-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Utamakan Sabar dan Taubat Atas Ujian Keimanan

Jumat, 27 Februari 2026 | Februari 27, 2026 WIB Last Updated 2026-02-27T08:44:21Z

 


Al-Rasyid.id - Umat Islam diminta untuk tidak melawan atau mengejek pemimpin yang sah, meskipun ia dinilai tidak takut kepada Allah, kurang menyayangi rakyat, serta tidak berpihak pada kepentingan umat Islam. Sebaliknya, umat dianjurkan untuk bersabar, memperbanyak taubat dan doa kepada Allah SWT, karena kondisi tersebut dapat menjadi ujian keimanan sekaligus peringatan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. 


Pesan tersebut disampaikan Tgk Saifuddin A. Rasyid, Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hasyimiyah Rukoh, Kota Banda Aceh, Jumat (27/2/2026) bertepatan dengan 9 Ramadhan 1447 H.


Dalam khutbahnya, Tgk Saifuddin menegaskan bahwa setiap pemimpin yang naik ke tampuk kekuasaan tidak terjadi begitu saja, melainkan atas kehendak Allah SWT dan juga melalui upaya sadar manusia. Karena itu, apabila pemimpin yang dipilih ternyata menyimpang dari jalan Allah dan berlaku zalim terhadap rakyatnya, maka umat diminta segera beristighfar atas kekeliruan dan dosa masing-masing.


“Allah tentu mengirim pemimpin kepada kita sesuai dengan kadar keimanan kita,” ujarnya.


Ia mengingatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW: “Allahumma la tusallith ‘alaina bizunubina man la yakhafuka wala yarhamuna,” yang artinya, “Ya Allah, janganlah Engkau tetapkan penguasa atas kami karena dosa-dosa kami, orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.”


Selain memperbanyak doa, umat juga diingatkan agar memilih pemimpin melalui TPS bukan karena dorongan nafsu atau hura-hura, melainkan atas dasar iman kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. 


Mengambil intisari QS Al-Maidah ayat 51–57, Tgk Saifuddin menekankan kewajiban memilih pemimpin yang beriman, berakhlak mulia, dan tidak berpihak kepada musuh-musuh Islam.


Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung keputusan pemerintah Indonesia yang dinilai kontroversial, yakni bergabung dalam Board of Peace (BOP) yang dipimpin Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Januari 2026. Menurutnya, langkah tersebut menjadi perbincangan luas karena BOP disebut sebagai himpunan negara-negara yang pro atau lunak terhadap Israel.


Pada 19 Februari 2026 atau 1 Ramadhan lalu, pemerintah Indonesia juga menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika Serikat dalam KTT BOP di Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan kepentingan rakyat serta merugikan umat Islam, termasuk melemahkan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan menguntungkan Israel. Padahal, umat Islam Indonesia selama ini aktif mendukung dan mendoakan kemerdekaan Palestina serta berakhirnya penderitaan rakyat Gaza.


Selain itu, perjanjian tersebut disebut mengharuskan Indonesia membebaskan kewajiban sertifikat halal bagi sejumlah produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika dari Amerika, serta membuka pasar untuk daging termasuk daging babi dan produk olahannya. Indonesia juga diwajibkan mengimpor kebutuhan pokok tertentu dari Amerika dengan kemudahan khusus yang dinilai dapat menekan kemandirian ekonomi rakyat.


Tgk Saifuddin menyebut kondisi ini membuat sebagian masyarakat gerah dan mulai menyadari serta menyesali pilihan politik sebelumnya. Ia juga menyinggung sikap Majelis Ulama Indonesia yang dinilainya mengambil pendekatan lunak dengan hanya memberikan tausiyah agar umat bersikap sesuai keyakinan dalam menjalankan ajaran agama.


Menurutnya, di tengah kondisi tersebut, umat tidak boleh berputus asa. Ia mengajak masyarakat untuk mengambil sikap bijak dalam melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari kemungkaran serta potensi murka Allah. Ketika negara dinilai tidak lagi bisa sepenuhnya diandalkan, umat harus lebih cerdas mengelola kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar.


Menutup khutbahnya, Tgk Saifuddin mengajak umat tetap yakin pada pertolongan Allah SWT. “Jangan takut kepada persekongkolan jahat yang direkayasa manusia untuk merusak tatanan agama kita dan menekan umatnya, karena rekayasa Allah pasti lebih sempurna. “Wamakaru wamakarallahu wallahu khairul makirin,” ujarnya.


Ia juga menegaskan agar umat tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengikuti pemimpin yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan gemar membuat kerusakan di muka bumi.


Editor: Harir Rizkytullah

×
Berita Terbaru Update