Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya tarik kembali rak pribadi satu buku, yang juga menarik untuk dibaca oleh siapa saja yang setiap hari bergelut dengan target, tekanan, dan tuntutan pekerjaan. Buku itu berjudul Ubah Lelah Jadi Lillah karya Dwi Suwiknyo, diterbitkan pada tahun 2018.
Buku ini menghadirkan refleksi yang inspiratif tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan dijalani dengan perencanaan hidup yang baik oleh para pekerja, pebisnis, politikus, birokrat, akademisi, maupun masyarakat umum.
Di tengah kehidupan yang dipenuhi target untuk dikejar, ternyata tidak sedikit orang yang justru sepi dari rancangan tujuan hidup yang jelas dan tegas.
Hidup mereka mengalir begitu saja seperti air yang selalu mencari tempat paling rendah, padahal manusia diciptakan Allah dalam kapasitas yang paling sempurna sebagai khalifah di muka bumi.
Allah SWT menegaskan: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan sekadar untuk bekerja, mencari nafkah, mengumpulkan kekayaan, atau mengejar jabatan.
Manusia mengemban amanah besar sebagai khalifah, yakni memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, menjaga keseimbangan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Ironisnya, banyak orang bekerja terus, bekerja tanpa henti, tetapi sesungguhnya bekerja tanpa hati. Seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya dicurahkan untuk mengejar target-target duniawi.
Pagi berangkat sebelum anak bangun, malam pulang ketika keluarga telah tidur. Telepon genggam tidak pernah berhenti berdering. Akhir pekan pun dipenuhi rapat dan urusan pekerjaan. Prestasi terus bertambah, tetapi kebersamaan dengan keluarga semakin berkurang. Harta meningkat, tetapi ketenangan hidup justru menghilang.
Lebih menyedihkan lagi, shalat sering ditunda, zikir dilupakan, Al-Qur’an tak lagi dibaca, dan hubungan dengan Allah semakin renggang.
Padahal Allah telah mengingatkan: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ayat ini memberikan orientasi hidup yang sangat jelas. Bekerja adalah bagian dari ibadah, bukan pengganti ibadah. Karier adalah sarana, bukan tujuan akhir. Dunia adalah ladang, bukan tempat tinggal yang abadi.
Gagal Tujuan
Mengapa banyak orang gagal merumuskan tujuan hidupnya? Salah satu penyebab utamanya ialah karena mereka larut dalam rutinitas harian tanpa sempat berhenti untuk bertanya, “Untuk apa sebenarnya semua ini?”
Kesibukan membuat mereka kehilangan arah. Target demi target menggantikan cita-cita hidup. Jadwal kerja menggantikan agenda ruhani. Akhirnya hidup berjalan secara otomatis tanpa kompas nilai.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa hati yang lalai dari mengingat Allah akan mudah diperbudak oleh syahwat dan ambisi dunia.
Ketika hati dikuasai nafsu, seseorang akan menganggap keberhasilan hanya diukur dari materi, jabatan, dan popularitas. Ia tidak lagi peka terhadap halal dan haram, benar dan salah, bahkan merasa seolah tidak ada pengawasan dari Allah.
Padahal Allah berfirman: “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS. Al-’Alaq: 14).
Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi merupakan benteng moral yang sangat kuat. Ketika kesadaran itu melemah, penyimpangan menjadi semakin mudah terjadi.
Korupsi, manipulasi, pengkhianatan amanah, eksploitasi bawahan, bahkan pengabaian terhadap keluarga sering kali berawal dari hilangnya orientasi ilahiah dalam bekerja.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi fondasi bahwa kualitas pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh hasilnya, tetapi juga oleh niat yang melandasinya. Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi nilainya sangat berbeda di sisi Allah karena berbeda niat dan orientasinya.
Ulama kontemporer, Syekh Yusuf Al-Qaradawi, berulang kali menegaskan bahwa Islam tidak pernah memisahkan urusan dunia dan akhirat.
Aktivitas ekonomi, profesi, kepemimpinan, bahkan bisnis dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Sebaliknya, pekerjaan yang tampak megah dapat kehilangan nilai spiritual apabila hanya didorong oleh kesombongan dan ambisi dunia.
Pesan yang sejalan juga disampaikan banyak motivator dunia. Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People mengingatkan pentingnya “begin with the end in mind”—memulai segala sesuatu dengan tujuan akhir yang jelas.
Seseorang harus terlebih dahulu menentukan seperti apa kehidupan yang ingin diwariskan sebelum menyusun aktivitas hariannya.
Demikian pula Simon Sinek melalui konsep Start With Why menekankan bahwa orang yang mengetahui alasan terdalam mengapa ia bekerja akan lebih mampu menjalani hidup secara seimbang daripada mereka yang hanya mengejar angka dan target.
Pengendalian Hidup
Mereka sesungguhnya mengingatkan hal yang sama: jangan sampai pekerjaan mengendalikan hidup, tetapi hiduplah yang mengendalikan pekerjaan.
Jangan memaksa diri mengejar semua target hingga kehilangan kesehatan, keluarga, persahabatan, dan kedamaian batin. Kesuksesan yang diperoleh dengan mengorbankan seluruh aspek kehidupan pada akhirnya bukanlah kemenangan, melainkan kehilangan yang mahal.
Pesan-pesan inilah yang juga ingin dibahas oleh Dwi Suwiknyo dalam bukunya Ubah Lelah Jadi Lillah. Kelelahan tidak selalu buruk. Yang berbahaya adalah ketika lelah itu kehilangan makna.
Lelah yang dipersembahkan untuk Allah akan berubah menjadi ibadah. Sebaliknya, lelah yang hanya dipersembahkan kepada ego dan ambisi pribadi sering kali berujung pada kehampaan.
Orientasi Hidup
Karena itu, setiap Muslim perlu menyusun kembali arah hidupnya. Pertama, hidup harus terarah sesuai tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Setiap keputusan, profesi, dan aktivitas hendaknya selalu ditimbang dengan pertanyaan sederhana: apakah ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan?
Kedua, hidup harus berorientasi pada keberkahan. Berkah bukan sekadar bertambahnya jumlah harta, melainkan bertambahnya kebaikan. Sedikit tetapi cukup, sederhana tetapi menenteramkan, itulah hakikat keberkahan.
Harta yang berkah menghadirkan ketenangan, keluarga yang berkah melahirkan kebahagiaan, dan pekerjaan yang berkah memberikan manfaat luas bagi banyak orang.
Ketiga, hidup harus menghasilkan maslahah. Kehadiran seseorang semestinya membawa manfaat bagi keluarga, tetangga, masyarakat, tempat kerja, bahkan lingkungan.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kesuksesan yang tidak menghadirkan manfaat sosial hanyalah kemegahan yang rapuh.
Keempat, seluruh aktivitas harus bermuara pada nilai lillah. Semua pekerjaan, jabatan, usaha, dan pengabdian hendaknya dikaitkan kepada Allah.
Ketika seseorang bekerja lillah, ia tidak lagi mudah kecewa ketika gagal dan tidak mudah sombong ketika berhasil. Ia memahami bahwa dirinya hanyalah hamba yang sedang menjalankan amanah.
Tak Bekerja Tanpa Allah
Pada akhirnya, bekerja terus bukanlah masalah. Bekerja keras juga bukan kesalahan. Yang perlu dihindari adalah bekerja tanpa hati, bekerja tanpa arah, dan bekerja tanpa Allah.
Kesuksesan sejati bukan sekadar mencapai target dunia, melainkan berhasil menjaga keluarga, memelihara integritas, menghadirkan manfaat bagi sesama, dan kembali kepada Allah dengan membawa amal terbaik.
Ada tiga hal yang patut dijadikan pegangan oleh setiap pekerja dan setiap manusia agar setiap proses dan hasil kerjanya bernilai lillah.
Pertama, luruskan niat setiap memulai pekerjaan dengan menjadikannya sebagai ibadah dan amanah, bukan semata-mata alat mengejar materi atau popularitas.
Kedua, jagalah keseimbangan antara hak Allah, hak keluarga, hak diri sendiri, dan hak masyarakat sehingga keberhasilan profesional tidak dibayar dengan keretakan hubungan dan kekeringan spiritual.
Ketiga, lakukan evaluasi diri (muhasabah) secara rutin dengan bertanya apakah pekerjaan yang dilakukan semakin mendekatkan kepada Allah, semakin membawa keberkahan, dan semakin memberikan kemaslahatan bagi orang lain.
Apabila tiga prinsip ini terus dijaga, maka lelah tidak lagi menjadi beban, melainkan berubah menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 25 Muharram 1448, 10 Juli 2026
(Penulis akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
