-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Outcomes Abu Paya Pasie ke UIN

Sabtu, 19 September 2026 | September 19, 2026 WIB Last Updated 2026-09-19T12:50:54Z


Ketika Dayah dan Kampus Bertemu, Keilmuan Aceh Menemukan Jalan Baru


Oleh Saifuddin A Rasyid 

Al-Rasyid.id | Ada silaturahim yang sekadar mempertemukan manusia. Ada pula silaturahim yang mempertemukan gagasan, kekuatan dan masa depan.


Kunjungan Abu Paya Pasie, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, ke UIN Ar-Raniry, Jumat, 18 September 2026, rasanya termasuk yang kedua. Kunjungan itu memang berlangsung dalam satu hari. Tetapi outcomes-nya jangan sampai hanya selesai ketika Abu meninggalkan kampus.


Justru setelah beliau pulang, pekerjaan besar semestinya dimulai.


Sebab yang bertemu bukan sekadar Abu Paya Pasie dengan pimpinan UIN Ar-Raniry. Yang sedang dipertemukan adalah dua kekuatan penting umat di Aceh: kekuatan keulamaan dan kekuatan akademik; tradisi dayah dan tradisi perguruan tinggi; mimbar masjid dan ruang akademik.


Inilah yang membuat kunjungan tersebut terasa membahagiakan bagi warga kampus.


Bukan Sekadar Bertamu


Agenda utama Abu Paya Pasie adalah bersilaturahim dengan pimpinan UIN Ar-Raniry. Pertemuan itu merupakan kelanjutan komunikasi sebelumnya antara Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Mujiburrahman dengan Abu Paya Pasie dan jajaran pimpinan Masjid Raya Baiturrahman.


Maka, pertemuan ini memiliki fondasi yang lebih dalam daripada sekadar kunjungan kehormatan.


Ada kedekatan personal yang sedang diarahkan menjadi kedekatan kelembagaan. Ada komunikasi yang mulai menemukan bentuk kerja sama. Dan ada potensi sinergi yang dapat dikembangkan untuk kepentingan dakwah, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.


Ini penting karena Masjid Raya Baiturrahman dan UIN Ar-Raniry memiliki posisi strategis masing-masing.


Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol sejarah, spiritualitas dan kekuatan umat Aceh. UIN Ar-Raniry adalah simbol pendidikan tinggi Islam, pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan sumber daya manusia.


Kalau dua simbol ini berjalan sendiri-sendiri, banyak energi umat yang mungkin tidak bertemu. Tetapi jika keduanya dipertautkan, energi itu dapat menjadi kekuatan yang jauh lebih besar.


Al-Qur’an telah mengajarkan prinsipnya:


“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)


Sinergi karena itu bukan sekadar bahasa manajemen modern. Dalam perspektif Islam, kerja bersama untuk kemaslahatan adalah bagian dari jalan kebajikan.


Aceh Tidak Kekurangan Potensi, tetapi Harus Mempertemukan Kekuatan


Aceh sesungguhnya memiliki modal yang besar. Ada ulama, dayah, masjid, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, pemerintah, cendekiawan dan komunitas masyarakat.


Persoalannya sering bukan ketiadaan kekuatan, tetapi belum optimalnya kekuatan-kekuatan itu dipertemukan.


Data pembangunan manusia menunjukkan Aceh terus bergerak. BPS mencatat IPM Aceh 2025 mencapai 76,23, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun angka tersebut tidak boleh membuat kita berhenti berbenah. Pada 2024, Angka Partisipasi Sekolah usia 16–18 tahun masih 81,55 persen.


Di balik angka itu ada anak-anak Aceh yang membutuhkan kesempatan belajar, keluarga yang membutuhkan penguatan, dan generasi muda yang membutuhkan pendampingan.


Karena itu, pembangunan Aceh tidak boleh hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.


Pembangunan yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia.


Dan pembangunan manusia membutuhkan ilmu sekaligus nilai.


Di sinilah masjid, dayah dan kampus menemukan ruang perjumpaannya.


Jangan Lagi Membiarkan Dayah dan Kampus Berjalan di Dua Lorong


Salah satu pekerjaan besar pendidikan Islam di Aceh adalah mengurangi sekat yang tidak perlu antara tradisi dayah dan tradisi akademik.


Dayah memiliki kekuatan sanad keilmuan, tradisi adab, kedalaman keagamaan dan kedekatan dengan masyarakat.


Perguruan tinggi memiliki kekuatan riset, metodologi, teknologi, inovasi dan jaringan keilmuan.


Mengapa kekuatan sebesar itu harus berjalan sendiri-sendiri?


Bukankah lebih indah jika santri mengenal metodologi penelitian, sementara mahasiswa mengenal kedalaman tradisi keilmuan dayah?


Bukankah lebih produktif jika ulama berbicara dengan peneliti tentang persoalan umat, sementara akademisi belajar dari pengalaman ulama dalam membina masyarakat?


Bukankah lebih kuat jika hasil penelitian kampus dapat diterjemahkan menjadi program pemberdayaan masyarakat melalui masjid dan dayah?


Aceh tidak membutuhkan dikotomi yang mempertentangkan dayah dengan kampus. Aceh membutuhkan jembatan yang mempertemukan keduanya.


Di sinilah pertemuan Abu Paya Pasie dengan Prof. Mujiburrahman menjadi simbol yang penting.


Ketika Abu Berdiri di Mimbar Kampus


Makna kunjungan semakin kuat ketika Abu Paya Pasie menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry.


Seorang ulama besar dari tradisi dayah berdiri di mimbar masjid kampus. Di hadapannya ada mahasiswa, dosen dan sivitas akademika.


Bagi saya, ini bukan sekadar agenda khutbah.


Ada pesan keilmuan yang sangat kuat.


Abu Paya Pasie datang membawa kekayaan pengalaman dan tradisi keulamaan. UIN Ar-Raniry menyediakan ruang akademik bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Keduanya bertemu bukan untuk saling mengoreksi eksistensi, tetapi untuk saling menguatkan misi keumatan.


Inilah bentuk nyata penghormatan timbal balik antara ulama dan intelektual.


Kita memang perlu menghidupkan kembali kesadaran bahwa ilmu dalam Islam tidak semestinya terpecah menjadi kotak-kotak yang saling berjauhan.


Gagasan islamisasi ilmu pengetahuan, dalam pengertian yang substantif, menghendaki agar ilmu berkembang dalam kerangka tauhid, akhlak dan tanggung jawab kepada kemanusiaan.


Ilmu tidak cukup membuat manusia semakin tahu. Ia harus membuat manusia semakin sadar tentang untuk apa pengetahuan itu digunakan.


Dari Mimbar ke Laboratorium, dari Kampus ke Masyarakat


Di sinilah tantangan berikutnya.


Sinergi jangan berhenti pada foto bersama, pertemuan, khutbah atau penandatanganan kerja sama.


Outcomes harus terlihat dalam program.


Misalnya, Masjid Raya Baiturrahman dan UIN Ar-Raniry dapat membangun forum rutin ulama-akademisi.


Halaqah tidak hanya membicarakan persoalan fikih dan ibadah, tetapi juga pendidikan, ekonomi umat, keluarga, kesehatan mental generasi muda, lingkungan, teknologi digital, kemiskinan dan masa depan Aceh.


Kampus menyediakan riset dan tenaga akademik. Ulama memberikan perspektif keagamaan dan pengalaman pembinaan umat. Masjid menyediakan ruang sosial. Mahasiswa menjadi energi penggerak.


Dengan pola seperti ini, masjid tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk shalat.


Masjid menjadi simpul pengetahuan dan pemberdayaan.


Kampus juga tidak hanya menjadi tempat mahasiswa datang untuk kuliah.


Kampus menjadi sumber solusi bagi persoalan masyarakat.


Halaqah Abu Paya Pasie: Awal, Bukan Akhir


Karena itu, rencana menghadirkan Abu Paya Pasie dalam halaqah atau kuliah umum bagi mahasiswa dan sivitas akademika UIN Ar-Raniry perlu disambut sebagai langkah awal.


Jangan berhenti pada satu kali acara.


Halaqah itu dapat dirancang menjadi forum berkelanjutan. Setelah Abu Paya Pasie, dapat hadir ulama-ulama dayah lainnya. Setelah berbicara tentang akhlak dan keumatan, forum dapat bergerak ke ekonomi, pendidikan, teknologi, keluarga, lingkungan dan berbagai persoalan strategis Aceh.


Bahkan, forum seperti ini dapat menjadi model yang dibawa ke kabupaten dan kota.


UIN Ar-Raniry memiliki jaringan akademik. Masjid Raya Baiturrahman memiliki daya simbolik dan jaringan keumatan. Dayah memiliki akar sosial yang kuat.


Tiga kekuatan ini jika dirajut, dapat membentuk ekosistem dakwah dan pendidikan yang sangat besar.


Mengirim Model Ini ke Seluruh Aceh


Bayangkan jika di setiap kabupaten/kota ada model kerja sama serupa.


Masjid besar bekerja sama dengan perguruan tinggi. Dayah terhubung dengan pusat riset. Mahasiswa turun ke masyarakat. Ulama berdialog dengan akademisi. Pemerintah daerah mendapatkan masukan berbasis ilmu dan nilai.


Di Aceh Besar misalnya, kampus dan dayah dapat bersama-sama mendampingi gampong dalam pemberdayaan ekonomi.


Di daerah pesisir, kolaborasi dapat diarahkan pada ekonomi masyarakat dan lingkungan.


Di wilayah pedalaman, dapat dikembangkan program literasi, pendidikan anak dan penguatan kapasitas guru mengaji.


Di kota, persoalan generasi digital, keluarga, narkoba, kesehatan mental dan etika bermedia dapat menjadi tema bersama.


Dengan demikian, kerja sama tidak berhenti pada institusi.


Ia turun menjadi gerakan masyarakat.


Outcome Terbesar: Lahirnya Generasi yang Utuh


Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak program yang dibuat.


Outcome terbesar yang harus dikejar adalah lahirnya manusia Aceh yang utuh.


Cerdas secara intelektual.

Kuat secara spiritual.

Matang secara emosional.

Baik akhlaknya.

Terampil menghadapi perubahan zaman.

Dan memiliki kepedulian kepada masyarakat.


Inilah manusia yang dibutuhkan Aceh.


Bukan generasi yang hanya pandai menghafal tetapi gagap menghadapi perubahan. Bukan pula generasi yang menguasai teknologi tetapi kehilangan arah moral.


Aceh membutuhkan generasi yang mampu mempertemukan iman dan ilmu, tradisi dan inovasi, kecerdasan dan akhlak.


Dan generasi seperti itu tidak lahir dari satu lembaga saja.


Ia lahir dari ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.


Silaturahim yang Harus Menjadi Gerakan


Karena itu, kunjungan Abu Paya Pasie ke UIN Ar-Raniry jangan dikenang hanya sebagai sebuah peristiwa Jumat, 18 September 2026.


Biarlah ia menjadi titik kecil yang menandai gerakan yang lebih besar.


Masjid Raya Baiturrahman tidak perlu berjalan sendiri.

UIN Ar-Raniry tidak perlu berjalan sendiri.

Dayah tidak perlu berjalan sendiri.


Semua memiliki jalan pengabdian masing-masing, tetapi tujuan akhirnya sama: menghadirkan kemaslahatan bagi umat.


Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.


Maka, ukuran keberhasilan sinergi ini kelak bukanlah seberapa sering para tokohnya bertemu.


Ukurannya adalah berapa banyak anak muda yang berubah, berapa banyak masyarakat yang berdaya, berapa banyak ilmu yang menjadi amal, dan berapa banyak persoalan umat yang menemukan jalan keluarnya.


Jika itu terjadi, maka kunjungan Abu Paya Pasie ke UIN Ar-Raniry bukan lagi sekadar kunjungan.


Ia telah menjadi benih peradaban.


Benih itu kini membutuhkan air berupa program, tanah berupa kelembagaan, pupuk berupa kepercayaan dan cahaya berupa keikhlasan.


Semoga dari pertemuan ulama dan akademisi itu tumbuh satu kesadaran baru:


Aceh tidak harus memilih antara dayah atau kampus. Aceh membutuhkan dayah dan kampus.


Tidak harus memilih antara tradisi dan kemajuan. Aceh membutuhkan tradisi yang memberi akar dan kemajuan yang memberi sayap.


Dan tidak harus memilih antara ilmu dan iman.


Aceh membutuhkan keduanya—agar generasinya bukan hanya cerdas, tetapi juga bermartabat.


Wallahu a’lam 


Darussalam 8 Rabiul Awal 1448, 19 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Foto: dari kanan; Prof Mujiburrahman, Bapak Hilmi (Kepala Biro AUPK UINar), Abu Paya Pasie, dan penulis)

×
Berita Terbaru Update