Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Seminar Pendidikan Nasional dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) ICMI Aceh Besar yang berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa, 7 Juli 2026, bertepatan dengan 22 Muharram 1448 Hijriah, mengangkat tema “Transformasi Kebijakan Pendidikan Nasional dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas Tahun 2045.”
Forum ilmiah tersebut menghadirkan tiga pembicara yang sangat berkompeten di bidangnya, yakni Prof. Mujiburrahman, Prof. Eka Srimulyani, dan Prof. Mustanir. Ketiga narasumber menyoroti pentingnya langkah-langkah besar, terencana, dan berkelanjutan dalam mempersiapkan bangsa menyongsong tahun 2045, ketika Indonesia genap berusia 100 tahun sebagai negara merdeka.
Sesungguhnya, tahun 2045 bukanlah masa depan yang masih sangat jauh. Waktu terus berjalan, dan kurang dua dekade dari sekarang ke tahun 2045 bukanlah rentang yang panjang dalam proses pembangunan sebuah bangsa.
Saat ini Indonesia memang masih terus berjuang menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari kualitas pendidikan, ketimpangan ekonomi, transformasi teknologi, hingga pembangunan karakter bangsa.
Namun, di balik semua tantangan tersebut tumbuh kesadaran kolektif bahwa Indonesia akan memasuki momentum emas yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Kesadaran inilah yang menjadi modal awal untuk melangkah lebih terarah.
Bonus Demografi
Visi Indonesia Emas 2045 yang ditetapkan pemerintah bukan sekadar cita-cita untuk menjadi negara maju dari sisi ekonomi. Lebih dari itu, Indonesia diharapkan menjadi negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur dengan sumber daya manusia yang unggul, produktif, inovatif, berkarakter, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa.
Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kualitas manusia, pemerataan kesejahteraan, keberlanjutan lingkungan, penguatan tata kelola pemerintahan, serta daya saing nasional di tingkat global.
Untuk mencapai visi tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai arah pembangunan melalui penguatan kualitas pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, pengembangan riset dan inovasi, penguatan industri nasional, hilirisasi sumber daya alam, hingga pengembangan ekonomi hijau.
Bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya menjelang tahun 2045 juga menjadi modal besar apabila mampu dikelola dengan baik. Generasi usia produktif yang mendominasi jumlah penduduk dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi apabila memiliki kompetensi, karakter, dan kesempatan kerja yang memadai.
Tantangan Riil
Namun demikian, jalan menuju Indonesia Emas bukan tanpa hambatan. Sedikitnya terdapat lima tantangan riil yang saat ini memerlukan sinergi seluruh komponen bangsa bersama dunia pendidikan dan industri.
Pertama, kualitas pendidikan yang masih belum merata. Masih terdapat kesenjangan mutu pendidikan antardaerah, baik dari sisi sarana, tenaga pendidik, maupun akses terhadap teknologi pembelajaran. Bahkan indeks posisi pendidikan indonesia masih tertinggal jauh dari standar internasional yang diterapkan.
Kedua, rendahnya kualitas sebagian sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan global. Penguasaan keterampilan abad ke-21, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta literasi digital masih perlu terus ditingkatkan.
Ketiga, disrupsi teknologi yang berkembang sangat cepat, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Teknologi menawarkan peluang luar biasa, tetapi juga dapat menggeser banyak jenis pekerjaan apabila manusia tidak meningkatkan kompetensinya.
Keempat, tantangan karakter dan moral generasi muda. Kemajuan teknologi informasi sering kali tidak diimbangi dengan penguatan akhlak, etika, tanggung jawab, serta kemampuan menyaring berbagai informasi yang membanjiri ruang digital.
Kelima, lemahnya kolaborasi lintas sektor. Pendidikan tidak dapat bekerja sendiri. Dunia usaha, industri, pemerintah, keluarga, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh agama harus bergerak bersama agar proses penyiapan generasi unggul berjalan selaras dengan kebutuhan masa depan.
Generasi Terbaik
Dalam seminar tersebut, Prof. Mujiburrahman menekankan bahwa berbagai potensi bangsa harus digerakkan dengan kesengajaan dan perencanaan yang matang. Indonesia memiliki modal yang besar berupa jumlah penduduk, kekayaan alam, keberagaman budaya, dan bonus demografi. Akan tetapi, semua potensi tersebut tidak akan menghasilkan perubahan apabila tidak dikelola secara serius, konsisten, dan berorientasi jangka panjang.
Tantangan yang dihadapi Indonesia begitu besar sehingga tidak cukup dijawab dengan rutinitas biasa, melainkan membutuhkan kerja-kerja luar biasa yang melibatkan seluruh elemen bangsa.
Sementara itu, Prof. Eka Srimulyani memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Menurut beliau, AI merupakan keniscayaan yang tidak mungkin dihindari.
Yang perlu diwaspadai adalah apabila manusia justru kehilangan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi tersebut. AI dapat menjadi alat yang sangat membantu kehidupan manusia, tetapi juga dapat menjadi ancaman apabila generasi muda menjadi bergantung, kehilangan kreativitas, melemah kemampuan berpikir kritis, bahkan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Jika generasi kita kalap terhadap teknologi tanpa kebijaksanaan, maka harapan menuju generasi emas justru dapat berubah menjadi generasi yang dipenuhi kecemasan.
Karena itu, literasi digital, etika teknologi, dan pendidikan karakter harus berjalan beriringan.
Pandangan yang tidak kalah penting disampaikan Prof. Mustanir. Beliau membayangkan generasi emas bukan semata-mata generasi yang unggul secara akademik, kaya secara ekonomi, atau hebat dalam penguasaan teknologi. Generasi emas sejati adalah generasi terbaik yang berjalan seiring dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw.
Kemajuan ilmu pengetahuan harus dipadukan dengan kekuatan iman, ketakwaan, kejujuran, amanah, kepedulian sosial, serta akhlak mulia.
Dengan demikian, kemajuan bangsa tidak hanya menghasilkan masyarakat yang cerdas, tetapi juga masyarakat yang bermoral dan berkeadaban.
Kontribusi
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita bersama yang tidak mungkin diwujudkan oleh pemerintah atau lembaga pendidikan semata. Seluruh komponen bangsa harus mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing.
Setidaknya terdapat lima kontribusi nyata yang dapat dilakukan.
Pertama, orang tua membangun fondasi karakter, kedisiplinan, kecintaan belajar, dan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini di lingkungan keluarga.
Kedua, guru dan lembaga pendidikan terus meningkatkan mutu pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga membentuk kreativitas, kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan akhlak peserta didik.
Ketiga, para pemimpin di semua tingkatan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan sumber daya manusia, transparan, berintegritas, dan mampu menjadi teladan bagi masyarakat.
Keempat, tokoh masyarakat dan tokoh agama memperkuat persatuan, memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, membangun optimisme, serta menjaga harmoni sosial di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Kelima, pemerintah bersama dunia usaha, industri, perguruan tinggi, media, dan organisasi kemasyarakatan terus memperluas kolaborasi dalam menciptakan lapangan kerja, mendukung inovasi, memperkuat riset, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memastikan setiap anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Tahun 2045 akan datang, cepat atau lambat. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia siap menyambutnya, tetapi apakah kita telah melakukan bagian terbaik mulai hari ini.
Indonesia Emas tidak akan lahir hanya melalui slogan dan seremoni, melainkan melalui kerja bersama yang konsisten, kolaboratif, dan berorientasi pada masa depan.
Apabila seluruh elemen bangsa bergerak dalam satu irama, memadukan kecerdasan, teknologi, karakter, dan nilai-nilai luhur agama, maka harapan mewujudkan generasi emas bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 22 Muharram 1448, 7 Juli 2026
(Penulis adalah akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)
