-->

Notification

×

Iklan

Iklan

KUD-KUA dan Keseimbangan Dunia Akhirat

Minggu, 05 Juli 2026 | Juli 05, 2026 WIB Last Updated 2026-07-05T08:39:45Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Perjumpaan saya dengan Pak Saidi, seorang kawan lama, kemarin selepas shalat Asar di Masjid Kueh Keudebieng, Lhoknga, memicu sebuah diskusi yang menarik tentang keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Kami berbincang singkat mengenai perjalanan hidup setelah sekian lama menjalani berbagai profesi dan tanggung jawab. 


Awalnya ketika saya tanya sibuk apa sekarang, secara berseloroh Pak Saidi menjawab sibuk di KUA, kerja untuk akhirat. Karena dulu kita sibuk di KUD, kerja untuk dunia hehe. Kami pernah satu tim dulu sama sama di manajemen sebuah perusahaan besar di kawasan Lhoknga, kala masih aktif. 


Pada akhirnya, pembicaraan singkat kami sore itu bermuara pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana manusia telah menyeimbangkan ikhtiar untuk kehidupan dunia dengan persiapan menuju kehidupan akhirat? 


Diskusi singkat itu mengingatkan bahwa persoalan keseimbangan dunia dan akhirat bukan hanya tema kajian para ulama, tetapi juga menjadi renungan setiap muslim sepanjang hidupnya.


Seimbang


Dalam perspektif Islam, dunia adalah kehidupan yang sedang dijalani manusia saat ini, tempat Allah memberikan amanah, ujian, kesempatan beramal, dan ladang untuk menanam kebajikan. Sementara akhirat adalah kehidupan setelah kematian yang bersifat kekal, tempat setiap manusia mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah SWT. Dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat merupakan kehidupan yang abadi.


Menariknya, Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat seimbang terhadap kedua dimensi kehidupan tersebut. 


Kata ad-dunya (dunia) disebut sekitar 115 kali, sedangkan kata al-akhirah (akhirat) juga disebut sekitar 115 kali dalam berbagai bentuk. 


Kesetaraan jumlah penyebutan ini sering dipahami oleh banyak ulama sebagai isyarat bahwa Islam tidak menghendaki manusia hanya mengejar salah satunya, melainkan mampu menempatkan keduanya secara proporsional. Dunia tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh dijadikan tujuan akhir kehidupan.


Ulama besar Mesir, Mutawalli Asy-Sya’rawi, menjelaskan bahwa dunia adalah “mazra’atul akhirah”, ladang tempat manusia menanam amal yang hasilnya akan dipanen di akhirat. 


Menurut beliau, seseorang tidak diperintahkan meninggalkan urusan dunia, melainkan menjadikan seluruh aktivitas dunia bernilai ibadah melalui niat yang benar dan pelaksanaan yang sesuai syariat. 


Bekerja, berdagang, mengajar, bertani, memimpin, hingga mengurus keluarga merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan karena Allah dan mengikuti ketentuan-Nya.


Pandangan yang hampir senada disampaikan oleh Yusuf Al-Qaradawi. Dalam berbagai karya beliau dijelaskan bahwa Islam menolak dua sikap yang sama-sama berlebihan, yaitu tenggelam dalam materialisme hingga melupakan akhirat dan meninggalkan dunia dengan alasan mengejar ibadah semata. 


Al-Qaradawi menegaskan konsep wasathiyah atau jalan tengah sebagai karakter utama Islam. Seorang muslim ideal adalah mereka yang produktif membangun peradaban, menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan ekonomi, serta aktif memberi manfaat kepada masyarakat, namun seluruh aktivitas tersebut diarahkan untuk memperoleh keridaan Allah SWT.


Singkatnya Dunia


Hakikat dunia sebenarnya sangat singkat. Berapa pun usia manusia, semuanya akan berakhir pada kematian. Hari ini seseorang mungkin memiliki jabatan, kekayaan, dan popularitas, tetapi esok hari semua itu dapat terputus oleh datangnya ajal. 


Karena itu para ulama sering mengingatkan bahwa dunia adalah perjalanan yang terbatas menuju pintu kematian. Sebaliknya, akhirat adalah kehidupan yang tidak mengenal akhir. Di sanalah kebahagiaan atau penyesalan berlangsung selama-lamanya. 


Kesadaran bahwa dunia akan berakhir esok atau kapan saja, sedangkan akhirat berlangsung abadi, seharusnya melahirkan skala prioritas yang benar dalam menjalani kehidupan.


Harus Dengan Ilmu


Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai hubungan ilmu, dunia, dan akhirat. 


Beliau mengutip hadis yang sangat populer: “Barang siapa menghendaki dunia maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menghendaki keduanya maka hendaklah dengan ilmu.” 


Walaupun para ahli hadis kemudian menjelaskan bahwa riwayat tersebut tidak mencapai derajat hadis sahih, Al-Ghazali menjadikan maknanya sebagai prinsip pendidikan Islam. 


Menurut beliau, ilmu merupakan cahaya yang mengarahkan manusia agar mampu mengelola urusan dunia secara benar sekaligus mempersiapkan bekal menuju akhirat. Tanpa ilmu, seseorang mudah terjerumus kepada kesalahan, baik dalam urusan ekonomi, ibadah, keluarga, maupun kehidupan sosial.


Bahaya Sekularisasi 


Di tengah derasnya arus modernisasi, tantangan terbesar umat Islam adalah munculnya cara pandang sekular yang memisahkan urusan dunia dengan agama. 


Dalam konsep sekularisasi, pekerjaan, bisnis, politik, pendidikan, dan aktivitas sosial dipandang sebagai wilayah yang terpisah dari nilai-nilai ketuhanan. 


Padahal Islam justru memandang seluruh aspek kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh. Tidak ada dikotomi antara dunia dan akhirat selama seluruh aktivitas dunia dijalankan berdasarkan nilai-nilai syariat.


Karena itu, seorang muslim perlu mengelola kehidupannya secara seimbang. 


Pertama, luruskan niat bahwa seluruh pekerjaan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. 


Kedua, jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam mengambil keputusan, baik dalam urusan keluarga, ekonomi, maupun sosial. 


Ketiga, alokasikan waktu secara proporsional antara bekerja, beribadah, menuntut ilmu, membina keluarga, dan mengabdi kepada masyarakat. 


Keempat, kelola harta dengan cara yang halal serta menjadikannya sarana memperbanyak sedekah dan amal sosial. 


Kelima, biasakan melakukan muhasabah agar keberhasilan dunia tidak melalaikan persiapan menuju kehidupan akhirat.


Islam tidak pernah mengajarkan manusia memilih antara dunia atau akhirat. Islam justru mengajarkan bagaimana dunia menjadi kendaraan menuju akhirat. 


Seorang muslim yang bekerja dengan jujur, mencari nafkah yang halal, membangun keluarga yang saleh, menebarkan ilmu, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan tetap memelihara ibadahnya, sesungguhnya sedang mengumpulkan bekal bagi kehidupan yang kekal.


Khulashah


Pada akhirnya, keseimbangan dunia dan akhirat merupakan ciri kematangan seorang mukmin. 


Dunia dijalani dengan penuh tanggung jawab, sementara hati tetap tertambat kepada akhirat. 


Dengan keseimbangan inilah manusia akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana doa yang setiap hari kita panjatkan: “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ’adzaban nar.” 


Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, serta melindungi kita dari azab neraka.


Wallahu a’lam


Banda Aceh, 20 Muharram 1448, 5 Juli 2026


(Penulis adalah Imumsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar, Bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update