-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Milad ke-63 UIN Ar-Raniry: Jangan Hanya Menikmati Warisan, Siapkan Warisan untuk Generasi Berikutnya

Minggu, 04 Oktober 2026 | Oktober 04, 2026 WIB Last Updated 2026-10-05T04:24:23Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Memasuki usia ke-63 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh tidak cukup hanya mengenang perjalanan panjang dan jasa para pendahulu. Generasi yang mengelola kampus hari ini harus mampu memastikan universitas tersebut terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.


Pesan itu disampaikan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Mujiburrahman, M.Ag., saat memberikan sambutan pada acara zikir dan doa bersama memperingati Milad ke-63 UIN Ar-Raniry, Senin (5/10/2026), di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry.


“Demi keberlanjutan universitas tercinta ini hingga ratusan atau ribuan tahun ke depan, dibutuhkan dedikasi, pengabdian, dan perjuangan seluruh sivitas akademika UIN Ar-Raniry,” kata Prof. Mujiburrahman.


Menurutnya, usia 63 tahun merupakan perjalanan panjang yang patut disyukuri. Selama lebih dari enam dekade, UIN Ar-Raniry telah melewati berbagai tantangan zaman, bertransformasi, dan melahirkan puluhan ribu alumni yang kemudian berkiprah sebagai ulama, pemikir, birokrat, akademisi, cendekiawan, serta profesional di berbagai bidang.


Namun, perjalanan panjang tersebut sekaligus menghadirkan tanggung jawab baru bagi generasi sekarang.


“Pada hari ini, saya mengajak kita semua untuk bahu-membahu mengelola, menjaga, merawat, dan memajukan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sehingga dedikasi kita kelak juga dapat dikenang oleh generasi penerus di masa mendatang,” ujarnya.


Bukan Sekadar Milad


Prof. Mujiburrahman menegaskan, peringatan Milad UIN Ar-Raniry bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni untuk menandai bertambahnya usia institusi.


Momentum tersebut menjadi ruang untuk bersyukur sekaligus melakukan refleksi tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat bertahan melewati perubahan zaman.


Ia menyebut tidak semua lembaga pendidikan tinggi mampu mencapai usia panjang. Di Aceh maupun berbagai daerah di Indonesia, terdapat perguruan tinggi yang hanya sempat merayakan usia 10, 20, 30 atau 40 tahun sebelum akhirnya berhenti beroperasi karena berbagai kondisi.


Karena itu, keberadaan UIN Ar-Raniry hingga usia 63 tahun, menurut Rektor, merupakan nikmat yang patut disyukuri sekaligus amanah yang harus dijaga.


“Kita patut bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para pendiri serta pimpinan UIN Ar-Raniry sejak periode awal hingga periode penerus yang telah berjuang dengan penuh ketulusan, dedikasi, dan pengabdian demi kemajuan kampus ini,” katanya.


Rangkaian zikir dan doa yang dilaksanakan setiap 5 Oktober juga menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah lebih dahulu membangun dan mengembangkan UIN Ar-Raniry.


Melalui doa bersama, sivitas akademika mendoakan para pendiri, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh pendahulu yang telah wafat agar memperoleh pahala jariyah atas pengabdian mereka.


Dari Warisan Menjadi Pewaris


Pesan penting Rektor pada Milad ke-63 itu pada akhirnya bermuara pada satu kesadaran: generasi sekarang bukan sekadar penerima warisan, tetapi juga calon pemberi warisan.


UIN Ar-Raniry yang dinikmati hari ini merupakan hasil kerja keras generasi sebelumnya. Karena itu, tugas generasi sekarang bukan hanya menggunakan fasilitas, reputasi, dan nama besar yang diwariskan, tetapi juga menambahkan sesuatu yang lebih baik untuk generasi berikutnya.


Dalam konteks itulah Prof. Mujiburrahman mengajak seluruh sivitas akademika untuk memberikan dedikasi terbaik.


Jika generasi terdahulu telah meletakkan fondasi, generasi hari ini harus memperkuat bangunan. Jika pendahulu telah membangun reputasi, generasi sekarang harus meningkatkan mutu. Dan jika para pendiri telah meninggalkan warisan kelembagaan, generasi sekarang harus memastikan warisan tersebut tetap relevan menghadapi perubahan zaman.


Prof Yusny Saby Buka Rekam Sejarah


Pada kegiatan tersebut, Rektor juga menyampaikan bahwa Prof. Drs. H. Yusny Saby, M.A., Ph.D., akan memaparkan sejarah panjang perjalanan UIN Ar-Raniry.


Prof. Mujiburrahman menyebut Prof. Yusny Saby sebagai rektor senior sekaligus guru bagi keluarga besar UIN Ar-Raniry.


Menurutnya, Prof. Yusny Saby telah menyiapkan berbagai dokumen historis, termasuk catatan dan buku yang merekam pelaksanaan Milad pertama pada 1964.


“Berbagai rekam jejak dan perkembangan UIN Ar-Raniry akan disampaikan langsung oleh beliau,” ujar Prof. Mujiburrahman.


Paparan sejarah tersebut dinilai penting agar generasi sekarang tidak kehilangan hubungan dengan akar sejarah lembaganya.


Sebab, sebuah universitas yang ingin melangkah jauh ke masa depan harus mengetahui dari mana ia berasal.


Milad Berlanjut hingga November


Rektor juga menginformasikan berbagai kegiatan yang telah disiapkan untuk memeriahkan Milad ke-63 UIN Ar-Raniry, termasuk pertandingan sepak bola Rektor Cup.


Sementara itu, Family Gathering keluarga besar UIN Ar-Raniry dijadwalkan berlangsung 1 November 2026. Kegiatan tersebut akan dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan aksi donor darah yang dikoordinasikan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry.


Puncak Milad ke-63 akan dilaksanakan pada 5 November 2026 dalam Rapat Senat Terbuka.


Dalam momentum tersebut, UIN Ar-Raniry juga akan menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa yang dirangkaikan dengan orasi ilmiah oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.


Prof. Mujiburrahman turut menyampaikan apresiasi kepada Ustadz H. Zamhuri, M.A., pimpinan Zawiyah Nurun Nabi, yang setiap tahun mendampingi keluarga besar UIN Ar-Raniry dalam memimpin zikir dan doa pada momentum Milad.


Terima kasih juga disampaikan kepada panitia di bawah koordinasi Wakil Rektor II yang telah mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan selama sebulan terakhir.


Bagi Rektor, Milad ke-63 bukan sekadar tentang angka usia. Ia adalah titik temu antara syukur atas masa lalu, tanggung jawab pada masa kini, dan ikhtiar menyiapkan masa depan.


“Dibutuhkan dedikasi, pengabdian, dan perjuangan seluruh sivitas akademika UIN Ar-Raniry,” tegasnya.


Dari Masjid Fathun Qarib, pesan itu menemukan makna yang lebih dalam: para pendahulu telah meninggalkan warisan; tugas generasi sekarang adalah merawatnya, mengembangkannya, dan kelak meninggalkan warisan yang lebih baik bagi generasi sesudahnya.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update