-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Zikir Tanpa Pikir, Iman Kehilangan Arah

Senin, 26 Oktober 2026 | Oktober 26, 2026 WIB Last Updated 2026-10-26T23:15:59Z


Menghidupkan Kecerdasan Hati di Tengah Kegaduhan Dunia


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada paradoks yang menarik dalam kehidupan manusia modern. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kebijaksanaan tidak selalu bertambah. Sarana komunikasi semakin canggih, tetapi hubungan antarmanusia justru kerap diwarnai kesalahpahaman. Aktivitas keagamaan dapat berlangsung semarak, tetapi nilai-nilai agama belum selalu tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kita semakin mudah berbicara tentang kebaikan, tetapi belum tentu semakin ringan melakukannya.


Fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah manusia hanya membutuhkan kecerdasan intelektual untuk menjalani kehidupan, atau juga memerlukan kecerdasan hati yang membimbing pengetahuan dan tindakannya?


Pertanyaan tersebut mengingatkan kita pada tausiyah Ustaz Mursalin Basyah dalam kegiatan Safari Subuh BBC, Ahad, 25 Oktober 2026, di Masjid Jamik Babussalam, Kemukiman Lam Ujong, Krueng Barona Jaya, Banda Aceh. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya zikir dan pikir yang berjalan secara simultan sebagai karakter ulul albab. Manusia tidak cukup hanya mengingat Allah, tetapi juga perlu memikirkan ciptaan-Nya, memahami tujuan kehidupannya, dan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang diciptakan Allah secara sia-sia.


Pesan ini penting direnungkan, sebab salah satu tantangan umat hari ini bukan semata-mata kekurangan informasi agama, melainkan bagaimana menjadikan pengetahuan dan ritual keagamaan sebagai kekuatan yang membentuk hati, mengarahkan pikiran, serta memperbaiki perilaku.


Zikir yang Menghidupkan Hati


Al-Qur’an memberikan tempat yang istimewa bagi zikir. Allah berfirman dalam Surah ar-Ra‘d ayat 28 bahwa orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ayat ini memperlihatkan bahwa zikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan jalan untuk membangun hubungan batin dengan Allah.


Namun, ketenteraman yang lahir dari zikir tidak boleh dipahami sebatas perasaan nyaman ketika menghadapi persoalan. Zikir juga semestinya membentuk kesadaran moral, memperkuat kesabaran, mengendalikan amarah, dan menumbuhkan keberanian untuk melakukan kebenaran.


Orang yang mengingat Allah seharusnya semakin berhati-hati ketika berbicara, semakin jujur ketika bekerja, semakin adil ketika mengambil keputusan, dan semakin rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. Kesadaran bahwa Allah mengetahui segala sesuatu menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya dinilai berdasarkan penampilan di hadapan manusia.


Dalam khazanah Islam, kesadaran semacam ini dikenal dengan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah. Rasulullah SAW menjelaskan makna ihsan dalam hadis riwayat Muslim: beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; jika manusia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatnya.


Ihsan dengan demikian tidak berhenti di dalam masjid. Ia semestinya hadir ketika seseorang mengelola keuangan, memimpin lembaga, melayani masyarakat, mendidik anak, berinteraksi di media sosial, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan perbuatannya.


Di sinilah zikir memperoleh daya transformasinya. Ia membangun semacam pengawasan batin yang tidak bergantung pada kamera, aturan tertulis, atau penilaian orang lain. Seseorang berusaha berlaku baik bukan semata-mata karena takut diketahui melakukan kesalahan, melainkan karena sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah.


Ketika Ritual Belum Menjadi Karakter


Kita tentu tidak berhak mengukur keikhlasan seseorang hanya berdasarkan penampilan luarnya. Urusan hati merupakan wilayah yang tidak boleh kita hakimi secara sembarangan. Akan tetapi, kita tetap dapat melakukan evaluasi terhadap perilaku, termasuk perilaku kita sendiri, untuk melihat sejauh mana nilai ibadah telah membentuk akhlak.


Shalat, misalnya, bukan hanya kewajiban ritual. Allah berfirman dalam Surah al-‘Ankabut ayat 45 bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini mengandung pesan pendidikan: shalat seharusnya ikut membangun kemampuan seseorang untuk menolak perbuatan yang bertentangan dengan nilai agama.


Demikian pula puasa. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan membangun ketakwaan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Baqarah ayat 183. Jika seseorang mampu menahan diri dari makan dan minum selama berpuasa, ia juga perlu melatih diri menahan ucapan yang menyakiti, amarah yang merusak hubungan, dan keinginan yang mendorong pelanggaran.


Persoalannya, perubahan karakter tidak selalu berlangsung otomatis setelah seseorang menjalankan ibadah. Ia memerlukan kesadaran, latihan, evaluasi, dan kemauan memperbaiki diri secara terus-menerus.


Imam Al-Ghazali, melalui pembahasannya tentang penyucian jiwa dalam karya Ihya’ ‘Ulum al-Din, memberikan perhatian besar pada penyakit hati, pengendalian hawa nafsu, dan hubungan antara pengetahuan dengan amal. Inti pelajarannya relevan bagi kita: pengetahuan tentang kebaikan belum cukup apabila tidak diikuti usaha membentuk diri menjadi pribadi yang baik.


Kita mungkin mengetahui bahwa kesombongan tercela, tetapi masih senang merendahkan orang lain. Kita memahami bahwa ghibah dilarang, tetapi mudah membicarakan kekurangan sesama. Kita hafal anjuran bersedekah, tetapi kurang peka terhadap kesulitan tetangga. Bahkan, kita dapat berbicara panjang tentang persaudaraan Islam sambil membiarkan perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.


Kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku inilah yang harus menjadi bahan muhasabah. Bukan untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk memeriksa apakah agama yang kita pelajari dan ibadah yang kita jalankan telah benar-benar memengaruhi cara kita memperlakukan manusia.


Hati di Tengah Kegaduhan Digital


Tantangan pembinaan hati pada masa kini juga semakin kompleks. Media sosial memberi ruang luas bagi penyebaran ilmu dan dakwah, tetapi sekaligus menyediakan peluang bagi kemarahan, penghinaan, fitnah, dan perlombaan mencari perhatian.


Seseorang dapat membagikan kutipan agama setiap hari, tetapi pada saat yang sama menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Ia dapat mengingatkan orang lain agar menjaga lisan, tetapi menggunakan ruang digital untuk mempermalukan orang yang berbeda pendapat. Ia dapat berbicara tentang kasih sayang, tetapi kehilangan empati ketika berhadapan dengan penderitaan yang tidak menyentuh kepentingannya.


Dalam situasi demikian, zikir seharusnya menjadi kekuatan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Pikir membantu memeriksa kebenaran informasi, sedangkan kesadaran moral mengingatkan kita tentang akibat dari tindakan tersebut.


Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat ayat 6 agar orang beriman melakukan tabayun ketika menerima berita dari seseorang yang perlu diperiksa keterpercayaannya, supaya tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan. Ayat ini memperlihatkan bahwa kehidupan beragama menuntut perpaduan antara kesadaran kepada Allah dan tanggung jawab intelektual.


Tidak semua yang kita dengar harus kita sebarkan. Tidak semua yang membuat kita marah harus segera kita tanggapi. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan memenangkan perdebatan.


Ada kalanya kecerdasan hati justru tampak ketika seseorang memilih diam daripada melukai, memeriksa fakta daripada menuduh, dan berdialog daripada memperuncing permusuhan.


Seyyed Hossein Nasr, pemikir Muslim kontemporer yang banyak membahas hubungan spiritualitas dan modernitas, mengingatkan melalui karya-karyanya tentang pentingnya dimensi sakral dalam kehidupan manusia. Kemajuan material dan teknologi tidak dengan sendirinya menjawab kebutuhan terdalam manusia akan makna. Ketika kehidupan hanya diukur dengan produktivitas, kepemilikan, dan pencapaian lahiriah, manusia berisiko kehilangan orientasi spiritual.


Pandangan ini patut menjadi bahan renungan. Teknologi bukan musuh agama, dan kemajuan bukan sesuatu yang harus ditolak. Yang perlu kita waspadai ialah ketika kemajuan tidak disertai kedewasaan moral, ketika kecepatan mengalahkan kebijaksanaan, dan ketika popularitas dianggap lebih penting daripada kebenaran.


Melatih Kecerdasan Hati


Lalu, bagaimana menjadikan zikir sebagai kekuatan yang membentuk karakter di tengah kehidupan yang semakin menantang?


Pertama, menghidupkan zikir yang disertai pemahaman. Zikir lisan tetap penting sebagai bagian dari ibadah, tetapi hendaknya diiringi kesadaran terhadap maknanya. Ketika mengucapkan istigfar, kita perlu memeriksa kesalahan yang harus diperbaiki. Ketika memuji Allah, kita belajar bersyukur tanpa menyombongkan diri. Ketika mengucapkan takbir, kita menyadari bahwa tidak ada kedudukan, kekayaan, atau kekuasaan manusia yang lebih besar daripada Allah.


Kedua, membiasakan muhasabah setiap hari. Sebelum beristirahat, kita dapat menanyakan tiga hal kepada diri sendiri: kebaikan apa yang telah dilakukan hari ini, kesalahan apa yang harus diperbaiki, dan siapa yang mungkin telah dirugikan oleh perkataan atau tindakan kita? Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi latihan membangun kepekaan moral.


Ketiga, menjadikan ibadah sebagai sekolah akhlak. Seusai shalat, misalnya, kita tidak hanya memikirkan apakah kewajiban telah ditunaikan, tetapi juga apakah shalat membantu kita menjaga kejujuran, menepati janji, dan memperlakukan orang lain dengan adil. Setelah membaca Al-Qur’an, kita berusaha menemukan pesan yang dapat diterapkan dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.


Keempat, melatih jeda sebelum bereaksi. Ketika tersinggung, jangan terburu-buru membalas. Ketika menerima kabar yang menghebohkan, jangan langsung menyebarkannya. Ketika berbeda pendapat, berikan ruang untuk mendengar dan memahami. Jeda yang lahir dari kesadaran kepada Allah dapat menjadi awal pengendalian diri.


Kelima, memperluas manfaat zikir melalui kepedulian. Hati yang terhubung dengan Allah semestinya semakin peka terhadap kesulitan sesama. Kepedulian terhadap tetangga yang sakit, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, keluarga yang kesulitan ekonomi, dan orang yang mengalami ketidakadilan merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.


Langkah-langkah tersebut tidak menggantikan kewajiban agama. Sebaliknya, ia membantu kita menghidupkan nilai ibadah dalam keseluruhan perjalanan hidup.


Menjaga Hati, Menata Kehidupan


Pada akhirnya, kecerdasan hati bukanlah kemampuan untuk selalu merasa tenang, apalagi merasa paling benar dibandingkan orang lain. Ia merupakan kemampuan untuk mengenali keterbatasan diri, menerima kebenaran, mengendalikan dorongan yang merusak, dan terus memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.


Zikir memberi manusia orientasi ketuhanan. Pikir membantunya memahami tanda-tanda kebesaran Allah dan persoalan kehidupan. Keduanya perlu bergerak bersama agar ibadah tidak kehilangan kedalaman dan pengetahuan tidak kehilangan arah moral.


Pesan Ustaz Mursalin Basyah tentang zikir dan pikir sebagai karakter ulul albab karena itu layak kita bawa ke ruang keluarga, sekolah, tempat kerja, masjid, dan ruang digital. Tantangan umat tidak cukup dijawab dengan memperbanyak pernyataan tentang kebaikan. Kita juga perlu membangun manusia yang memiliki kejernihan hati, kematangan berpikir, dan kesungguhan memperbaiki perilaku.


Al-Qur’an menggambarkan ulul albab dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190–191 sebagai orang-orang yang mengingat Allah dalam berbagai keadaan dan memikirkan penciptaan langit serta bumi, hingga menyadari bahwa semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia.


Kesadaran tersebut semestinya melahirkan kerendahan hati sekaligus tanggung jawab. Jika penciptaan tidak sia-sia, kehidupan manusia pun tidak sepatutnya dijalani tanpa tujuan. Waktu, ilmu, kekayaan, kedudukan, dan kesempatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.


Maka, mari memulai perubahan dari ruang yang paling dekat: hati kita sendiri. Memperbanyak zikir bukan untuk merasa lebih saleh daripada orang lain, melainkan agar semakin sadar akan kelemahan diri. Memperdalam pikir bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan agar semakin bijaksana dalam mengambil keputusan. Dan memperbaiki ibadah bukan sekadar agar kewajiban gugur, melainkan agar hidup kita semakin dekat dengan nilai-nilai yang diridai Allah.


Sebab, zikir yang hidup akan menerangi hati, hati yang tercerahkan akan membimbing pikiran, dan pikiran yang dibimbing iman akan menuntun manusia menuju amal yang membawa kebaikan. Di sanalah kecerdasan hati menemukan maknanya: bukan hanya dalam hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga dalam cara kita menjalani dan memperbaiki kehidupan.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 25 Oktober 2026


(Penulis, pegiat gerakan dakwah bil-halal, tinggal di Barabung Darussalam Aceh Besar)


Foto: dari kiri: kedua, Ust Mursalin Basyah, ketiga Ust Erwandi Koordinator BBC, keempat penulis

×
Berita Terbaru Update