang salah.


Hati adalah kompasnya. Akal adalah pengarahnya. Nafsu adalah energinya.


15–35–50 Bukan Sekadar Angka


Angka 15–35–50 bukan rumus matematis yang kaku, melainkan ilustrasi keseimbangan diri:


Nafsu 15 persen: energi kehidupan.

Akal 35 persen: penimbang, perencana, dan pengendali tindakan.

Hati 50 persen: penentu arah moral dan spiritual.


Bayangkan sebuah kendaraan: nafsu adalah mesinnya, akal adalah sistem pengendalinya, dan hati adalah kompasnya. Ketiganya diperlukan, tetapi persoalan utamanya adalah siapa yang memegang kemudi.


Jangan Hanya Mengejar Sukses, Carilah Ketenangan


Kesuksesan sering diukur dari jabatan, kekayaan, popularitas, dan pencapaian. Namun, Al-Qur’an mengajak manusia melihat ukuran yang lebih dalam: ketenangan jiwa.


Apa gunanya harta jika hati gelisah, jabatan jika kejujuran hilang, atau kemenangan dalam perdebatan jika persaudaraan menjadi korban?


Kehidupan yang baik bukanlah kehidupan tanpa masalah, melainkan kehidupan yang dijalani dengan makna, keseimbangan, dan nilai yang benar.


Manusia perlu berkata kepada nafsunya: cukup; kepada akalnya: pertimbangkan; dan kepada hatinya: ingat Allah.


Ketika hati menjadi kompas, akal menjadi pelaksana yang cermat, dan nafsu menjadi energi yang terkendali, manusia dapat bekerja tanpa diperbudak pekerjaan, memiliki harta tanpa diperbudak harta, serta menikmati kehidupan tanpa kehilangan tujuan.


Manusia yang paling berbahaya bukanlah yang memiliki nafsu, melainkan yang membiarkan nafsu memegang kemudi.


Manusia yang paling beruntung adalah orang yang mampu menata nafsu, menjernihkan akal, membersihkan hati, dan kembali berjalan menuju Allah SWT.


Dr. Barmawi, M.Si.

Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry

Ketua HIMPSI Wilayah Aceh

×
Berita Terbaru Update