-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Situek Menjadi Timba: Kearifan Aceh Membangun Generasi Produktif, Efisien, dan Kreatif

Kamis, 29 Oktober 2026 | Oktober 29, 2026 WIB Last Updated 2026-10-29T23:04:32Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada pelajaran besar yang kadang-kadang justru tersembunyi dalam ungkapan sederhana yang diwariskan oleh orang-orang tua kita. Ia tidak ditulis dalam buku manajemen modern, tidak disampaikan melalui seminar kewirausahaan, dan tidak membutuhkan istilah ekonomi yang rumit. Namun, jika direnungkan dengan saksama, di dalamnya tersimpan filosofi tentang bagaimana manusia memanfaatkan waktu, mengelola sumber daya, dan melahirkan karya yang bernilai.


Pelajaran itu kembali mengusik pikiran saya ketika berdiskusi dengan Dr. Abdul Rani Usman, pakar dialog antarbudaya Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry, pada Kamis, 29 Oktober 2026, di Warkop Rumoh Aceh, kompleks UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.


Dalam suasana diskusi yang santai, Dr. Abdul Rani menyampaikan sebuah hadih maja, peribahasa Aceh yang sarat makna:


“Bak tajak-jak tamita situek, bak taduk-duk tacop keu tima.”


Dalam ungkapan tersebut, tamita berarti mencari, situek adalah pelepah pinang kering yang telah terlepas dari pohonnya, sedangkan tima berarti timba, wadah yang dahulu digunakan masyarakat Aceh untuk mengambil atau menampung air.


Secara sederhana, hadih maja ini menggambarkan kebiasaan masyarakat Aceh tempo dahulu: ketika berjalan, mereka mencari situek yang dapat dimanfaatkan; ketika duduk-duduk, pelepah pinang yang telah ditemukan itu diolah menjadi timba.


Situek bukan sekadar benda yang tergeletak di tanah. Selain dibuat menjadi timba, bahan tersebut juga dapat diolah menjadi wadah atau piring, tempat menyimpan asam sunti yang dibuat dari belimbing wuluh yang diolah dan dikeringkan, serta menjadi sarana permainan anak-anak. Ada yang menjadikannya alas untuk meluncur di tanah miring, ada pula yang duduk di atasnya dan ditarik oleh kawan-kawannya secara bergantian.


Satu bahan sederhana dapat melahirkan beragam kegunaan.


Dari situ saya menangkap tiga pesan besar yang relevan dengan kehidupan masa kini: produktif dalam mencari dan memanfaatkan peluang, efisien dalam menggunakan sumber daya, serta kreatif dalam mengubah sesuatu yang sederhana menjadi karya bernilai.


Ketiganya bukan hanya warisan budaya yang patut dikenang, melainkan modal berpikir untuk membangun generasi muda yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing.


Produktif: Sambil Berjalan, Teruslah Mencari Peluang


Kata tamita menjadi pintu masuk penting untuk memahami filosofi hadih maja ini. Mencari situek bukanlah pekerjaan yang terpisah dari perjalanan. Ia dilakukan sambil berjalan menuju tujuan lain. Artinya, dalam menjalani kehidupan, manusia tidak hanya perlu mengetahui ke mana hendak pergi, tetapi juga peka terhadap peluang yang dijumpai sepanjang perjalanan.


Orang yang memiliki semangat produktif tidak hanya memikirkan tujuan utama, tetapi juga mengamati apa yang dapat dimanfaatkan di sepanjang jalan. Ia tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja hanya karena kesempatan itu datang dalam bentuk yang sederhana.


Dalam konteks masyarakat tradisional, situek yang ditemukan mungkin belum langsung diolah. Ia dapat disimpan terlebih dahulu, kemudian dimanfaatkan ketika ada waktu dan kesempatan. Inilah pelajaran tentang kepekaan melihat peluang sekaligus kesabaran mengelola hasil pencarian.


Dalam kehidupan modern, situek dapat berupa informasi, pengetahuan, pengalaman, jaringan pertemanan, bahan baku, atau kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi.


Seorang mahasiswa, misalnya, dapat menemukan gagasan penelitian ketika berbincang dengan masyarakat. Seorang pemuda dapat melihat peluang usaha ketika mengamati produk lokal yang belum dipasarkan dengan baik. Seorang pegawai dapat menemukan cara memperbaiki pelayanan setelah mendengar keluhan pengguna. Seorang petani dapat memperoleh gagasan baru dari pengalaman menghadapi persoalan di lapangan.


Peluang seperti itu tidak selalu datang melalui undangan resmi atau perencanaan yang sempurna. Sering kali, ia ditemukan oleh orang yang mau mengamati, bertanya, belajar, dan mencoba.


Peter F. Drucker, pakar manajemen, melalui bukunya The Effective Executive, menekankan pentingnya pengelolaan waktu dan perhatian terhadap hasil yang bernilai. Pemikirannya mengingatkan kita bahwa kecakapan seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan, tetapi juga oleh kemampuannya mengarahkan waktu dan tenaga kepada pekerjaan yang menghasilkan manfaat.


Dalam semangat hadih maja ini, produktif bukan berarti harus sibuk sepanjang hari tanpa istirahat. Produktif berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan yang wajar untuk belajar, memperbaiki diri, menyelesaikan pekerjaan, dan menghasilkan sesuatu yang berguna.


Karena itu, generasi muda perlu membiasakan diri bertanya: apa yang dapat saya pelajari hari ini, persoalan apa yang dapat saya bantu selesaikan, dan peluang apa yang dapat saya kembangkan dari lingkungan sekitar?


Jangan hanya berjalan menuju tujuan sambil menunggu keberuntungan. Berjalanlah dengan mata terbuka, pikiran bekerja, dan kepekaan menangkap kemungkinan.


Efisien: Mengolah Apa yang Tersedia, Bukan Menunggu Segalanya Sempurna


Pesan kedua adalah efisiensi. Masyarakat Aceh tempo dahulu tidak selalu membutuhkan bahan mahal untuk menghasilkan barang yang berguna. Mereka memanfaatkan apa yang tersedia di alam dan mengolahnya sesuai kebutuhan.


Situek yang mungkin dianggap tidak berguna oleh orang lain justru dapat menjadi bahan baku pembuatan timba. Nilai gunanya meningkat bukan karena bahan tersebut mahal, melainkan karena manusia mengetahui cara memanfaatkannya.


Di sinilah inti efisiensi: menggunakan sumber daya secara tepat untuk menghasilkan manfaat yang optimal.


Dalam perspektif manajemen, Drucker membedakan efisiensi dari efektivitas. Efisiensi berkaitan dengan melakukan sesuatu secara benar, sedangkan efektivitas berkaitan dengan memilih dan mengerjakan hal yang benar. Keduanya harus berjalan beriringan. Pekerjaan yang dilakukan secara hemat tetapi tidak menjawab kebutuhan akan kehilangan makna. Sebaliknya, tujuan yang baik dapat gagal apabila waktu, tenaga, dan anggaran dihamburkan tanpa perencanaan.


Hadih maja tersebut mengajarkan bahwa bahan yang tersedia tidak harus langsung digunakan, tetapi perlu diamankan dan dimanfaatkan pada saat yang tepat. Dalam bahasa manajemen modern, ini berkaitan dengan pengelolaan sumber daya, persediaan, dan waktu agar tidak terbuang percuma.


Prinsip ini dapat diterapkan di berbagai bidang.


Dalam rumah tangga, bahan makanan yang masih layak dapat diolah dengan baik agar tidak terbuang. Dalam pendidikan, bahan bekas yang aman dapat dimanfaatkan sebagai alat peraga. Dalam pertanian, sisa hasil panen tertentu dapat diolah menjadi kompos atau produk turunan. Dalam perusahaan, bahan baku, energi, anggaran, dan waktu kerja perlu digunakan berdasarkan perencanaan yang cermat.


Namun, efisiensi bukan berarti mengorbankan keselamatan, mutu, keadilan, atau kesejahteraan pekerja demi menekan biaya. Penghematan yang merusak kualitas pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar.


Efisiensi juga menuntut kemampuan menentukan prioritas. Tidak semua yang ditemukan harus segera dikerjakan. Ada yang perlu dicatat, ada yang perlu disimpan, ada yang perlu dipelajari lebih dahulu, dan ada pula yang harus ditinggalkan karena tidak sesuai dengan kebutuhan.


Maka, semangat tamita situek bukan sekadar mencari sebanyak-banyaknya. Kita juga perlu menilai mana yang bermanfaat, mana yang layak diolah, dan kapan sumber daya itu sebaiknya digunakan.


Modal memang penting, tetapi kemampuan membaca peluang, mengelola sumber daya, dan bekerja dengan cermat juga merupakan modal yang menentukan keberhasilan.


Kreatif: Dari Situek Menjadi Karya Bernilai


Pesan ketiga ialah kreativitas. Situek pada mulanya hanya pelepah pinang yang telah mengering dan terlepas dari pohonnya. Namun, melalui pengetahuan, keterampilan, dan imajinasi manusia, benda itu memperoleh fungsi baru.


Inilah inti kreativitas: melihat kemungkinan yang tidak segera terlihat oleh orang lain.


Joseph A. Schumpeter, ekonom yang dikenal melalui pemikirannya tentang inovasi dan kewirausahaan, menempatkan pembaruan sebagai salah satu penggerak penting perkembangan ekonomi. Wirausaha bukan sekadar orang yang mempunyai modal dan menjalankan usaha, tetapi juga orang yang mampu mengembangkan kombinasi baru dalam produk, proses, pasar, dan cara berusaha.


Jika kita hubungkan dengan hadih maja tadi, kreativitas bermula dari dua kegiatan yang saling melengkapi: mencari bahan yang berpotensi dimanfaatkan dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna.


Situek tidak otomatis menjadi timba. Diperlukan pengetahuan tentang sifat bahan, keterampilan mengolahnya, serta pemahaman mengenai fungsi benda yang hendak dihasilkan. Dengan demikian, kreativitas bukan hanya soal memiliki ide, tetapi juga kemampuan mewujudkan ide menjadi hasil nyata.


Dalam ekonomi kreatif masa kini, nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh harga bahan bakunya. Desain, keterampilan, cerita budaya, kualitas pengerjaan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen turut menentukan nilai tambahnya.


Kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan kerajinan, kuliner, desain, fesyen, produk rumah tangga, dan konten digital berbasis budaya Aceh.


Generasi muda, misalnya, dapat mempelajari keterampilan tradisional dari orang tua dan pengrajin, mendokumentasikan proses pembuatannya, kemudian mencari cara agar pengetahuan tersebut tetap relevan. Mereka dapat memperbaiki desain, mengembangkan fungsi baru, atau memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.


Tentu saja, pengembangan tersebut harus tetap menghormati pemilik pengetahuan tradisional, menjaga keaslian budaya, dan memperhatikan manfaat bagi komunitas asalnya. Tidak semua warisan budaya harus dijadikan komoditas. Namun, jika dikembangkan secara bertanggung jawab, nilai budaya dan nilai ekonomi dapat saling menguatkan.


Dari situek kita belajar bahwa sesuatu yang sederhana tidak selalu bernilai rendah. Nilai tambah sering kali lahir dari pengetahuan dan keterampilan manusia yang mampu melihat kegunaan di balik sesuatu yang selama ini diabaikan.


Dari Kearifan Lokal Menuju Manajemen Modern


Apabila ketiga pesan tersebut dipadukan, kita memperoleh alur kerja yang sangat relevan dengan kehidupan modern.


Pertama, tamita: mencari dan mengenali peluang.


Kedua, mengamankan dan mengelola apa yang telah ditemukan agar tidak terbuang atau terlupakan.


Ketiga, tacop keu tima: mengolahnya menjadi hasil yang berguna.


Jika diterjemahkan ke dalam bahasa manajemen, alur tersebut mencakup pencarian peluang, pengelolaan sumber daya, pelaksanaan pekerjaan, dan penciptaan nilai.


Produktivitas mendorong kita untuk bertindak. Efisiensi membantu kita menggunakan sumber daya secara tepat. Kreativitas memungkinkan kita menghasilkan nilai tambah. Ketiganya harus ditopang perencanaan yang baik agar pekerjaan tidak berhenti di tengah jalan.


Dalam perspektif pembangunan manusia, Amartya Sen melalui Development as Freedom menekankan pentingnya memperluas kemampuan nyata manusia untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Dalam konteks generasi muda, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan tersedianya pekerjaan dan meningkatnya pendapatan, tetapi juga kemampuan belajar, mengambil inisiatif, mengembangkan keterampilan, dan menentukan masa depan secara lebih mandiri.


Kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kemampuan tersebut. Budaya tidak hanya diwariskan melalui upacara, kesenian, atau tutur kata, tetapi juga melalui kebiasaan bekerja, cara memandang sumber daya, dan keberanian mengubah pengetahuan menjadi manfaat.


Karena itu, hadih maja tidak seharusnya berhenti sebagai ungkapan yang kita banggakan. Ia perlu dihidupkan menjadi kebiasaan, keterampilan, dan pola pikir dalam pendidikan, keluarga, dunia usaha, dan kehidupan bermasyarakat.


Jangan Manja Menunggu Kesempatan


Pesan ini penting bagi generasi muda yang hidup pada zaman dengan akses informasi dan teknologi semakin luas. Berbagai peluang kini dapat dijangkau melalui telepon pintar, jaringan internet, dan komunitas belajar. Namun, kemudahan akses belum tentu membuat seseorang produktif apabila tidak disertai disiplin, ketekunan, dan keberanian memulai.


Ada anak muda yang ingin berusaha, tetapi selalu menunggu modal besar. Ada yang ingin berkarya, tetapi merasa harus memiliki peralatan lengkap terlebih dahulu. Ada pula yang mempunyai banyak gagasan, tetapi tidak segera mengerjakannya karena takut hasil awalnya belum sempurna.


Tentu saja, keterbatasan lapangan kerja, akses permodalan, dan ketimpangan kesempatan merupakan persoalan nyata yang perlu diatasi bersama. Anak muda membutuhkan dukungan keluarga, pendidikan, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.


Namun, di tengah berbagai keterbatasan, sikap pribadi tetap menentukan. Kita tidak boleh menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti belajar dan mencoba.


Jangan manja menunggu segala sesuatu tersedia. Jangan malu memulai pekerjaan dari skala kecil. Jangan meremehkan pekerjaan sederhana yang dapat menjadi tempat belajar tentang tanggung jawab, mutu, kepercayaan, dan nilai sebuah hasil kerja.


Mandiri bukan berarti menolak bantuan orang lain. Mandiri berarti memiliki inisiatif, mampu berusaha sesuai kemampuan, bersedia bertanggung jawab, dan tidak terus-menerus menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada orang lain.


Generasi yang kuat bukanlah generasi yang tidak pernah menghadapi kesulitan. Generasi yang kuat ialah generasi yang mampu belajar dari kesulitan, mengembangkan kemampuan, dan menemukan jalan untuk menghasilkan manfaat.


Lima Langkah Menghidupkan Spirit Hadih Maja


Agar kearifan lokal ini tidak berhenti sebagai bahan diskusi di warung kopi, ada lima langkah yang dapat dilakukan generasi muda.


Pertama, latih kepekaan mencari peluang.


Biasakan mengamati lingkungan sekitar. Catat kebutuhan yang belum terpenuhi, bahan yang terbuang, keterampilan yang belum dimanfaatkan, dan persoalan yang dapat diselesaikan. Jadikan kebiasaan bertanya sebagai awal kreativitas: apa yang dapat saya lakukan dengan sumber daya yang tersedia?


Kedua, gunakan waktu dengan tujuan yang jelas.


Susun prioritas harian dan target mingguan. Manfaatkan waktu luang secara proporsional untuk belajar, berlatih, membaca, atau mengerjakan proyek kecil. Istirahat tetap diperlukan, tetapi jangan sampai kebiasaan menunda membuat kesempatan berlalu tanpa hasil.


Ketiga, mulai dari yang tersedia dan hitung dengan cermat.


Pilih gagasan yang realistis. Gunakan alat dan bahan yang dapat dijangkau. Buat perhitungan biaya, tentukan target hasil, dan perhatikan mutu. Jangan menunggu semua fasilitas lengkap, tetapi jangan pula mengabaikan perencanaan.


Keempat, ubah gagasan menjadi karya yang teruji.


Jangan berhenti pada rencana. Buat prototipe, hasilkan contoh produk, tawarkan jasa, tulis artikel, atau dokumentasikan pengetahuan budaya. Mintalah masukan, perbaiki kekurangan, dan lanjutkan sampai hasilnya benar-benar berguna. Jika ditujukan untuk pasar, pelajari kebutuhan konsumen dan cara memasarkannya.


Kelima, bangun kebiasaan berkarya bersama.


Belajarlah dari orang tua, pengrajin, petani, guru, pelaku usaha, dan praktisi yang berpengalaman. Sekolah, kampus, pesantren, komunitas pemuda, dan pemerintah gampong dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kearifan lokal melalui kegiatan produktif.


Lima langkah ini perlu dilengkapi dengan satu prinsip penting: pekerjaan harus direncanakan dengan orientasi hasil akhir. Kita harus mengetahui apa yang hendak dicapai, menyiapkan tahapan kerja, mengukur kemajuan, mengevaluasi kekurangan, dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.


Jangan mudah meninggalkan pekerjaan di tengah jalan hanya karena menghadapi kesulitan atau merasa bosan. Gagasan yang baik baru akan menghasilkan manfaat apabila diwujudkan melalui proses yang terarah, tekun, dan bertanggung jawab.


Dari Kebiasaan Sederhana Menuju Generasi Bermartabat


Diskusi bersama Dr. Abdul Rani Usman di Warkop Rumoh Aceh mengingatkan saya bahwa kekayaan budaya Aceh tidak hanya terletak pada adat istiadat, bahasa, seni, dan peninggalan sejarah. Di dalam ungkapan sederhana masyarakatnya juga tersimpan pengetahuan praktis tentang cara menjalani kehidupan.


Hadih maja “Bak tajak-jak tamita situek, bak taduk-duk tacop keu tima” mengajarkan kita untuk terus mencari peluang, tidak menyia-nyiakan sumber daya, dan mengolah sesuatu yang sederhana menjadi karya bermanfaat.


Kata tamita mengandung dorongan untuk aktif mencari. Kita tidak cukup hanya menunggu sesuatu datang kepada kita. Kita harus bergerak, mengamati, belajar, dan menemukan kemungkinan. Sementara itu, semangat tacop keu tima mengingatkan bahwa hasil pencarian perlu diolah dengan keterampilan agar menghasilkan manfaat nyata.


Dalam persaingan ekonomi dan perubahan teknologi, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna produk, penonton keberhasilan orang lain, atau pencari pekerjaan yang menunggu kesempatan. Mereka perlu tumbuh menjadi pembelajar, pencipta, pemecah masalah, dan pelaku perubahan.


Apa pun profesinya kelak—guru, ilmuwan, pegawai, petani, seniman, profesional, pengusaha, atau pemimpin masyarakat—setiap anak muda dapat membawa semangat produktif, efisien, dan kreatif ke dalam pekerjaannya.


Jadilah pemuda yang mampu melihat nilai ketika orang lain hanya melihat sisa. Jadilah pribadi yang mampu menemukan jalan ketika orang lain hanya menyebut keterbatasan. Jadilah manusia yang tidak sekadar berbicara tentang perubahan, tetapi ikut mengerjakannya.


Kita boleh bermimpi besar, tetapi jangan meremehkan langkah kecil. Kita boleh berharap pada dukungan orang lain, tetapi jangan kehilangan inisiatif untuk memulai. Kita boleh menggunakan teknologi modern, tetapi jangan melupakan kearifan lokal yang mengajarkan ketekunan dan kecakapan hidup.


Generasi hebat bukanlah generasi yang selalu menunggu diberi, melainkan generasi yang belajar mencari, mengolah, dan menghasilkan. Generasi kuat bukanlah generasi yang bebas dari keterbatasan, melainkan generasi yang mampu mengelola keterbatasan menjadi peluang. Dan generasi bermartabat ialah generasi yang menggunakan kemampuan serta hasil kerjanya untuk memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.


Dari situek menjadi timba, dari kearifan lokal menjadi inspirasi ekonomi kreatif, dan dari kebiasaan sederhana menjadi karakter mandiri. Semoga spirit hadih maja ini terus hidup dalam diri generasi muda Aceh dan Indonesia.


Jangan biarkan waktu berlalu tanpa pelajaran. Jangan biarkan sumber daya terbuang tanpa manfaat. Jangan biarkan gagasan berhenti sebagai angan-angan.


Mulailah dari yang ada, teruslah mencari peluang, kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan tuntaskan dengan sebaik-baiknya.


“Bak tajak-jak tamita situek, bak taduk-duk tacop keu tima.”


Sebuah pesan leluhur yang sederhana, tetapi pantas menjadi bekal untuk membangun masa depan yang produktif, efisien, kreatif, mandiri, dan bermartabat.


Wallahu a’lam 


Darussalam 29 Oktober 2026


(Penulis, pemerhati community development)

×
Berita Terbaru Update