Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Frasa judul itu saya kutip dari narasi ucapan Presiden Prabowo dalam nasehat yang disampaikannya kepada para menteri dalam satu sidang kabinet paripurna belum lama ini, narasi yang terpantau lepas ke media.
Di tengah bencana ini sudah terjadi terlalu banyak kebohongan dan ketidakbenaran. Banyak juga opini yang menghendaki Indonesia tidak menjadi negara kuat. Terus bekerja dan tetap waspada. Demikian kira kira pesan presiden kepada para pembantunya.
Pelajaran Politik
Kita sangat bersyukur Presiden mengingatkan para menteri, pejabat dan rakyat semua. Ini pelajaran penting dari seorang pemimpin negara. Jangan berbohong, terus bekerja, dan tetap waspada. Ini narasi pelajaran politik yang sangat penting kepada segenap generasi bangsa.
Kalau kita mengingat kembali memang terekam di media banyak kebohongan dan ketidakbenaran yang terjadi, seperti yang digarisbawahi oleh Presiden kita, sejak awal bencana Sumatera ini terjadi.
Orang orang seperti sudah kehilangan jatidiri sebagai bangsa besar dan bermoral Pancasila. Kita hidup negara yang bukan tak punya peraturan dan perundang undangan. Tetapi mengapa kita jadi merasa bersalah, termasuk terhadap kesalahan kesalahan kita sendiri. Sepatutnya kita tenang dan tidak panik walau bencana yang menerjang demikian dahsyatnya.
Kita punya presiden yang dapat mengendalikan perjalanan bangsa dan mengingatkan kita semua, khususnya pejabat pemerintahan yang dibayar negara untuk menjalankan tugas melindungi rakyat, agar menjaga nila nilai dan harkat martabat bangsa.
Berbohong adalah sikap tercela yang datang dari perilaku bersengaja untuk mengungkapkan perkataan yang tidak berdasar dan tidak faktual, yang ini juga bertentangan dengan undang undang negara kita. Sikap dan perilaku seperti ini disebut tidak benar karena bertentangan dengan nilai agama. Ya bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai agama manapun yang dipeluk warga bangsa Indonesia.
Adalah pelajaran buruk untuk generasi bangsa bila ada seseorang anak bangsa terus berbohong, di depan media pula.
Masak ada pejabat yang sengaja ditunjuk sendiri oleh Presiden untuk bergerak cepat ke wilayah bencana kemudian berdiri didepan kamera yang terpantau di seluruh dunia mengatakan bahwa ini bencana biasa, kecil saja, hanya mencekam di medsos. Padahal korban meninggal dan hilang mencapai hampir 1500.
Jangan khawatir, kata pejabat yang lain pula, seluruh pelosok bencana sudah terjangkau, tak ada yang terkurung. Padahal sampai hari ketujuh masih banyak orang berjuang dalam lumpur, banyak yang belum dapat makanan dan minuman.
Ketika orang orang meributkan terjangan lumpur tebal dan gelondongan dan hancuran kayu menerjang ada pejabat yang mengatakan tidak ada kerusakan alam di hutan dan gunung sana. Itu kayu yang tumbang karena hujan dan banjir. Padahal diketahui melalui peringatan para ahli sejak lama bawa banjir terjadi karena ada kerusakan. Bukan dibalik.
Pejabat lain lagi mengatakan deforestation tidak berbahaya. Apalagi kita tanamnya sawit. Kita perlukan sawit untuk swasembada energi. Sawit juga kan pohon ada daunnya, yang boten boten saja. Padahal daun dan akar serabut sawit berbeda dengan milik pohon pohon penyerap air di hutan, yang mampu menahan banjir. Ayak ayak wae.
Maka dengan ringan ada pejabat yang lain lagi mengatakan tidak ada kerusakan lingkungan hidup. Hanya ada sedikit pohon kayu yang terbawa banjir. Sedikit apa? Padahal di depan mata kita terhampar lautan pohon tercincang, yang sebagian berbentuk rapi pula, bersusun serampangan menimbun rumah sawah dan ladang warga di lokasi bencana. Belum lagi ada tumpukan lumpur yang rapi menenggelamkan rumah rumah sampai kusen bagian atas pintunya. Di mana tidak ada kerusakan lingkungan?
PLN ikut menjadi korban, sejumlah fasilitas instalasi listrik ambruk. Tim PLN bekerja keras dalam kesabaran warga menanti yang sabar dalam gelap dan omset mereka hilang. Sampai ada seorang pejabat datang, sambil berbohong kepada Presiden, mengatakan, siap segera normal. Sudah 93 persen dan siap menyala di seluruh wilayah terdampak malam ini juga. Padahal pejabat ini berbohong dan bikin ribut saja yang menguras banyak energi bangsa.
Ketika banyak dorongan agar ditetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional ada pejabat mengatakan tidak perlu, pemerintah daerah sanggup mengatasinya. Padahal di lapangan pemerintah daerah menyerah dan mengangkat bendera putih.
Dorongan untuk menerima dan atau membuka bantuan luar negeri juga dikatakan tidak perlu. Kita bangsa besar yang mampu mengatasi sendiri bencana ini. Ada pula pejabat yang dengan sombong menolak bantuan “kecil” dari luar. Padahal di lapangan bukti mengatakan kita tidak mampu. Orang mengikis lumpur dan mengais kehidupan baru masing masing dan dengan bantuan donasi warga bangsa. Dunia internasional melihat kenyataan ini dan menyaksikan kita mengurung diri dalam narasi yang lemah.
Orang orang mulai mengkhawatirkan potensi kelaparan pasca bencana tetapi pejabat mengatakan pangan kita cukup tersedia. Supply makanan ke wilayah terdampak pun melebihi kebutuhan. Padahal kenyataan di lapangan berbeda. Terhadap ratusan ribu hektar sawah dan fasilitas produksi pangan hancur tertimbun lumpur dan terjejas bentukan sungai baru, oknum pejabat dengan meyakinkan berkata tidak akan ada kelaparan. Kita sudah planing membuka ratusan ribu hektar sawah baru. Yang penting kita bangun swasembada pangan dan swasembada energi di setiap daerah.
Pelajaran politik yang dapat dipetik oleh generasi bangsa kita disini sangat penting, di mana presiden menekankan agar pejabat mengatakan yang sesungguhnya. Dalam deretan cerita diatas presiden menangkap ada kebohongan dan ketidakbenaran. Ini perilaku tidak baik dan tidak sepatutnya terjadi. Ini pelajaran penting.
UU dan Hadis Nabi
Kebohongan bertentangan dengan UU ITE. Narasi yang tidak sesuai dengan fakta oleh UU ITE disebut hoax, berita bohong. Kita semua tahu konsekuensinya dari setiap kebohongan bila ditilik dari UU ini. Denda dan kurungan penjara. Selanjutnya silahkan search dan dalami UU ITE.
Tapi mengapa pula ada orang yang bersengaja berbohong, itu juga harus diteliti. Silakan search dan pelajari “sepuluh sebab orang melakukan kebohongan.”
Bagi tokoh publik seperti pejabat bila melakukan kebohongan terkait dengan keberadaan dirinya, posisinya dan tanggung jawabnya, itu disebut kebohongan publik. Bila ini dilakukan oleh pejabat atau tokoh politik akan langsung berimbas pada penurunan kepercayaan publik (distrust).
Perilaku pejabat dan tokoh publik seperti ini secara langsung dapat mengimbas pada terkurasnya energi bangsa. Dapat merusak program dan strategi pembangunan yang divisikan oleh pemerintah.
Selanjutnya silahkan search dan pelajari “modus kebohongan publik oknum pejabat.”
Tentu ini yang dikhawatirkan Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto. Maka beliau secara tegas mengatakan jangan ada kebohongan.
Disamping itu juga banyak hadis Nabi SAW yang melarang berbohong. Rasulullah mengaitkan larangan akan kebohongan dan ketidakbenaran dalam berkata kata itu dengan beragam ancaman.
Silahkan search dan kaji “hadis hadis ancaman Nabi SAW terhadap pelaku kebohongan”.
Closing
Mari kita patuhi nasehat pemimpin kita ini agar jangan pernah terlibat kebohongan. Pelajaran yang beliau sampaikan khusus untuk para menteri itu juga baik bagi kita warga bangsa ini.
Terus bekerja, jangan bohong, jangan berkata tidak benar, dan tetap waspada. Termasuk mewaspadai dampak kebohongan dan perkataan tidak benar yang keluar dari mulut kita.
Ingat setiap ucapan ada konsekuensinya. Ada balasannya.
Wallahu a’lam.
Banda Aceh 16 Desember 2025)
Penulis adalah Imuemsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Aceh Besar
.jpg)