-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Shalat Irit, Malas ke Masjid

Sabtu, 24 Oktober 2026 | Oktober 24, 2026 WIB Last Updated 2026-10-24T14:29:01Z


Dari spontanitas seorang anak, kita belajar tentang kebiasaan orang dewasa


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah kejadian kecil di rumah yang membuat saya tersenyum sekaligus berpikir. Kejadiannya berlangsung pada waktu Zuhur, pada hari libur, ketika saya berada di rumah bersama keluarga.


Seperti biasa, ketika azan Zuhur berkumandang, saya meminta Arsyad, cucu saya yang berusia tujuh setengah tahun, bersiap untuk ikut bersama saya ke masjid. Saya sendiri mulai menyiapkan diri agar dapat segera berangkat. Arsyad pun masuk ke kamarnya. Saya menunggu, tetapi ia tidak kunjung keluar. Dipanggil pun tidak menjawab.


Karena penasaran, saya menyusulnya ke kamar. Ternyata, Arsyad sedang shalat sendirian. Gerakan shalatnya berlangsung begitu ekspres, seolah-olah ingin segera menyelesaikan urusannya. Saya kemudian meninggalkannya dan beranjak keluar rumah. Sambil berlalu, saya berkomentar bahwa rupanya ia masuk kamar bukan untuk bersiap pergi ke masjid, melainkan langsung shalat sendiri.


Dari luar, sayup-sayup saya mendengar komentar neneknya, “Ya Allah, shalat sendirian, bukannya ke masjid.”


Saya tersenyum. Sebuah peristiwa sederhana, tetapi menyimpan banyak pelajaran. Arsyad sudah merespons azan dengan menunaikan shalat. Namun, ia belum sepenuhnya menangkap pesan yang ingin disampaikan kakeknya: bahwa shalat bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban, melainkan juga tentang belajar mencintai ibadah, menghargai waktu, dan membiasakan diri hidup bersama jamaah.


Dari situlah muncul istilah yang agak menggelitik: shalat irit, malas ke masjid.


Tentu saja, istilah ini bukan untuk menghakimi seorang anak. Justru, kisah Arsyad menjadi pintu masuk untuk merenungkan perilaku yang jauh lebih serius: ketika kebiasaan shalat secara terburu-buru dan keengganan ke masjid terus terbawa hingga seseorang dewasa.


Anak sedang belajar, bukan sedang dihakimi


Arsyad masih berusia tujuh setengah tahun. Pada usia ini, anak sedang membangun kebiasaan, memahami aturan, mengembangkan kemandirian, dan belajar menghubungkan apa yang diperintahkan orang dewasa dengan alasan di balik perintah tersebut.


Bisa jadi, dalam pikiran sederhana Arsyad, ketika azan terdengar, ia harus segera shalat. Ia pun melakukannya. Namun, karena belum sepenuhnya memahami tujuan pergi ke masjid, ia memilih cara yang menurutnya paling cepat dan praktis.


Kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa ia malas. Kita juga tidak dapat memastikan apa yang sebenarnya dipikirkannya tanpa bertanya langsung. Peristiwa itu justru mengingatkan kita bahwa anak-anak sedang berada dalam proses belajar dan membutuhkan pendampingan.


Rasulullah SAW memberikan pedoman pendidikan yang penting dalam hadis riwayat Abu Dawud nomor 495, yakni agar anak-anak diperintahkan shalat ketika berusia tujuh tahun. Hadis Sunan Abi Dawud tersebut menempatkan usia tujuh tahun sebagai awal pembiasaan shalat secara terarah. Dengan demikian, usia Arsyad memang merupakan masa yang tepat untuk menanamkan disiplin ibadah.


Namun, pembiasaan tidak cukup dengan perintah. Anak juga perlu melihat contoh, memahami alasan, merasakan suasana ibadah, dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan bersama orang-orang terdekatnya.


Dalam perspektif psikologi pendidikan, anak tidak hanya belajar melalui instruksi verbal. Ia juga belajar dengan mengamati perilaku orang dewasa, meniru kebiasaan, mencoba sendiri, lalu memperbaiki tindakannya berdasarkan pengalaman dan umpan balik.


Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Albert Bandura mengenai pembelajaran sosial: perilaku dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap model di lingkungan. Sementara itu, pemikiran Jean Piaget tentang perkembangan kognitif mengingatkan kita bahwa pemahaman anak berkembang secara bertahap. Anak belum tentu memahami suatu aturan dengan kedalaman pemahaman yang sama seperti orang dewasa.


Karena itu, ketika Arsyad memilih shalat sendirian di kamar, tugas kita bukan sekadar menegur bahwa ia salah memilih tempat. Kita perlu membantunya memahami mengapa kakeknya mengajak ke masjid, apa keistimewaan shalat berjamaah, dan bagaimana ia dapat memperoleh pengalaman beribadah bersama jamaah.


Kita bisa mengatakan kepadanya dengan lembut, “Alhamdulillah, Arsyad sudah mau shalat ketika mendengar azan. Sekarang, kalau azan berkumandang dan tidak ada halangan, yuk kita bersiap ke masjid bersama. Di sana kita shalat berjamaah, bertemu saudara sesama Muslim, dan belajar mengikuti imam.”


Dengan cara itu, anak memperoleh dua pesan sekaligus: shalatnya dihargai, sedangkan kebiasaan ke masjid tetap ditanamkan.


Ketika shalat menjadi sekadar menggugurkan kewajiban


Persoalannya berbeda ketika perilaku seperti Arsyad dilakukan oleh remaja, pemuda, orang dewasa, bahkan orang tua yang telah memahami agama.


Bayangkan seorang laki-laki Muslim mendengar azan Zuhur di dekat kantornya. Ia sebenarnya mempunyai kesempatan untuk pergi ke masjid. Tidak ada rapat mendesak, tidak ada tugas yang tidak dapat ditinggalkan, dan tidak ada uzur yang menghalanginya. Namun, ia memilih masuk ke ruangan, menggelar sajadah, kemudian shalat sendiri agar dapat segera kembali bekerja.


Hal serupa terjadi di rumah. Azan terdengar, tetapi seseorang memilih shalat sendirian di kamar karena merasa lebih praktis. Ada pula yang sengaja menunda persiapan hingga jamaah di masjid selesai, lalu baru menunaikan shalat.


Kisah-kisah tersebut merupakan gambaran situasi yang mungkin kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bukan tuduhan terhadap orang tertentu. Tentu saja, shalat di rumah atau di tempat kerja tidak otomatis berarti seseorang malas ke masjid. Ada keadaan yang membenarkan atau mengharuskan seseorang shalat di tempat lain. Yang menjadi persoalan ialah ketika keengganan, kenyamanan pribadi, dan kebiasaan menunda terus-menerus mengalahkan kesadaran untuk berjamaah.


Di sinilah istilah shalat irit menemukan maknanya. Seseorang seolah-olah ingin menghemat waktu, langkah, dan tenaga untuk ibadah. Shalat dilakukan, tetapi kesempatan memperoleh keutamaan berjamaah justru dilewatkan tanpa alasan yang kuat.


Lebih ironis lagi, ada orang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk urusan pekerjaan, bisnis, hiburan, atau pertemuan sosial, tetapi merasa berat melangkahkan kaki menuju masjid yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.


Bukankah ini sesuatu yang patut kita renungkan?


Keutamaan berjamaah yang sering kita lupakan


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 43:


“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”


Perintah untuk rukuk bersama orang-orang yang rukuk dipahami oleh sejumlah ulama sebagai salah satu petunjuk mengenai pentingnya kebersamaan dalam ibadah. Dalam tafsirnya atas ayat tersebut, Ibnu Katsir juga membahas penggunaan ayat ini sebagai dalil bagi pentingnya shalat berjamaah. Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 43.


Allah juga berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 18 bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut kecuali kepada Allah. Ayat ini menempatkan pemakmuran masjid dalam kaitan yang erat dengan keimanan dan ketaatan. Surah At-Taubah ayat 18.


Adapun keutamaan shalat berjamaah ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Bukhari nomor 645. Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat. Sahih al-Bukhari 645.


Keutamaan ini bukan sekadar angka yang kita hafal. Ia merupakan dorongan agar seorang Muslim tidak memandang ibadah hanya dari sisi kewajiban minimal yang telah ditunaikan, tetapi juga dari peluang memperbesar pahala dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah.


Perlu pula dicatat bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat berjamaah bagi laki-laki yang mampu dan tidak memiliki uzur. Sebagian memandangnya wajib, sedangkan sebagian lainnya menekankan status sunnah muakkadah. Karena itu, kita tidak boleh menyamaratakan penilaian hukum atas setiap orang yang shalat sendiri. Namun, perbedaan pendapat tersebut tidak menghilangkan kedudukan penting shalat berjamaah dalam ajaran Islam.


Ada pelajaran yang lebih mendasar: apabila Allah membuka kesempatan meraih keutamaan yang besar, mengapa kita justru sering memilih kesempatan yang lebih kecil hanya karena merasa lebih nyaman?


Mengapa orang dewasa malas ke masjid?


Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur. Tidak semua orang yang jarang ke masjid memiliki alasan yang sama. Sebagian menghadapi persoalan kesehatan, pekerjaan, transportasi, tanggung jawab keluarga, atau kondisi lingkungan. Akan tetapi, jika seseorang sebenarnya mampu dan memiliki kesempatan, ada sejumlah faktor perilaku yang patut diperiksa.


Pertama, kenyamanan yang mengalahkan komitmen. Rumah, kamar, atau ruang kerja menawarkan suasana yang akrab dan tidak menuntut banyak persiapan. Ketika pilihan yang paling mudah selalu diambil, seseorang dapat terbiasa menghindari usaha kecil yang sebenarnya bernilai ibadah.


Kedua, kebiasaan menunda. Ada orang yang berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.” Ia terus menyelesaikan pekerjaan kecil, membuka telepon genggam, atau berbincang hingga kesempatan berjamaah berlalu. Masalahnya bukan selalu ketiadaan waktu, melainkan kegagalan menempatkan shalat sebagai prioritas.


Ketiga, hilangnya makna sosial masjid. Apabila masjid hanya dipandang sebagai tempat menunaikan dua rakaat atau empat rakaat, seseorang mungkin merasa tidak ada perbedaan berarti antara shalat sendiri dan berjamaah. Padahal, masjid juga merupakan ruang silaturahmi, pendidikan, kepedulian, dan pembentukan persaudaraan umat.


Keempat, lemahnya motivasi intrinsik. Seseorang mungkin beribadah hanya karena tuntutan kewajiban, bukan karena tumbuhnya kecintaan kepada Allah. Ketika pengawasan sosial berkurang atau tidak ada orang yang mengajaknya, semangatnya pun ikut melemah.


Kelima, lingkungan yang tidak mendukung. Rekan kerja yang tidak terbiasa berjamaah, keluarga yang tidak memberi teladan, atau lingkungan pergaulan yang menganggap pergi ke masjid sebagai kegiatan tambahan dapat membuat seseorang semakin mudah mengabaikannya.


Dalam perspektif psikologi perilaku, faktor-faktor tersebut dapat membentuk lingkaran kebiasaan. Semakin sering seseorang memilih jalan yang paling mudah, semakin mudah pula pilihan itu diulang. Sebaliknya, jika ia membiasakan diri berhenti bekerja ketika azan berkumandang, menyiapkan perlengkapan shalat, dan berjalan ke masjid bersama teman, kebiasaan positif dapat tumbuh secara bertahap.


Kita tentu tidak dapat menyimpulkan kondisi batin seseorang hanya dari kebiasaannya sesekali shalat sendiri. Namun, kita dapat menjadikan perilaku tersebut sebagai bahan evaluasi diri: apakah kita benar-benar memiliki uzur, atau sekadar terlalu nyaman dengan pilihan yang paling mudah?


Kisah seorang tunanetra yang patut menjadi cermin


Ada sebuah hadis yang sangat relevan dengan persoalan ini. Dalam Sahih Muslim nomor 653, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki tunanetra datang kepada Rasulullah SAW dan menjelaskan bahwa ia tidak memiliki penuntun yang dapat membawanya ke masjid. Ia meminta izin untuk shalat di rumah dan Rasulullah pada mulanya memberinya izin.


Ketika laki-laki itu berbalik hendak pergi, Rasulullah SAW memanggilnya kembali dan bertanya apakah ia mendengar azan. Setelah ia menjawab bahwa dirinya mendengar azan, Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilan itu.”


Kisah ini dapat dibaca dalam Sahih Muslim 653.


Kita perlu berhati-hati dalam memahami hadis ini. Kisah tersebut tidak berarti bahwa setiap orang tanpa terkecuali harus pergi ke masjid dalam segala keadaan. Islam mengenal uzur dan keringanan, dan penerapan hukumnya dibahas lebih lanjut oleh para ulama.


Namun, pesan moralnya sangat kuat. Seorang tunanetra saja berusaha menjelaskan kesulitannya untuk datang ke masjid. Bagaimana dengan kita yang sehat, mampu berjalan, memiliki kendaraan, dan tinggal tidak jauh dari masjid, tetapi terkadang enggan melangkah karena merasa lebih nyaman di rumah atau di ruang kerja?


Jangan sampai kita menjadikan kenyamanan sebagai uzur, sementara orang lain yang menghadapi kesulitan justru berusaha mendekat kepada Allah.


Kisah ini bukan untuk mempermalukan orang yang shalat sendiri. Sebaliknya, ia mengajak kita mengukur kembali kesungguhan diri dalam memenuhi panggilan azan.


Membiasakan diri mencintai masjid


Jika demikian, apa yang dapat dilakukan oleh generasi Muslim agar tumbuh menjadi orang yang rajin shalat sekaligus mencintai masjid?


Pertama, mulailah dari teladan keluarga. Anak-anak lebih mudah mengikuti orang tua atau kakeknya yang konsisten berangkat ke masjid daripada hanya mendengar nasihat tentang keutamaannya. Jika ingin anak rajin berjamaah, ajaklah mereka secara teratur.


Kedua, bangun kebiasaan sebelum azan. Jangan menunggu azan selesai baru sibuk mencari pakaian, peci, atau perlengkapan shalat. Persiapan yang baik mengurangi alasan untuk menunda keberangkatan.


Ketiga, jadikan masjid tempat yang ramah bagi anak dan generasi muda. Mereka perlu merasa diterima, dibimbing, dan diberi kesempatan belajar. Teguran yang berlebihan, perlakuan yang mempermalukan, atau suasana yang membuat mereka takut dapat menjauhkan anak dari pengalaman beribadah yang seharusnya menumbuhkan kecintaan.


Keempat, bangun persahabatan dalam berjamaah. Ajak teman, saudara, tetangga, atau rekan kerja berjalan bersama ke masjid. Hubungan sosial yang baik dapat menjadi penguat kebiasaan. Jangan hanya mengingatkan orang lain melalui pesan singkat; sesekali jemputlah mereka dan berangkat bersama.


Kelima, kurangi kesempatan untuk mencari alasan. Jika waktu shalat tiba, selesaikan pekerjaan pada titik yang wajar, simpan telepon genggam, lalu berangkat. Kedisiplinan sering kali tidak tumbuh dari semangat yang besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.


Keenam, pahami bahwa masjid bukan hanya tempat shalat. Di masjid, kita belajar merendahkan diri di hadapan Allah, berdiri sejajar dengan sesama Muslim, mengenal tetangga, memperkuat persaudaraan, dan merasakan bahwa kita merupakan bagian dari umat yang lebih luas daripada keluarga atau lingkungan kerja sendiri.


Ketujuh, lakukan evaluasi tanpa berputus asa. Jika selama ini kita jarang ke masjid, mulailah dengan memperbaiki kebiasaan hari ini. Jangan menunggu sampai muncul semangat yang sempurna. Perubahan justru dimulai ketika kita melawan rasa malas meskipun hati belum sepenuhnya bersemangat.


Bagi orang yang benar-benar memiliki uzur, tentu ada keringanan sesuai ketentuan agama. Namun, bagi laki-laki Muslim yang sehat, mampu, dan memiliki kesempatan, kebiasaan memenuhi panggilan azan dan berjamaah di masjid patut terus diperjuangkan.


Mengapresiasi Arsyad, memperbaiki diri kita


Pada akhirnya, saya ingin kembali kepada Arsyad. Cucu saya ini bukan anak yang tidak mengenal shalat. Ia sudah terbiasa shalat, sudah suka pergi ke masjid bersama kakek dan bapaknya, dan telah menunjukkan bahwa panggilan azan mulai menjadi bagian dari kesehariannya. Sesekali ia memilih tidak ikut ke masjid, sebagaimana anak-anak lain mungkin juga mengalami hal serupa.


Saya justru mengapresiasi Arsyad dan anak-anak seusianya yang telah rajin shalat pada waktunya. Mereka sedang menanam benih kebiasaan baik yang perlu dirawat hingga tumbuh menjadi karakter. Tugas orang dewasa adalah memastikan benih itu tidak berhenti pada gerakan shalat yang cepat, tetapi berkembang menjadi ibadah yang lebih tertib, khusyuk, dan disertai kecintaan kepada masjid.


Sesekali anak bolos ke masjid tentu perlu dipahami sebagai bagian dari proses belajar, bukan langsung dijadikan alasan untuk memberi cap buruk. Namun, kebiasaan bolos tetap perlu diperbaiki. Jangan sampai ketidakhadiran yang sesekali berubah menjadi pola yang dianggap biasa. Terlebih lagi, jangan membiarkan kebiasaan meninggalkan shalat tumbuh tanpa pendampingan.


Adapun bagi remaja, pemuda, dan orang dewasa, kita perlu lebih tegas kepada diri sendiri. Kita telah memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk menentukan prioritas. Jangan sampai ketika anak-anak sedang belajar mencintai shalat, kita justru memberikan contoh bahwa ibadah dapat dikerjakan sekadarnya, dengan tergesa-gesa, dan tanpa kesungguhan untuk berjamaah.


Kisah Arsyad pada siang itu memang sederhana. Seorang anak mendengar azan, masuk kamar, lalu shalat sendiri dengan gerakan yang ekspres. Namun, kejadian kecil itu menyisakan pertanyaan besar bagi kita: apakah kita hanya ingin cepat menyelesaikan shalat, atau sungguh-sungguh ingin mendekat kepada Allah?


Jangan sampai anak-anak belajar shalat dengan semangat, tetapi orang dewasa mengajarkan kemalasan melalui teladan sehari-hari. Jangan pula kita terlalu sibuk mengoreksi cara anak memahami ibadah, sementara kita sendiri belum berhasil mengatasi alasan-alasan yang membuat kita enggan berjamaah.


Shalat bukan perlombaan untuk paling cepat selesai, dan masjid bukan tempat yang hanya perlu didatangi ketika kita sedang senggang. Shalat adalah penghambaan, sedangkan masjid merupakan salah satu tempat terbaik untuk merawat penghambaan itu bersama sesama Muslim.


Semoga Arsyad dan anak-anak Muslim lainnya tumbuh menjadi generasi yang tidak sekadar rajin shalat, tetapi juga mencintai masjid, menghargai waktu, dan memahami keutamaan berjamaah. Semoga kita, para orang tua dan orang dewasa, tidak hanya pandai mengajak mereka, tetapi juga konsisten memberikan teladan.


Sebab, sebelum menuntut anak-anak agar tidak malas ke masjid, kita perlu lebih dahulu memastikan bahwa diri kita sendiri tidak sedang memelihara kemalasan yang sama.


Wallahu a‘lam bish-shawab.


Barabung 24 Oktober 2026


(Penulis, Tgk imum meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)


Foto: Arsyad saat —sekali waktu belum lama ini— baru selesai menjalankan shalat berjamaah di masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

×
Berita Terbaru Update