Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Generasi yang akan meraih kesuksesan pada momentum Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mereka yang memiliki kecerdasan akademik, tetapi kelompok manusia terbaik yang berperan aktif membangun kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Hal tersebut disampaikan intelektual muslim dan juga guru besar fakultas MIPA universitas Syiah Kuala, Prof. Mustanir, saat menjadi pembicara pada Talk Show Pendidikan Nasional dan Musyawarah Daerah (Musda) ICMI Aceh Besar yang berlangsung di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (7/7/2026), bertepatan dengan 22 Muharram 1448 Hijriah.
Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan panduan mengenai karakter umat terbaik melalui firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 110: “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnās ta’murūna bil-ma’rūfi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minūna billāh” yang berarti, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” Ayat tersebut, katanya, menjadi landasan bahwa keberhasilan bangsa sangat ditentukan oleh lahirnya generasi yang memiliki integritas moral sekaligus kapasitas intelektual.
Prof. Mustanir menekankan bahwa generasi masa depan harus menjadi generasi yang cerdas sekaligus cerdik dalam arti yang positif. Menurutnya, dunia terus berkembang dengan berbagai dimensi yang tidak seluruhnya dapat dihitung atau diprediksi. Karena itu, kecerdasan saja tidak cukup tanpa kemampuan membaca peluang, beradaptasi, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
“Cerdik harus didasari oleh kepandaian agar melahirkan keputusan yang benar, produktif, dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh kaum cendekiawan dan cendekiawati untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan dalam membangun karakter, memperkuat pengetahuan, serta meningkatkan kualitas bangsa. Setiap individu, katanya, harus mengambil bagian dan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurut Prof. Mustanir, tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga masyarakat mampu membedakan antara yang hak dan batil, yang baik dan yang buruk. Namun ia menilai kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Ia menyebut capaian pendidikan Indonesia masih berada pada kisaran skor 270 dibandingkan standar internasional, sehingga dinilai tertinggal jauh dibandingkan sejumlah negara di kawasan seperti Korea Selatan dan Vietnam.
Selain itu, ia menyoroti masih rendahnya literasi masyarakat, termasuk di kalangan terdidik, dalam bidang agama, hukum, dan budaya. Kondisi tersebut, menurutnya, turut memengaruhi daya saing Indonesia di tingkat internasional karena lemahnya kemampuan literasi dan keluasan wawasan.
“Kalau ditanya siapa yang salah, maka jawabannya adalah kita semua, mulai dari orang tua, guru, para pemimpin, hingga para tokoh masyarakat. Semua memiliki tanggung jawab memperbaiki kualitas pendidikan bangsa,” katanya.
Prof. Mustanir juga menilai banyak generasi muda Indonesia sebenarnya memiliki kecerdasan, namun belum cukup memiliki kecerdikan dalam memanfaatkan peluang, semangat juang, serta daya lenting (resiliensi). Sebagai contoh, ia menyebut masih terdapat sekitar 40 persen peserta yang telah lulus seleksi masuk perguruan tinggi tetapi tidak melakukan pendaftaran ulang karena kurang memiliki motivasi, kesiapan, atau daya juang yang memadai.
Karena itu, ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) baik pada masyarakat maupun generasi muda agar mampu menghadapi tantangan masa depan secara lebih optimistis dan produktif.
Khusus untuk Aceh, Prof. Mustanir menyampaikan keprihatinannya karena kualitas pendidikan Aceh masih berada di peringkat ke-31 dari 38 provinsi, padahal daerah ini memiliki sumber daya yang relatif memadai. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sikap kritis pada generasi muda, termasuk kemampuan memahami hak dan kewajiban secara seimbang sehingga mereka tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
“Ketika kita menyadari kualitas pendidikan masih rendah, maka yang harus dilakukan adalah melahirkan berbagai terobosan dan gerakan positif yang agresif untuk membangun generasi masa depan yang mandiri, tangguh, dan tidak manja menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Menutup paparannya, Prof. Mustanir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menunggu perubahan dilakukan pihak lain. Menurutnya, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan akan menjadi investasi penting bagi peningkatan kualitas pendidikan serta masa depan anak-anak dan generasi muda Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Laporan Saif
