Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Membaca blog Prof. Sri Suyanta pada Kamis pagi, 9 Juli 2026, menarik perhatian saya. Dalam tulisannya, Prof. Suyanta mengulas betapa pentingnya upaya istiqamah dalam amal saleh. Beliau menjelaskan adanya keterkaitan yang sangat kuat dan saling menjaga antara iman, amal saleh, dan istiqamah.
Iman melahirkan amal saleh, amal saleh dipelihara dengan istiqamah, sedangkan istiqamah sendiri hanya akan bertahan apabila terus diikat oleh keimanan. Penjelasan tersebut menghadirkan sebuah ilustrasi yang utuh tentang kehidupan beragama seorang hamba.
Lingkaran iman, Islam, amal saleh, dan istiqamah bagaikan sebuah magnet yang menyaring sekaligus menarik seluruh unsur yang sejalan dengan substansi kebaikan dan akhlak Islami. Selama lingkaran magnet itu tetap terjaga, seorang hamba akan senantiasa tertopang untuk tetap berada pada poros yang benar.
Seluruh aktivitas kehidupannya akan berputar pada orbit yang sesuai dengan bimbingan Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW.
Satu hal sangat penting Prof Suyanta mengilustrasikan bahwa amal shalih tak menjadi maksimal dari ledakan tetapi dari kesabaran untuk bertahan.
Konsisten
Istiqamah secara bahasa berarti lurus, teguh, dan konsisten berada di jalan yang benar tanpa menyimpang. Dalam perspektif syariat, istiqamah bukan sekadar melakukan kebaikan sekali atau dua kali, tetapi mempertahankannya secara berkesinambungan hingga akhir hayat.
Karena itu, istiqamah sering disebut sebagai ujian terbesar setelah seseorang memperoleh hidayah.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30).
Ayat lain yang sangat terkenal adalah firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW: “Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112).
Bahkan para ulama meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa surah Hud telah membuat rambut beliau beruban karena beratnya perintah untuk tetap istiqamah.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada selain engkau.” Rasulullah menjawab: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.”
Hadis yang singkat ini memperlihatkan bahwa setelah iman, tugas berikutnya adalah menjaga konsistensi agar iman tersebut terus melahirkan amal saleh sepanjang kehidupan.
Ulama besar Mesir, Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, menjelaskan bahwa istiqamah berarti menjaga seluruh gerak kehidupan agar tetap berada dalam koridor perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Menurut beliau, istiqamah bukan hanya soal memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga konsisten dalam kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab di tengah kehidupan sosial.
Sementara itu, Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa istiqamah merupakan buah dari kekuatan hati yang terus mengendalikan hawa nafsu.
Menurut beliau, seseorang tidak dinilai dari semangat sesaat, tetapi dari kemampuannya mempertahankan amal hingga akhir. Amal kecil yang terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesekali dilakukan.
Disiplin Menjalankan Tujuan
Konsep istiqamah ternyata memiliki kesesuaian dengan teori-teori modern dalam ilmu manajemen. Peter F. Drucker menegaskan bahwa organisasi yang berhasil bukanlah organisasi yang sering mengubah arah, melainkan organisasi yang disiplin menjalankan tujuan yang telah ditetapkan melalui pelaksanaan yang konsisten.
James C. Collins dalam Good to Great juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan hebat dibangun bukan oleh keputusan-keputusan spektakuler sesaat, tetapi oleh disiplin yang dilakukan berulang kali dalam jangka panjang. Ia menyebutnya sebagai culture of discipline, budaya disiplin yang menjaga organisasi tetap berada pada jalur visi dan misinya.
Stephen R. Covey melalui konsep The 7 Habits of Highly Effective People menekankan pentingnya hidup berdasarkan prinsip (principle-centered living). Seseorang yang berpegang pada prinsip tidak mudah tergoda oleh perubahan situasi maupun tekanan lingkungan. Ia tetap konsekuen terhadap amanah, target, dan nilai-nilai yang diyakininya.
Dalam dunia kerja, istiqamah berarti hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara moral dan profesional.
Pegawai yang istiqamah tidak bekerja hanya ketika diawasi atasan, melainkan karena menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap amanah yang dipikulnya. Konsistensi seperti inilah yang melahirkan budaya pelayanan prima, integritas, dan produktivitas yang berkelanjutan.
Tak Mudah Bosan
Lalu bagaimana menjaga istiqamah agar tidak mudah goyah oleh rasa bosan, godaan, atau kelelahan? Disarankan sebagai berikut.
Pertama, memperbaharui niat secara berkala. Setiap aktivitas hendaknya selalu dikembalikan sebagai bentuk ibadah kepada Allah sehingga motivasi tidak bergantung pada pujian atau penghargaan manusia.
Kedua, membangun kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.
Ketiga, menjaga lingkungan yang baik. Berteman dengan orang-orang saleh dan profesional akan memperkuat semangat untuk tetap berada pada jalan yang benar.
Keempat, melakukan evaluasi (muhasabah) secara rutin. Dengan evaluasi, seseorang dapat mengetahui kelemahan sekaligus memperbaiki penyimpangan sebelum menjadi kebiasaan buruk.
Kelima, mengingat tujuan akhir dari seluruh pekerjaan, yakni mencari ridha Allah sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama manusia. Fokus terhadap tujuan membuat seseorang tidak mudah tergoda untuk “banting setir” hanya karena mengalami kejenuhan sementara.
Semangat Jangka Panjang
Ilmu psikologi modern juga memberikan penjelasan menarik mengenai konsistensi. Psikolog Angela Duckworth melalui konsep grit menyebutkan bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kombinasi antara ketekunan dan semangat jangka panjang daripada sekadar bakat.
Orang yang memiliki grit akan tetap bertahan menghadapi kegagalan, kebosanan, dan kesulitan karena fokus pada tujuan yang lebih besar.
Psikolog Edwin A. Locke bersama Gary P. Latham melalui Goal Setting Theory menjelaskan bahwa target yang jelas, spesifik, dan menantang akan meningkatkan komitmen seseorang untuk tetap konsisten bekerja.
Sementara Albert Bandura melalui teori self-efficacy menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri akan membuat seseorang lebih tahan menghadapi hambatan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Khulashah
Bila pandangan para ulama dipadukan dengan teori manajemen dan psikologi modern, tampak bahwa istiqamah bukanlah kemampuan yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil latihan yang panjang, disiplin yang terus dipelihara, lingkungan yang mendukung, tujuan yang jelas, serta keimanan yang terus diperbaharui. Karena itu, istiqamah menjadi fondasi lahirnya pribadi yang profesional sekaligus bertakwa.
Pada akhirnya, umat Islam, khususnya para aparatur, dosen, guru, pegawai, profesional, dan seluruh pekerja Muslim, hendaknya terus berjuang mempertahankan sikap istiqamah dalam ibadah maupun bekerja.
Jangan mudah berpindah arah hanya karena godaan kenyamanan sesaat atau rasa bosan yang datang silih berganti. Bertahan pada jalan yang benar merupakan bentuk kemenangan yang sesungguhnya.
Dengan istiqamah, setiap amanah akan dijalankan secara konsisten, setiap target akan diupayakan dengan sungguh-sungguh, dan setiap pekerjaan akan menghasilkan kualitas terbaik.
Inilah hakikat bekerja menurut konsep ahsanu ’amalan—melakukan pekerjaan sebaik-baiknya karena Allah SWT, sehingga setiap amal bernilai ibadah dan menjadi bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 24 Muharram 1448, 9 Juli 2026
(Penulis adalah akademisi FAH UIN Ar-Raniry Bada Aceh, bendahara ICMI Aceh)
