-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Milad UINAR Ke-63: Terus Menyala Tetap Bernyali

Minggu, 04 Oktober 2026 | Oktober 04, 2026 WIB Last Updated 2026-10-04T12:45:07Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada tanggal yang tidak boleh sekadar lewat di kalender. Bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, 5 Oktober adalah salah satu tanggal itu.


Pada 5 Oktober 2026, UIN Ar-Raniry atau yang kini akrab disingkat UINAR genap berusia 63 tahun. Usia yang tidak lagi muda, tetapi juga belum layak disebut tua bagi sebuah perguruan tinggi yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman.


Milad ke-63 tahun ini kembali ditandai dengan zikir dan doa bersama di Masjid Fathun Qarib. Tradisi itu bukan sekadar acara seremonial. Setiap 5 Oktober, civitas akademika UINAR diajak berhenti sejenak dari rutinitas akademik untuk mengingat dari mana lembaga ini datang, mensyukuri sejauh mana ia telah berjalan, dan memohon kepada Allah agar perjalanan berikutnya senantiasa berada dalam ridha-Nya.


Bahkan ketika 5 Oktober jatuh pada hari libur sekalipun, agenda itu tetap dilaksanakan. Kuliah diliburkan secara resmi agar dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa dapat bersama-sama memenuhi masjid.


Kebijakan semacam ini patut diapresiasi. Sebab perguruan tinggi bukan hanya tempat memproduksi pengetahuan, tetapi juga tempat membangun kesadaran tentang dari mana pengetahuan itu memperoleh arah dan untuk apa ia digunakan.


Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, dalam setiap sambutan peringatan hari jadi senantiasa mengingatkan bahwa 5 Oktober adalah hari penting, bahkan hari sakral bagi UIN Ar-Raniry.


Saya kira istilah itu mempunyai makna yang dalam.


Yang disakralkan bukan sekadar tanggalnya, melainkan nilai yang melekat di belakangnya: perjuangan, kesabaran, pengabdian, doa, pengorbanan dan cita-cita panjang untuk menghadirkan perguruan tinggi Islam yang bermanfaat bagi bangsa, khususnya masyarakat Aceh.


Dari tiga fakultas menuju universitas


Kalau kita membuka kembali lembar sejarahnya, UIN Ar-Raniry tidak lahir tiba-tiba.


Akar sejarahnya sudah tumbuh sejak berdirinya Fakultas Syariah pada 1960. Kemudian pada 1962 berdiri Fakultas Tarbiyah sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, disusul Fakultas Ushuluddin yang ketika itu masih berstatus swasta. Ketiga fakultas tersebut kemudian menjadi fondasi berdirinya IAIN Ar-Raniry.


Pada 5 Oktober 1963, berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 89 Tahun 1963, IAIN Ar-Raniry resmi berdiri dan diresmikan oleh Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Ketika itu Ar-Raniry menjadi IAIN ketiga di Indonesia setelah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Ar-Raniry⁠)


Perjalanan itu kemudian terus berkembang. Fakultas Dakwah lahir pada 1968 dan dikenal sebagai fakultas dakwah pertama dalam lingkungan IAIN di Indonesia. Fakultas Adab menyusul pada 1983. Kemudian pendidikan pascasarjana dan berbagai program studi berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan perubahan zaman. (Fakultas Ilmu Kesehatan⁠)


Lima puluh tahun kemudian, sebuah lompatan besar kembali terjadi. IAIN Ar-Raniry berubah status menjadi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2013 tanggal 1 Oktober 2013, dan peresmiannya dilakukan bertepatan dengan Dies Natalis ke-50 pada 5 Oktober 2013. (UIN Ar-Raniry⁠)


Dari institut menjadi universitas, dari tiga fakultas menjadi lembaga pendidikan tinggi dengan spektrum keilmuan yang jauh lebih luas.


Itulah sejarah sebuah lembaga yang tidak berhenti pada usia.


Lahir di tengah pergolakan zaman


Menariknya, UIN Ar-Raniry lahir bukan pada suasana Indonesia yang sepenuhnya tenang.


Tahun 1963 adalah masa ketika bangsa Indonesia sedang berada dalam pergolakan politik, sosial dan ideologi yang sangat kuat. Hanya dua tahun kemudian bangsa ini menghadapi tragedi G30S 1965. Jauh sebelumnya, Indonesia juga telah melewati pemberontakan Madiun 1948 yang memperlihatkan betapa seriusnya pertarungan ideologi dalam perjalanan republik.


Dalam suasana seperti itu, kehadiran perguruan tinggi Islam memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang kuliah.


Perguruan tinggi Islam dibutuhkan untuk melahirkan manusia terdidik yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus pijakan moral dan keagamaan. Ia menjadi bagian dari ikhtiar bangsa untuk menjaga keseimbangan antara ilmu, iman dan pengabdian.


Di titik inilah peran Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri menjadi penting dalam sejarah kelahiran IAIN Ar-Raniry.


Beliau bukan hanya seorang pejabat negara. Di tengah masyarakat Aceh yang memiliki tradisi keulamaan dan penghormatan yang kuat terhadap ilmu agama, kehadiran Menteri Agama yang juga ulama tentu mempunyai makna tersendiri.


Ada sebuah kisah personal yang selalu membuat saya tersenyum.


Menurut almarhum ayah saya, nama Saifuddin yang diberikan kepada saya terinspirasi dari sosok KH Saifuddin Zuhri.


Ketika KH Saifuddin Zuhri datang ke Darussalam Banda Aceh meresmikan IAIN Ar-Raniry pada Oktober 1963, saya baru berusia sekitar tujuh bulan. Saya lahir pada Februari tahun yang sama.


Beberapa waktu lalu kisah kecil ini saya ceritakan kepada putra beliau, KH Lukman Hakim Saifuddin saat beliau berkesempatan singgah di masjid Fahun Qarib. Beliau tersenyum dan berkelakar, sesama Saifuddin tidak boleh saling menyakiti.


Hehe.


Kisah kecil itu tentu bukan bagian dari sejarah institusi. Tetapi bagi saya, ia menjadi jembatan emosional antara sebuah nama, sebuah generasi, sebuah tokoh dan sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah berusia 63 tahun. Saya kemudian lulus sebagai sarjana menjadi alumni ke 7 Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry pada tahun 1988.


Zikir sebagai cara membaca sejarah


Karena itu, zikir dan doa setiap 5 Oktober di Masjid Fathun Qarib sesungguhnya mempunyai filosofi yang sangat dalam.


UINAR tidak hanya mengenang sejarah dengan seminar, spanduk, seremoni atau rapat senat. Ia mengenang sejarah dengan menengadahkan tangan kepada Allah.


Ini penting.


Sebab semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula kesadaran bahwa kemampuan manusia memiliki batas.


Ikhtiar memang harus maksimal. Keahlian harus dikerahkan. Sumber daya harus dimanfaatkan. Manajemen harus diperbaiki. Mutu akademik harus ditingkatkan. Riset harus diperkuat. Publikasi harus diperluas. Jejaring internasional harus dibangun.


Tetapi setelah semua itu dilakukan, manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah.


Dalam bahasa Al-Qur’an:


“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

(QS. Thaha: 114).


Ayat ini sangat tepat diletakkan dalam perjalanan sebuah universitas.


Sebab universitas pada hakikatnya adalah rumah ilmu. Namun ilmu tanpa petunjuk dapat kehilangan arah, sedangkan semangat tanpa ilmu dapat kehilangan daya.


Maka UINAR membutuhkan keduanya: ilmu yang tinggi dan hati yang tunduk kepada Ilahi.


Ada naik, ada turun, tetapi jangan berhenti menaik


Enam puluh tiga tahun perjalanan tentu tidak semuanya lurus dan mulus.


Ada masa naik, ada masa turun. Ada periode cepat, ada periode lambat. Ada keberhasilan yang patut dirayakan, ada kekurangan yang harus diperbaiki.


Itu hukum kehidupan.


Yang penting bukan apakah sebuah institusi pernah mengalami perlambatan, melainkan apakah setelah perlambatan itu ia menemukan jalan untuk bergerak kembali.


Di sinilah kita dapat melihat satu tanda yang menggembirakan: perjalanan UIN Ar-Raniry terus menemukan jalan menaik.


Setiap generasi pimpinan, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa memberikan warna masing-masing. Setiap periode melahirkan tantangan dan peluang baru.


Karena itu, milad jangan hanya dijadikan momentum untuk mengatakan, “Kita sudah sampai di sini.”


Justru harus menjadi pertanyaan:


Setelah 63 tahun, kita hendak membawa UINAR ke mana?


Menyambut universitas bertaraf internasional


Tantangan ke depan tentu berbeda dengan tantangan tahun 1963.


Dunia pendidikan tinggi sekarang tidak lagi hanya bersaing dalam lingkup kota atau provinsi. Bahkan tidak cukup bersaing dalam lingkup nasional.


Universitas dituntut mampu memasuki ruang global.


Mahasiswa harus mampu berinteraksi dengan dunia internasional. Dosen harus memiliki jejaring akademik yang luas. Riset harus menjawab persoalan kemanusiaan. Publikasi harus menembus batas negara. Teknologi harus dikuasai. Bahasa asing harus diperkuat.


Tetapi dalam perjalanan menuju internasionalisasi itu, UINAR tidak boleh kehilangan identitas.


Justru kekuatan UINAR terletak pada kemampuannya mempertemukan keislaman, keacehan, keindonesiaan dan keilmuan universal.


Nama Ar-Raniry sendiri mengingatkan kita pada tradisi intelektual Aceh yang pernah berbicara kepada dunia Melayu-Nusantara.


Maka menjadi universitas bertaraf internasional bukan berarti meninggalkan akar.


Sebaliknya, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin dalam akarnya harus menancap.


Apa yang harus dilakukan civitas akademika?


Bagi dosen, milad ke-63 harus menjadi momentum memperbarui semangat akademik. Jangan berhenti mengajar; teruslah meneliti, menulis, membimbing dan melahirkan gagasan.


Bagi tenaga kependidikan, milad harus memperkuat kesadaran bahwa pelayanan yang baik adalah bagian dari ibadah kelembagaan.


Bagi mahasiswa, jangan melihat UINAR hanya sebagai tempat memperoleh ijazah. Jadikan kampus ini sebagai tempat menempa karakter, memperluas wawasan, membangun jejaring dan mempersiapkan diri menjadi manusia yang berguna.


Dan bagi para pemimpin, milad adalah momentum untuk menjaga amanah.


Sebab jabatan akan berganti. Gedung akan berubah. teknologi akan berkembang. Nama-nama pejabat akan berganti dalam buku sejarah.


Tetapi legacy akan tetap dikenang.


Karena itu, tangan-tangan yang hari ini memegang kendali UINAR harus terus menorehkan hal-hal baru dalam penguatan dan pengembangan lembaga.


Kita boleh menyusun strategi dengan sangat baik, tetapi tetap harus menyadari bahwa tangan manusia pada akhirnya berada dalam genggaman kekuasaan Allah.


Di situlah ikhtiar bertemu tawakal.


Milad bukan berhenti mengenang, tetapi mulai melangkah


Enam puluh tiga tahun adalah usia yang patut disyukuri.


Bukan karena UINAR sudah sempurna. Justru karena ia telah mampu bertahan, tumbuh dan terus memperbaiki diri selama lebih dari enam dekade.


Maka zikir dan doa setiap 5 Oktober hendaknya tidak berhenti sebagai tradisi tahunan.


Ia harus menjadi reminder kelembagaan.


Mengingat masa lalu agar tidak kehilangan akar. Mensyukuri masa kini agar tidak kufur terhadap nikmat. Dan menatap masa depan agar tidak kehilangan arah.


Allah berfirman:


“Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.”

(QS. Luqman: 12).


Barangkali inilah makna terdalam Milad ke-63 UIN Ar-Raniry.


Kita tidak sedang sekadar menghitung umur sebuah perguruan tinggi.


Kita sedang menghitung jejak kebaikan yang telah ditinggalkan.


Kita sedang menghitung berapa banyak generasi yang telah dididik.


Berapa banyak ilmu yang telah ditularkan.


Berapa banyak keluarga yang berubah karena pendidikan anak-anaknya.


Berapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat.


Dan yang paling penting, berapa banyak manusia yang setelah menempuh pendidikan di kampus ini kemudian mampu memberi manfaat bagi umat, bangsa dan kemanusiaan.


Selamat Milad ke-63 UIN Ar-Raniry.


Teruslah berjalan bersama masyarakat.


Teruslah menjadi rumah ilmu bagi Aceh dan Indonesia.


Teruslah memperkuat akar keislaman, keacehan dan keindonesiaan.


Dan teruslah membuka pintu menuju dunia internasional.


63 tahun telah berlalu.

Sejarah telah ditulis.

Tugas berikutnya adalah menulis sejarah baru.


Semoga setiap langkah UIN Ar-Raniry selalu mendapat kemudahan, keberkahan dan ridha Allah Ta’ala.


Selamat Milad ke-63 UIN Ar-Raniry.


Dari Darussalam untuk Indonesia, dari Aceh untuk dunia.


Wallahu a’lam bish-shawab.


Darussalam 5 Oktober 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update