-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tausiyah Zuhur di Fathun Qarib, Dr Barmawi: Nafsu Dikendalikan, Akal Digunakan, Hati Dihidupkan

Selasa, 06 Oktober 2026 | Oktober 06, 2026 WIB Last Updated 2026-10-07T06:13:10Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Akademisi Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Barmawi, mengajak umat menjaga keseimbangan antara nafsu, akal, dan hati dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, manusia akan menemukan kehidupan yang lebih sehat dan harmonis apabila ketiga unsur tersebut dikelola secara proporsional.


Pesan itu disampaikan Dr Barmawi dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).


“Manusia yang manis adalah manusia yang memiliki empati dan peduli terhadap orang lain. Namun, manusia yang hanya mengedepankan insting atau nafsunya saja juga akan menghadapi masalah. Karena itu, dalam kehidupan manusia diperlukan keseimbangan,” ujar Dr Barmawi.


Ia menjelaskan, manusia memiliki sedikitnya lima kebutuhan dasar, yakni kebutuhan biologis, rasa aman, kebutuhan sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Kelima kebutuhan tersebut, katanya, harus berjalan secara seimbang agar manusia dapat berkembang secara sehat, baik secara fisik maupun psikologis.


Menurut Dr Barmawi, prinsip keseimbangan juga berlaku dalam kondisi kejiwaan manusia. Ia menggambarkan tiga unsur penting yang perlu dikelola, yakni nafsu amarah, akal, dan hati atau nafsu muthmainnah.


“Secara sederhana, kita bisa menggambarkannya dengan pembagian nafsu 15 persen, akal 35 persen, dan hati 50 persen,” katanya.


Nafsu Bukan untuk Dimatikan


Dr Barmawi mengatakan, nafsu amarah tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Nafsu merupakan bagian dari diri manusia yang memiliki fungsi sebagai pendorong untuk bekerja, bergerak, dan mempertahankan diri.


Bahkan, menurutnya, rasa marah dalam batas tertentu juga diperlukan. Ketika seseorang dihina atau hak dan hartanya dirampas, misalnya, munculnya rasa marah merupakan respons manusiawi.


“Yang menjadi masalah adalah ketika marah dan emosi tidak digunakan secara proporsional. Artinya, semuanya harus seimbang,” jelasnya.


Ia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Yusuf tentang nafsu yang cenderung mendorong manusia kepada keburukan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah.


Dr Barmawi juga mengutip sebuah perumpamaan yang dinisbatkan kepada Sulaiman Al-Juli, yang menggambarkan nafsu seperti anak kecil yang sedang menyusu kepada ibunya. Jika tidak dihentikan, anak tersebut akan terus menyusu hingga dewasa.


Perumpamaan itu, katanya, menunjukkan bahwa insting dan nafsu yang tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi kebiasaan, bahkan adiksi.


“Karena itu, nafsu bukan untuk dimatikan, tetapi untuk dikendalikan dan diarahkan,” tegasnya.


Akal untuk Menimbang


Unsur kedua yang perlu dikelola adalah akal. Dr Barmawi menjelaskan, akal berfungsi mengelola, menimbang, dan mengolah logika manusia.


Dengan akal, manusia mampu berpikir rasional dan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan. Akal pula yang membantu manusia agar tidak mudah melakukan tindakan yang merusak, mengganggu, iri, dengki, khianat, sombong, maupun angkuh terhadap orang lain.


Namun, ia mengingatkan agar manusia tidak menjadikan akal sebagai satu-satunya ukuran dalam kehidupan.


Ada hal-hal tertentu yang terdapat dalam Al-Qur’an yang belum tentu dapat langsung dipahami melalui logika manusia. Karena itu, sesuatu yang belum masuk dalam kemampuan logika seseorang tidak serta-merta berarti sesuatu tersebut salah.


“Tidak semua hal dalam kehidupan dapat diukur hanya dengan logika manusia. Akal penting, tetapi akal juga membutuhkan keseimbangan dengan hati,” katanya.


Hati Harus Tetap Hidup


Unsur ketiga adalah hati. Menurut Dr Barmawi, hati memiliki peran penting dalam membangun empati, kasih sayang, kepedulian, dan kehidupan sosial manusia.


Orang yang kehilangan kepekaan hati, katanya, dapat kehilangan empati terhadap lingkungan sekitarnya.


Ia memberikan contoh seseorang yang enggan bersedekah karena terlalu takut kehilangan harta. Kekhawatiran terhadap berkurangnya harta tersebut membuat seseorang tidak lagi peduli terhadap kesulitan orang lain.


“Manusia membutuhkan empati, kasih sayang, kepedulian, dan rasa sosial. Karena itu, hati harus hidup,” ujarnya.


Dr Barmawi kemudian menyederhanakan keseimbangan tersebut dalam tiga angka: nafsu 15 persen, akal 35 persen, dan hati 50 persen.


Nafsu tetap diperlukan, tetapi tidak boleh mendominasi. Akal digunakan untuk berpikir, menimbang, dan mengambil keputusan secara rasional. Sedangkan hati mendapatkan porsi terbesar karena dari sanalah lahir empati, kasih sayang, kepedulian, keikhlasan, dan rasa kemanusiaan.


Menurutnya, dominasi salah satu unsur secara berlebihan juga dapat menimbulkan persoalan.


Jika manusia hanya mengikuti nafsu, kehidupannya akan mudah dikendalikan keinginan dan emosi. Sebaliknya, jika akal terlalu dominan dan hati diabaikan, manusia dapat kehilangan kepekaan sosial dan kemanusiaannya.


“Keindahan manusia terletak pada keseimbangan antara nafsu, akal, dan hati,” pungkas Dr Barmawi.


Ia merangkum pesan tausiyahnya dengan tiga kalimat sederhana: nafsu kita kendalikan, akal kita gunakan, dan hati kita hidupkan.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update