-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Lansia Produktif Walau Senja

Selasa, 24 Februari 2026 | Februari 24, 2026 WIB Last Updated 2026-02-24T09:28:22Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id - Daurah untuk lansia. Terdengar jarang ada. Tapi ini hal penting dan menarik. Terutama di bulan suci Ramadhan.


Yayasan Harun Ali, besutan Prof Muhammad Yasir Yusuf (Ustaz Yasir) di Banda Aceh, mengunggah tema ini. Tampaknya yayasan ini mengambil segmen lansia sebagai salah satu sudut marketnya dengan membuka paket program Madrasah Lansia, di kompleks Masjid Oman, 22 sampai 28 Februari 2026.


Daurah tujuh hari yang mempertemukan para pencerah umat papan atas (raushanfikr) di Banda Aceh, sekelas ustaz Yasir ini, tampak disahuti masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Mereka berlomba mendaftar. 


Bukan hanya karena promosi program yang gencar tetapi ini juga bukti para lansia sadar dan ingin terus belajar. 


Dari seorang peserta saya ketahui bahwa cakupan materi dan pendekatan (metodologi) daurah ini ramah lansia. Yang membuat peserta proaktif dan partisiparif, ingin terus terlibat di dalamnya. 


Tua Keladi


Menjadi lansia adalah ketetapan tetapi menjadi tua adalah pilihan. Tentu bukan tidak boleh tidak menjadi tua.


Banyak kita lihat orang usia tua merasa muda. Bergaya muda. Sebagian masih berpenampilan seperti anak muda walau raut dan perawakannya sudah jelas tua. 


Guru spiritual masyarakat di lingkungan kami, Abu Sulfanwandi, seringkali menyindir secara langsung kalangan lansia seperti ini. “Umu ka tujoh ploh tapi mantong lipat sapai bajee”, (umur sudah tujuh puluh tapi masih menggulung lengan baju).


Walau dapat dipersonifikasi pada perawakan seseorang lansia bergaya muda di lingkungan kita, kalimat Abu Sulfan ini tentu bermakna kiasan yang dapat diartikan secara luas, antara lain sebagai berikut.


Pertama, walau sudah sejauh itu perjalanan usianya, bisa saja seseorang belum menemukan tujuan hidupnya yang hakiki. Belum paham betul kemana dia akan pergi. Apa misi hidupnya. Mengapa dia diciptakan Tuhan. Apa misi dan fungsi dia hidup. Apa target target yang harus dia capai dalam setiap etape perputaran kehidupannya. Blank, seakan usia hanya hadiah berupa cheque kosong dari Tuhan yang boleh ditulis apa saja.


Kedua, usia tak bisa dikendalikan. Usia terus berjalan, dan akan ada akhirnya. Itu pasti. Setiap orang tua, bila sampai masanya. Setiap orang mati. Itu tidak bisa dipilih. Tetapi ada orang yang lalai dalam menyiapkan hari kematiannya. Dikira yang mati itu hanya orang lain. Hampir setiap hari kita mendengar pengumuman kematian, tapi nyatanya kita masih tetap hidup. “Yang mati orang lain, bukan saya”.  Ini pola pikir yang parah kelirunya. Lalai, terus main, bahkan berhura hura dengan aktifitas lagha. 


Saya juga bukan tak termasuk lansia yang terkadang masih lalai dan lagha. Masih terbawa rasa seakan tua belum tiba. Seringkali Nenda dari cucu saya mengingatkan, “sering seringlah mengaca”. Nasehat seperti ini sangat kita perlukan dari lingkungan terdekat kita. Lalu sayapun sesekali mengaca dan menemukan banyak coretan raut di wajah saya.


Ketiga, sudah tua tapi belum dekat ke masjid dan majelis ilmu. Beribadah sekenanya, dari ilmu dengar dengar waktu kecil. Padahal para ulama menyebut bahwa beribadah tanpa ilmu sia sia. Bahkan mungkin tertolak disisi Allah. Allah tidak butuh pada ibadah orang bodoh. (Maaf, orang bodoh dalam ibadah adalah yang sadar atau tidak sadar dirinya tidak mampu tetapi mengabaikan jalan untuk mendapat ilmu).


Keempat, penyandang lansia yang larut terbawa dan bergaya muda dengan amal amal lagha akan mati sia sia. Perjalanan hidupnya akan terhenti ketika dia belum sampai pada tujuan dia diciptakan. Dia akan shok melihat dirinya tak tahu kemana di tengah belantara akhirat. Pada saat orang orang berkerumun mendekat kepada  Allah untuk menerima imbalan dariNya, dalam bimbingan syafaat Rasulullah SAW, dirinya akan merasa hampa dan tenggelam dalam neraka. Lalu meminta dikembalikan ke dunia untuk mengulangi jalan hidupnya yang baru sesuai arahan perintah TuhanNya. Tapi itu sudah sia sia.


Berkah Umur


Saya teringat satu khutbah jum’at Ramadhan tahun lalu di masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Khatibnya H. Asyraf Muntazhar, Lc., MA. 


Ustaz muda itu, mengutip pandangan ulama para gurunya, mengupas soal perbedaan usia dan umur. Saya ingat seakan sesekali dia melirik ke arah saya sebagai seorang lansia yang duduk di shaf pertama di hadapan mimbarnya.


Secara mendalam disampakannya bahwa usia seseorang ada batasnya, dan sudah ada ketentuan, berapa waktu seseorang mendapat jatahnya. Tetapi umur bisa panjang dan juga abadi seumur dunia. Saya kemudian mencatat beberapa hal sebagai berikut.


Pertama, orang bisa meninggal pada usia tertentu tetapi umurnya masih terus berjalan, hidup.


Ingat dalam QS Ali Imran ayat 169, Allah berfirman yang mafhumnya, “janganlah kamu mengira orang orang yang meninggal di jalan Allah itu “mati”, tetapi mereka hidup disisi Tuhan mereka dan diberi rezeki oleh Allah.


Kedua, para ulama dan berbagai tokoh yang sepanjang hidup mereka habiskan untuk kebaikan, mereka masih ada bersama kita, walau usia mereka pendek dan sudah lama meninggal dunia.


Al-Ghazali meninggal pada usia 53 tahun, Imam Syafii juga usianya pendek, 52 tahun. Syech Muda Wali 42 tahun. Banyak tokoh lain dalam sejarah juga ada yang berusia pendek. Tapi umur mereka panjang. Mereka “hidup” bersama kita sampai saat ini dan tentu sampai kapanpun di masa yang akan datang sejauh hasil amal dan karya mereka terus tumbuh dan berkembang di tengah umat manusia.


Ketiga, dalam doa kita meminta dipanjangkan umur. “Allahumma thawwil umurana”, ya Allah panjangkan umurku. Implikasinya kita berharap Allah tambah usia kita, yang walau sudah ditetapkan dalam qadar tertentu, misalnya 60 tahun, tetapi di sisi Allah (secara azali) Allah dapat mengubah atas kehendakNya.


Atau Allah juga bisa tidak mengubah qadar ketetapan usia kita tetapi Dia mudahkan kualitas umur kita panjang secara produktif mengisi hidup kita dengan amal amal dalam batas kerangka usia yang telah ditetapkan. Lihat contoh Al-Ghazali, Imam Syafii dan Syech Muda Wali yang Allah panjangkan umur mereka tetap hidup di tengah kita dengan amal dan karya mereka sampai saat ini, walau mereka telah wafat di usia muda.


Keempat, manusia terbaik kata Rasulullah SAW, adalah yang umurnya pajang karena berjalan bersamaan dengan  amal (karya) terbaik mereka. “Khairukum man thaala ‘umruhu wa hasuna ‘amaluhu”.


Sebaliknya manusia terburuk adalah yang panjang usianya tapi buruk amalnya. “Wa syarran-nasa man thaala ‘umruhu wa sa-a ‘amaluhu”.


Gesit


Lansia (lanjut usia) ditandai dengan menurunnya fungi tubuh, dan ini merupakan satu tahapan menjelang etape terakhir perjalanan hidup manusia.


UU nomor 13 tahun 1998 mengategorikan lansia dengan usia 60 tahun ke atas. WHO, badan PBB bidang kesehatan, menetapkan lansia (elderly) pada usia 60 sampai 74. Usia 75 sampai 89 disebutnya lansia tua (old). Usia 90 ke atas disebut lansia sangat tua (very old). 


Kementerian kesehatan dan kementerian sosial mengikuti kedua ketentuan, UU 13 dan WHO diatas, dengan memasukkan kategori pra lansia pada usia 45 sampai 59, dan usia 75 tahun ke atas disebut usia resiko tinggi.


Itu kalkulasi kategori usia untuk kepentingan program tertentu. Tetapi perjalanan hidup manusia totally tidak tergantung pada kategori teori yang dibuat oleh manusia. Karena hal itu sepenuhnya keputusan mutlak Allah ta’ala.


Hal yang sangat penting bagi seorang lansia adalah fokus pada tujuan hidup, apa yang penting diisi dalam waktu yang sudah makin sedikit. 


Tak penting memikirkan kapan kita mati dan minta dikubur dimana jenazah kita. Tetapi yang penting adalah kita akan mati sebagai apa? 


Pikirkan, ayo kita akan mati sebagai manusia terbaik yang  disukai Allah dan Nabi senang melihat saat ruh kita diterbangkan meninggalkan dunia ini. Itu sebabnya kita dianjurkan oleh Nabi SAW untuk merayu Allah dengan doa, ya Allah tutuplah usia saya — bila telah sampai waktunya — dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Jangan timpakan saya kala itu nanti dengan akhir yang buruk (suul khatimah).


Lepaskan beban yang memberatkan langkah kita di sisa perjalanan. Lepaskan dunia. 


Jangan biarkan rumah yang bagus bergelantungan di pinggang kita. Mobil dan kendaraan lainnya merantai kaki kita. Sawah ladang dan kebun semua naik di pundak kita. Hutang piutang menjerat tangan kita. Janji janji politik menghalangi kita. Kursi kursi jabatan dan kepemimpinan bisnis menguras tenaga kita. Emas berlian bergeranthuk di tubuh kita. Jangan sampai dunia bersembunyi dalam hati kita yang paling dalam.


Sejatinya kita perlukan dunia itu semua untuk bekerja membantu kita dalam menempuh perjalanan sisa. Tetapi jangan sampai kita masih dipaksa bekerja untuk mereka.


Mengapa semua itu? Karena kita ingin gesit melenggang ringan memasuki kehidupan kita selanjutnya ke alam dimensi lain, yaitu alam barzakh dan selanjutnya alam akhirat. 


Lansia seyogianya berhati hati dan tetap produktif dalam merintis jalan baru yang memudahkan kita cepat dan selamat sampai di tujuan. Tujuan kita adalah Allah dan RasulNya.


Tetap berhati hati dengan gangguan syaithan dan iblis la’natullah yang siap selalu menghalangi perjalanan kita.


Tetap berhati hati dengan nafsu kita sendiri yang mengaburkan tujuan hidup dan arah perjalanan kita menuju Allah.


Tetaplah fokus pada visi hidup abadi dalam ridha Allah. Tetaplah fokus pada misi meniti shirath atas jembatan jalan agama dan berpegang pada “tali” agama Allah (hablillah).


Tetaplah fokus pada arah tujuan, “innani zaahibun ilaa Rabbi sayahdini”. Allah, saya menempuh perjalananku ini menuju hadharatMu, dan berilah kepadaku pertolongan dan petunjukMu, sebagaimana Engkau telah memberikan petunjuk kepada kakek kami Nabi Ibrahim (QS As-Saffat ayat 99).


Wallahu a’lam. 


Banda Aceh, 6 Ramadhan 1447 H


(Penulis adalah Tgk Imum Meunasah Barabung Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update