-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Griya Ilmu Amin Aziz dan Kebangkitan Industri Keuangan Syari’ah di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | April 22, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T00:18:29Z



Oleh Saifuddin A. Rasyid

(Pembina Yayasan Pinbuk, Bendahara ICMI Aceh)


Al-aRasyid.id |  Meeting manajemen pekanan Pinbuk (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) Selasa 21 April 2026 terasa khusus. 


Pasalnya meeting itu dikaitkan dengan silaturrahim kepindahan Pinbuk ke kantor baru. Ketua Badan Pembina Pinbuk, Bapak Ventje Rahardjo, bersama beberapa teman anggotanya badan pembina dan pengawas juga turut hadir bersama.


Beberapa hari sebelumnya. Kebenaran sedang di Jakarta seperti biasanya saya sempatkan singgah ke kantor Pinbuk. Saat kebetulan teman teman sedang pindahan, dari kantor lama ke kantor baru.


Kepada tim saya sampaikan kita bikin syukuran kepindahan kantor ini. Ini sangat khusus. Naluri historis saya bergeliat. Kantor baru ini bukan tempat biasa, ini tempat bersejarah. Di rumah ini saya merasa ada garis biru membentang di depan saya yang tersambung ke tahun 1990, yaitu 36 tahun lalu.


Selasa 21 April 2026, dengan mekanisme yang diperjanjikan, dan dengan tumpeng yang dipotong oleh Bapak Ventje dan secara simbolis diserahkan kepada Ketua Pinbuk Aslichan Burhan, seraya berdoa untuk kemajuan ekonomi dan keuangan syariah di tanah air, resmi Pinbuk berkantor di Griya Ilmu Amin Aziz.


Rumah itu berstatus waqaf yang diserahkan langsung oleh Prof MAA untuk dijadikan pusat kegiatan dakwah dan pembinaan untuk kemajuan umat Islam Indonesia.


YKKD


Griya Ilmu Amin Aziz adalah sebagian dari rumah tinggal almarhum Prof M Amin Aziz dan Ibu Nursiah dan keluarga. Di Cijantung Jakarta Timur.


Saat menginjak tanah Jakarta pada tahun 1988, sebagai fresh graduate dari IAIN Ar-Raniry di Banda Aceh kala itu, saya beberapa waktu tinggal di rumah ini. Terhitung dari malam pertama saya menghirup udara Jakarta.


Di rumah ini saya hidup layaknya bagian keluarga dari  MAA. Pada diri MAA dan Ibu Nursiah saya lebih menemukan sosok orang tua yang memberikan perlindungan dan kenyamanan. Saya memulai belajar bekerja dalam keadaan seperti itu, dan mentor pertama saya dalam dunia kerja adalah MAA.


Awalnya berkantor di Tebet (PPA, pusat pengambangan agribisnis) dan ikut mengerjakan satu proyek penelitian di Jawa Barat. Namun tak lama setelah itu saya ditempatkan magang di LSAF (lembaga studi agama dan filsafat) di Jalan Empang Tiga Pasar Minggu dibawah kepemimpinan Mas Dawam Rahardjo. 




Saya tak lupa beberapa kali saya dibentak Mas Dawam, menurut saya hanya karena kesalahan kecil. Jatuh juga air mata saya. Sementara beberapa senior seperti Saleh Khalid, Hadimulyo, Zaki Siraj, saya lihat senyum senyum melihat saya merasa terpukul.


Saya terlibat mengerjakan beberapa seminar LSAF. Saya belajar manajemen event, tahap tahap pengelolaan sebuah seminar. Mungkin setahun ada di LSAF. 


Sekitar pertengahan 1989, MAA mendirikan yayasan kajian komunikasi dakwah (YKKD) bermarkas di Cijantung. Ya di rumah. Kantornya di paviliun bagian samping belakang rumah. Kamar tidur saya di lantai atas, bawahnya kantor. Saya diminta MAA bersama beberapa teman mengelola YKKD itu. 


Ada sejumlah teman lain yang kemudian aktif di YKKD, walau ada yang fluktuatif tidak lama. Sejumlah nama seperti Endang Hamdan, Jundan Hadikusuma, Darwis Hamzah, Erni adalah tim inti YKKD baru itu. Semua disitu sepanjang jam kerja kecuali saya. Saya tak punya jam kerja. Karena saya tinggal di kantor YKKD sebelum pindah kos ke “kandang ayam”. Kadang ayam adalah kompleks rumah kos milik MAA di jalan Pondok Baru II Cijantung yang disulap dari sebelumnya disitu kandang bisnis ayam potong.


Proyek Bersejarah


Di YKKD diantara beberapa seminar dan penelitian kami mengerjakan satu proyek bersejarah milik MUI yaitu lokakarya bunga bank dan perbankan dalam islam, pada 19 sd 20 Agustus 1990 di Hotel Safari Garden Cisarua Bogor.


Ide proyeknya unik. Satu malam sekira satu setengah jam sebelum subuh, seperti biasa MAA ngebel ke kamar saya di belakang. Beliau mengajak shalat malam. Kami sering melakukan shalat malam seperti itu secara berjamaah bersama ibuk di dekat ruang makan. Saya selalu disuruh jadi imam. Karena MAA bilang suara saya bagus. 


Setelah shalat dan wirid malam itu sebenarnya saya agak sedikit mengantuk ingin berangkat tidur lagi karena waktu subuh masih lumayan lama. Tapi MAA sambil beranjak bangun dari sajadah bicara kepada saya dalam bahasa Aceh, “siat, bek jak dile”, sekejap jangan pergi dulu.


Beliau kembali dari kamar dan menyerahkan kepada saya satu copi artikel majalah. Opini seorang tokoh, saya tak ingat persis lagi penulisnya. Ayip Bakar atau Rusydi Hamka. Judulnya mengenai bunga bank yang berlipat lipat dan derita ekonomi Indonesia. “Coba pelajari ini”, kata beliau.


Esoknya kami diskusikan artike itu dan saya diminta MAA menyusun proposal, yang kemudian kami bawa untuk presentasi di MUI.


Kyai Hasan Basri, Ketua MUI, sangat mengapresiasi gagasan itu dan menyetujui proposalnya.  Sekaligus menunjuk MAA ketua tim panitia dan saya sekretaris panitia. 


Rancangan pelaksanaan lokakarya nasional itu dan tim dimatangkan di Tebet. Karena proyek ini besar maka tentu tak mungkin hanya mengandalkan tim YKKD tetapi juga kolaborasi dengan tim Tebet (PPA) dan MUI. 


Lokakarya nasional itu alhamdulillah sangat sukses, menghasilkan rekomendasi dan diperkuat dalam munas MUI yang dimula tanggal 20 Agustus malam 1990 di Sahid Hotel Jakarta. Rekomendasi itu kemudian menjadi tonggak kebangkitan industri keuangan syariah di Indonesia.


Dua keputusan penting lokakarya itu yaitu: pertama, bunga bank haram. Mayoritas ulama yang hadir berpandangan kuat bahwa bunga bank adalah riba. Walau ada sebagian yang berpendapat beda. 


Kedua, merekomendasikan pendirian bank islam di Indonesia. Inilah dasar kemudian berdiri bank muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1992. Rekomendasi ini pula yang menjadi pijakan awal dan rujukan berdiri dan berkembangnya bank dan atau lembaga keuangan syariah di Indonesia sampai saat ini.


Tak dipungkiri bawa semangat yang tumbuh dari lokakarya bunga bank dan perbankan itu industri keuangan syariah berkembang dengan aset lebih seribu triliun rupiah saat ini. Juga lebih empat ribu BMT sudah ada di berbagai pelosok pasar dan desa.


Kembali ke laptop. Lokakarya selesai, tim pokja bentukan munas MUI untuk pendirian bank muamalat pun sudah mula bekerja. Sementara kami di YKKD bagaikan mablin (bidan tradisional) pun pergi melakukan pekerjaan lain. Salah satunya adalah proyek da’i transmigrasi, dan bermarkas di MUI, Istiqlal. Saya sendiri berkantor di ruang 25 lantai dasar Istiqlal mengkoordinir program dakwah bil hal MUi.


Proyek lokakarya nasional bunga bank itu mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, sehingga, seperti dilapor Hanifah Husen bendahara panitia lokakarya, surplus sebesar lebih 46 juta rupiah, dari 125,5 juta rupiah pendapatan proyek, itu bukan uang kecil kala itu, dapat digunakan sebagai biaya kegiatan tim penyiapan pendirian bank muamalat. 


Sementara, kata Hanifah, “YKKD yang mencari uang dan menggerakkan lokakarya itu tidak kita kasih apa apa”, (buku Kegigihan Sang Perintis, Biografi Prof MAA, halaman 13).


Pinbuk dan BMT


Bank muamalat disambut gegap gempita bagaikan hujan rahmat yang datang menyirami kerontangnya ladang usaha umat Islam Indonesia.


Tapi mayoritas umat segera kecewa dan Bank Muamalat (BMI, kala itu) menderita. Karena proposal yang datang berduyun duyun ke BMI tak memenuhi persyaratan 5C bank. 


MAA kembali tampil ke depan mengadopsi model LKM yang kala itu sudah berjalan dan diterima masyarakat pengusaha kecil. Yaitu BMT, Baitul Mal wat Tamwil. Di Aceh disebut Baitul Qairadh.


Untuk menjalakan pengembangan gagasan alternatif lembaga keuangan mikro syariah itu, setelah BMI dan BPRS tak mampu menjadi tonggak untuk pengusaha kecil dan mikro, MAA mendirikan yayasan Pinbuk. 


Formalnya Pinbuk awal digencarkan dari markas ICMI di Kebun Sirih Jakarta Pusat, yaitu sejak resmi berdiri 13 Maret 1995. Namun konsep dan strateginya digodok di Tebet (markas PPA) atau rumah Cijantung, yaitu tempat dimana MAA leluasa.


Ketika kita memperingati 36 tahun perjalanan gagasan kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Juga bersempena 31 tahun Pinbuk. Serta menyambut fajar baru kebangkitan berikutnya industri keuangan syariah dengan semangat baru dan pendekatan diperbarukan. Maka membersamai  Pinbuk kita bersyukur dapat kembali menyerap semangat awal misi besar ini di Griya Ilmu Amin Aziz. 


Pinbuk diinisiasi untuk terus ada mengawal perjuangan panjang kemanfaatan industri keuangan mikro syariah bagi mayoritas warga bangsa ini. Tidak untuk berhenti terlebih hanya pada kemajuan diri sendiri.


Wallahu a’lam


Cijantung, 21 April 2026

×
Berita Terbaru Update