-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Membangun Istana Pasir

Jumat, 09 Oktober 2026 | Oktober 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-10T00:28:47Z


Ketika Tangan Membangun Kebaikan, Perbuatan Sendiri Merobohkannya


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada nasihat yang kita baca sambil mengangguk, ada pula nasihat yang membuat kita terdiam karena merasa sedang berhadapan dengan diri sendiri. Bukan orang lain yang terbayang, melainkan jejak langkah kita yang selama ini mungkin luput dari pemeriksaan hati.


Pagi ini, ketika membaca seri opini Jejak Kesalihan Prof. Muhammad Yasir Yusuf di Forduna, saya menemukan sebuah pelajaran yang terasa begitu dekat. Pesannya sederhana, tetapi menghunjam: betapa sia-sianya seseorang membangun sesuatu dengan susah payah, lalu merobohkannya sendiri melalui perbuatan yang tidak sejalan dengan apa yang telah dibangunnya.


Saya tidak ingin buru-buru menjadikan nasihat itu sebagai alat untuk menilai orang lain. Justru, saya ingin menjadikannya cermin untuk diri sendiri. Ada ucapan, sikap, dan aktivitas komunikasi yang pernah saya lakukan, termasuk melalui media siaran, yang perlu saya periksa kembali dengan lebih jujur. Apakah semuanya telah mendatangkan manfaat? Adakah di antaranya yang justru mengurangi nilai kebaikan yang ingin saya bangun?


Pertanyaan seperti ini mengantar saya pada istighfar. Bukan karena merasa paling buruk, melainkan karena menyadari bahwa manusia bisa saja bersemangat mengerjakan kebaikan, tetapi kurang cermat menjaga kebaikan itu agar tidak rusak oleh perbuatannya sendiri.


Belajar dari istana pasir cucu-cucu


Suatu ketika, saat pergi bersama keluarga ke pantai, saya memperhatikan cucu-cucu bermain pasir. Mereka mengumpulkan pasir, menumpuknya sedikit demi sedikit, membentuk dinding, membuat lengkungan, dan mengukir permukaannya agar menyerupai bangunan yang mereka bayangkan.


Mereka bekerja dengan penuh semangat. Ada kesungguhan, kreativitas, dan kebanggaan ketika bentuk bangunan itu mulai terlihat. Namun, setelah bosan, mereka justru melompat ke atas bangunan yang baru saja mereka buat. Istana pasir itu pun hancur berantakan. Tidak lama kemudian, mereka membangunnya lagi, lalu merobohkannya kembali. Sesekali, ombak datang menyapu bangunan itu tanpa menunggu mereka selesai bermain.


Bagi anak-anak, permainan itu wajar. Mereka sedang belajar mengenal bentuk, mengembangkan imajinasi, dan menikmati kebebasan bermain. Tidak ada yang perlu disalahkan.


Namun, sebagai orang dewasa, saya melihat sebuah perumpamaan yang lebih dalam.


Bukankah dalam kehidupan kita kadang melakukan hal serupa? Kita membangun kepercayaan selama bertahun-tahun, tetapi menghancurkannya dengan satu kebohongan. Kita mengumpulkan pahala melalui ibadah, tetapi melukai orang lain dengan lisan. Kita bersedekah untuk membantu sesama, lalu menyebut-nyebut pemberian itu untuk mempermalukan penerimanya. Kita menyampaikan pesan moral kepada masyarakat, tetapi dalam kesempatan lain justru melakukan hal yang bertentangan dengan pesan tersebut.


Kita membangun dengan satu tangan, lalu merobohkan dengan tangan yang lain.


Perbedaannya, anak-anak di pantai sedang bermain. Sementara itu, orang dewasa sedang mempertaruhkan amanah, kehormatan, kepercayaan, dan bahkan keselamatan amalnya di hadapan Allah.


Istana pasir yang runtuh masih bisa dibangun kembali. Akan tetapi, kepercayaan yang hancur dan kesempatan berbuat baik yang terlewat tidak selalu mudah dipulihkan.


Al-Qur’an mengingatkan: jangan membatalkan kebaikan sendiri


Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas tentang bahaya merusak amal yang telah dilakukan.


Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 264:


Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”


Ayat ini menyampaikan persoalan yang lebih mendalam daripada sekadar tata krama dalam memberi. Allah mengingatkan bahwa sebuah perbuatan baik dapat kehilangan pahalanya ketika diikuti tindakan yang menyakiti orang yang menerima kebaikan tersebut. Tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Baqarah: 264 menjelaskan bagaimana tindakan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti penerima dapat menghapus pahala sedekah.


Bayangkan seseorang memberikan bantuan kepada keluarga miskin. Ia mengeluarkan uang dari hasil kerja kerasnya, mendatangi rumah penerima, dan menyerahkan bantuan dengan niat menolong. Namun, beberapa hari kemudian, ia menceritakan bantuan itu kepada banyak orang sambil merendahkan martabat keluarga yang dibantunya.


Secara material, bantuan tersebut mungkin tetap bermanfaat. Berasnya telah dimasak, biaya sekolah telah dibayar, dan kebutuhan keluarga telah terbantu. Tetapi dari sisi pahala, pemberi itu telah mempertaruhkan nilai amalnya sendiri dengan tindakan yang menyakiti.


Karena itu, kita perlu membedakan dua hal: manfaat sosial yang sudah dirasakan penerima dan pahala yang kita harapkan dari Allah. Keduanya tidak selalu berjalan seiring.


Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang yang merusak sedekahnya seperti batu licin yang ditutupi tanah, kemudian diguyur hujan deras sehingga tidak tersisa tanah di atasnya. Gambaran ini sangat kuat: dari luar tampak ada sesuatu yang telah dibangun, tetapi ketika ujian datang, ternyata tidak ada yang tersisa.


Perumpamaan itu mengajak kita bertanya: apakah kebaikan yang kita bangun benar-benar berakar pada keikhlasan dan akhlak, atau hanya menempel di permukaan?


Peringatan serupa hadir dalam QS. Ash-Shaff ayat 2–3. Allah bertanya mengapa orang beriman mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan, kemudian menegaskan bahwa sangat besar kemurkaan-Nya terhadap perkataan yang tidak sesuai dengan perbuatan. QS. Ash-Shaff: 2–3.


Ayat ini bukan berarti setiap orang yang belum mampu menjalankan nasihatnya otomatis kehilangan seluruh amal. Manusia bisa lemah, keliru, dan sedang berjuang memperbaiki diri. Namun, ayat tersebut jelas memperingatkan bahaya kesenjangan antara ucapan dan tindakan, terutama ketika seseorang terus-menerus menyerukan kebaikan tanpa berusaha menjadikan dirinya bagian dari kebaikan itu.


Jangan sampai kita rajin mengajak orang lain menjaga lisan, tetapi lisan kita sendiri melukai. Jangan sampai kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi gemar menyebarkan informasi yang merusak kehormatan orang lain. Jangan sampai kita menyerukan kesalihan, tetapi lupa memeriksa kesalihan diri.


Peringatan Nabi: jangan pulang membawa amal, tetapi kehilangan buahnya


Rasulullah saw. pernah mengajukan pertanyaan kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut. Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki dirham dan harta.


Namun, Nabi memberikan penjelasan yang menggugah hati. Dalam hadis riwayat Muslim nomor 2581, beliau menerangkan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa salat, puasa, dan zakat, tetapi selama hidupnya ia juga mencaci orang lain, menuduh, mengambil harta secara tidak benar, menumpahkan darah, atau memukul orang lain. Akibatnya, kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika kebaikannya habis sebelum semua hak ditunaikan, dosa orang-orang yang dizaliminya dapat dibebankan kepadanya. Sahih Muslim, hadis 2581.


Hadis ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum merasa bangga terhadap banyaknya amal yang telah kita kumpulkan.


Kita mungkin telah menghabiskan waktu untuk beribadah, menyisihkan penghasilan untuk sedekah, menghadiri majelis ilmu, membantu masyarakat, dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Semua itu merupakan ikhtiar yang baik. Namun, apakah pada saat yang sama kita menjaga hak orang lain? Apakah kita menahan diri dari fitnah, penghinaan, kebohongan, dan penyebaran kabar yang belum jelas kebenarannya?


Pertanyaan ini penting karena kesalihan tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam perlakuan kita terhadap sesama manusia.


Seseorang tidak cukup hanya rajin menambah amal. Ia juga perlu berhati-hati agar tidak mengurangi nilai amalnya melalui kezaliman.


Di sinilah ungkapan “membangun istana pasir” menemukan maknanya yang paling dalam. Jangan sampai kita menghabiskan umur untuk mengumpulkan kebaikan, tetapi pada saat yang sama membiarkan ucapan dan tindakan menjadi ombak yang menghancurkan bangunan itu.


Nasihat ulama klasik: rawat amal sebagaimana merawat benih


Para ulama klasik telah lama mengingatkan bahwa amal tidak berhenti pada saat perbuatan itu selesai dilakukan. Ada pekerjaan batin yang harus terus menyertainya: menjaga niat, menghindari kesombongan, dan memelihara akhlak.


Imam Abu Hamid al-Ghazali, dalam pembahasan tentang penyakit hati di dalam Ihya’ ’Ulum al-Din, memberi perhatian besar terhadap riya, ujub, dan kecenderungan manusia mencari pengakuan melalui amal. Seseorang bisa memulai pekerjaan dengan niat yang baik, tetapi kemudian hatinya berubah karena ingin dipuji, merasa lebih mulia daripada orang lain, atau menjadikan kebaikannya sebagai alat untuk memperoleh kedudukan.


Di sinilah kita perlu berhati-hati. Amal yang awalnya ditujukan untuk Allah bisa dicampuri kepentingan diri. Sedekah yang semestinya meringankan beban orang lain dapat berubah menjadi alat untuk membangun citra. Ilmu yang semestinya menerangi pikiran dapat berubah menjadi alasan untuk merendahkan orang yang belum tahu. Bahkan nasihat agama dapat kehilangan kelembutannya apabila disampaikan demi memenangkan pertengkaran, bukan demi memperbaiki keadaan.


Imam al-Ghazali mengajak kita memperhatikan pekerjaan hati di balik tindakan lahiriah. Bukan hanya berapa banyak yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana niat dan sikap kita ketika melakukannya.


Sementara itu, Ibn Rajab al-Hanbali, dalam Jāmi’ al-’Ulūm wa al-Hikam, ketika membahas hadis tentang niat dan berbagai prinsip amal, mengingatkan pentingnya keikhlasan dan kesesuaian perbuatan dengan tuntunan agama. Amal tidak cukup dinilai dari bentuk luarnya saja; niat dan cara pelaksanaannya juga menentukan kedudukannya.


Dari pelajaran para ulama ini, kita dapat menarik satu kesimpulan: membangun amal memerlukan kesungguhan, tetapi menjaga amal memerlukan kewaspadaan yang terus-menerus.


Benih yang baik belum tentu menghasilkan buah jika akarnya dirusak. Demikian pula, amal yang baik perlu dipelihara dengan akhlak, keikhlasan, dan tanggung jawab.


Kita tidak harus menjadi manusia yang tidak pernah salah. Yang kita perlukan ialah kesediaan untuk segera menyadari kesalahan, meminta ampun kepada Allah, memperbaiki kerugian yang kita timbulkan, dan tidak terus-menerus mengulang perilaku yang sama.


Taubat bukan sekadar penyesalan karena telah merobohkan istana. Taubat adalah keputusan untuk berhenti merobohkannya.


Apakah ini penyakit jiwa?


Dari sudut pandang psikologi, perilaku membangun sesuatu lalu merusaknya sendiri dapat dipahami melalui beberapa konsep. Namun, kita perlu menempatkannya secara proporsional. Tidak ada satu nama diagnosis yang otomatis berlaku bagi setiap orang yang berperilaku kontradiktif.


Pertama, ada konsep self-sabotage, yaitu pola tindakan yang justru menghambat tujuan atau merusak sesuatu yang sebenarnya ingin dicapai. Seseorang ingin dipercaya, tetapi berulang kali berbohong. Ia ingin menjaga persahabatan, tetapi terus melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Ia ingin dihormati sebagai orang berintegritas, tetapi menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.


Kedua, ada disonansi kognitif, yakni ketegangan psikologis ketika keyakinan, gambaran diri, dan tindakan seseorang tidak selaras. Seseorang meyakini bahwa kejujuran sangat penting, tetapi ia sendiri berbohong untuk menyelamatkan citra. Ketegangan ini dapat mendorongnya memperbaiki perilaku, tetapi dapat pula membuatnya mencari pembenaran: menyalahkan keadaan, mengecilkan kesalahan, atau menganggap tindakannya tidak seburuk tindakan orang lain.


Ketiga, ada persoalan pengendalian diri dan regulasi emosi. Seseorang mungkin mengetahui bahwa kemarahan, keinginan dipuji, atau dorongan untuk membalas dapat merusak hubungan. Namun, ketika emosinya memuncak, ia bertindak bertentangan dengan nilai yang sebenarnya ia yakini.


Ketiga konsep tersebut membantu menjelaskan pola perilaku, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya gangguan mental. Penilaian klinis memerlukan informasi yang lebih lengkap mengenai pola, intensitas, durasi, dampak, dan keadaan orang yang bersangkutan.


Lalu, bagaimana dengan istilah split personality?


Dalam percakapan sehari-hari, istilah itu sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampak berbeda antara ucapan dan perbuatannya. Akan tetapi, dalam psikologi klinis, istilah populer tersebut kerap dikaitkan secara tidak tepat dengan gangguan identitas disosiatif (dissociative identity disorder), yaitu kondisi yang melibatkan gangguan dalam integrasi identitas dan ciri-ciri disosiatif tertentu.


Perilaku munafik, inkonsisten, mudah berubah sikap, atau merusak kebaikannya sendiri tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan identitas disosiatif. Kita tidak boleh mengubah persoalan akhlak menjadi diagnosis kejiwaan tanpa dasar klinis.


Meski demikian, ada pelajaran psikologis yang relevan bagi kita: keutuhan pribadi menuntut keselarasan yang terus diupayakan antara nilai yang diyakini, kata-kata yang diucapkan, dan tindakan yang dilakukan. Keselarasan itu bukan berarti manusia tidak pernah mengalami konflik batin. Justru, manusia yang matang ialah orang yang mampu mengenali konflik tersebut, mengakuinya, dan berusaha memperbaikinya.


Agama menghendaki pribadi yang utuh dalam penghambaan kepada Allah: lisannya, pikirannya, hatinya, dan tindakannya bergerak menuju tujuan yang sama. Dalam tradisi Islam, cita-cita ini dapat dibicarakan dalam kerangka insan kamil, yakni manusia yang berkembang menuju kematangan spiritual dan akhlak. Ia bukan manusia yang mengklaim dirinya sempurna, melainkan manusia yang terus menyempurnakan ikhtiar penghambaan dan memperbaiki kekurangannya.


Kesalihan tidak terletak pada kemampuan mempertahankan citra tanpa cela, tetapi pada keberanian mengakui kekurangan dan kesungguhan memperbaikinya.


Generasi Muslim perlu belajar menjaga, bukan sekadar membangun


Pelajaran ini sangat penting bagi generasi Muslim, terutama di tengah kehidupan digital yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pendapat, menyebarkan informasi, membangun citra, dan memengaruhi orang lain hanya melalui sebuah layar.


Anak muda bisa membangun reputasi sebagai pribadi yang peduli pada kemanusiaan, tetapi menghancurkannya dengan perundungan di media sosial. Seseorang dapat mengunggah pesan tentang persaudaraan, lalu ikut menyebarkan kabar yang memecah belah. Ada pula yang rajin menyuarakan keadilan, tetapi mengabaikan keadilan ketika kepentingan kelompoknya sendiri dipertaruhkan.


Karena itu, pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan cara melakukan kebaikan. Ia juga harus membiasakan peserta didik menjaga kebaikan itu dalam pergaulan sehari-hari.


Kita perlu mengajarkan kepada generasi muda bahwa menyampaikan informasi adalah amanah, menjaga rahasia adalah tanggung jawab, mengakui kesalahan adalah keberanian, dan meminta maaf bukan tanda kelemahan. Mereka perlu memahami bahwa jejak digital dapat bertahan lama, sedangkan penyesalan sering datang setelah kerusakan telanjur terjadi.


Orang tua, guru, pendakwah, pemimpin organisasi, dan tokoh masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. Jangan hanya mengajarkan nilai melalui kata-kata, tetapi hadirkan teladan melalui keputusan dan perilaku.


Sebab, satu tindakan yang konsisten dapat menguatkan pesan seribu nasihat, sedangkan satu tindakan yang bertentangan dapat meruntuhkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.


Tujuh langkah menjaga agar istana kebaikan tidak roboh


Lalu, bagaimana agar kita tidak terus-menerus membangun istana pasir dalam kehidupan?


Pertama, luruskan niat sebelum memulai. Tanyakan kepada diri sendiri: untuk apa saya melakukan ini? Apakah untuk mencari rida Allah dan memberi manfaat, atau terutama untuk memperoleh pujian, pengaruh, dan pengakuan? Niat perlu diperiksa sebelum amal dilakukan dan dijaga selama prosesnya.


Kedua, selaraskan ucapan dengan tindakan. Jangan terlalu cepat memberikan nasihat yang belum kita usahakan dalam kehidupan sendiri. Jika belum mampu menjalankannya dengan sempurna, tetaplah mengajak kepada kebaikan sambil jujur mengakui bahwa diri kita pun sedang belajar. Kerendahan hati jauh lebih baik daripada membangun citra kesalihan yang tidak ditopang perilaku.


Ketiga, jaga lisan dan jari. Sebelum berbicara atau mengirimkan sesuatu melalui media sosial, tanyakan apakah informasi itu benar, perlu, bermanfaat, dan disampaikan dengan cara yang patut. Jangan sampai niat memberi informasi berubah menjadi kebiasaan membuka aib, mempermalukan orang, atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.


Keempat, jangan mengungkit kebaikan yang telah diberikan. Sedekah, bantuan, dan pelayanan kepada masyarakat hendaknya tidak dijadikan alat untuk menekan penerimanya. Jika sebuah kegiatan memang perlu dilaporkan untuk pertanggungjawaban publik, sampaikan fakta secara proporsional tanpa merendahkan martabat orang yang dibantu.


Kelima, lakukan muhasabah setiap hari. Luangkan waktu sebelum tidur untuk meninjau apa yang telah kita kerjakan. Kebaikan apa yang patut disyukuri? Siapa yang mungkin terluka oleh perkataan kita? Apakah ada informasi yang perlu dikoreksi, janji yang harus dipenuhi, atau kesalahan yang harus diperbaiki? Muhasabah menjadikan pengalaman sebagai bahan pertumbuhan, bukan sekadar rangkaian peristiwa yang berlalu.


Keenam, segera perbaiki kerusakan. Jika kita menyakiti seseorang, mintalah maaf dengan tulus. Jika menyebarkan informasi keliru, koreksi dan tarik kembali sejauh mungkin. Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika merusak kepercayaan, bangun kembali melalui tindakan yang konsisten. Istighfar kepada Allah perlu disertai ikhtiar memperbaiki hak manusia yang telah kita langgar.


Ketujuh, bangun kebiasaan baik secara konsisten. Jangan hanya bersemangat memulai sesuatu yang besar. Biasakan kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus: berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, membantu tanpa mempermalukan, dan menahan diri ketika marah. Kebaikan yang tumbuh perlahan tetapi berakar kuat sering kali lebih tahan menghadapi ujian daripada kebaikan yang tampak megah tetapi rapuh.


Tujuh langkah ini bukan jaminan bahwa kita tidak akan pernah salah. Namun, ia dapat membantu kita mengurangi kebiasaan merusak apa yang telah kita bangun dan memperbesar peluang agar kebaikan kita tumbuh menjadi manfaat yang berkelanjutan.


Dari istana pasir menjadi kebun amal


Pada akhirnya, saya kembali membayangkan cucu-cucu di pantai. Saya tidak ingin menghilangkan kegembiraan mereka membangun dan merobohkan istana pasir. Itu bagian dari dunia kanak-kanak yang penuh imajinasi.


Namun, bagi kita yang telah dewasa, kehidupan bukan sekadar permainan membangun sesuatu untuk kemudian melihatnya runtuh. Umur terbatas. Kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Kepercayaan membutuhkan waktu untuk tumbuh, tetapi dapat hancur dalam sekejap.


Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang: jangan hanya sibuk membangun, tetapi belajarlah merawat. Jangan hanya menghitung banyaknya amal, tetapi periksa pula bagaimana kita memperlakukan manusia. Jangan hanya ingin dikenal sebagai orang baik, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang menghadirkan kebaikan, bahkan ketika tidak ada orang yang melihatnya.


Saya sendiri menerima pelajaran ini sebagai undangan untuk lebih berhati-hati, termasuk dalam setiap ucapan, tulisan, dan aktivitas siaran yang saya lakukan. Jika ada yang perlu diperbaiki, semoga Allah memberi keberanian untuk mengakuinya, kelapangan hati untuk meminta maaf, dan kekuatan untuk tidak mengulanginya.


Kita tidak dapat mengubah seluruh kesalahan masa lalu. Namun, kita dapat menentukan apakah hari ini akan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri atau justru mengulang kesalahan yang sama.


Biarlah amal yang kita tanam menjadi benih yang berakar, tumbuh, dan berbuah. Buahnya memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan generasi yang datang sesudah kita. Semoga manfaat itu terus mengalir melalui ilmu yang diajarkan, kebaikan yang diwariskan, dan kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.


Inilah yang membedakan istana pasir dari kebun amal. Istana pasir mudah diruntuhkan oleh satu lompatan atau sapuan ombak. Kebun amal, jika ditanam dengan niat yang benar, dirawat dengan akhlak, dan dijaga dengan keikhlasan, memiliki kesempatan untuk terus memberikan buah.


Allah mengingatkan dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7–8 bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya, dan siapa pun yang mengerjakan keburukan seberat zarah akan melihat balasannya pula. Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Maka, marilah membangun tanpa merobohkan, menasihati tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, dan menyampaikan informasi tanpa mengorbankan kebenaran. Kita tidak dituntut menjadi manusia yang tak pernah keliru, tetapi kita bertanggung jawab untuk tidak sengaja menjadikan kesalahan sebagai kebiasaan.


Semoga Allah mengampuni kekurangan kita, menjaga amal-amal kita dari kerusakan yang kita timbulkan sendiri, dan membimbing kita menjadi hamba yang semakin utuh dalam iman, akhlak, dan pengabdian.


Sebab, keberhasilan seorang Muslim bukan sekadar mampu membangun istana kebaikan, melainkan mampu menjaganya agar tetap berdiri, berbuah, dan menghadirkan manfaat hingga akhir hayat—bahkan setelah dirinya tiada.


Wallahu a’lam 


Barabung Darussalam 29 Rabiul Akhir 1448, 10 Oktober 2026


(Penulis, imum meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update