Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Saya masih mengingat malam itu dengan sangat jelas. Sekira menjelang pertengahan tahun 1990. Waktu di Cijantung Jakarta Timur menunjukkan sekitar pukul 3 dinihari, satu jam menjelang azan Subuh. Saya baru saja menerima kembali draf Term of Reference (TOR) Lokakarya Nasional tentang Bunga Bank dan Perbankan dalam Islam dari Prof. MAA (M. Amin Aziz), sosok yang bukan saja menjadi atasan saya, tetapi juga guru yang sangat saya hormati.
Naskah itu kembali kepada saya bukan dalam keadaan bersih, melainkan dipenuhi coretan tinta merah hampir di setiap halaman. Hampir tidak ada bagian yang luput dari koreksi beliau.
Di sela-sela penjelasan terhadap berbagai kekurangan itu, beliau menyampaikan sebuah nasihat yang hingga hari ini masih terpatri kuat dalam ingatan saya. “Saif, lakukan setiap pekerjaan dengan niat ibadah. Lakukan yang terbaik. Bekerjalah sesuai konsep ahsanu ’amalan. Dalam bahasa manajemen sekarang disebut service excellent.”
Saya tertegun. Ada rasa malu melihat begitu banyak kekurangan dalam pekerjaan saya. Namun bersamaan dengan itu tumbuh semangat yang sangat besar untuk terus belajar menulis TOR, proposal, dan berbagai dokumen akademik dengan lebih baik.
Tanpa terasa, air mata menetes. Air mata karena malu kepada guru yang telah bersusah payah membimbing saya, sekaligus haru karena memperoleh nasihat yang begitu dalam maknanya.
Sejak malam itu, saya merasakan perlahan tetapi pasti terjadi perubahan dalam cara saya memandang pekerjaan. Saya mulai memahami bahwa kualitas kerja bukan sekadar ukuran profesionalitas, melainkan juga cermin kualitas ibadah.
Pengalaman tersebut sedikit demi sedikit membentuk performa, karakter, dan semangat saya dalam bekerja hingga hari ini.
Ahsanu ‘Amalan
Konsep yang disampaikan guru saya sesungguhnya berakar kuat dalam ajaran Islam. Allah Swt. berfirman: “Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya (ahsanu ’amalan).” (QS. Al-Mulk: 2).
Menariknya, ayat ini tidak menggunakan ungkapan aktsaru ’amalan (yang paling banyak amalnya), melainkan ahsanu ’amalan (yang paling baik amalnya).
Islam ternyata lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Yang dinilai bukan semata banyaknya pekerjaan, melainkan mutu pelaksanaannya.
Hal ini dipertegas oleh sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya (itqan).” (HR. al-Baihaqi).
Hadis ini menjadi fondasi etika profesional dalam Islam. Kesungguhan, ketelitian, tanggung jawab, dan penyempurnaan pekerjaan merupakan bagian dari kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
Dalam tafsirnya, ulama besar Suriah, Wahbah az-Zuhaili, menjelaskan bahwa ahsanu ’amalan bukan hanya berarti amal yang banyak, tetapi amal yang paling ikhlas, paling benar, paling sesuai tuntunan syariat, serta paling sempurna pelaksanaannya.
Menurut beliau, kualitas amal lahir dari perpaduan keikhlasan niat dan ketepatan cara melaksanakannya. Amal yang besar sekalipun kehilangan nilainya apabila tidak dilakukan dengan benar, sedangkan pekerjaan sederhana dapat menjadi sangat mulia apabila dikerjakan secara profesional karena Allah.
Pandangan senada dikemukakan oleh Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Hamka menjelaskan bahwa kehidupan adalah arena ujian mutu, bukan sekadar ujian jumlah pekerjaan. Seorang pedagang, guru, pegawai negeri, petani, dosen, pemimpin, bahkan seorang ibu rumah tangga, semuanya sedang diuji melalui kualitas pekerjaannya.
Oleh sebab itu, setiap profesi dapat menjadi jalan menuju kemuliaan apabila dijalankan dengan amanah, jujur, dan penuh tanggung jawab.
Service Excellence
Dalam ilmu manajemen modern, konsep ini dikenal sebagai service excellence atau pelayanan prima. Tokoh pemasaran Philip Kotler menjelaskan bahwa kualitas pelayanan adalah kemampuan memenuhi bahkan melampaui harapan pelanggan.
Sementara A. Parasuraman, bersama para koleganya, mengembangkan konsep SERVQUAL yang menekankan lima dimensi utama pelayanan berkualitas, yaitu keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti fisik (tangibles).
Jika dicermati lebih dalam, kelima dimensi tersebut sesungguhnya memiliki irisan yang sangat kuat dengan nilai-nilai Islam. Keandalan identik dengan amanah; daya tanggap mencerminkan kepedulian; jaminan lahir dari kompetensi dan kejujuran; empati merupakan manifestasi akhlak mulia; sedangkan bukti fisik menunjukkan pentingnya kerapian, kebersihan, dan profesionalitas.
Dengan demikian, service excellence dalam perspektif Islam bukan sekadar strategi memenangkan persaingan bisnis, tetapi bagian dari implementasi ahsanu ’amalan.
Tanggung Jawab
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari kita masih sering menemukan rendahnya rasa tanggung jawab dan budaya melayani. Masih ada pegawai yang datang terlambat, pulang lebih cepat, bekerja sekadarnya, serta menganggap pelayanan sebagai beban, bukan amanah.
Di sektor bisnis, masih dijumpai pelayanan yang lamban, kurang ramah, dan kurang berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Di dunia pendidikan, masih terdapat praktik mengajar sekadar menggugurkan kewajiban tanpa upaya memberikan pengalaman belajar terbaik.
Di birokrasi, masyarakat kadang masih menghadapi pelayanan yang berbelit, lambat, dan kurang responsif.
Dalam politik, pelayanan kepada rakyat tidak jarang kalah oleh kepentingan kelompok atau kepentingan elektoral.
Bahkan dalam kehidupan rumah tangga dan organisasi kemasyarakatan, budaya melayani sering kali tergantikan oleh budaya ingin dilayani.
Berbagai survei menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik Indonesia memang terus mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Penilaian nasional terhadap penyelenggaraan pelayanan publik oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menunjukkan tren peningkatan kualitas layanan di banyak instansi pemerintah.
Demikian pula survei kepatuhan pelayanan publik oleh Ombudsman Republik Indonesia memperlihatkan semakin banyak kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga yang masuk kategori kepatuhan tinggi.
Namun demikian, berbagai evaluasi tersebut juga menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas antarinstansi dan antarwilayah, sehingga budaya pelayanan prima belum sepenuhnya mengakar secara merata.
Tujuh Langkah
Karena itu, membangun budaya ahsanu ’amalan harus dimulai dari pembentukan karakter sejak dini. Ada tujuh langkah yang layak ditempuh.
Pertama, keluarga harus menjadi sekolah pertama yang menanamkan nilai amanah, disiplin, tepat waktu, dan menyelesaikan tugas hingga tuntas.
Kedua, sekolah dan perguruan tinggi perlu mengajarkan etos kerja, profesionalisme, pelayanan, dan tanggung jawab sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan hanya teori akademik.
Ketiga, lingkungan masyarakat perlu membangun budaya saling menghargai, saling membantu, dan menghormati hak orang lain sehingga semangat melayani tumbuh sebagai kebiasaan sosial.
Keempat, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan organisasi profesi perlu menerapkan standar mutu yang jelas, sistem evaluasi berkala, serta penghargaan terhadap kinerja terbaik.
Kelima, birokrasi pemerintah harus memperkuat sistem pelayanan yang sederhana, cepat, transparan, berbasis digital, sekaligus memberi sanksi tegas terhadap pelayanan yang buruk.
Keenam, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, dan masjid hendaknya terus menghidupkan dakwah tentang amanah, itqan, dan ahsanu ’amalan, sehingga etos kerja dipahami sebagai bagian dari ibadah.
Ketujuh, setiap individu perlu melakukan muhasabah setiap hari dengan bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah pekerjaan saya hari ini sudah merupakan amal terbaik yang layak saya persembahkan kepada Allah?”
Langkah Maju
Sesungguhnya bangsa yang maju tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi atau besarnya anggaran, tetapi juga oleh manusia-manusia yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi dan semangat memberikan pelayanan terbaik.
Negara-negara yang unggul umumnya memiliki budaya disiplin, menghargai waktu, profesional, dan berorientasi pada kualitas. Islam telah mengajarkan semua itu lebih dari empat belas abad yang lalu melalui konsep ahsanu ’amalan.
Nasihat guru saya pada malam menjelang Subuh itu kini semakin saya pahami maknanya. Setiap lembar yang dipenuhi tinta merah ternyata bukan sekadar koreksi sebuah TOR, melainkan proses membentuk karakter. Tinta merah itu sesungguhnya sedang mengajarkan bahwa kualitas pekerjaan adalah cermin kualitas iman.
Ketika setiap pekerjaan dilakukan dengan niat ibadah, penuh tanggung jawab, dan semangat memberikan pelayanan terbaik, maka pekerjaan tidak lagi sekadar rutinitas mencari nafkah, tetapi berubah menjadi jalan menuju kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 23 Muharram 1448, 8 Juli 2026
(Penulis akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
