-->

Notification

×

Iklan

Iklan

40 Hari × 40 Rakaat: Kiat Menghindari Maksiat

Minggu, 18 Oktober 2026 | Oktober 18, 2026 WIB Last Updated 2026-10-18T09:44:43Z


Menambah Shalat, Memperbaiki Diri, Menjemput Kesuksesan


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Mengapa ada orang yang rajin melaksanakan shalat, tetapi masih melakukan maksiat? Bukankah Allah Swt. telah menjamin bahwa shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar? Pertanyaan yang menggugah ini menjadi salah satu pesan kuat dalam tausiyah Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Dr. Safaruddin, pada kegiatan Safari Subuh di Masjid Oman Al Makmur, Banda Aceh, Sabtu, 17 Oktober 2026, bertepatan dengan 6 Jumadil Awal 1448 H.


Pertanyaan tersebut sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap perilaku sebagian umat Islam. Lebih jauh, ia mengajak kita melakukan introspeksi: sejauh mana shalat yang kita kerjakan telah membentuk karakter, mengendalikan hawa nafsu, dan membimbing langkah kehidupan sehari-hari?


Dalam tausiyahnya, Dr Safaruddin mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa mencibir orang yang rajin shalat tetapi masih terjerumus dalam kemaksiatan. Sebaliknya, orang yang bersangkutan perlu terus didorong agar memperbaiki kualitas shalat dan berjuang meninggalkan dosa. Jangan sampai kritik yang semestinya menjadi nasihat justru berubah menjadi penghinaan yang memadamkan semangat seseorang untuk beribadah.


Pesan ini penting. Sebab, dalam perjalanan memperbaiki diri, manusia tidak selalu bergerak lurus tanpa hambatan. Ada yang sudah rajin beribadah, tetapi masih berjuang menghadapi kebiasaan buruk. Ada pula yang menyadari kesalahannya, tetapi belum mempunyai kekuatan untuk sepenuhnya melepaskan diri dari kebiasaan tersebut.


Di sinilah kita perlu membedakan antara membenarkan kemaksiatan dan menghargai ikhtiar seseorang untuk menjadi lebih baik. Maksiat tetap harus ditinggalkan, tetapi orang yang melakukannya tidak boleh kehilangan harapan untuk kembali kepada Allah.


Shalat yang mencegah kemungkaran


Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:


وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ


Wa aqimish-shalata innash-shalata tanha ‘anil-fahsya’i wal-munkar.


Artinya: “Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”


Ayat ini merupakan landasan utama untuk memahami hubungan shalat dan perilaku manusia. Shalat bukan sekadar gerakan tubuh yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an, zikir, doa, pengakuan akan kebesaran Allah, serta latihan menundukkan diri di hadapan Sang Pencipta.


Namun, jika seseorang tetap melakukan maksiat setelah shalat, apakah berarti shalatnya tidak berguna?


Jawabannya tidak sesederhana itu. Kita tidak berhak memastikan keadaan batin seseorang atau menyimpulkan bahwa seluruh ibadahnya sia-sia hanya berdasarkan perilaku yang terlihat. Yang perlu kita pahami ialah bahwa shalat mempunyai tujuan membentuk manusia yang lebih taat, sementara manusia sendiri harus terus berjuang agar tujuan tersebut terwujud dalam kehidupannya.


Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menjelaskan bahwa kebiasaan mendirikan shalat mendorong seseorang meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Di dalam shalat terdapat unsur mengingat Allah, ketulusan beribadah, rasa takut kepada-Nya, serta bacaan yang mengandung perintah dan larangan. Unsur-unsur inilah yang semestinya memengaruhi perilaku seseorang di luar shalat.


Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menguraikan pentingnya shalat yang ditegakkan dengan menghadirkan hati, ketundukan, dan kesadaran bahwa manusia sedang berhadapan dengan Allah. Shalat yang demikian menumbuhkan pengawasan batin sehingga seseorang lebih berhati-hati ketika menghadapi godaan kemaksiatan.


Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar berapa kali kita berdiri, rukuk, dan sujud, melainkan juga sejauh mana shalat membangun kesadaran bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan, baik yang terlihat oleh manusia maupun yang tersembunyi.


Tentu saja, kita tidak boleh menjadikan kekurangan dalam penghayatan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat. Justru ketika menyadari bahwa shalat kita belum sepenuhnya membentuk perilaku, kita harus memperbaikinya, bukan menghentikannya.


Jangan mencibir, jangan pula menyerah


Dalam kehidupan sosial, kita sering menyaksikan fenomena seseorang yang rajin shalat, tetapi masih terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Tidak jarang fenomena ini segera menjadi bahan sindiran, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.


“Rajin shalat, tetapi masih berbuat maksiat!”


Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan sebagai kritik. Namun, jika disampaikan dengan nada merendahkan dan mempermalukan, ia berisiko menutup pintu nasihat. Orang yang dikritik bisa merasa tidak dihargai, kehilangan semangat, atau bahkan semakin menjauh dari lingkungan yang seharusnya membantunya memperbaiki diri.


Padahal, kita tidak mengetahui seluruh pergulatan batin seseorang. Bisa jadi ia sedang berjuang meninggalkan kebiasaan buruk yang telah lama melekat. Bisa jadi shalat menjadi salah satu pegangan yang membuatnya belum menyerah menghadapi kelemahannya.


Karena itu, kita perlu menempatkan nasihat secara proporsional. Perbuatan salah tetap disebut salah, tetapi pelakunya tidak harus dipermalukan. Kita dapat mengingatkan tanpa menghina, mengoreksi tanpa merendahkan, dan mengajak kepada kebaikan tanpa menutup kemungkinan seseorang untuk berubah.


Pada saat yang sama, orang yang masih melakukan maksiat meskipun telah rajin shalat juga tidak boleh menggunakan sikap masyarakat yang mencibir sebagai alasan untuk membenarkan perilakunya. Ia tetap harus mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.


Pesan penting dari tausiyah Dr Safaruddin ialah agar kita tidak menjadikan ketidaksempurnaan seseorang sebagai alasan untuk meniadakan kebaikan yang telah dilakukannya. Orang yang sudah shalat perlu dibantu agar shalatnya semakin baik dan perilakunya semakin terjaga.


Lebih-lebih bagi mereka yang belum melaksanakan shalat karena merasa dirinya masih penuh dosa. Jangan menunggu menjadi manusia tanpa dosa untuk mulai shalat. Sebab, manusia memang diperintahkan beribadah dalam perjalanan memperbaiki diri, bukan setelah seluruh persoalannya selesai.


Mulailah shalat sekarang. Pertahankan shalat lima waktu. Mohonlah pertolongan Allah, lalu lakukan langkah-langkah nyata untuk meninggalkan kemaksiatan.


Mengapa kebiasaan buruk tidak selalu hilang seketika?


Dari sudut pandang psikologi, perilaku manusia terbentuk melalui interaksi antara pikiran, emosi, lingkungan, dorongan sesaat, dan kebiasaan yang berulang. Seseorang mungkin mengetahui bahwa suatu perbuatan salah, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu langsung membuatnya mampu menghentikan perilaku itu.


Kebiasaan yang telah berlangsung lama dapat dipicu oleh situasi tertentu: pergaulan, tekanan emosi, rasa kesepian, kesempatan, atau akses terhadap hal-hal yang mendorong perilaku negatif. Karena itu, perubahan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang benar dan salah. Ia membutuhkan latihan pengendalian diri, pengaturan lingkungan, pengulangan perilaku positif, dan dukungan sosial.


Dalam konteks ini, shalat dapat dipahami sebagai latihan spiritual yang dilakukan secara berulang. Lima waktu shalat membangun jeda dalam aktivitas harian, mengingatkan manusia kepada tujuan hidup, dan menyediakan kesempatan untuk mengevaluasi tindakan sebelum kembali menjalani kesibukan.


Apabila makna shalat benar-benar dihadirkan, seseorang dapat belajar menunda dorongan sesaat, mengingat akibat tindakannya, dan memilih respons yang lebih baik. Akan tetapi, manfaat tersebut perlu diusahakan melalui penghayatan, konsistensi, serta langkah nyata di luar waktu shalat.


Kajian tentang psikologi agama juga membahas peran doa dan praktik spiritual dalam menghadapi tekanan kehidupan, membangun harapan, dan mendukung kesejahteraan psikologis. Artikel Adi Saputra, Miftahul Jannah, dan Salami Mahmud dalam jurnal Al-Bahtsu, misalnya, membahas doa sebagai salah satu strategi koping religius untuk menghadapi tekanan kehidupan. Perspektif ini memperkaya pemahaman bahwa praktik spiritual dapat menjadi sumber daya batin, meskipun tidak berarti semua persoalan perilaku akan selesai hanya melalui satu bentuk ibadah.


Dengan demikian, orang yang sedang berjuang meninggalkan maksiat perlu memadukan ibadah dengan ikhtiar konkret. Jika lingkungan pergaulannya mendorong perbuatan buruk, ia perlu memperbaiki lingkungan. Jika suatu kebiasaan dipicu oleh penggunaan gawai, ia perlu membatasi akses dan mengubah rutinitas. Jika masalahnya berkaitan dengan tekanan emosi yang berat, ia dapat mencari pendampingan dari orang tepercaya atau tenaga profesional yang kompeten.


Shalat memberikan arah spiritual; ikhtiar membantu menerjemahkan arah itu menjadi perubahan perilaku.


Rumus 40 hari × 40 rakaat


Bagian menarik lainnya dari tausiyah Bupati Safaruddin ialah rumus yang diperolehnya dari guru spiritualnya sebagai ikhtiar membangun kedisiplinan ibadah dan menjauhi maksiat: melaksanakan 40 rakaat shalat setiap hari selama 40 hari.


Rumus tersebut terdiri atas:


* 17 rakaat shalat fardhu, yakni lima waktu yang wajib dilaksanakan setiap Muslim.

* 12 rakaat shalat sunah rawatib, yang menyertai shalat fardhu.

* 11 rakaat shalat malam, yang dapat dilaksanakan sebagai rangkaian shalat malam, termasuk tahajud dan witir.


Jika dijumlahkan, 17 + 12 + 11 = 40 rakaat sehari. Apabila dilakukan secara konsisten selama 40 hari, jumlah keseluruhannya mencapai 1.600 rakaat.


Rumus ini menarik karena menggabungkan kewajiban, pemeliharaan amalan sunah, dan pembinaan hubungan pribadi dengan Allah pada malam hari. Ia bukan hanya mengajak seseorang memperbanyak ibadah, melainkan juga menyusun rutinitas yang menuntut kesungguhan, pengaturan waktu, dan konsistensi.


Dasar yang jelas untuk bagian 17 rakaat ialah kewajiban shalat lima waktu. Adapun 12 rakaat rawatib mempunyai landasan hadis sahih. Ummu Habibah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda bahwa siapa yang mengerjakan 12 rakaat sunah dalam sehari semalam, di luar shalat wajib, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim, nomor 728.


Untuk 11 rakaat shalat malam, terdapat pula teladan dari ibadah malam Rasulullah saw. yang diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih, termasuk riwayat Aisyah r.a. mengenai shalat malam beliau.


Namun, perlu ditegaskan bahwa penetapan 40 rakaat selama 40 hari sebagai satu paket khusus untuk menghindari maksiat bukanlah formula yang ditetapkan secara khusus dalam hadis sahih yang disebutkan di atas. Dalam tulisan ini, rumus tersebut lebih tepat dipahami sebagai anjuran atau latihan spiritual yang disampaikan Bupati Safaruddin berdasarkan bimbingan guru spiritualnya, bukan sebagai ketentuan agama yang menjamin hasil tertentu.


Penegasan ini tidak mengurangi nilai ikhtiarnya. Justru dengan memahami kedudukan masing-masing amalan secara tepat, kita dapat mengambil manfaat dari gagasan tersebut tanpa menisbatkan ketentuan yang tidak dinyatakan secara khusus oleh Rasulullah saw.


Dari 40 rakaat menuju disiplin kehidupan


Mengapa rutinitas 40 hari ini layak dicoba sebagai latihan memperbaiki diri?


Pertama, ia menuntut konsistensi. Seseorang tidak cukup hanya bersemangat pada hari pertama. Ia harus mengatur aktivitas agar shalat wajib terjaga, rawatib tidak mudah ditinggalkan, dan shalat malam memperoleh tempat dalam rutinitasnya.


Kedua, ia menyediakan waktu untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Di tengah kesibukan, manusia mudah larut dalam pekerjaan, hiburan, ambisi, dan persoalan sehari-hari. Shalat malam, khususnya, memberikan ruang untuk bermuhasabah, mengakui kelemahan, memohon ampun, serta menyusun kembali niat dan langkah hidup.


Ketiga, ia mengajarkan bahwa perubahan memerlukan latihan berulang. Keinginan meninggalkan maksiat perlu disertai keputusan yang dilakukan setiap hari: menolak ajakan buruk, menjaga pandangan, mengendalikan lisan, menepati amanah, dan menghindari kesempatan yang berpotensi menyeret seseorang kembali kepada kebiasaan lama.


Dalam konteks ini, hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Bukhari nomor 6464 memberikan prinsip penting. Nabi mengajarkan agar manusia melakukan amal dengan benar, sungguh-sungguh, dan tidak berlebihan, seraya menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.


Pesannya jelas: bukan sekadar banyaknya amal pada satu waktu yang penting, melainkan kesinambungan amal yang sanggup dipertahankan.


Karena itu, jangan sampai seseorang memulai 40 hari dengan target yang tinggi, lalu berhenti seluruhnya ketika suatu hari gagal memenuhi target sunahnya. Shalat fardhu tetap wajib dijaga. Jika target tambahan terasa berat, susun kembali jadwal dan tingkatkan secara bertahap. Konsistensi harus dibangun dengan kesungguhan, bukan dengan beban yang membuat seseorang mudah menyerah.


Rumus 17 + 12 + 11 untuk generasi muda


Bagi generasi Muslim, gagasan 40 hari × 40 rakaat dapat menjadi momentum membangun kebiasaan positif. Namun, agar tidak berhenti sebagai slogan, ia perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis.


Pertama, kuatkan fondasi 17 rakaat. Jadikan shalat lima waktu sebagai poros jadwal harian. Bangun lebih awal untuk Subuh, atur waktu belajar dan bekerja, serta hindari kegiatan yang membuat shalat tertunda tanpa alasan yang dibenarkan.


Kedua, tambahkan 12 rakaat rawatib. Pelajari tata cara dan waktu pelaksanaannya dengan benar. Kerjakan secara bertahap bila belum terbiasa, lalu pertahankan sampai menjadi bagian dari rutinitas. Hadis tentang 12 rakaat sunah mengajarkan keutamaan amalan yang konsisten.


Ketiga, bangun kebiasaan shalat malam. Bagi yang belum terbiasa, mulailah dengan jumlah yang mampu dipertahankan. Atur waktu tidur, kurangi penggunaan gawai menjelang malam, dan mintalah bantuan keluarga atau sahabat untuk saling mengingatkan. Jika ingin menjalankan target 11 rakaat, pelajari susunan shalat malam dan witir sesuai tuntunan yang sahih.


Keempat, pasangkan setiap peningkatan ibadah dengan satu perubahan perilaku. Jika ingin meninggalkan kebiasaan berbohong, latih kejujuran dalam urusan kecil. Jika ingin mengendalikan amarah, biasakan berhenti sejenak sebelum menjawab. Jika ingin menjauhi pergaulan yang merusak, bangun pertemanan yang mendukung kebaikan. Shalat harus bertemu dengan tindakan nyata.


Kelima, lakukan evaluasi harian. Setelah Isya atau sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: apakah shalat hari ini lebih terjaga? Godaan apa yang berhasil saya hindari? Kesalahan apa yang harus saya perbaiki besok? Bila terjatuh dalam dosa, segera bertobat, perbaiki penyebabnya, dan lanjutkan ikhtiar.


Keenam, bangun lingkungan yang saling menguatkan. Generasi muda dapat membuat kelompok kecil bersama teman, keluarga, atau komunitas masjid untuk saling mengingatkan secara santun. Bukan untuk mengawasi dan mempermalukan, melainkan untuk membantu setiap anggota bertumbuh. Bila ada yang gagal, dukung agar ia kembali melanjutkan perjuangan.


Ketujuh, ukur kesuksesan secara lebih utuh. Kesuksesan tidak hanya dinilai dari capaian akademik, jabatan, atau materi, tetapi juga dari integritas, kemampuan mengendalikan diri, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan ketenangan dalam menjalani kehidupan. Shalat yang baik semestinya mendorong manusia menjadi lebih amanah dan bermanfaat bagi sesama.


Langkah-langkah ini membuat target ibadah tidak berhenti pada angka rakaat. Ia menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kedewasaan spiritual.


Terus menambah, sambil terus memperbaiki diri


Setelah terbiasa dengan 17 rakaat shalat wajib, 12 rakaat rawatib, dan 11 rakaat shalat malam, seorang Muslim dapat menambah shalat sunah lainnya sesuai kemampuan dan tuntunan yang dipelajarinya. Namun, penambahan tersebut hendaknya tidak mengorbankan kewajiban, kesehatan, pekerjaan, pendidikan, maupun tanggung jawab kepada keluarga.


Prinsipnya bukan berlomba mengumpulkan angka, melainkan memperluas kesempatan untuk mengingat Allah dan memperbaiki perilaku.


Ada orang yang mampu mengerjakan banyak rakaat, tetapi masih perlu memperbaiki kejujuran. Ada yang belum mampu menambah banyak rakaat, tetapi sungguh-sungguh menjaga shalat wajib, amanah, dan akhlaknya. Keduanya tetap perlu terus bertumbuh sesuai keadaan masing-masing.


Di sinilah relevansi Surah Ar-Ra’d ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini mengingatkan pentingnya perubahan dari dalam, yang kemudian diwujudkan melalui pilihan, kebiasaan, dan tindakan nyata.


Dalam bahasa reflektif, ikhtiar manusia adalah memperbaiki diri, menambah amal, dan terus berusaha. Adapun hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah. Kita boleh berharap bahwa disiplin ibadah akan membuka jalan kebaikan dan kemudahan, tetapi tidak boleh menjanjikan bahwa 40 hari dengan 40 rakaat pasti menghapus seluruh kecenderungan maksiat atau menjamin kesuksesan duniawi.


Kita beribadah bukan untuk memaksa Allah memenuhi keinginan kita, melainkan karena kita membutuhkan petunjuk, pertolongan, ampunan, dan rida-Nya.


Jangan berhenti di tengah jalan


Pesan Bupati Safaruddin dalam Safari Subuh tersebut layak direnungkan bersama. Ketika melihat orang yang rajin shalat tetapi masih bermaksiat, jangan buru-buru mencibir. Ajaklah ia memperbaiki shalat dan perilakunya. Ketika kita sendiri masih berjuang melawan dorongan maksiat, jangan menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat.


Teruslah shalat. Perbaiki kekhusyukan. Tambah amalan sunah sesuai kemampuan. Jauhi lingkungan yang merusak. Bangun kebiasaan baik. Jika terjatuh, bertobat dan bangkit kembali.


Bagi yang belum shalat karena merasa dirinya belum pantas, mulailah sekarang. Tidak ada manusia yang harus menunggu sempurna untuk menghadap Allah. Justru kepada Allah kita datang dengan kelemahan, dosa, harapan, dan tekad untuk memperbaiki diri.


Rumus 40 hari × 40 rakaat dapat menjadi pintu latihan yang menarik: 17 rakaat kewajiban, 12 rakaat rawatib, dan 11 rakaat shalat malam. Jalani dengan niat yang benar, pemahaman yang tepat, dan kesungguhan untuk mengubah perilaku. Jika kemudian mampu menambah amalan sunah lainnya, lakukanlah tanpa mengabaikan keseimbangan kehidupan.


Sebagaimana pesan yang ditekankan Safaruddin, urusan kita ialah terus menambah ikhtiar, sementara hasilnya kita serahkan kepada Allah Swt. Kita tidak pernah tahu melalui amal yang mana Allah membukakan jalan pertolongan-Nya.


Jangan berhenti shalat hanya karena belum mampu berhenti bermaksiat. Justru jadikan shalat sebagai bagian dari perjuangan untuk berhenti bermaksiat. Jangan mencibir orang yang sedang berjuang memperbaiki diri; bantulah ia agar terus bertumbuh.


Semoga shalat yang kita tegakkan tidak hanya menjadi rutinitas harian, tetapi juga menjadi sumber kekuatan untuk menjaga diri, membangun akhlak, menunaikan amanah, dan menempuh jalan kesuksesan yang diridai Allah Swt. Amin.


Wallahu a’lam 


Darussalam 6 Jumadil Awal 1448, 27 Oktober 2026


(Penulis, Tgk Imum Meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)


Foto: dari kanan; Bupati Safaruddin, intelektual muslim Prof Yusny Saby, dan penulis.

×
Berita Terbaru Update