Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada ilmu yang membuat manusia mampu membaca dunia, menguasai teknologi, membangun ekonomi, menjadi dokter, insinyur, akademisi, birokrat, pengusaha dan berbagai profesi lainnya. Tetapi ada ilmu yang jauh lebih mendasar: ilmu yang membuat manusia mengenal siapa Tuhannya, bagaimana menyembah-Nya dan bagaimana menjalani hidup di hadapan-Nya.
Inilah pesan penting yang dapat direnungkan dari khutbah Tgk Nikmal Maula, M.Ag., Wakil Pimpinan Dayah Raudhatul Quran Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Jumat 2 Oktober 2026 atau 20 Rabiul Akhir 1448 H.
Tgk Maula mengingatkan pentingnya setiap Muslim menguasai ilmu tentang iman, Islam dan ihsan. Ketiganya bukan sekadar istilah keagamaan, melainkan fondasi kehidupan seorang Muslim.
Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan Islam melalui amal-amal lahiriah, iman melalui keyakinan kepada Allah dan perkara-perkara gaib, sedangkan ihsan melalui kesadaran beribadah seakan-akan melihat Allah; jika tidak mampu melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah melihat kita.
Maka seorang Muslim sesungguhnya membutuhkan tiga perangkat ilmu sekaligus: ilmu tauhid untuk memahami iman, ilmu fikih untuk memahami Islam dan ilmu tasawuf-akhlak untuk menghidupkan ihsan.
Ketiganya harus berjalan bersama. Tauhid memberi arah, fikih memberi aturan, sedangkan ihsan memberi ruh.
Iman Itu Naik dan Turun
Pesan kedua Tgk Maula juga penting: iman tidak selalu berada pada titik yang sama.
Ada saat hati begitu dekat kepada Allah. Al-Qur’an terasa hidup, shalat terasa nikmat, zikir menenangkan, sedekah terasa ringan dan dosa membuat hati gelisah.
Tetapi ada pula masa ketika hati terasa kering. Shalat mulai kehilangan kekhusyukan, Al-Qur’an jarang disentuh, zikir berkurang, nasihat terasa biasa saja dan dosa mulai dianggap ringan.
Karena itu, iman membutuhkan perawatan.
Al-Qur’an bahkan menyebut secara terang bahwa ayat-ayat Allah dapat menambah iman orang beriman. Allah berfirman bahwa apabila ayat-ayat-Nya dibacakan, iman mereka bertambah.
Para ulama Ahlussunnah juga menjelaskan bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Ibnu Taimiyah, misalnya, menukil pendirian para sahabat dan mayoritas ulama salaf bahwa iman itu bertambah dan berkurang.
Karena iman dapat berubah, maka seorang Muslim tidak boleh merasa aman dengan keadaan imannya hari ini.
Iman perlu di-update.
Bukan update seperti perangkat teknologi, tetapi pembaruan kesadaran, pembaruan ketaatan, pembaruan ilmu dan pembaruan hubungan hati dengan Allah.
Lalu bagaimana caranya?
Tgk Maula menyebut lima langkah yang sangat sederhana tetapi mendasar.
Pertama, Menjaga Shalat
Shalat adalah tiang kehidupan seorang Muslim.
Bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga ruang perjumpaan seorang hamba dengan Allah. Lima kali sehari manusia dipanggil meninggalkan kesibukan dunia untuk berdiri di hadapan Tuhannya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, kualitas shalat seharusnya memberikan pengaruh terhadap kualitas perilaku.
Karena itu, jangan hanya bertanya apakah kita sudah shalat. Bertanyalah lebih jauh: apa yang sudah dilakukan shalat terhadap diri kita?
Apakah shalat membuat kita lebih jujur? Lebih sabar? Lebih lembut kepada keluarga? Lebih takut mengambil hak orang lain? Lebih mudah memaafkan? Lebih kuat menahan hawa nafsu?
Jika shalat terus dijaga, insyaallah ia menjadi benteng iman.
Dan menjaga shalat berarti bukan hanya menjaga jumlahnya, tetapi juga menjaga waktunya, kekhusyukannya, berjamaahnya dan pengaruhnya dalam kehidupan.
Kedua, Peduli kepada Sesama dan Menjaga Ukhuwah
Iman tidak boleh berhenti di sajadah.
Orang yang dekat dengan Allah semestinya semakin dekat pula dengan manusia dalam kebaikan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Karena itu, iman memiliki dimensi sosial. Ia melahirkan kepedulian, kasih sayang, silaturahmi, saling membantu dan menjaga kehormatan sesama.
Di sinilah ukhuwah menjadi bagian penting dari pembaruan iman.
Kadang iman melemah bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena hati terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kita mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri.
Maka peduli kepada tetangga, menyapa orang lain, membantu yang kesusahan, menjaga lisan, tidak menyebarkan aib dan tidak memutus silaturahmi adalah bagian dari cara merawat iman.
Semakin dekat kepada Allah, semestinya semakin aman manusia lain dari tangan dan lisan kita.
Ketiga, Memperbanyak Muhasabah dan Istighfar
Manusia tidak luput dari salah.
Karena itu, orang beriman bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang tidak nyaman berlama-lama dalam kesalahan.
Muhasabah berarti menyediakan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan hari ini? Apa yang membuat Allah ridha? Apa yang membuat Allah murka? Siapa yang mungkin terluka oleh perkataan saya? Dosa apa yang harus segera saya tinggalkan?
Setelah itu, istighfar menjadi jalan pulang.
Rasulullah SAW sendiri, meskipun telah dijamin ampunan Allah, memperbanyak istighfar. Apalagi kita yang setiap hari berhadapan dengan begitu banyak kelemahan.
Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir. Ia adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan ampunan Allah.
Orang yang rajin bermuhasabah akan lebih sulit menjadi sombong, sebab ia mengenal kekurangan dirinya sendiri.
Keempat, Bergaul dengan Orang Saleh
Lingkungan mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam membentuk manusia.
Teman bisa menjadi tangga menuju kebaikan, tetapi juga dapat menjadi jalan perlahan menuju kelalaian.
Al-Qur’an mengingatkan agar orang beriman bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang.
Rasulullah SAW juga menggambarkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi: seseorang bisa mendapatkan wanginya, atau setidaknya mencium aroma harum darinya.
Karena itu, memilih lingkungan bukan perkara kecil.
Generasi muda harus mempunyai keberanian untuk bertanya: siapa yang paling banyak memengaruhi saya?
Siapa yang membuat saya semakin rajin shalat? Siapa yang mengingatkan saya ketika salah? Siapa yang membuat saya senang membaca Al-Qur’an? Siapa yang mendorong saya belajar? Siapa yang membuat saya malu berbuat dosa?
Itulah lingkungan yang perlu dipertahankan.
Sebaliknya, jika sebuah pergaulan membuat seseorang semakin jauh dari masjid, semakin ringan melakukan maksiat dan semakin tidak peduli kepada Allah, maka ia perlu berani mengevaluasinya.
Kelima, Berdoa agar Iman Diteguhkan dan Husnul Khatimah
Pada akhirnya manusia tidak boleh hanya mengandalkan dirinya.
Hati berada dalam kekuasaan Allah.
Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan doa:
“Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ’ala dinik.”
Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Doa ini mengandung pelajaran besar: jangan pernah merasa iman kita sudah aman.
Hari ini kita bisa rajin beribadah. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana keadaan hati kita esok hari. Kita juga tidak mengetahui dalam keadaan bagaimana Allah memanggil kita pulang.
Karena itu doa husnul khatimah harus menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Bukan hanya meminta umur panjang, tetapi meminta umur yang diberkahi dan kematian dalam keadaan Allah ridha kepada kita.
Jangan Sampai Putus Kontak dengan Allah
Di sinilah pesan ini menjadi sangat relevan bagi generasi Muslim hari ini.
Kita boleh menguasai berbagai ilmu. Bahkan kita sangat dianjurkan untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, ekonomi, hukum, pertanian, sains, komunikasi dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Tetapi jangan sampai ada paradoks: ilmu dunia semakin tinggi, sementara ilmu mengenal Allah justru semakin tipis.
Seseorang mungkin sangat pintar berbicara tentang kecerdasan buatan, tetapi tidak mampu menjelaskan kepada anaknya siapa Allah.
Mungkin sangat menguasai ekonomi, tetapi tidak memahami halal dan haram dalam transaksi.
Mungkin ahli teknologi, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya dari maksiat digital.
Mungkin memiliki gelar akademik berderet, tetapi tidak memiliki kedalaman ilmu tauhid, fikih dan akhlak.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Sebab sebanyak apa pun ilmu yang kita kuasai, jika kita kehilangan ilmu tentang Allah, kita bisa kehilangan arah kehidupan.
Bukan berarti ilmu dunia tidak penting. Justru sebaliknya, umat Islam harus maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi kemajuan itu harus mempunyai kompas tauhid.
Ilmu membuat kita mampu menguasai dunia; iman membuat kita tidak diperbudak oleh dunia.
Tanggung Jawab Orang Tua Tidak Bisa Dialihkan
Pesan ini juga harus mengetuk pintu setiap rumah Muslim.
Para ayah dan ibu tidak boleh menganggap pendidikan iman anak sebagai urusan sekolah, guru, ustaz, dayah atau lembaga pendidikan semata.
Guru membantu. Ustaz membimbing. Dayah mendidik. Sekolah mengajarkan.
Tetapi tanggung jawab utama orang tua tetap tidak hilang.
Allah memerintahkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
Maka ayah dan ibu harus mengenalkan Allah kepada anak sejak dini. Mengajarkan shalat. Mengenalkan Al-Qur’an. Mengajarkan halal dan haram. Membiasakan doa. Mengajarkan adab. Mengajak ke masjid. Mengenalkan orang-orang saleh. Dan yang tidak kalah penting, memberikan teladan di hadapan mereka.
Jangan meminta anak rajin shalat sementara orang tua malas shalat.
Jangan meminta anak membaca Al-Qur’an sementara Al-Qur’an asing di rumah.
Jangan meminta anak menjaga lisan sementara orang tua mudah mencaci.
Anak belajar iman bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu pendidikan iman tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada orang lain.
Suatu hari nanti, orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah keluarga yang Allah titipkan.
Generasi yang Kuat adalah Generasi yang Punya Kompas
Akhirnya, khutbah Tgk Nikmal Maula mengingatkan kita bahwa generasi Muslim membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan.
Mereka membutuhkan kompas iman.
Dunia yang mereka hadapi jauh lebih kompleks. Tantangan datang melalui layar telepon, media sosial, budaya populer, pergaulan, materialisme, hedonisme dan berbagai godaan yang kadang masuk tanpa mengetuk pintu.
Karena itu, membekali mereka dengan ilmu iman, Islam dan ihsan bukan pekerjaan tambahan. Ini adalah kebutuhan pokok.
Ajarkan mereka tauhid agar tahu kepada siapa mereka bergantung.
Ajarkan fikih agar tahu bagaimana beribadah dan menjalani kehidupan sesuai syariat.
Ajarkan tasawuf dan akhlak agar ilmu dan ibadah melahirkan hati yang bersih, rendah hati dan berbuat baik.
Lalu ajarkan mereka satu kebiasaan penting: selalu memperbarui iman.
Jaga shalat.
Peduli kepada sesama.
Perbanyak muhasabah dan istighfar.
Pilih lingkungan yang baik.
Dan jangan pernah berhenti berdoa agar Allah meneguhkan iman sampai akhir hayat.
Sebab perjalanan hidup bukan sekadar tentang bagaimana kita menjadi manusia yang sukses di dunia.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita tetap terhubung dengan Allah ketika hidup di dunia, lalu kembali kepada-Nya dalam keadaan Dia ridha kepada kita.
Jangan sampai kita menguasai begitu banyak ilmu tentang dunia, tetapi kehilangan ilmu tentang Tuhan yang menciptakan dunia. Jangan sampai kita sangat terhubung dengan manusia, teknologi dan dunia maya, tetapi justru kehilangan kontak dengan Allah.
Sebab ketika hubungan dengan Allah terjaga, ilmu menemukan arah, amal menemukan ruh, akhlak menemukan cahaya dan kehidupan menemukan makna.
Semoga Allah memperbarui iman kita, menguatkan Islam kita, memperindah ihsan kita, menjaga keluarga dan generasi kita, serta menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah.
Amin.
Wallahu a’lam
Tungkop 20 Rabiul Akhir 1448, 2 Oktober 2026
(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
Foto: dari kiri; Bapak M. Zaini (ketua BKM), Tgk Maula, Tgk Widi A Rahman
