Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh menegaskan bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi harus ditopang oleh keimanan, moral, serta akhlak mulia generasi bangsa.
Hal tersebut disampaikan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahma, saat menjadi keynote speaker pada Talkshow Pendidikan Nasional dan Musyawarah Daerah (Musda) ICMI Aceh Besar yang berlangsung di Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (7/7/2026), bertepatan dengan 22 Muharram 1448 Hijriah.
Menurutnya, Indonesia akan memasuki usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045 dengan berbagai harapan besar sebagai Indonesia Emas. Namun, di balik optimisme tersebut masih terdapat berbagai persoalan mendasar, terutama menyangkut degradasi moral dan melemahnya nilai-nilai keagamaan.
“Kita patut bertanya, apakah Indonesia masih tetap berdiri sebagai sebuah negara ketika memasuki usia emas itu, atau justru menghadapi ancaman perpecahan akibat persoalan yang tidak mampu kita selesaikan sejak sekarang, maka penting kita sharing untuk memberikan perkuatan upaya yang sedang dilakukan pemerintah bersama berbagai komponen bangsa untuk tujuan itu,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa krisis multidimensi yang melanda Indonesia pada 1998 tidak hanya dipicu oleh persoalan ekonomi, tetapi juga berakar pada rusaknya moral. Karena itu, ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak mengulangi kesalahan yang sama ketika memasuki era Indonesia Emas.
Menurutnya, salah satu tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah partisipasi bangsa untuk mendukung arah arah pembangunan pendidikan yang dinilai masih perlu perhatian segenap pihak bersama pemerintah terhadap pembentukan karakter, moral, dan agama.
Sebagai solusi, ia menawarkan penguatan keimanan, pendidikan agama, dan pembinaan akhlak sebagai fondasi utama pembangunan bangsa yang ini secara umum sudah terefleksi dalam Asta Cita sebagai arah pembangunan yang saat ini berjalan.
Selain itu, reformasi di bidang hukum dan politik juga perlu terus dilakukan agar melahirkan tata kelola negara yang makin berkeadilan dan berintegritas.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
“Indonesia akan menjadi negara yang kuat pada usia 100 tahun nanti apabila generasi bangsanya memiliki moral yang kokoh sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar Indonesia tidak berkembang menjadi bangsa yang mengabaikan Tuhan dan nilai-nilai agama dalam pembangunan.
Sebagai ilustrasi, ia menyinggung pengalaman Iran yang, menurutnya, tetap mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan internasional selama lebih dari empat dekade karena tetap mempertahankan kehidupan beragama, menjaga moral dan akhlak, serta terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Khusus untuk Aceh, Rektor UIN Ar-Raniry menilai tantangan pembinaan generasi muda juga tidak ringan. Ia menyebut masih terdapat persoalan mendasar dalam kemampuan literasi Al-Qur’an di kalangan pemuda dan mahasiswa.
“Masih ada sekitar 30 persen pemuda dan mahasiswa kita yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, khususnya ICMI Aceh Besar, dapat mengambil peran strategis dalam mengawal lahirnya generasi muda yang memiliki keimanan kuat, berakhlakul karimah, unggul dalam ilmu pengetahuan, serta mampu menjawab tantangan Indonesia Emas 2045.
Laporan Saif
